Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
EPILOG


__ADS_3

Malam kini berganti, matahari terbit mambawa kehangatan di pagi hari dan mengantarkan cahaya keseluruh penjuru alam setelah melalui gelapnya malam.


Sama halnya dengan hidup, kadang di timpa ujian silih berganti yang membuat hidup terasa gelap, namun percayalah, Allah telah menyiapkan cahaya terang di ujung jalan bagi siapa yang mau bersabar.


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..." (QS. Al-Baqarah: 286).


"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6).


🌷🌷🌷


Satu tahun kemudian


Di sebuah gedung yang cukup besar, tampak begitu banyak orang yang mulai keluar dengan pakaian serba hitam.


Di saat yang sama, Rabiah dan Khadijah melangkah bersama keluar dari gedung itu. Sama halnya dengan yang lain, Rabiah dan Khadijah juga mengenakan pakaian serupa, lengkap dengan sleber, yang melingkar di sekitar dada dan bahu, dan samir yang menggantung gordon di leher, tak lupa topi khas yang menempel indah di jilbab mereka.


Yah, hari ini adalah hari wisuda Rabiah bersama sahabat sekaligus kakak iparnya. Meskipun mereka mengambil cuti di waktu yang berbeda namun pada akhirnya mereka bisa wisuda bersama.


Langkah kaki mereka terhenti saat 3 anak kecil berjalan menghampiri mereka. Asiah yang berumur 2 tahun begitu lincah berlari menghampiri Khadijah, sementara Ubaid dan Uwais berjalan pelan dengan hati-hati menghampiri Rabiah yang kini sedang berlutut sambil merentangkan kedua tangannya, ia menyambut kedua putranya itu dengan sabar, sekaligus ingin melihat kemampuan jalan mereka.


"Miii... Teriak keduanya begitu antusias saat posisi mereka sudah semakin dekat dengan sang ibu.


Hap


Rabiah langsung memeluk keduanya lalu mencium pipi mereka bergantian dengan sayang, ia berdiri dan menggendong dua anak kembarnya yang sangat tampan itu.


"Masya Allah, dua jagoan ummi udah makin lancar yah jalannya," ucap Rabiah sambil berjalan ke arah suami yang sejak tadi menunggunya.


Begitupun Khadijah yang jalan di samping Rabiah menuju dimana Rahul sedang menunggu bersama Ameer. Yah, sama halnya dengan Rahil, Rahul juga telah menyelesaikan pendidikannya sejak tahun lalu


"Selamat sayang, akhirnya wisuda juga, semoga berkah ilmunya," ucap Ameer menyambut kedatangan sang istri lalu memeluknya bersama dua putranya dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Terima kasih sayang," ucap Rabiah memperlihatkan senyuman bahagianya.


"Gimana? Udah selesaikan acaranya?" tanya Ameer dan di jawab dengan anggukan oleh Rabiah.


"Ayo pulang, keluarga kita sudah menunggu di rumah," lanjut Ameer lalu mengambil Uwais dari tangan Rabiah dan berjalan menuju mobil bersama, diikuti oleh Khadijah dan Rahul yang kini menggendong Asiah.


Mereka menaiki mobil bersama dengan Ameer yang mengemudikan mobil. Selama perjalanan, suasana mobil itu tak pernah hening, selalu saja ada suara, yang terdengar entah dari para anak-anak yang bermain ataupun menangis, dan juga dari para orang tua yang asik bercerita satu sama lain.


Beberapa menit kemudian, kini mobil telah memasuki halaman rumah Yusuf, dimana semua keluarga telah berkumpul disana.


Satu per satu mereka keluar sambil menggendong anak-anak mereka.


"Wiiih, kalian pulang dari acara wisuda atau pulang dari play group, rame banget," ujar Rahil sambil terkekeh, ia sejak tadi duduk di depan rumah karena baru saja selesai bertelepon dengan kliennya.


