
"Biah, kakak ingin menikahi kamu."
Degh
"Menikahi Biah?" ulang Rabiah dan Ameer mengangguk.
Rabiah seketika tergugu, lidahnya kini terasa kelu tak mampu menjawab pernyataan Ameer. Jantung yang tadi berdebar kini semakin bertalu-talu membuat aliran darahnya berdesir.
Rasanya seperti mimpi, jika saja ia belum pernah menikah, mungkin Rabiah sudah melayang karena begitu bahagia, namun situasi yang ia hadapi saat ini sudah berbeda, dia pernah menikah namun gagal, ia pernah mencintai suaminya namun dikecewakan, dan sekarang ia baru saja resmi becerai dengan suaminya dan menyandang status janda. Rabiah sendiri tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Dilema, itulah yang ia rasakan saat ini.
"Tenang saja, kakak tidak meminta jawaban kamu sekarang, kakak paham akan situasi kamu saat ini yang pasti terasa berat, di tambah pengalaman pahitmu dalam membina rumah tangga sebelumnya tentu menjadi bahan pertimbangan kamu kali ini," ujar Ameer seolah paham akan diamnya Rabiah saat ini.
"Kakak hanya mengatakannya sekarang karena kakak tidak ingin diam-diam terus yang akhirnya akan berujung pada penyesalan seperti kemarin. Jika suatu hari nanti, kamu siap membuka hatimu, maka ingatlah, ada kakak yang selalu menunggumu,"
"Tapi itu berlaku jika kakak memiliki tempat di hati kamu, namun jika di hati kamu sudah ada pria lain maka katakan segera agar kakak berhenti menunggumu," jelas Ameer melihat sekilas ekspresi Rabiah saat ini yang hanya melihat ke arah ikan bakar namun pikirannya melayang entah kemana.
"Udah matang belum ikannya?" teriak Rahul karena sejak tadi ia melihat Rabiah dan Ameer hanya saling berhadapan.
"Sepertinya ini sudah matang, kakak bawa yang ini yah," ucap Ameer seraya mengambil dua ekor ikan yang menurutnya sudah matang, lalu pergi ke meja makan meninggalkan Rabiah yang masih diam termenung dengan mata yang mulai berembun namun ia tidak tahu kenapa.
Yusuf yang sejak tadi memperhatikan Ameer dan Rabiah tentu tahu bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu tapi ia sendiri tidak tahu apa. Kini Yusuf hanya memandangi pria yang kini sudah kembali di hadapannya sambil menyajikan dua ekor ikan bakar sambil memicingkan mata.
"Semoga Ameer adalah obat penghapus luka yang Allah kirimkan untuk Rabiah," batin Yusuf.
Yasmin yang melihat Rabiah tampak melamun akhirnya memanggil putrinya itu untuk ikut makan bersama. Dan dengan patuh Rabiah kembali ke meja dan mencari tempat duduk yang masih kosong, dan itu hanya ada di samping Ameer.
Dengan rasa yang semakin canggung, Rabiah menarik kursi sedikit menjauh dari Ameer agar ia bisa makan bersama dengan lebih nyaman.
Dalam diam, Ameer sesekali melihat ke arah Rabiah yang sedang fokus makan ikan, namun saat mengalihkan tatapannya, matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Yusuf yang memang sejak tadi menatapnya dengan tatapan tajam, refleks Ameer langsung tersedak oleh makanannya karena begitu terkejut.
"Uhuk uhuk" Ameer memukul dadanya pelan.
__ADS_1
"Minum ini, makanya kalau makan ikan yang di lihat itu ikannya, bukan yang sedang makan ikan," sindir Yusuf sembari menyodorkan segelas air minum kepada Ameer yang masih terbatuk.
"Iya uncle, maaf," cicit Ameer yang merasa sangat malu degan wajah dan telinga yang kini memerah.
Kegiatan makan bersama itu berlangsung sangat hikmat, hingga tidak terasa malam pun semakin larut. Kini semua keluarga Wildan pamit untuk pulang, sementara Rabiah sejak tadi sudah kembali ke kamarnya.
Lampu di kamar Rabiah sudah di matikan, namun Rabiah sama sekali belum bisa memejamkan mata. Ungkapan Ameer tadi benar-benar telah membuat hatinya gelisah, pikirannya terbang kemana-mana.
Rabiah sadar, statusnya yang saat ini janda tentu akan memberikan nilai negatif kepadanya jika ia kembali menjalani rumah tangga hanya dalam waktu singkat setelah perceraiannya dengan Kamil. Ia hanya manusia biasa, bagaimana pun usahanya untuk mengabaikan cibiran orang, tetap saja itu bisa melukai hatinya. Sebab ia punya telinga yang bisa mendengar, ia punya mata yang bisa melihat, dan ia punya hati yang bisa merasakan sakit.
