Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA

Hikmah Cinta : KALA CINTA MENGOBATI LUKA
KEPERGIAN RABIAH


__ADS_3

Plak


Suara tamparan yang begitu keras terdengar di kamar rawat Rani. Kamil hanya diam dengan pipi yang kini tampak merah karena tamparan dari ayahnya.


"Sudah ku katakan padamu Kamil, jangan pernah menceraikan istrimu, di dalam keluarga kita tidak pernah ada riwayat perceraian, tapi kenapa sekarang kamu membuat riwayat itu?" gertak Abdullah.


"Sudah pa, ingat kondisi jantungmu pa," sela Maryam sambil menahan tubuh Abdullah.


"Aku geram sekali sama anak ini ma, apalagi wanita yang ia ceraikan adalah wanita sholehah seperti Rabiah," desis Abdullah.


"Papa tidak tahu, Rabiah itu sudah selingkuh dibelakang Kamil, dan Kamil paling benci wanita yang mengotori rumah tangganya dengan perselingkuhan," jawab Kamil yang tidak tahan di salahkan.


"Apa? Selingkuh? Aku tidak percaya wanita sholehah seperti Rabiah selingkuh," cetus Abdullah.


"Benar, apa kamu punya bukti kalau Rabiah memang selingkuh? Apa kamu menangkap basah dia selingkuh?" timpal Maryam mencecar Kamil dengan pertanyaan


"Rani memiliki buktinya, itu sebabnya Rabiah mendorong Rani hingga terjatuh dari tangga," jawab Kamil dengan lantang.


"Tidak mungkin, mama kenal Rabiah, dia tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu," kilah Maryam sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu sudah mengecek CCTV di rumahmu?" tanya Abdullah, membuat Kamil seketika diam sejenak. Benar, ia memang belum mencari tahu kebenarannya dan ia langsung menyimpulkan.


"Be-belum pa," jawab Kamil terbata-terbata.


"Papa sarankan, kamu mengeceknya terlebih dahulu, jika memang benar yang kamu katakan, maka papa akan membiarkanmu menceraikan Rabiah, tapi jika salah, kamu harus menjemput kembali Rabiah," tegas Abdullah, membuat Kamil langsung tertunduk lesu.


Kamil kembali merenungi keputusannya, memang benar kata bijak yang mengatakan bahwa "jangan pernah mengambil keputusan saat marah, karena bisa saja nanti kamu menyesalinya, dan jangan menjanjikan sesuatu pada seseorang saat kamu sedang bahagia, sebab belum tentu kamu bisa menepatinya."


Apa yang Kamil lakukan kemarin adalah karena sikapnya yang terbawa emosi sehingga ia langsung mengambil keputusan tanpa mencari tahu dulu kebenarannya.


🌷🌷🌷


Malam kini berganti pagi, udara yang sejuk dan hari yang cerah kian menambah semangat untuk memulai hari baru. Pagi ini, Kamil keluar dari rumah sakit untuk menghirup udara segar sekalian mencari sarapan.


Saat akan kembali ke rumah sakit, suara bariton seoarang pria yang memanggilnya membuat langkah kaki Kamil terhenti.


"Mas Kamil," panggil Rahul sambil berjalan menghampiri Kamil yang diam menatapnya.


"Ada apa Rahul?" tanya Kamil seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa di antara keluarga mereka.


"Kemarin mas Kamil mengatakan bahwan Biah selingkuh, iya kan?" selidik Rahul.


"Iya betul," jawab Kamil datar.


"Apa mas Kamil sudah melihat bukti itu?"


"Belum," jawabnya, membuat Rahul langsung tersenyum getir.


"Baiklah, silahkan lanjutkan hidup mas, aku hanya menyarankan mas Kamil untuk mengecek bukti itu terlebih dahulu agar mas Kamil tahu, siapa sebenarnya yang salah," ujar Rahul lalu pergi meninggalkan Kamil.


Untuk sesaat Kamil tertegun mendengar perkataan Rahul, ia lalu melangkah cepat masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui Rani yang sudah sadar.

