Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
ALLAH SELALU ADA


__ADS_3

Langit jingga kini menjadi gelap, cahaya bulan tak begitu mampu menerangi gelapnya malam karena tertutup awan. Tetes demi tetes air hujan perlahan turun membasahi jendela kaca mobil yang di tumpangi Rabiah seolah mengerti akan hancurnya hati wanita malang itu, wanita yang kini hanya duduk diam dengan tatapan kosong mengarah keluar jendela mobil, tak ada semangat yang terpancar dari sorot matanya yang ada hanyalah kesedihan.


"Kamu tidak perlu mengelak, aku bahkan benci melihat air mata munafikmu itu."


"Oh iya, aku paling benci yang namanya selingkuh, jadi mulai saat ini kamu boleh lanjutkan hubunganmu dengan selingkuhanmu itu, aku talak kamu detik ini juga."


Bagaikan kaset rusak, perkataan Kamil yang sungguh menyayat hati tersebut kian berputar berulang kali di dalam pikirannya tanpa bisa ia hentikan. Bahkan, ia benar-benar tidak menyangka, sosok pria seperti Kamil yang dulu sangat hangat, lembut dan penyayang akan begitu mudah mengeluarkan kata-kata itu.


Dari sekian banyak kata menyakitkan yang dilontarkan Kamil kepadanya, satu yang membuat hatinya begitu sakit, yaitu fakta bahwa Kamil tidak mempercayainya dan sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menjelaskan kebenaran.


"Ku pikir dia mencintai dan memahamiku, namun rupanya ekspektasiku terlampau jauh, bukankah perasaan cinta itu berjalan beriringan dengan kepercayaan? Lalu apa yang ku dapat saat ini, apakah kata cinta itu hanya sebuah lelucon untuknya? Padahal dia sudah berhasil membuatku mencintainya, namun, kini dia juga sudah berhasil menoreh luka di dalam hatiku," batinnya.


Dulu saat mengetahui kebohongan Kamil, ia ingin sekali bercerai darinya, namun Kamil yang memohon di hadapannya dan di hadapan kedua orang tuanya membuat Rabiah berubah pikiran, ia berusaha menerima kenyataan meski yang ia dapatkan hanya rasa sesak. Dan sekarang, justru kata talak yang terlontar dari mulut pria itu dengan begitu lancar. Entah bagaimana marahnya Kamil sore itu hingga ia dengan mudahnya menjatuhkan talak kepadanya, padahal semua yang ia tuduhkan pada Rabiah tidaklah benar.


Tanpa ia sadari, air matanya kembali menetes membasahi pipi, ia sudah berusaha menahan tangisnya sejak tadi memasuki taksi agar tak di lihat oleh supir taksinya, namun rupanya pertahanannya gagal.


Kini taksi yang membawa Rabiah tiba di halaman rumah kedua orang tuanya. Sambil menarik koper di tangan kirinya, ia berjalan menyusuri halaman rumah yang begitu luas. Rumah yang selalu ia rindukan, namun bukan dengan cara seperti ini yang ia inginkan untuk mengunjunginya.


Tok tok tok


Rabiah mengetuk pelan rumah itu dengan menggunakan tangan kanannya. Tak berselang lama, pintu itu di buka oleh seorang wanita yang sangat ia cintai.


"Biah?" ucap Yasmin terkejut melihat putrinya yang datang dengan membawa koper dan mata yang sembab.


"Ummi," ucap Rabiah langsung menghambur memeluk Yasmin yang berdiri di hadapannya.


"Biah, sayang, apa yang terjadi nak?" tanya Yasmin sambil mengusap punggung Rabiah yang saat ini bergetar karena menangis.


"Biah di talak Ummi," ucapnya di sela tangisannya masih dalam keadaan memeluk Yasmin.


