
Pagi itu, semua orang yang berada di ruang tamu menatap ke arah Ameer, mereka tampak begitu penasaran dengan jawaban yang akan di berikan Ameer. Termasuk Shafiyah yang sangat mengharapkan Ameer menyetujui permintaan kedua orang tuanya. Baginya, tak apa ia yang maju lebih dulu meminta Ameer untuk menikahinya, daripada ia harus selalu memikirkan pria yang jelas belum halal untuknya.
"Nak, bagaimana?" tanya Anna sambil mengusap lengan Ameer membuyarkan lamunannya.
"Eh, begini om, tante, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, bukan maksud saya ingin meragukan putri om dan tante, hanya saja, saya masih belum berpikiran untuk menikah, saya masih ingin fokus kuliah dan membangun karier terlebih dahulu," jawab Ameer.
"Tidak papa nak jika memang masih ingin kuliah, ta'arruf saja dulu tidak masalah, toh Shafiyah juga sekarang masih kuliah," ujar pak Hamid.
"Maaf om, tapi saya tidak bisa menjalani ta'aruf untuk saat ini, saya takut hati saya semakin condong, padahal saya sendiri belum berpikiran untuk menikah," tolak Ameer sesopan mungkin.
Setelah melalui perbincangan yang cukup menegangkan bagi Ameer, kini ia bisa bernapas lega setelah Syafiyah dan kedua orang tuanya pulang. Namun, perasaan lega itu hanya berlangsung sementara saat Ameer menyadari kali ini ibunya sedang menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
"Ibu...kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ameer sedikit salah tingkah.
"Ibu penasaran, apa alasan sebenarnya kamu menolak Shafiyah untuk yang kedua kalinya, ibu tidak yakin jika itu karena kuliah dan karier," selidik Anna.
"Bu, sebenarnya beberapa hari lalu Ameer sholat istikharah," ujar Ameer pelan.
"Iya, lalu bagaimana?" tanya Anna penasaran.
"Ameer melihat seorang wanita di dalam mimpi Ameer, dan Ameer memutuskan untuk memilihnya, tapi dia berada jauh disana," jawab Ameer.
"Siapa Ameer? Apa dia berada di Singapura juga?" tanya Anna lagi.
"Ameer belum bisa menjawabnya sekarang, untuk saat ini Ameer akan melihat perkembangannya dahulu sambil fokus kuliah," jawab Ameer lagi.
"Ish, kamu tuh yah suka banget bikin ibu penasaran," gerutu Anna, dan Ameer hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
🌷🌷🌷
Waktu berjalan begitu cepat, jika pagi tadi suasana hati Rabiah benar-benar buruk karena keputusan yang dibuat Kamil secara sepihak, di tambah pertemuannya dengan Bella yang merupakan dalang penyebar berita buruk tentangnya, sore ini suasana hati Rabiah begitu gelisah entah kenapa.
Sejak pukul 15.30 tadi Rabiah sudah kembali ke rumah, dan sesuai pesan Kamil, ia langsung membersihkan kamar di samping kamar utama. Tak lupa ia mengganti sprei di kamar itu dengan sprei baru yang bersih. Membayangkan bagaimana nantinya Kamil dan Rani tidur bersama di kamar itu sungguh membuat hati Rabiah merasa panas.
"Astaghfirullah, apa yang kamu pikirkan Biah, berpikir positif berpikir positif, kamu pasti bisa Biah," monolog Rabiah sambil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Tak lama setelah itu, suara mobil suaminya berhenti di depan rumah. Dengan cepat Rabiah menyelesaikan pekerjaannya lalu berlari keluar menyambut kedatangan suami dan istri pertamanya dengan senyuman yang di paksakan, ia tidak yakin keputusan Kamil kali ini adalah keputusan yang tepat untuknya.
"Assalamu 'alaikum," ucap Kamil dan Rani bersama.
"Wa'alaikum salam, silahkan masuk mbak," jawab Rabiah berusaha bersikap ramah, lalu mencium punggung tangan Kamil seperti biasa.
__ADS_1
Rani yang melihat Rabiah menyambutnya dengan hangat ikut tersenyum tipis lalu merangkul mesra lengan Kamil yang berjalan di sampingnya melewati Rabiah.
Rabiah yang melihatnya hanya bisa tersenyum getir dari belakang, bohong jika ia tidak cemburu, tapi mau bagaimana lagi, toh wanita yang merangkul suaminya saat ini adalah istri pertamanya.
Kamil dan Rani kini berjalan bersama menuju kamar di samping kamar utama, namun tak lama kemudian, Kamil keluar dari kamar itu dengan raut wajah yang membingungkan.
Rabiah yang sejak tadi masih berdiri di dekat pintu bagai patung hanya bisa diam, tatkala Kamil datang menghampirinya.
"Biah, begini, mas boleh minta tolong tidak?" tanya Kamil sedikit ragu.
Rabih mengernyitkan alisnya sejenak, "minta tolong apa mas?"
"Untuk sementara saja, boleh tidak Rani menempati kamar utama, kasur di kamar sebelah agak keras dan itu membuat panggul Rani tidak nyaman, kamu tahu kan orang hamil itu tubuhnya sering merasa tidak nyaman," tukas Kamil.