"Dari dua-duanya, kenapa? Mau juga kayak gini? Nikah bro.." ujar Rahul sambil melewati pria itu lalu masuk ke dalam rumah. Sementara Rahil hanya mendengus setelah mendengar jawaban dari Rahul yang selalu menyuruhnya menikah, namun ia tidak ingin ambil pusing dan akhirnya ia pun menyusul mereka masuk ke dalam rumah


Meskipun sudah bekerja, Rahil sama sekali belum menunjukkan ketertarikannya pada wanita manapun, padahal sudah banyak teman dari ibu maupun ayahnya yang berniat menjodohkannya dengan anak mereka.


"Assalamu 'alaikum.." ucap Rabiah, Khadijah, Rabiah dan Ameer saat memasuki rumah.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam..nah ini dia yang punya acara akhirnya datang juga," ucap Yusuf menyambut anak dan menantunya.


"Opaaaa," panggil Ubaid sambil merentangkan tangannya ke arah Yusuf.


"Ubaid cucuku, duh menggemaskan sekali sih anak kecil ini." Yusuf mengambil Ubaid dari gendongan Rabiah.


"Buat lagi aja kalau mau punya anak kecil, gampang kok," celoteh Wildan.


"Gampang, gampang, dengkulmu, aku nggak mau anakku yang baru lahir nanti langsung di panggil om, kasihan dia," seloroh Yusuf.


"Buahahaha," tawa Wildan menggelegar di ruang keluarga yang cukup luas itu.


Setelah membuka pakaian wisudanya, Rabiah dan Khadijah menghampiri Yasmin dan Anna yang tampak sedang sibuk menyiapkan makanan. Sementara para suami beserta Rahil dan Rayhan bergabung bersama sambil menjaga anak kecil mereka masing-masing.


"Khadijah, orang tua kamu jadi datang kan?" tanya Yasmin.


"Insya Allah ummi, katanya tadi mereka sudah di jalan kesini, sebentar lagi juga sampai," jawab Khadijah.


"Oh baiklah," ucap Yasmin lalu kembali dengan aktivitasnya.


Tak lama setelah itu, suara deru mobil berhenti di depan rumah.


"Assalamu 'alaikum.." ucap ayah dan ibu Khadijah yang baru datang, di ikuti oleh seorang gadis cantik dengan pasmina yang menutupi kepalanya.


"Wa'alaikum salam," jawab semua orang yang ada di situ.


Khadijah langsung menyambut dan menghampiri kedua orang tuanya.


"Iya, daripada dia sendiri di kostnya mending ibu bawa," jawab ibu Khadijah.


"Psst, Rahil, bukannya dia Wafdah yah?" tanya Rahul sambil memukul pelan lengan Rahil yang duduk di sampingnya. Rahil mengikuti arah pandang Rahul dan seketika melihat gadis yang dulu tomboy kini tampak begitu anggun sedang berbincang dengan Khadijah.


Degh


Entah kenapa, jantung Rahil seketika berdegup kencang saat melihat gadis itu sedang tersenyum, meski senyum itu bukan untuknya.


"Dia cantik," gumamnya dalam hati.


Akhirnya acara makan siang pun mulai berlangsung dengan penuh hikmat.


Hingga tak terasa, kegiatan makan bersama itu berakhir, kini mereka lanjut berbincang-bincang ringan di ruang keluarga.


Namun, di tengah-tengah perbincangan, para anak kecil yang sejak tadi bermain mulai menangis satu per satu.


Khadijah telah lebih dulu pamit untuk menidurkan Asiah, kemudian di susul Rabiah dan Ameer yang juga pamit dengan alasan yang sama.


Kini Ameer dan Rabiah berjalan bersama menaiki tangga menuju kamar mereka sambil menggendong anak kembarnya.


Sesampainya di kamar, Uwais yang lebih dulu tertidur di gendongan Ameer langsung di letakkan di atas kasur secara perlahan oleh Ameer, sementara Ubaid yang belum tidur akhirnya di beri ASI oleh Rabiah terlebih dahulu sambil berbaring di atas tempat tidur.


Hanya dalam waktu 10 menit, Ubaid akhirnya tertidur di samping Uwais. Rabiah bangkit dari tidurnya dan turun secara perlahan agar tidak membangunkan kedua putranya.

