Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
MEMBERI KESEMPATAN


__ADS_3

Point of View Rabiah


Ku pikir dulu aku adalah gadis paling beruntung, dinikahi pria seperti mas Kamil, pria tampan, hangat, sabar dan penyayang. Yah aku sempat merasa sangat bahagia saat itu, aku merasa kehidupanku sangat sempurna, tapi rupanya kesempurnaan itu hanya berlangsung sebentar. Di usia pernikahan kami yang bahkan belum cukup satu tahun, musibah mulai menghampiri, bukan pengkhianatan apalagi kekerasan, aku sendiri tidak mengerti bagaimana menjelaskan keadaanku saat ini.


Kenyataan pahit datang menamparku, kenyataan yang membuat hatiku hancur dan kenyataan yang membuat posisiku serba salah, aku ingin menyalahkan tapi posisiku justru membuatku selalu merasa bersalah.


Yah, rupanya selama ini aku menikah dengan pria yang sudah memiliki istri, posisiku yang dulu ku pikir istri satu-satunya, ternyata malah istri kedua.


Cerai, itulah yang ku inginkan saat ini, berharap kehidupan rumah tangga suamiku dan istri pertamanya bisa lebih tentram tanpa kehadiranku di tengah mereka, dan yang paling penting, aku bisa hidup tanpa bayang-bayang istri pertama. Tapi sekali lagi aku harus di hadapkan pada posisi serba salah. Suamiku tidak ingin menceraikanku, alasannya dia bisa berlaku adil, dan istri pertama mengizinkan pernikahan keduanya, di tambah suamiku tidak pernah melakukan hal-hal melanggar yang bisa ku jadikan alasan untuk menggugat cerainya.


Lalu apa yang harus ku lakulan? Aku benar-benar dilema saat ini.


🌷🌷🌷


 


Yusuf duduk sembari memijit pangkal hidungnya, sementara Yasmin menggenggam tangan Rabiah. Kamil telah menceritakan semuanya kepada kedua mertuanya itu.


"Apakah kedua orang tuamu mengetahui hal ini?" tanya Yasmin kemudian.


"Tidak ummi, sampai sekarang Kamil tidak berani memberitahukannya kepada mereka, penyakit jantung papa masih dalam masa pemulihan, Kamil khawatir kabar ini justru akan membuat keadaan papa semakin memburuk," jawab Kamil.


"Sebaiknya kamu menceraikan Rabiah, hati wanita manapun akan merasa sakit jika harus berbagi kasih dengan wanita lain, termasuk putriku ini," cetus Yasmin, membuat Kamil terkejut.


"Kamil tidak bisa ummi, Kamil sangat mencintai Rabiah, bukankah kamu juga mencintaiku Biah?" tanya Kamil kepada Rabiah yang saat ini kembali menunduk menahan air matanya. "Ku mohon beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa bersikap adil dan tetap membuatmu merasa nyaman," lanjut Kamil.


"Kau tidak bisa egois Kamil, bagaimanapun yang menjadi korban disini adalah Rabiah, kami tidak ingin Rabiah menderita dengan posisinya sebagai istri kedua, bukan dalam hal perlakuan, tapi ini juga menyangkut pandangan orang kepadanya. Sebaik apapun seseorang, jika dia istri kedua, akan banyak saja persepsi buruk yang akan orang-orang pikirkan tentangnya, begitupun Rabiah, apa kau tidak memikirkan hal itu?" tanya Yusuf.


Kamil hanya menunduk, "Kamil mohon maaf abi, ummi, Biah, karena sudah membuat kalian kecewa, tapi Kamil mohon, beri Kamil kesempatan untuk membahagiakan Rabiah," ucap Kamil dengan air mata yang mulai mengalir sambil menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.


Yusuf dan Yasmin saling berpandangan, mereka lalu beralih menatap Rabiah yang menunduk dengan air mata yang juga ikut mengalir.


"Keputusan ada di tangan Rabiah, biarkan dia memikirkannya terlebih dahulu," ucap Yusuf lalu memegang tangan Rabiah.


"Rabiah, bagaimana sayang? Apapun keputusanmu, ummi dan abi akan selalu bersamamu, sayang," ujar Yasmin.

__ADS_1


"Pikirkanlah matang-matang, dan jangan pernah mengambil keputusan saat kamu masih marah, karena bisa saja suatu hari kamu menyesal dengan keputusan itu," ujar Yusuf mengingatkan.


"Kasi Biah kesempatan untuk berpikir dan memohon petunjuk dari Allah," cicit Rabiah, ia ingin bercerai, tapi disisi lain ia tidak tega melihat Kamil yang bermohon-mohon seperti itu di hadapannya dan kedua orang tuanya.


Rabiah kini masuk ke dalam kamar tamu, untuk saat ini ia ingin berpikir tanpa gangguan dari siapapun, termasuk Kamil. Yusuf dan Yasmin pun telah pulang sejak tadi.


Sementara Kamil, hanya bisa duduk di pinggir tempat tidur dengan pikiran yang benar-benar kalut, ia sudah meminta Rabiah untuk tidur di kamar utama dan ia yang akan tidur di kamar tamu, namun Rabiah menolak.


Kini malam semakin larut, Rabiah masih belum bisa memejamkan matanya. Setelah melakukan sholat istikharah, Rabiah berharap ia bisa langsung tertidur, namun nyatanya pikirannya masih terbang kemana-mana.


