
"Eh kok mendadak sekali, jangan besok lah, aku masih punya beberapa urusan sampai beberapa hari ke depan, sekalian aku mau ajukan untuk penelitian di Indonesia juga jadi bisa menyelam sambil minum air," ujar Jhony.
"Ya udah, bulan depan aja, gimana?" usul Niana.
"Deal!" ucap Jhony antusias.
🌷🌷🌷
Waktu terus berjalan, kini tiba di penghujung akhir semester 2 bagi Rabiah, dan yang setingkat dengannya. Itu artinya libur sudah menanti di depan mata.
"Alhamdulillah, akhirnya sebentar lagi libur," ujar Rabiah begitu riang.
"Iya, alhamdulillah," jawab Khadijah sambil mengemasi barang-barangnya sebelum pulang.
"Gimana persiapan pernikahanmu Khadijah?"
"Alhamdulillah, udah 95%, jangan lupa datang yah sama kak Rahul hari ahad nanti, aku tunggu loh."
"Iya iya calon pengantin," jawab Rabiah lalu mereka tertawa bersama.
Kini mereka berjalan bersama keluar dari gedung kampus, namun langkah kaki mereka terhenti oleh kedatangan si gondrong.
"Assalamu 'alaikum Rabiah, apa aku boleh bicara sebentar sama kamu?" tanya si gondrong yang kali ini tidak bersama rekan gengnya.
"Wa'laikum salam, bicaralah kak," jawab Rabiah.
"Hmm.. Begini, apa kita bisa bicara berdua saja?" tanya si gondrong sambil melirik ke arah Khadijah.
"Bicaralah, aku akan berpindah sedikit dan menutup telinga agar tidak mendengar pembicaraan kalian," ujar Khadijah lalu bergeser beberapa langkah tanpa membiarkan Rabiah berduaan dengan si gondrong.
Si gondrong melihat ke arah Khadijah untuk memastikan sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada wanita berparas cantik yang ada di depannya saat ini.
"Begini Rabiah, sudah beberapa hari ini aku gelisah memikirkan kamu, hatiku rasanya tidak tenang. Makanya sekarang aku ingin bicara langsung sama kamu, setidaknya rasa gelisahku bisa berkurang."
Rabiah masih diam menyimak perkataan si gondrong sambil sedikit menunduk.
"Sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini sama kamu, cuma aku sedikit tidak percaya diri untuk berhadapan sama kamu seorang diri, makanya baru sekarang aku datang kesini untuk menuntaskan semuanya yang mengganjal dalam hati. Rabiah, aku cinta sama kamu, apa kamu mau menjadi kekasihku?" tanya si gondrong.
Untuk sesaat, Rabiah tertegun, ia tidak menyangka akan menerima pengakuan cinta dari salah satu mahasiswa yang terkenal cukup bandel di jurusannya. Meski begitu, bagi Rabiah kakak seniornya ini cukup baik dan lucu, namun kembali lagi ke masalah hati. Kemana hati akan condong, tentu itu hanya kuasa Allah, dan menjawab jujur kepada kakak seniornya itu lebih baik daripada harus pura-pura atau bahkan memaksa diri untuk mencintai.
"Sebelumnya Rabiah minta maaf, Biah tidak bisa menjalani hubungan pacaran, karena Biah sendiri juga belum siap membuka hati, kakak tahu sendiri Biah ini seorang jan..-"
"Aku tidak mempermasalahkan itu Rabiah, aku tulus sama kamu," ucap si gondrong memotong perkataan Rabiah.
"Iya kak, terima kasih untuk ketulusan kakak, tapi maaf karena Biah tidak bisa menerima cinta kakak, semoga kakak di pertemukan dengan wanita yang lebih baik," ujar Rabiah.
Terdengar hembusan nafas kecewa dari si gondrong setelah mendapat penolakan, "baiklah aku mengerti, terima kasih atas jawabannya, setidaknya semua kegelisahanku sudah terjawab."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, si gondrong langsung pergi meninggalkan Rabiah tanpa berbicara lagi.
"Bagaimana gon?" tanya si botak di balik dinding yang sejak tadi bersembunyi menyaksikan ungkapan cinta si gondrong.
"Lu pasti udah tahu jawabannya," jawab si gondrong lesu.
"Di tolak yah?" tanya si botak lagi dan si gondrong mengangguk pelan.
"Yang sabar, dari kemarin gua udah ingatin ke lu kalau Rabiah itu pasti tidak ingin menjalani hubungan pacaran, dia itu maunya langsung nikah, tapi lu malah ikutin saran si botak," tandas si rambut normal.
"Ah lu tega bener, teman lagi patah hati kayak gini bukannya di hibur malah di salahkan," gerutu si gondrong. "Lagian kalau dia mau nikah, gua mau kasi makan apa dia? Nilai kuliah gua aja belum beres, jadi nggak mungkin gua ajakin dia nikah," lanjutnya memberengut.
"Ya udah, sabar aja kalau gitu, ini tuh udah suratan takdir lu," seloroh si rambut normal, membuat si gondrong hanya bisa diam menerima nasib cintanya yang begitu pilu
🌷🌷🌷
"Tadi kalian bicara apa?" tanya Khadijah penasaran sambil berjalan bersama Rabiah menuju gerbang kampus.
