Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
SAAT UMMI MARAH


__ADS_3

Malam kian larut, namun gadis cantik nan tomboy itu tampak masih berdiri di depan rumah, menikmati angin dingin yang menerpa tubuhnya dengan begitu lembut.


Lain kali jangan sembarangan menyentuh pria yang bukan mahrammu, bagus kalau pria itu baik, bagaimana jika pria yang kamu pegang tadi adalah pria ca**l, bisa habis kamu.


Perkataan Rahil beberapa saat yang lalu cukup mengusik pikirannya. Bukankah selama ini ia bergaul dengan banyak pria, dan tidak pernah ada satu pun pria yang marah saat dia memegang tangannya.


Lalu kenapa Rahil begitu sensi saat ia hanya memegang tangannya? Hanya memegang tangan, tidak lebih, tapi sudah cukup membuat pria itu marah padanya.


Wafdah membuang napasnya kasar, "ya sudahlah, yang penting aku sudah minta maaf," monolognya lalu berjalan masuk ke dalam rumah untuk ikut beristirahat.


Pagi harinya, selepas sholat subuh, Rahul, Khadijah, Rahil, Rabiah dan Ameer duduk di depan rumah menikmati pemandangan alam yang begitu indah. Bagaikan rumah di atas awan, kabut pagi itu berkumpul di sepanjang jalan di bawah rumah panggung yang berada di atas bukit itu.


"Ini indah sekali dan dingin, brrrr," ucap Rabiah sambil menggosokkan kedua telapak tangannya yang kedinginan.


"Sini tangannya," ujar Ameer sambil menengadahkan satu tangannya ke arah Rabiah.


Rabiah meletakkan tangannya di atas tangan Ameer, kemudian Ameer memasukkan tangannya beserta tangan Rabiah ke dalam saku jaketnya yang cukup hangat.


Melihat itu, Rahul segera meraih satu tangan Khadijah yang terasa sangat dingin dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya yang tak kalah hangat.


Sementara Rahil yang melihat adegan romantis kedua pasang suami istri di hadapannya hanya memutar bola mata malas.


"Sudah ku katakan jangan menodai mataku dengan adegan romantis kalian," desis Rahil yang duduk sendiri di belakang sambil memainkan ponselnya.


"Siapa yang menodai matamu? Kami hanya menghangatkan tangan istri kami di dalam saku jaket kok," kilah Rahil.


"Yaa tapi tetap saja adegan kalian ini membuat jiwa jombloku meronta-ronta."


"Makanya nikah bro," ujar Rahul.


"Halaaah, itu lagi, biarpun kamu nggak bilang, kalau aku udah punya calon pasti aku akan nikah," tandas Rahil.


🌷🌷🌷


Waktu terus berganti, tidak terasa sudah lima hari mereka berada di villa kakek Khadijah. Dan selama itu pula, Wafdah tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Hingga saat mereka hendak pamit untuk pulang ke kota, Wafdah belum juga terlihat.


"Kami pamit dulu yah bibi, terima kasih sudah menemani kami selama berada disini," pamit Khadijah dan yang lainnya sambil menyalami wanita paruh baya itu secara bergantian.


Sementara Rahil tampak mengarahkan pandangannya ke segala arah seolah sedang mencari seseorang.


"Dimana gadis bar-bar itu?" batin Rahil.


"Wafdah sudah pergi ke kota untuk mempersiapkan kuliahnya," ujar bibi Khadijah sambil menatap Rahil seolah ia mengerti apa yang sedang dipikirkan pria itu.

__ADS_1


Melihat bibi Khadijah menatap dirinya, Rahil langsung menyalaminya dan pamit untuk menghindar agar sikap salah tingkahnya tidak terdeteksi.


Mobil mereka akhirnya pergi meninggalkan villa itu, kali ini Ameer yang mengemudikan mobil, Rahul dan Khadijah duduk di jok tengah, dan yang di belakang sudah pasti Rahil.


Dua jam perjalanan kini telah berlalu, tak ada lagi suara yang terdengar sebab semua orang kecuali Ameer telah terlelap dalam tidurnya.


"Aduh," pekik Khadijah yang tiba-tiba terbangun sambil mengusap perutnya, membangunkan semua orang.


"Kenapa sayang?" tanya Rahul


khawatir saat melihat istrinya itu kesakitan.


"Kak perutku sakit, sepertinya aku akan melahirkan," cicit Khadijah dengan keringat yang sudah membasahi keningnya karena menahan sakit.


"Apa?" pekik semua yang ada di dalam mobil itu terkejut.


"Kak Ameer, tolong arahkan mobil ke rumah sakit terdekat kak," pinta Rahul sambil mengusap punggung Khadijah.


"Oke," ucap Ameer lalu menyalakan maps di mobil di bantu Rabiah.


"Yang kuat yah Khadijah, insya Allah sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ujar Rabiah.


Beberapa menit kemudian, mereka benar-benar tiba di sebuah rumah sakit yang jaraknya masih jauh dari kota tempat mereka tinggal.