__ADS_1


"Rani," panggil Kamil sambil membuka pintu kamar tempat Rani di rawat.


"Iya mas, ada apa?"tanya Rani


"Kemarin kamu mengatakan bahwa Rabiah selingkuh dan memiliki bukti, sekarang aku ingin melihat bukti itu?" ujar Kamil.


"Baiklah, sebentar," ucap Rani lalu mencari ponselnya.


"Nah, ini dia mas." Rani memperlihatkan sebuah foto di dalam ponselnya kepada Kamil, dimana di foto itu terdapat Rabiah dan seorang pria sedang saling merangkul. Namun, mata Kamil seketika membola saat melihat foto itu, kakinya seketika terasa lemas, dan dadanya kini terasa sesak.


"Ada apa mas?" tanya Rani yang heran melihat ekspresi Kamil.


"Apa ini yang kamu maksud selingkuhan Rabiah?" tanya Kamil sekali lagi dan Rani mengangguk mantap.


"CK..." Kamil berdecak lalu pergi meninggalkan Rani. Kali ini yang menjadi tujuannya dalah rumahnya sendiri, ia ingin mengecek CCTV dan memastikan apa yang terjadi sebenarnya.


Tidak menunggu lama, Kamil kini tiba di rumahnya, dengan langkah cepat, ia berjalan masuk ke dalam rumahnya lalu masuk ke dalam ruang kerjanya untuk menyalakan komputer yang terhubung dengan CCTV.


Alis Kamil mengerut berusaha fokus memperhatikan video tersebut, dan sekali lagi matanya membelalak dan jantungnya berdebar hebat saat mengetahui kebenarannya.


Tanpa pikir panjang, Kamil langsung pergi menaiki mobilnya kembali. Tujuannya kali ini adalah rumah Yusuf dan Yasmin. Rasa menyesal kian menyeruak ke dalam hatinya, Ia merutuki kebodohannya yang tidak mempercayai Rabiah, wanita yang telah ia nikahi hampir satu tahun lamanya. Wanita yang telah membuatnya jatuh cinta hanya dalam waktu singkat namun ia justru melepaskannya karena sesuatu yang ternyata tidak benar.


Mengetahui fakta bahwa selingkuhan yang di maksud Rani adalah Rahul, dan fakta bahwa memang Rabiah tidak bersalah atas insiden jatuhnya Rani dari tangga membuat hati Kamil merasa lega namun juga sakit di waktu yang sama. Yah, ia juga sakit saat membayangkan bagaimana terlukanya Rabiah saat ia tidak mempercayainya dan bagaimana hancurnya Rabiah saat ia menjatuhkan talak padanya.


"Semoga Rabiah mau memaafkanku dan rujuk kembali padaku, semoga aku masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Kamil berbicara dalam hati untuk menenangkan hatinya.


Tak terasa, mobil yang di bawa Kamil kini tiba di halaman rumah orang tua Rabiah, perlahan ia menarik napas dan membuangnya untuk menenangkan hatinya.


Tok tok tok


"Wa'alaikum salam.." jawab seorang wanita paruh baya setelah membuka pintu.


"Eh, nak Kamil, ada apa?" tanya wanita yang merupakan asisten rumah tangga di rumah itu.


"Apa Rabiah ada?" tanya Kamil.


"Oh nak Rabiah dan orang tuanya sedang keluar, bibi juga tidak tahu kemana dan kapan mereka kembali," jawab wanita itu.


"Oh baiklah, terima kasih bi," ucap Kamil lalu pergi meninggalkan rumah itu.


🌷🌷🌷


Di kediaman Wildan dan Anna


"Bro, kamu yakin mau pulang ke Singapura sekarang? memangnya bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Ameer sambil membantu Jhony membereskan barang-barangnya.


"Aku sudah lebih baik, aku sangat merindukan ibuku jika sakit seperti ini, itu sebabnya aku ingin pulang untuk bermanja-manja padanya," jawab Jhony jujur.