"Ya Allah, ku serahkan semua yang ada pada hamba hanya untuk Engkau duhai Sang Pemilik Kehidupan, Sang Pemilik Cinta. Takdirmu adalah sebaik-baik pelajaran, dan di balik setiap pelajaran tentu ada hikmah berharga yang telah Engkau siapkan. Jika suatu saat Engkau menghendaki hamba membuka hati kembali untuk menjalani sebuah pernikahan, semoga imamku kali itu adalah obat penghapus luka dan rahmat pembawa kebahagiaan," ucapnya berdoa lalu mulai memejamkan matanya.
🌷🌷🌷
Di tempat lain, hal yang sama juga tengah di lakukan oleh seorang pria, pria yang malam ini telah berhasil membuat Rabiah gelisah. Sejujurnya, ada rasa bersalah yang hinggap di hatinya karena tekah menyampaikan isi hatinya di saat Rabiah baru saja resmi bercerai. "Apa aku egois?" begitu pikirnya sembari menatap langit-langit kamarnya yang sudah redup.
Meskipun begitu, malam ini Ameer merasa beban di hati dan pikirannya hilang seketika, semua yang ingin ia ungkapkan sejak dulu akhirnya berhasil ia ungkapkan, meski Rabiah sama sekali tidak bersuara malam itu, namun ia sudah cukup lega.
"Ya Allah, Engkau adalah sebaik-baik pembuat skenario, hamba pasrahkan semuanya kepadaMu, jika suatu saat Engkau menakdirkan hamba menikahi Rabiah, maka hamba memohon kemudahan di setiap langkahku untuk dapat memberikan cinta tulus yang dapat mengobati lukanya," ucap Ameer berdoa lalu memejamkan mata.
🌷🌷🌷
Hari ini menjadi hari pertama Rabiah kembali melakukan rutinitasnya sebagai mahasiswa. Jika kemarin tiap pergi kampus Rabiah di antar Kamil, kini Rabiah berangkat bersama Rahul.
Sebelum Rahul memarkirkan mobilnya, Rabiah memilih lebih dulu keluar.
"Biaaaah," panggil seorang gadis sembari berlari ke arah Rabiah saat melihat Rabiah keluar dari mobil.
Bugh
Khadijah yang begitu semangat langsung menabrakkan diri dan memeluk Rabiah hingga membuat tubuh Rabiah sedikit terhuyung ke belakang.
__ADS_1
"Astaghfirullah Khadijah, aku bisa pingsan loh gara-gara kamu," dumel Rabiah.
"Eh, maaf maaf, habisnya aku kangen banget sama kamu Biah, tiga bulan loh kita nggak ketemu," ujar Khadijah setelah melepas pelukannya dari Rabiah.
"Iya sih, aku juga kangen juga sama kamu," cicit Rabiah lalu merangkul lengan Khadijah dan mulai berjalan bersama.
"Gimana? apa semuanya udah beres?" tanya Khadijah.
"Udah, alhamdulillah, aku lega sekarang," jawab Rabiah.
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya," ucap Khadijah.
Mereka kini berjalan menuju kelas yang akan mereka tempati untuk kuliah pertama mereka.
Dari kejauhan, si gondrong yang sedang nongkrong di bawah pohon melihat kedatangan Rabiah.
"Guys, Rabiah sudah datang,"
"Benarkah?" tanya si rambut normal.
"Syukurlah setelah 3 bulan vakum akhirnya dia nongol juga. Ngomong-ngomong berita itu benar kan? Kalau Rabiah sekarang janda?" tanya si botak ceplas-ceplos.
"Astaga jangan bilang janda, dasar botak, di mataku dia gadis single," sela si gondrong tidak terima saat pujaan hatinya di sebut janda, meskipun itu benar adanya.
"Memangnya lu benar-benar serius suka sama si Rabiah gon?" tanya si rambut normal.
"Iya, duarius malah, bahkan statusnya saat ini tidak menjadi masalah bagi gua," jawab si gondrong tegas.
"Tapi saran dari gua yah, lu jangan terlalu berharap deh sama dia, lihat penampilan lu? Baru lihat aja orang sudah berpikir lu itu pria bre**k," ujar si rambut normal.
"Hey, don't judge a book by its cover," protes si gondrong.
__ADS_1
"Iya gua tahu, jangan menilai seseorang dari penampilannya, tapi lu juga harus tahu, sebagian besar karakter seeorang itu tercermin dari bagaimana ia berpenampilan, jadi jika lu mau di nilai baik, maka lu harus merubah dulu penampilan rock n roll lu itu."
-Bersambung-