Mendengar itu, Rabiah kembali tersenyum getir lalu mengalihkan pandangannya ke samping sambil menatap ke atas, berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Ya Allah, bentuk keadilan apa lagi ini? Kenapa aku merasa selalu di rugikan dari keputusan mas Kamil yang katanya adil?" batinnya sambil meremas ujung jilbabnya yang panjang.
"Biah, apa kamu mendengar mas?" tanya Kamil segera membuyarkan gejolak batin Rabiah yang seolah ingin keluar dan berkoar-koar di hadapan Kamil.
"Kenapa harus begitu mas? Biah tadi sudah mencoba tidur di kasur itu, tidak keras kok, dan tentunya aman untuk wanita HAMIL," kilah Rabiah menekan kata hamil.
"Tolong Biah, sekali saja kamu mengerti keadaan Rani, kamu hanya tidak tahu rasanya hamil jadi kamu menolak, andai kamu tahu pasti kamu mengerti," cetus Kamil
Lagi-lagi hati Rabiah seperti tersambar petir mendengar perkataan Kamil, entah ia sengaja atau hanya keceplosan, tapi itu sudah cukup membuat Rabiah merasa sesak. Perlahan ia menghembuskan nafasnya kasar lalu memalingkan pandangannya ke tempat lain, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di ujung matanya seolah ingin segera keluar.
"Assalamu 'alaikum, Biah, Kamil?" sapa Maryam dan Abdullah yang baru saja tiba di depan rumah mereka.
Kamil dan Rabiah yang memang sedang berada di dekat pintu rumah terkejut mendengar panggilan nama mereka. Rabiah langsung berbalik setelah menghapus air mata yang hampir tumpah di matanya.
"Wa'alaikum salam, papa, mama," jawab
keduanya lalu mencium tangan Abdullah dan Maryam secara bergantian.
"Kalian kok ngomong di pintu, pamali tahu," ujar Maryam lalu merangkul tangan Rabiah masuk ke dalam rumah mereka.
"Mama, papa," sapa Rani yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Loh, kalian bertiga tinggal serumah?" tanya Maryam terkejut.
"Iya ma," jawab Kamil.
__ADS_1
"Memangnya nggak papa?" tanya Maryam kepada Rabiah lirih, namun Rabiah hanya menunduk tak menjawab. Membuat Maryam hanya bisa menatap lesu menantunya itu.
"Kenapa kalian tinggal seatap?" tanya Abdullah.
"Karena Rani hamil pa, dan Kamil tidak bisa meninggalkan Rani sendiri di rumah, jadi Kamil memutuskan untuk membawanya kesini," jawab Kamil.
"Apa? Kamu hamil? Pekik Maryam lalu menoleh ke arah Rani dengan mata berbinar, "selamat atas kehamilanmu," ucap Maryam kemudian.
"Iya ma, makasih, doakan Rani semoga sehat selalu bersama kandungan Rani," pinta Rani sambil tersenyum bahagia.
"Tentu saja, kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan calon cucu kami," jawab Maryam.
Entah Rabiah yang terlalu sensitif atau bagaimana, sehingga selama makan malam itu, ia terus merasa pesimis dan seoalah tidak terlalu di pedulikan, hanya karena persoalan hamil dan tidak hamil.
Malam kian larut, Maryam dan Abdullah telah pulang ke rumahnya, kini tersisa mereka bertiga yang berkumpul di ruang keluarga. Selama itu, Rani selalu saja bersikap manja kepada Kamil, membuat hati Rabiah semakin merasa tidak nyaman.
Rabiah akhirnya memutuskan untuk lebih dulu kembali ke kamar untuk tidur, kali ini ia tidak peduli dimana Kamil akan tidur, yang jelas saat ini ia ingin menenangkan hatinya.
Setibanya di kamar, Rabiah langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu memejamkan matanya.
Namun, baru beberapa menit memejamkan matanya, Rabiah di bangunkan oleh Kamil.
"Kenapa mas?" tanya Rabiah sambil memicingkan matanya yang silau karena cahaya lampu.
"Kenapa kamu masih tidur disini, mas kan sudah minta tolong sama kamu agar sementra ini kamu tidur dulu di kamar sebelah," ujar Kamil.
"Tapi mas, ini kamar Biah, Biah punya hak untuk tidur di kamar ini," kilah Rabiah.
"Apa kamu belum mengerti dengan perkataan mas sore tadi? Tolong mengertilah keadaan Rani, dia sedang hamil," ujar Kamil.
Rabiah kini menghembuskan napasnya kasar, "lagi-lagi tentang hamil, bisa tidak sih mas bersikap adil tanpa harus mengungkit masalah hamil?" ucap Rabiah dengan suara yang mulai bergetar.
"Ini adalah bentuk sikap adil dari mas Biah, tolong mengertilah," ujar Kamil dengan nada yang mulai meninggi.
"Dari kemarin Biah selalu di tuntut untuk mengerti keadaan mbak Rani, lalu kapan mas akan berusaha mengerti perasaan Biah?"
Tes
Setetes air mata berhasil membasahi pipi Rabiah tanpa bisa ia cegah, gejolak hati yang sejak tadi pagi berusaha ia tahan seolah ingin meledak saat itu juga.
Rabiah bukannya ingin membangkang perintah suami, hanya saja kali ini ia merasa apa yang dilakulan Kamil benar-benar telah melewati batas, ia benar-benar merasa di perlakukan tidak adil.
__ADS_1
-Bersambung-