
Matahari semakin tinggi, namun suhu di tempat itu tetap saja terasa sejuk. Rabiah sejak tadi begitu menikmati hembusan angin sepoy-sepoy yang terasa sejuk dan bersih menerpa wajahnya, ia duduk menyamping di kursi kayu panjang yang berada di dekat jendela kamarnya sambil menyenderkan tubuhnya di pegangan kursi, sementara Ameer sedang berbaring di pangkuan Rabiah.
Jari-jemari Rabiah begitu lembut mengusap rambut Ameer, membuat Ameer merasa begitu nyaman. Namun beberapa saat kemudian, seekor lebah terbang masuk ke dalam kamarnya melalui jendela.
"Kak, ada lebah tuh, tolong bantu keluarin dong, Biah takut," ucap Rabiah sambil menepuk pelan pundak Ameer, membuat pria itu segera bangkit dan melihat lebah yang di maksud Rabiah kini sedang hinggap di gorden jendela.
"Biah, lebah itu baik, dia tidak akan mengganggu jika tidak di usik," ucap Ameer tenang.
"Yaa tapi tetap aja Biah takut kak," rengek Rabiah.
"Kamu mau kakak kasi keluar lebahnya?" Rabiah mengangguk, "kalau gitu panggil kakak sayang," lanjut Ameer menahan senyumnya.
Mata Rabiah membola seketika, "kakak apaan sih, kan tinggal kasi keluar aja."
"Mau di bantu atau tidak nih?"
"Iya kak, bantu Biah yah... Sa-sayang," ucap Rabiah tergagap.
Ameer mengulum senyum melihat wajah istrinya yang kini memerah bagaikan kepiting rebus.
"Gitu dong, sayang," goda Ameer lagi sebelum akhirnya ia berdiri dan mengambil sebuah kertas yang dilipat kemudian menyelipkan kertas itu di tubuh lebah hingga lebah itu masuk ke dalam lipatan kertas, setelah itu Ameer membuangnya keluar, sementara kertas tadi ia buang ke tempat sampah.
"Biah, kamu tahu kan, lebah itu salah satu hewan yang diistimewakan oleh Allah? saking istimewanya, lebah tidak hanya di abadikan dalam Al-Qur'an, tetapi juga menjadi nama surah Al-Qur'an, kamu tahu surah apa?"
"Hmm, An-Nahl, An-Nahl kan artinya lebah."
"Betul, ih pinter banget sih istriku," ucap Ameer bangga sambil mengusap lembut kepala Rabiah.
"Kamu tahu, Rasulullah menganjurkan seorang mukmin agar hidup dengan meniru sifat lebah, hadisnya tuh kayak gini,
Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa ia mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin seperti lebah. Dia memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik, hinggap namun tidak memecah dan merusak’ (HR. Ahmad)."
Rabiah mengangguk paham dengan apa yang di katakan sang suami. Hingga suara ribut-ribut dari bawah rumah membuat Ameer dan Rabiah terkejut.
"Ada apa itu?" tanya Ameer.
"Nggak tahu kak, tapi kenapa Biah seperti mendengar suara Rahil?"
Mereka akhirnya memutuskan untuk keluar kamar, bersamaan dengan Khadijah dan Rahul yang juga keluar dari kamar yang berada di samping kamar mereka dengan raut wajah sama yaitu bingung.
Bibi Khadijah tiba-tiba jalan tergopoh-gopoh dari dapur menuju ke pintu depan dan langsung turun dari rumah tanpa memperhatikan kehadiran mereka.
Dua pasang suami istri yang bingung itu akhirnya ikut turun menyusul bibi Khadijah.
"Ibu ibu.. Ibu.." panggil gadis itu dengan suara nyaringnya, membuat Rahil refleks menutup satu telinganya sambil menatap tajam ke arah gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa lihat-lihat?" gertak gadis itu.
"Lepaskan tanganku." Rahil menghentakkan tangannya dengan kuat saat gadis itu lengah hingga cengkraman gadis itu terlepas.
"Ada apa ini Wafdah?" tanya bibi Khadijah yang baru saja turun dari rumah.
"Ibu.. Lihat nih, aku dapat pria ca**l di kebun teh tadi, masa dia mengambil foto Wafdah diam-diam," sungut gadis itu kesal.
"Apa? Dia mengataiku ca**l? Astaga gadis ini benar-benar keterlaluan," batin Rahil tidak terima.
"Apa?" ucap ibunya sedikit ragu, pasalnya ia mengingat wajah Rahil yang ada di hadapannya saat ini adalah suami Khadijah.
"Wafdah, kamu jangan sembarangan tuduh yah, dia itu suami sepupu kamu," ujar bibi Khadijah, membuat gadis yang bernama Wafdah itu membulatkan matanya.
"Bu-bukan tante, sa..-" Rahil mencoba meluruskan, namun ucapannya terhenti saat Rahul dan Khadijah turun di ikuti Rabiah dan Ameer.
"Loh, ini kenapa suami kamu jadi dua Khadijah?" tanya bibi Khadijah bingung saat melihat Rahul berada di samping Khadijah.