"Tidak ada, cuma mengungkapkan perasaan aja," jawab Rabiah.
"Wah, dugaanku benar ternyata, sudah lama aku curiga kakak itu menyukaimu, tapi yang namanya hati mana bisa di paksa, iya nggak?" goda Khadijah.
"Iya betul," sahut Rabiah, "berbicara masalah cinta, apa kamu sudah mencintai calon suami kamu?" lanjutnya bertanya.
Langkah kaki Khadijah seketika terhenti, ia lalu menoleh ke arah Rabiah.
"Iya itu benar, jika udah nikah nanti, kalian pasti akan saling jatuh hati, insya Allah," timpal Rabiah ikut tersenyum, sejenak bayang-bayang pernikahannya kembali berputar saat ia masih berstatus pengantin baru, waktu itu cinta memang belum hadir dalam hatinya, namun lama-kelamaan cinta itu hadir dan membuat hari-harinya bersama Kamil terasa begitu indah, sayangnya itu hanya berlangsung sesaat saja, karena setelah itu semuanya berubah hanya dalam waktu singkat.
🌷🌷🌷
Hari pernikahan Khadijah kini telah tiba. Sudah lebih 30 menit Rabiah menunggu Rahul di lantai bawah sesuai kesepakatan tadi malam, namun yang di tunggu seolah tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi.
Merasa kesal, Rabiah akhirnya memutuskan naik ke kamar Rahul untuk mengeceknya secara langsung.
Tok tok tok
"Kak Rahul," panggil Rabiah
Ceklek
"Ada apa Biah?" tanya Rahul polos masih dengan pakaian kaos sehari-harinya setelah membuka pintu.
"Astaghfirullah, kak Rahul belum siap-siap? Biah udah menunggu lama loh," dumel Rabiah.
"Kamu sajalah yang pergi dek, aku malas," jawab Rahul santai.
"Tapi, Khadijah juga meminta kakak untuk datang, ayolah kak, semangat dong," ucap Rabiah.
__ADS_1
"Semangat semangat memangnya kamu pernah lihat pria yang di tinggal nikah semangat datang ke acara pernikahan wanitanya dengan pria lain?" cetus Rahul tidak terima.
"Eh, yaa nggak pernah sih," cicit Rabiah nyengir bodoh.
"Makanya jangan maksa," tandas Rahul.
"Bukannya maksa kak, setidaknya jika memang kakak mau melepaskan yah ikhlaskan, bagaimana caranya? Yah penuhi undangannya," ujar Rabiah asal.
"Kok gitu sih?"
"Ya memang gitu caranya, kalau nggak percaya ayo kita buktikan."
Rahul terdiam sejenak, "ya udah kamu tunggu disini," ujar Rahul kemudian lalu masuk ke kamarnya kembali.
"Yes." Rabiah tersenyum puas, sebenarnya Rabiah hanya mencari alasan agar ia tidak pergi sendiri ke acara itu, dan hanya Rahul yang bisa ia ajak. "Maafkan Biah kak," lirihnya lalu turun ke lantai bawah untuk menunggu Rahul.
Setelah melalui perjalanan selama 35 menit, akhirnya Rabiah dan Rahul tiba di sebuh hotel tempat di adakan pesta pernikahan Khadijah.
"Ayo turun kak," ajak Rabiah.
"Kamu duluan aja, aku mau merapikan rambutku dulu," jawab Rahul asal.
"Ya sudah, Biah duluan yah," ucap Rabiah lalu masuk lebih dulu.
Rahul hanya bisa membuang napas kasar, entah kenapa kakinya terasa begitu berat untuk melangkah masuk ke dalam gedung itu. Beberapa kali ia menghela napas untuk menenangkan diri.
Sementata itu, di lokasi yang sama namun di tempat yang berbeda, sepasang calon pengantin sedang berbicara serius.
"Khadijah, maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini," ujar pria itu langsung to the point.
Bagaikan di hantam batu besar, tubuh Khadijah seketika menjadi lemas, ia diam sejenak mencerna perkataan dari calon suaminya itu. Tanpa di sadarinya, air mata kini mulai membasahi pipinya.
"Jangan lakukan itu kak, keluarga kita bisa malu, hiks," ujar wanita itu di sela-sela tangisnya.
"Maafkan aku dek, tapi aku sudah memiliki kekasih, aku tidak mungkin mengkhianatinya, apalagi kemarin dia mengatakan jika dia tengah hamil,"
"Apa? Hamil?"
"Iya, kami sudah lama menjalin hubungan jauh sebelum kita bertemu, aku tidak bisa melanjutkan ini semua karena aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku,"
Khadijah lagi-lagi terdiam.
"Kamu wanita, kamu tentu tahu langkah terbaik yang harus aku pilih bukan? Maka dari itu, biarkan aku pergi," tukas pria itu lalu pergi.
Khadijah hanya bisa menangis sesegukan saat melihat pria yang seharusnya menikahi dia hari ini justru pergi meninggalkannya.
-Bersambung-
__ADS_1