
Malam begitu indah, gemerlap bintang yang bertaburan menghiasi langit menambah pancaran keindahan akan ciptaan Allah.
Kini tiba saatnya makan malam, Rahul secara khusus mengajak Rabiah untuk makan malam bersama di sebuah restoran, dia ingin menjelaskan semua yang terjadi pagi tadi kepada saudara kembarnya itu.
Dan disinilah mereka sekarang, Rahul dan Khadijah duduk di hadapan Rabiah yang saat ini sedang duduk sambil bersedekap tangan dengan tatapan mengintimidasi.
Bagaikan pasangan anak muda yang kedapatan pacaran oleh ibunya. Rahul dan Khadijah sejak tadi hanya menunduk, untuk menatap wajah Rabiah saja mereka seolah tidak berani.
"Sekarang, tolong jelaskan apa yang terjadi? Apa selama ini kalian mengerjaiku? Apa hanya aku yang tidak tahu? Lalu siapa pria yang kamu perlihatkan fotonya padaku Khadijah? Dan kenapa tadi pagi kak Rahul seperti tidak ingin pergi padahal ternyata kak Rahul lah mempelai prianya? cecar Rabiah memberondong pertanyaan kepada pasangan pengantin baru yang berada di hadapannya saat ini.
"Begini Biah, kejadian hari ini sungguh di luar rencana kami, sebenarnya.....
Rahul mulai menceritakan kronologinya secara detail berdasarkan yang ia lihat dan dengar tanpa menyembunyikan apapun dari Rabiah.
Rabiah sejenak tertegun, "wah, Allah memang luar biasa," gumamnya.
"Benar, Dia menjauhkanku dari pria yang bukan jodohku," timpal Khadijah.
"Dan Dia menuntunku untuk datang ke acara ini bukan sebagai tamu namun sebagai mempelai pria," lanjut Rahul.
Kedua netra pengantin baru itu saling bertemu, namun sesaat kemudian keduanya menunduk malu dengan wajah memerah bagaikan kepiting rebus.
"Ekhem, aku masih disini oke, harap jaga perasaan janda muda satu ini," celetuk Rabiah membuat ketiganya terdiam sejenak, namun di detik berikutnya tawa mereka pecah.
"Selamat untuk kalian berdua, semoga Allah senantiasa meridhoi rumah tangga kalian," ucap Rabiah tersenyum bahagia.
"Aamiiin, makasih dek."
"Apa Rahil sudah tahu?" tanya Rabiah.
"Sudah, tadi siang ummi mengabarinya dan insya Allah besok pagi kita akan menjemputnya di bandara," jawab Rahul.
🌷🌷🌷
Kini malam semakin larut, Rahul maupun Khadijah telah masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
Keduanya masih tampak begitu canggung, jika Rahul duduk di sofa, Khadijah justru memilih duduk di pinggir tempat tidur. Masing-masing saling diam dan larut dalam kegugupan mereka masing-masing.
"Kak, tidurlah di sini, aku akan tidur di sofa," cicit Khadijah lalu berjalan ke arah sofa.
Rahul mengerutkan alisnya saat mendengar perkataan Khadijah.
"Kenapa begitu?"
__ADS_1
"Karena kita nikah mendadak hari ini kak, barangkali kakak belum siap tidur bersama seorang wanita..-" ucapan Khadijah terputus saat Rahul menarik tangannya dengan lembut menuju tempat tidur.
"Kita sudah resmi menikah pagi tadi, jadi mulai hari ini, kita akan menjalankan roda kehidupan kita bersama, tidur bersama, makan bersama, sedih bersama dan bahagia pun bersama, jika kamu belum terbiasa, maka belajarlah membiasakan diri, akupun akan melakukan hal yang sama," tutur Rahul setelah duduk bersama Khadijah di pinggir tempat tidur.
"Maaf," cicit Khadijah sambil menunduk.
"Maaf untuk apa?" tanya Rahul bingung.
"Karena sudah menyeret kakak ke pernikahan ini,"
Rahul terdiam sejenak, perlahan ia meraih dagu Khadijah dengan tangan kanannya lalu mengangkat wajahnya hingga kedua manik mata mereka saling bertemu.
"Apa kamu tidak mendengarnya tadi? Atau aku harus mengulanginya kembali?" tanya Rahul dan Khadijah hanya diam tak bersuara.
"Dengarkan baik-baik Khadijah, aku menawarkan diri untuk menikahimu karena memang aku mencintaimu, entah sejak kapan perasaan itu muncul, yang jelas saat aku berada di dekatmu, jantungku bagaikan gendang yang bertalu-talu tidak keruan, saat aku mendengar kabar pernikahanmu, hatiku terasa sakit dan hancur,"
"Bahkan sebenarnya kemarin aku tidak ingin pergi ke acara pernikahanmu karena aku tidak sanggup melihatmu menikah dengan pria lain, tapi qadarullah, melalui bujukan Rabiah, Allah membawaku datang, dan akhirnya aku bisa berada sedekat ini denganmu dalam ikatan halal," terang Rahul panjang lebar tanpa mengalihkan tatapannya dari bola mata indah yang kini tampak mengeluarkan bulir air mata.