"Apa?" pekik Yasmin begitu terkejut. Ia sendiri merasa tidak percaya dengan apa yang di alami putrinya. Perlahan air mata ikut berkumpul di pelupuk matanya. Tak perlu bicara, sebagai ibu, Yasmin sudah tahu bagaimana sakit yang saat ini sedang di rasakan oleh Rabiah meski ia belum tahu alasannya di talak. Hati ibu mana yang tidak sakit saat mendapati putrinya yang telah menikah kembali ke rumah dengan linangan air mata.


"Masuklah dulu sayang, tenangkan dirimu," ucap Yasmin melepas pelukannya lalu merangkul dan membawa Rabiah perlahan masuk ke dalam rumah tepatnya di ruang keluarga, dimana Yusuf, Rahul dan Rayhan sedang berkumpul disana.


"Rabiah," panggil Yusuf yang langsung berdiri saat melihat kedatangan Yasmin sambil merangkul Rabiah.


Tanpa berbicara, Rabiah berjalan ke arah Yusuf dan langsung memeluknya. Yusuf menatap Yasmin seolah ingin meminta penjelasan, namun Yasmin meletakkan jari telunjuk di bibirnya mengisyaratkan kepada Yusuf agar tidak banyak bertanya saat ini.


Yusuf yang paham kini hanya diam dan membalas pelukan putri kesayangannya itu. Cukup lama Yusuf memeluk Rabiah dalam diam, memberikan rasa nyaman dan ketenangan kepadanya. Hingga akhirnya Rabiah melepaskan sendiri pelukannya dari sang ayah setelah ia merasa cukup tenang.

__ADS_1


"Duduklah dulu sayang," ucap Yusuf sambil mengarahkan Rabiah untuk duduk di sofa bersama kedua saudaranya yang sejak tadi memandangnya dengan penuh tanda tanya.


"Minumlah dulu nak," Yasmin memberikan segelas air hangat kepada Rabiah.


Dengan patuh, Rabiah langsung meminum air itu hingga tandas.


"Nah, sekarang, ceritakan kepada kami, apa yang terjadi padamu nak," ujar Yusuf, sambil menatap ke arah Rabiah, begitupun dengan Yasmin, Rahul dan Rayhan.


Rabiah mulai menceritakan semua yang terjadi, mulai dari Rani yang terjatuh lalu Kamil menyalahkannya, hingga Kamil menuduhnya selingkuh dan akhirnya menceraikannya saat itu juga.


Yusuf mengepalkan tangannya erat, 'berani sekali dia memperlakukan putriku seperti ini," batin Yusuf geram.


Yasmin mengusap lembut punggung Rabiah. "Yang sabar yah sayang, anggap ini ujian untuk menaikkan derajatmu menjadi lebih baik di hadapan Allah. Allah tidak akan menguji hambaNya di luar dari batas kemampuannya, jika Allah mengujimu dengan masalah ini, itu artinya kamu kuat dan mampu menghadapinya. Ingat sayang, di balik semua masalah yang menimpa kamu saat ini, Allah pasti sedang menyiapkan hikmah luar biasa untuk kamu, mungkin saat ini kami belum merasakannya, tapi ummi yakin, suatu saat kamu akan merasakannya," jelas Yasmin.


"Benar sayang, dan ingatlah satu hal, sebesar apapun masalahmu, serumit apapun masalahmu, Allah selalu ada, begitupun kami selalu ada bersamamu untuk mendukungmu, kembalikan semuanya kepada Allah, saat ini Allah sedang mengajarkan kita bahwa sebaik-baik berharap adalah berharap hanya pada Allah dan bukan pada manusia," timpal Yusuf.


"Iya abi, ummi, terima kasih," ucap Rabiah lalu kembali memeluk kedua orang tuanya itu.


"Apa kamu sudah makan sayang?" tanya Yasmin.


"Biah, masih kenyang ummi, Biah mau istirahat dulu," jawab Rabiah.


"Baiklah kalau begitu, Rahul, tolong bantu Biah bawa koper ini ke kamarnya," pinta Yasmin sambil memberikan koper kepada Rahul.