__ADS_1


Pandangannya menyisir seluruh sudut ruangan mencari keberadaan sang suami, hingga tatapannya tertuju pada pintu ke balkon yang sedikit terbuka.


Perlahan ia melangkahkan kakinya ke arah balkon untuk memastikannya, dan benar, Ameer saat ini sedang berdiri di balkon sambil menikmati angin yang cukup sejuk meniup wajahnya.


"Kak," ucap Rabiah ikut keluar dan berdiri di samping Ameer. "Ngapain disini?" lanjutnya bertanya.


"Tidak ada, hanya ingin menikmati hembusan angin ini," jawab Ameer tersenyum ke arah Rabiah, yang juga sedang menatapnya dengan senyuman indahnya. Sejenak mereka saling bertatapan penuh cinta, jantung mereka berdegup kencang, seolah membuat irama khas di dalam tubuh mereka.


Perlahan Ameer meraih tangan Rabiah dan menggenggamnya dengan begitu lembut.


"Terima kasih sayang, sudah menjadi pendamping sekaligus penyempurna agamaku, aku sangat mencintai kamu, tidak peduli berapa kali kalimat itu terucap di bibirku, rasanya aku tidak pernah bosan untuk mengucapkannya," ucap Ameer lalu mengecup tangan Rabiah, membuat netra indahnya perlahan mengembun.


"Biah juga ingin berterima kasih kak, karena sudah mencintai Biah dari kecil hingga saat ini, terima kasih juga karena kakak mau menerima Biah, meskipun Biah sudah berstatus jan...-"


"Sssst, bicara apa sih kamu, bagiku kamu tetaplah Biah yang dulu, tidak ada yang berubah, kamu tetaplah wanita yang sangat berarti bagiku meski kamu pernah menikah sekalipun. Bahkan mungkin melalui pernikahanmu sebelumnya Allah menyatukan kita, karena bisa jadi cerita kita berdua akan berbeda jika saja kamu belum menikah."


"Iya kak, Biah juga berpikir demikian," cicit Rabiah.


"Inilah Hikmah Cinta yang sedang Allah tunjukkan pada kita, saat cinta itu hadir untuk mengobati lukamu sayang." Ameer kini mendekatkan tubuhnya pada Rabiah lalu memeluknya.


"Benar kak, semua itu adalah kuasa Allah, Allah Maha Baik," ucap Rabiah sambil membalas pelukan Ameer.


"Aku mencintaimu istriku," ucap Ameer setelah melepas pelukannya aambil menatap lekat manik mata indah milik Rabiah.


"Aku juga mencintaimu suamiku," jawab Rabiah ikut menatap Ameer dengan bulir air mata yang jatuh ke pipinya, tangan Ameer terulur untuk menghapus air mata itu dengan lembut.


Beberapa saat mereka saling menatap penuh cinta hingga akhirnya Ameer mendaratkan bibirnya tepat di kening Rabiah, lalu turun ke hidung, lalu berpindah ke pipi kanan dan kiri hingga akhirnya sampai pada bibir ranum Rabiah.


"Ekhem," suara bariton seseorang mengagetkan keduanya hingga refleks Rabiah dan Ameer membuat jarak di antara mereka.


"Kalau mau romantisan, sana di dalam kamar, bukan di balkon, menodai kesucian mataku saja," dumel Rahil yang tidak sengaja melihat kemesraan mereka dari bawah rumah.


Rabiah dan Ameer yang masih terkejut saling memandang dan di detik berikutnya mereka tertawa bersama.


-TAMAT-


 


Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillah, akhirnya berakhir sudah kisah Rabiah dan Ameer dalam HIKMAH CINTA ini.


Terima kasih kepada kakak-kakak readers yang sudah berkenan mampir dan mendukung karya saya dari awal hingga akhir, sungguh karya ini tidak berarti tanpa kakak-kakak readers.


Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam karya ini. Adapun isi dari karya ini adalah pandangan dari saya dan bukan bermaksud untuk menggurui ataupun menjatuhkan pandangan yang lain.


Akhir kata semoga karya ini dapat memberikan menfaat yang baik untuk kita semua khususnya untuk saya sendiri.


Salam hangat dari saya.


UQies

__ADS_1


__ADS_2