Tangan kiri Rahul terangkat untuk mengusap air mata di pipi mulus Khadijah dengan begitu lembut.
"Terima kasih kak, karena bersedia menikahiku dan menyelamatkan keluargaku dari gunjingan orang-orang akibat batal nikah,"
"Akulah yang berterima kasih karena kamu dan keluarga kamu sudah menerimaku untuk menikahimu,"
🌷🌷🌷
Keesokan paginya, Rabiah sedang bersiap-siap di hadapan cermin. Ia mengamati pantulan dirinya di dalam cermin yang saat ini sedang memakai gamis berwarna cokelat yang ia padukan dengan pasmina syar'i berwarna cream.
Ia tersenyum manis kepada pantulan dirinya, "Biah, kamu wanita kuat, kamu wanita hebat, mulai saat ini kebahagiaan akan selalu menghampirimu," monolognya memberi sugesti positif kepada dirinya sendiri.
Tok tok tok
"Biah, ini aku Khadijah,"
"Khadijah? Kenapa dia disini?" Rabiah termenung sejenak karena melupakan sesuatu.
"Ya ampun kakak iparku," gumamnya lalu berlari membuka pintu kamarnya.
"Maaf Khadijah, tadi aku sempat lupa kalau sekarang kamu kakak iparku," celoteh Rabiah, membuat Khadijah tersipu malu.
"Yuk, kak Rahul udah menunggu di bawah," ajak Khadijah merangkul lengan Rabiah.
Mereka pun berjalan bersama menuruni anak tangga hingga mereka tiba di lantai bawah dimana Yasmin, Rahul dan Rayhan sedang asik bercerita di ruang keluarga.
__ADS_1
"Rayhan, ikut jemput Rahil yuk," aja Rabiah.
"Malas ah, Ray mau nonton film kartun favorit Ray sebentar lagi," tolak Rayhan.
"Memangnya kamu nggak rindu sama kakak kamu?" tanya Yasmin sambil merangkul pundak putra bungsunya itu.
"Rindu ummi, tapi kan kak Rahil nanti akan kesini, jadi sekalian ketemu disini saja," kilah Rayhan.
"Ya udah, kalau begitu kami berangkat dulu ummi," pamit Rahul lalu mencium tangan Yasmin di ikuti oleh Rabiah dan Khadijah.
"Rahul, jaga menantu dan putri kesayangan ummi yah, awas kalau sampai lecet," seru Yasmin saat Rahul hendak melangkah keluar rumah.
"Kayak barang aja ummi sampai lecet."
"Pokoknya jagain yah, awas kalau nggak."
"Lalu siapa yang jaga Rahul?"
"Jaga diri sendiri, udah besar kan," jawab Yasmin, membuat Rahul memanyunkan bibirnya, sementara Khadijah hanya bisa menahan tawanya melihat ibu dan anak itu.
Tak terasa, kini mereka bertiga tiba di bandara.
"Eh bukannya itu kak Ameer yah?" tanya Rahul sambil menunjuk ke arah pria tampan dengan baju kaos putih di balut dengan jaket hitam.
"Eh iya benar, itu kak Ameer," lirih Rabiah sambil ikut memandangi sosok pria tersebut.
"Astaghfirullah.. Nggak boleh kayak gini," batin Rabiah yang baru tersadar sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita samperin kak Ameer," ucap Rahul namun terhenti saat suara pria memanggilnya.
"Rahuuuuul, Rabiaaaah," panggil Rahil sambil melambaikan tangannya ke arah mereka.
Rupanya di saat yang sama Ameer yang mendengar nama Rabiah ikut berbalik mencari si pemilik nama itu.
"Biah," ucap Ameer terkejut, ia hendak menghampiri Rabiah dan dua saudara kembarnya yang saat ini tampak sedang bergantian saling berpelukan. Namun, langkahnya terhenti saat seorang wanita memanggil namanya.
"Ameer." Ameer menoleh ke arah sumber suara, disana sudah ada seorang wanita cantik yang melambaikan tangan ke arahnya, menyusul Jhony yang berjalan tidak terlalu jauh di belakangnya karena repot mendorong troli yang berisi koper bawaan mereka.
Sementara itu, Rabiah yang juga mendengar seorang wanita memanggil nama Ameer ikut menoleh ke arah sumber suara.
"Siapa wanita itu?"
-Bersambung-
__ADS_1