"Kamu salah bro, harusnya kamu merindukan ibumu setiap saat, bukan pada saat kamu sakit saja," tandas Ameer, membuat Jhony hanya bisa nyengir bodoh.


Kini Ameer mengantar Jhony menuju bandara.

__ADS_1


"Ameer, aku pamit dulu, sampaikan salam dan terima kasihku pada kedua orang tuamu. Oh iya, aku sangat menyukai masakan sayur siput ibumu, kapan-kapan aku akan kesini lagi untuk makan itu," ujar Jhony menjabat tangan Ameer.


"Tentu saja, kamu harus sering-sering kesini, semoga perjalanammu lancar bro," ucap Ameer. Mereka akhirnya berpisah di bandara.


Saat hendak pulang, pandangan Ameer justru mendapati sosok Rabiah yang saat ini sedang bersama Yusuf dan Yasmin.


"Assalamu 'alaikum," sapa Ameer.


"Wa'alaikum salam," jawab Yusuf, Yasmin dan Rabiah.


"Eeh Ameer, kamu ngapain disini nak?" tanya Yasmin saat Ameer menyalami tangan Yasmin dan Yusuf bergantian.


"Ameer baru saja mengantar teman Ameer pulang ke Singapura," jawabnya, "Oh iya kalian mau kemana?" lanjutnya bertanya.


"Kami juga sedang mengantar Rabiah, dia mau liburan ke Makassar," jawab Yasmin.


"Oh, kok sendiri aja? Mas Kamil nggak ikut?" tanya Ameer penasaran.


Rabiah terdiam, ia melirik ke arah kedua orang tuanya yang juga terlihat sedikit gelagapan.


"Dia, emm, dia..-" Yasmin bingung ingin menjawab apa.


"Dia dan Rabiah sudah cerai." Yusuf menjawabnya cepat, dan sesekali melirik ke arah Yasmin yang kini melotot padanya.


"Cerai?" ulang Ameer sambil melirik ke arah Rabiah yang dari tadi hanya menunduk tak berani menatapnya.


"Oh iya, Rabiah, masuklah, sebentar lagi pesawatmu akan take off kan?" ujar Yasmin mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kalau gitu Rabiah pamit dulu," ucap Rabiah mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian lalu memeluknya.


Setelah itu, Rabiah masuk ke dalam bandara seorang diri, Ameer yang masih terkejut hanya bisa memandanginya dari belakang hingga Rabiah tidak terlihat lagi. Rupanya Yusuf sejak tadi memperhatikan bagaimana Ameer saat menatap Rabiah.


"Oh iya, Ameer juga mau pamit kalau begitu," ucap Ameer.


"Iya nak, hati-hati yah," jawab Yasmin.


Setelah mengucapkan salam, Ameer akhirnya pergi meninggalkan Yusuf dan Yasmin di bandara.


"Sayang, kok kamu jujur banget sih bilang ke Ameer kalau Rabiah cerai, Rabiah pasti merasa malu karena itu," lirih Yasmin sambil menarik tangan Yusuf berjalan keluar bandara.


"Nggak apa-apa kan, bukannya Rabiah menyukai Ameer?" jawab Yusuf.


"Ya itukan dulu, sekarang udah beda keadaannya, cinta Rabiah pasti sudah beralih ke Kamil," tandas Yasmin.


"Yaa justru karena itu, harusnya kita bantu Biah agar melupakan Kamil, aku nggak ridho Biah kembali dengan Kamil," terang Yusuf.


"Ya ampun, lagian kita kan juga nggak tahu bagaimana perasaan Ameer kepada Rabiah, aku takutnya Rabiah nantinya menyukai orang yang tidak menyukainya," ujar Yasmin.


"Nggak akan sayang, aku yakin, Ameer juga menyukai Rabiah, bahkan sampai saat ini," jelas.


"Loh kok kamu begitu yakin?" Yasmin mengerutkan alisnya menatap sang suami.

__ADS_1


"Tentu saja, karena aku seorang pria," jawab Yusuf sambil tersenyum penuh arti.


-Bersambung-


__ADS_2