Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
RABIAH HAMIL?


__ADS_3

Tidak terasa satu bulan telah berlalu, Rabiah dan Rahil kini telah kembali sibuk dengan aktivitas kuliahnya, Rahul pun demikian, namun ia benar-benar harus membagi waktunya kali ini untuk kuliah, kerja dan menemani Khadijah menjaga anak mereka yang masih berusia satu bulan.


Semenjak pasca melahirkan, Khadijah dan Rahul memutuskan untuk tinggal bersama orang tua Khadijah. Meskipun sebenarnya mereka telah memiliki rumah hadiah dari abi Yusuf, namun berada di samping orang tua saat pasca melahirkan dapat membantu meningkatkan mood seorang ibu muda agar tidak mudah stres, apalagi saat di tinggal suami pergi bekerja, begitu kata ummi Yasmin saat itu.


Dan karena Khadijah masih mengambil cuti kuliah, Rabiah terpaksa mengikuti kuliah tanpa sahabat sekaligus kakak iparnya itu. Apalagi di tambah sang suami yang kini sedang berada di Singapura sejak satu minggu yang lalu untuk mengurus bisnis restorannya, membuat Rabiah benar-benar merasa kesepian.


Seperti saat ini, Rabiah sedang menikmati makan siangnya di kantin kampus seorang diri. Bukannya Rabiah tidak memiliki teman lain selain Khadijah, hanya saja teman-teman Rabiah sudah pulang lebih dulu karena jam kuliahnya yang sudah selesai hari ini, sementara Rabiah memilih makan siang dulu sebelum pulang.


"Rabiah, boleh aku duduk disini bersamamu?" tanya seorang gadis yang kini berdiri di samping meja Rabiah, membuat Rabiah menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu?" ucap Rabiah dengan menautkan kedua alisnya.


"Rabiah," seru gadis itu yang ternyata adalah Bella, ia langsung mengambil posisi duduk di hadapan Rabiah.


Rabiah bergeming, ia hanya menatap gadis itu tanpa bersuara sama sekali. Sejujurnya, ia masih sedikit kesal dengan semua yang telah dilakukan gadis itu kepadanya, namun hati kecilnya mengatakan untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi.


"Rabiah, aku kesini karena aku ingin minta maaf padamu atas perbuatanku selama ini, dan karena kesalah pahamanku juga kamu dan suamimu harus bercerai," gumam gadis itu dengan rasa bersalah yang tampak dari sorot matanya.


Rabiah menatap bola mata gadis itu, menelisik apakah yang dikatakan saat ini adalah jujur atau bohong. Dan yang ia dapatkan adalah kejujuran. Rabiah perlahan membuang napas sejenak sebelum akhirnya ia berbicara.


"Iya, aku sudah memaafkanmu" jawabnya singkat.


"Benarkah? Terima kasih Rabiah, kamu memang wanita yang baik," ucap Bella penuh rasa lega, tanpa sadar kini ia menggenggam kedua tangan Rabiah yang berada di atas meja.


"Eh, i-iya," jawab Rabiah terkejut saat tangannya di pegang oleh Bella.


"Kenapa kamu begitu mudah memaafkanku Rabiah?" tanya Bella lirih.


"Yaa karena semua sudah terjadi, jika aku marah dan dendam kepadamu, apa yang akan aku dapatkan? Lagipula semua sudah menjadi takdir Allah," jawab Rabiah.


Bella hanya terdiam, ia benar-benar menyesal dan merasa bersalah telah menjadi penyebab perpisahan Rabiah dengan Kamil yang tidak lain adalah kakak iparnya saat ini.


Sesaat kemudian, ponsel Rabiah berdering yang menandakan adanya panggilan masuk.


"Aku angkat telepon dulu," ucap Rabiah kepada Bella saat melihat nama "Zauji" di layar ponselnya lalu menggeser ikon telepon berwarna hijau di ponselnya.


"Assalamu 'alaikum?" ucap Rabiah lembut lengkap dengan senyuman bahagianya. Ia benar-benar sangat merindukan suaminya saat ini karena sudah seminggu suaminya itu berada di Singapura.


"Wa'alaikum salam, sayang, apa kamu masih ada kuliah setelah ini?" tanya Ameer dari seberang telepon.


"Udah nggak ada kak, ada apa?"


"Kalau begitu, pulanglah segera untuk berisitirahat sayang," ucapnya.


"Baik kak, ini juga udah mau pulang kok," jawab Rabiah.


Setelah mengakhiri telepon bersama sang suami, Rabiah langsung memyelesaikan makannya dengan cepat.


"Maaf, aku harus pulang sekarang," ucap Rabiah kepada Bella yang masih setia menunggunya sejak tadi.


"Oh iya baiklah," sahut Bella.

__ADS_1


Rabiah melangkah meninggalkan kantin lalu berjalan ke arah gerbang kampus untuk menunggu taksi.


Namun, saat baru sampai di gerbang, sebuah mobil yang tidak asing di matanya membunyikan klakson beberapa kali kepadanya.


Rabiah tentu saja terkejut melihat mobil milik suaminya berada di hadapannya saat ini.


"Siapa yah? Apa ayah Wildan?" batinnya sambil berjalan ke arah mobil.


"Kakak?" pekik Rabiah setelah membuka pintu mobil dan melihat Ameer berada di dalamnya.


"Assalamu 'alaikum sayang," ucap Ameer lembut.


"Wa'alaikum salam, hiks kak," jawab Rabiah lalu masuk dan memeluk sang suami dengan erat, dengan air mata kerinduan yang menetes ke pipinya tanpa ia sadari.


"Bagaimana kabarmu sayang? Aku sangat merindukan kamu," lirih Ameer di dekat telinga sang istri yang tertutup jilbab.