Kini Rabiah dan Rahul tiba di kamar Rabiah, perlahan Rahul membawa Rabiah ke tempat tidurnya dan meletakkan kopernya di dekat lemari Rabiah.


"Biah, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Rahul.


"Apa kak?"


"Hmm, atas dasar apa tiba-tiba mas Kamil menuduhmu selingkuh?"


"Mas Kamil hanya mendengar pembicaraanku dengan mbak Rani, istri pertamanya, dia yang pertama kali menuduhku selingkuh, katanya dia punya bukti kalau aku selingkuh," jelas Rabiah.


"Apa kamu lihat bukti itu?" tanya Rahul lagi.


Rabiah menggeleng pelan, "tidak kak."


"Apa ini tidak ada hubungannya dengan foto kita yang di ambil Bella waktu itu? bisa jadi Bella menyebarkan foro kita. Istri pertama mas Kamil kan tidak pernah melihatku, jadi tentu dia tidak tahu kalau kita saudara," selidik Rahul.

__ADS_1


Sejenak Rabiah terdiam, tiba-tiba ia teringat akan perkataan Bella yang mengatakan bahwa nanti dirinya akan mendapat masalah dengan suami terkait tuduhan selingkuh yang ia lontarkan padanya pagi tadi.


"Bisa jadi kak, soalnya Bella sedikit mengancamku tadi pagi," ujar Rabiah kemudian.


"Baiklah, istirahatlah, aku akan mengurus itu besok, kalau perlu aku akan memenjarakannya," cetus Rahul kesal.


"Eh jangan kak, biarkan aja, toh semua sudah terjadi," tolak Rabiah, membuat Rahul membuang napas kasar, lalu keluar dari kamar Rabiah.


🌷🌷🌷


Di rumah sakit


Kamil tampak begitu gelisah menanti Rani yang sedang diperiksa oleh dokter. Di sisi lain, ia juga merasa gelisah karena telah melontarkan kata talak kepada Rabiah. Apa keputusannya tadi sudah tepat? Begitulah pikirnya.


Tak lama setelah itu, dokter keluar dari ruangan dimana Rani di periksa.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Kamil dengan raut wajah khawatir.


"Syukurlah, istri bapak beserta kandungannya baik-baik saja, untungnya bapak cepat membawa istri bapak kemari, terlambat sedikit saja, mungkin kandungannya tidak bisa di selamatkan," ujar dokter itu, membuat Kamil seketika merasa lega.


"Lalu apa saya sudah bisa melihatnya?" tanya Kamil


"Silahkan pak, tapi ingat istri bapak harus banyak istirahat, tidak boleh kelelahan, karena janinnya masih sangat rentan," jelas dokter itu, "kalau begitu saya permisi dulu," lanjutnya pamit.


Kamil segera masuk ke dalam ruangan tempat Rani saat ini, dimana Rani masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kamil lalu mengabarkan kepada kedua orang tuanya terkait musibah yang di alami Rani.


Tak lama setelah itu, Maryam dan Abdullah datang dengan raut wajah khawatir.


"Bagaimana keadaan Rani dan kandungannya Kamil?" tanya Abdullah.


"Alhamdulillah, keduamya baik-baik saja, pa," jawab Kamil.


"Bagaimana ceritanya sih sampai Rani bisa terjatuh dari tangga? Dan mana Rabiah? Kalian kan tinggal seatap, harusnya dia juga ada disini," ujar Maryam.


"Rabiah tidak akan datang kesini," jawab Kamil sedikit ragu.


"Kenapa?" tanya Maryam sambil mengernyitkan alisnya.


"Ka-karena ta-tadi Kamil sudah menjatuhkan talak kepadanya," jawab Kamil sedikit terbata-bata.

__ADS_1


"Apa?" pekik Abdullah dan Maryam bersamaan.


-Bersambung-


__ADS_2