Tanpa ia sadari, air mata kembali membasahi pipinya, nasib cintanya begitu tragis. Ia baru saja bahagia setelah mengubur cinta pertamanya untuk sang suami, namun kali ini cintanya kepada sang suami justru membuatnya terluka.


Hingga pukul 2 dini hari, Rabiah baru bisa memejamkan matanya dan mulai bermimpi. Di dalam mimpinya, Rabiah sedang berdiri di atas sebuah tebing, di kedua sisi tebing itu berdiri dua pria, pria pertama adalah Kamil yang berada tepat di tepi tebing yang curam dan pria kedua tidak terlihat wajahnya karena dalam keadaan memunggungi Rabiah dan berada di jalan turun dari tebing. Kamil terlihat sedang merentangkan kedua tangannya seolah sedang memanggil Rabiah untuk datang ke pelukannya, sementara pria yang memunggunginya tidak melakukan apapun. Sehingga itu membuat Rabiah yakin bahwa memilih Kamil adalah jawaban dari Allah.


🌷🌷🌷


Kini matahari mulai terbit, memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru kota. Udara pagi yang begitu sejuk turut menyejukkan hati Rabiah yang sejak tadi duduk termenung di dekat jendela yang terbuka lebar.


Hari ini ia akan memberi keputusan kepada Kamil, keputusan yang bersanding dengan konsekuensi di belakangnya, Rabiah jelas tahu itu, namun tidak ada cara lain, itulah jawaban yang dapat ia tangkap dari mimpinya semalam.


Tok tok tok


Rabiah sempat terkejut, pasalnya ia baru saja berencana akan memasak namun Kamil telah lebih dulu memasak untuknya.


Rabiah kini bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Rupanya Kamil masih setia menunggunya di depan kamar itu.


"Mas," ucap Rabiah saat berdiri tepat di hadapan Kamil.


"Yuk, kita sarapan dulu," ucap Kamil lalu menarik tangan Rabiah dengan lembut menuju ke meja makan. Kini mereka duduk bersampingan di meja makan, seperti biasa Rabiah akan menyendokkan nasi ke piring Kamil terlebih dahulu baru ke piringnya.


"Biah, apa kamu menangis semalaman sayang, matamu tampak bengkak?" tanya Kamil lembut seperti biasa sambil mengusap pipi Rabiah.


"Hmm," jawab Rabiah singkat.


"Maafkan mas sayang, mas tidak pernah bermaksud ingin menyakitimu," ucap Kamil lesu.

__ADS_1


"Hmm," jawab Rabiah singkat.


Kamil kini diam, ia tidak ingin membuat Rabiah merasa risih dengan deretan pertanyaan yang ia lontarkan pagi ini.


"Mas," panggil Rabiah membuat Kamil menoleh ke arahnya, "aku sudah memikirkannya semalaman, aku akan tetap disini, menjadi istrimu, tapi ada syaratnya," lanjutnya.


"Alhamdulillah, apa syaratnya sayang?" tanya Kamil.


"Pertama, kemarin mas bilang pernikahan mas dan mbak Rani adalah pernikahan siri, Biah minta sahkan pernikahan mas secara hukum agar mas maupun mbak Rani terhindar dari fitnah. Kedua, jangan sembunyikan status mbak Rani sebagai istri mas, mbak Rani sudah berbesar hati menerima Rabiah sebagai madunya maka sepantasnya mas jujur mengenai status kalian, termasuk kepada mama dan papa, Biah tahu, mungkin Biah yang akan kena konsekuensinya tapi itu lebih baik daripada mas harus selalu berbohong. Dan yang ketiga, perlakukan kami dengan adil." Papar Rabiah.


"Baik, sayang. Mas akan secepatnya mengurus pengesahan pernikahan mas dan Rani di KUA, insya Allah mas juga akan umumkan status pernikahan mas dengan Rani dan kamu di kantor dan teman-teman mas, untuk mama dan papa, mas akan melihat kondisi papa dulu, mas tidak ingin kesehatan papa memburuk. Dan untuk yang terakhir, mas janji, mas akan perlakukan kalian dengan adil," jawab Kamil, "terima kasih sayang sudah memberikan mas kesempatan," ucap Kamil lalu mengecup kening Rabiah dengan lembut.


🌷🌷🌷


Di Singapore


"Hei Ameer, apa besok kau jadi pulang ke negaramu?" tanya Jhony yang saat ini sedang bersama Ameer di perpustakaan.


"Insya Allah, memangnya kenapa?" tanya Ameer.


"Apa aku boleh ikut? Aku sudah lama tidak liburan ke luar negeri," pinta Jhony.


"Apa kau tidak punya kesibukan lain selain mengekoriku?" tanya Ameer.


"Siapa juga yang mengekorimu, aku hanya ingin liburan, mumpung aku belum pernah ke Indonesia," tandas Jhony.


"Terserah kau sajalah, tapi kau jangan tinggal di rumahku, tinggal saja di rumah pamanku," cetus Ameer.


"Astaga, kenapa kau tega sekali?"


"Aku bukannya tega, tapi di rumah aku punya adik gadis, aku takut kau jatuh cinta padanya."


"Mana mungkin aku jatuh cinta pada gadis kecil seperti adikmu, lagipula aku sudah memiliki kekasih."


"Ya siapa tahu saja kan, mencegah lebih baik daripada mengobati."

__ADS_1


"Sembarangan kau, memangnya aku penyakit," gerutu Jhony membuat Ameer sedikit terkekeh.


-Bersambung-


__ADS_2