Kini Rahul tengah menemani Khadijah di ruang persalinan. Dimana saat ini, Khadijah sedang di periksa oleh bidan.


"Sejak kapan ibu merasakan sakit?" tanya bidan itu.


"Sebenarnya sejak tadi pagi, tapi baru tadi yang sakitnya sangat parah," jawab Khadijah, membuat Rahul terkejut. Pasalnya Khadijah sama sekali tidak mengatakan apa-apa padanya sejak pagi tadi.


"Kok nggak bilang sih?"


"Maaf kak, Khadijah pikir tadi pagi hanya kontraksi palsu, dan sakitnya masih bisa Khadijah tahan, apalagi usia kandungannya masih 35 minggu, jadi Khadijah santai saja, maaf yah." Khadijah memperlihatkan senyumannya sesaat karena beberapaa detik setelah itu rasa sakit kembali menghampirinya.


Bidan itu mengangguk paham, "bu sekarang ibu sudah membukaan 8, sebaiknya ibu siap-siap," ujar bidan itu membuat Khadijah mengangguk. Tangannya sejak tadi tidak lepas dari tangan sang suami yang dengan setia selalu melafadzkan Al-Qur'an di dekat telinganya.


Sementara di luar ruang persalinan, Rabiah tampak begitu tidak tenang, beberapa kali ia mondar mandir di depan ruangan itu. Ameer dan Rahil yang melihatnya ikut merasa lelah.


"Sayang, sudah yah mondar-mandirnya, lebih baik kamu duduk," titah Ameer, dan dengan patuhnya Rabiah langsung duduk tanpa protes.


Beberapa menit kini telah berlalu, hingga terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan itu.


"Alhamdulillah, udah lahir," ucap Rabiah sembari mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, kini Khadijah dan bayinya telah dipindahkan ke ruang rawat, sementara Rahul senantiasa selalu menemani mereka.


Meskipun lahir lebih cepat dari perkiraan, tapi bayi Khadijah dan Rahul tidak di masukkan ke dalam inkubator karena BB bayinya di atas 2,5 kg, dan kondisi bayi saat ini juga dinyatakan cukup sehat.


"Selamat yah kak, akhirnya jadi ayah juga," ucap Rabiah lalu memeluk kakaknya.


"Iya dek terima kasih," jawab Rahul dengan mata yang memerah dan sembab akibat menangis tiada henti saat melihat Khadijah berjuang hidup dan mati untuk melahirkan buah hatinya.


"Cengeng sekali," ejek Ameer, membuat Rahul langsung melotot ke arahnya.


"Ya ampun kak, aku berani jamin, kakak akan menangis lebih heboh dariku saat Rabiah yang melahirkan ini," sanggah Rahul.


"Oh yah?" ucap Aneer masih dengan nada mengejek, lalu beralih menatap Rabiah. "Aku anggap itu adalah doa, semoga Allah segera menghadirkan malaikat kecil kami di dalam sini," lanjutnya sambil mengusap lembut perut Rabiah yang masih datar.


"Aamiiin," ucap Rabiah sambil memegang tangan Ameer yang masih berada di perutnya.


"Oh iya, siapa namanya kak?" tanya Rabiah kemudian.


"Asiah Azkadina Putri, semoga ia bisa menjadi sosok wanita yang teguh imannya seperti Asiah istri Fir'aun dan cerdas," jawab Rahul.


"Aamiiin, wah, nama yang cantik, secantik orangnya," puji Rabiah kepada bayi di hadapannya yang sedang tertidur pulas.


Beberapa saat kemudian, Yasmin, Yusuf dan kedua orang tua Khadijah datang bersamaan setelah menempuh perjalanan yang tidak dekat.


Namun, bukannya melihat bayi, Yasmin justru langsung mengahampiri Rahul dan menarik kuping pria itu.


"Aduh ummi, sakit," pekik Rahul yang telinganya di tarik ke luar ruangan.


Rabiah yang bingung dengan sikap ibunya langsung menatap sang ayah seolah meminta jawaban.


"Ummi kalian saat ini sedang berada dalam mode 'lebih baik diam' untuk yang berhadapan dengannya," ucap Yusuf yang mengerti arti tatapan Rabiah.


"Aduh ummi sakit," pekik Rahul saat sudah di luar kamar.


"Ummi kan sudah bilang sebelumnya, jangan lama-lama disana, lihat? Sekarang Khadijah harus melahirkan saat di tengah jalan, untung ada rumah sakit, jjka tidak bagaimana?' ucap Yasmin kembali hendak menarik telinga Rahul namun Rahul dengan cepat menghindar.


"Tapi ummi, Rahul mana tahu ka..-"


"Eh, malah menjawab, udah tahu salah masih saja berkilah."


"Ampun ummi, Rahul salah."


"Bagus kalau kamu sadar, untung saja menantu dan cucu ummi tidak apa-apa."

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2