"Bukan dua bibi, mereka itu kembar," Khadijah meluruskan kebingungan bibinya. "Kamu ada masalah apa Wafdah?" Khadijah kini bertanya kepada adik sepupunya itu.
"Ini kak, Wafdah menangkap basah dia sedang mengambil fotoku," ujar Wafdah sambil menunjuk Rahil yang berdiri di sampingnya.
"Bukan begitu, tadi itu aku sedang asik memotret pemandangan di kebun teh, tapi tidak sengaja dia ikut tartangkap kamera," jelas Rahil cepat.
"Nggak!"
"Sudah-sudah, gini aja, kalau kamu tidak terima ada foto kamu di dalam kamera Rahil, yah Rahil akan menghapusnya, iya kan Rahil?" ujar Khadijah meminta persetujuan Rahil.
"Iya, memang itu rencanaku, kalau tidak suka yah hapus," jawab Rahil dengan wajah yang tampak kesal. Ia lalu mengambil kameranya dan langsung menghapus foto yang dimaksud tepat di hadapan gadis itu.
Wafdah hanya diam, ia sedikit merasa bersalah telah salah paham, namun gengsinya lebih mendominasi saat ini.
"Nah, sudah beres kan Waf? Tanya Khadijah.
"Hmm," jawab gadis itu singkat lalu pergi meninggalkan mereka.
"Maaf yah Rahil, Wafdah memang orangnya kayak gitu, tomboy dan bar-bar, tapi aslinya dia sangat baik kok.
"Iya, kalau gitu aku naik dulu," ucap Rahil lalu naik ke atas rumah dengan wajah datarnya.
🌷🌷🌷
Tidak terasa, kini malam telah menjemput, bibi Khadijah bersama Khadijah dan Rabiah telah selesai menyiapkan makan malam.
Rabiah dan Khadijah kini menghampiri para suami yang kebetulan sedang bercerita di depan rumah, termasuk Rahil.
__ADS_1
"Ayo makan dulu," ucap khadijah, membuat ketiga pria yang memang sudah lapar langsung berdiri dengan patuhnya.
Masing-masing mengambil posisi untuk lesehan, sebab menurut mereka makan bersama secara lesehan lebih nyaman, sebagaimana ucapan kakek Syawal malam itu.
Saat sedang asik makan, Wafdah datang untuk ikut makan bersama. Jika tadi siang rambutnya di sanggul, malam ini rambut Wafdah di kuncir seperti ekor kuda.
Dengan canggung, ia duduk di samping ibunya yang kini tengah mengambil makanan untuknya, sesekali ia mencuri tatapan ke arah Rahil yang terlihat begitu tampan namun dingin. Bahkan kehadiran Wafdah disitu tidak membuat Rahil menoleh arahnya.
"Pasti dia sangat marah, aduh gimana ini?" batin Wafdah.
"Waf, apa kegiatanmu akhir-akhir ini?" tanya Khadijah memecah keheningan di antara mereka terutama Wafdah yang tadi melamun.
"Sekarang lagi nunggu jadwal kuliah untuk mahasiswa baru kak," jawab Wafdah.
"Kamu kuliah dimana?" Rabiah ikut bertanya.
"Di Universitas A kak, kebetulan kemarin ambil jurusan hukum," jawabnya.
"Wah, sama dong dengan Rahil, dia juga jurusan hukum, tapi dia kuliahnya di Makassar," ujar Rabiah
"Ool gitu," jawab Wafdah singkat yang lagi-lagi merasa tidak enak karena di hubungkan dengan Rahil.
Tak terasa makan malam yang begitu nikmat pun telah selesai, satu per satu orang mulai masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Kecuali Rahil yang masih duduk di depan rumah sambil memainkan ponselnya.
"Waf, bukan kah kamu harus minta maaf sama saudara kembar suami Khadijah karena kesalahpahaman kamu siang tadi?" ujar bibi Khadijah.
"I-iya sih bu, tapi Wafdah takut, sepertinya dia sangat marah," cicit Wafdah.
"Coba aja, ibu lihat dia pria baik," tukas ibunya, membuat Wafdah menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke depan rumah dimana Rahil berada.
Rahil yang menyadari kedatangan Wafdah melalui ekor matanya langsung beranjak dari duduknya dan hendak masuk rumah.
"Tunggu kak," ucap Wafdah cepat membuat langkah Rahil terhenti.
"Ada apa?" tanya pria itu singkat tanpa berbalik ke arah Wafdah.
"Ma-maaf atas kejadian tadi siang, aku sudah salah paham," cicitnya.
"Hmm, iya," ucap Rahil singkat lalu lembali melangkahkan kakinya.
Namun, saat baru beberapa langkah, Rahil kembali berhenti.
"Lain kali jangan sembarangan menyentuh pria yang bukan mahrammu, bagus kalau pria itu baik, bagaimana jika pria yang kamu pegang tadi adalah pria ca**l, bisa habis kamu," lanjut Rahil lalu masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Wafdah yang diam mematung di tempatnya.
-Bersambung-
__ADS_1