"Biah juga rindu," ucap Rabiah semakin mengeratkan pelukannya, namun beberapa saat kemudian, Rabiah melepaskan pelukannya dari Ameer.


"Kenapa sayang?" tanya Ameer heran.


"Kakak ganti parfum yah?" tanya Rabiah sambil menutup hidungnya.


"Hah?" Ameer yang merasa bingung akhirnya mengendus bau yang barada di bajunya, ia khawatir jika ada aroma lain yang menempel sehingga membuat istrinya itu menutup hidungnya.


"Nggak kok sayang, ini masih parfum yang biasa aku pakai, nggak ada yang aneh kok."


"Masa sih? Tapi kok Biah mual cium bau parfum kakak."


Namun, tetap saja Rabiah masih menutup.hidung sambil mengibaskan tangannya yang satu di hadapan hidungnya.


Setelah beberapa menit memperdebatkan bau parfum Ameer, kini mobil mulai melaju pulang ke kediaman Yusuf.


Sepanjang perjalanan, Ameer memasang wajah kusut dengan bibir yang di manyunkan karena merasa kesal. Pasalnya, saat ini Rabiah lebih memilih duduk di jok kedua untuk menghindari bau badan suaminya sendiri, bagaikan supir taksi dan penumpangnya.


Setelah sampai di rumah pun, Rabiah meminta Ameer untuk jalan lebih dulu, karena saat mereka berdekatan, Rabiah akan kembali merasakan mual.


Sikap Rabiah kali ini membuat Ameer merasa dongkol, ia berjalan lebih dulu memasuki rumah dengan wajah kusut kemudian di ikuti Rabiah di belakang.


"Assalamu 'alaikum ummi," sapa Ameer saat melihat Yasmin sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton.


"Wa'alaikum salam, eh kamu sudah datang nak, Biah mana?"


"Itu dia ummi," Ameer menunjuk Rabiah yang baru saja tiba dengan dagunya.


"Kalian kenapa tidak masuk rumah bersama? Lagi berantem?" selidik Yasmin.


"Nggak tahu ummi, katanya Biah nggak suka bau parfum Ameer," jawab Ameer sambil menatap Rabiah yang tak ingin berdekatan dengannya.


"Loh, kenapa bisa? Perasaan parfum kamu harum deh." Yasmin ikut mengedus pakaian menantunya itu.


"Tapi bau parfumnya bikin Biah mual ummi," jawab Rabiah.yamg lagi-lagi menutup hidungnya.

__ADS_1


"Mual?" Yasmin mengernyitkan alisnya menatap sang putri.


Tak banyak pembicaraan mereka bersama sang ibu. Kini Ameer dan Rabiah telah berada di kamar mereka. Ameer yang sebelumnya telah mandi sebelum menjemput Rabiah tadi terpaksa harus mandi kembali agar bau parfum di tubuhnya hilang.


Sementara Rabiah tengah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tok tok tok


"Biah," panggil Yasmin dari luar kamar, membuat Rabiah segera beranjak dan membuka pintu kamarnya.


"Iya ummi?"


"Ummi cuma mau tanya, apa kamu sudah datang bulan di bulan ini?"


"Hmm, sepertinya belum deh ummi, ada apa ummi?"


"Coba kamu cek sayang, ummi curiga kamu hamil," ujar Yasmin sembari memberikan dua buah tespek kepada Rabiah.


"Ha-hamil?" Rabiah terkejut, ia sama sekali tidak menyangka akan hal itu, sebab selama menikah dengan Kamil, ia tidak kunjung hamil.


"Masa sih ummi?"


"Coba aja cek sayang."


"Tapi, tapi Biah takut kecewa seperti saat Biah masih sama mas Kamil."


"Biah, jangan pernah ragukan kuasa Allah sayang, coba dulu yah," ucap Yasmin sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan kamar Rabiah.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi terbuka, membuat Rabiah segera menutup pintu kamar lalu menyembunyikan tespek pemberian ibunya ke belakang tubuhnya.


Kini tampak Ameer keluar dari kamar mandi dengan hanya menutupi setengah tubuhnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Melihat penampilan Ameer yang cukup memukau di hadapannya saat ini, membuat tubuh Rabiah seakan membeku, bahkan untuk beranjak dari tempatnya saja sepertinya sangat sulit.


Ameer yang melihat Rabiah tidak berkedip saat menatapnya membuat ia tersenyum jahil. Dengan begitu percaya diri, Ameer melangkah mendekati Rabiah, semakin dekat hingga membuat Rabiah tanpa sadar berjalan mundur ke belakang. Kesadarannya baru kembali total saat tubuhya menabrak dinding di belakangnya.


"Ka-kakak mau ngapain?" jerit Rabiah saat Kamil semakin mengikis jarak di antara mereka.


"Memangnya kenapa sayang? Kan udah halal."


"Eh, iya juga yah, aduh kenapa aku jadi blank begini sih," gerutu Rabiah dalam hati.


Jantung Rabiah kini semakin berdebar hebat, membuatnya semakin salah tingkah, hingga akhirnya ia kembali teringat tentang tespek yang sampai saat ini masih setia bersembunyi di belakangnya.


Rabiah mendorong pelan tubuh suaminya, "maaf kak, Biah mau ke kamar mandi dulu," ucap Rabiah lalu segera berlari menuju kamar mandi, membuat Ameer tertawa puas telah mengerjai istrinya itu.


Sementara di dalam kamar mandi, Rabiah tampak sedang menunggu hasil tesnya, ia sungguh tak sabar jika harus menunggu pagi dulu baru melakukan tes. Hingga akhirnya benda kecil pipih di hadapannya memperlihatkan hasilnya yang membuat matanya seketika membola.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2