
“Ada apa Jiyya?”
“Apa tidak ada kamar mandi lainnya?”
“Oh apakah kamu tidak mau masuk ke kamar saya? Sayang sekali tapi kamar mandi dirumah ini hanya ada satu dan letaknya ada disana.”
Sir Joan melirik kearah Jiyya yang sepertinya agak ragu dan bingung, namun karena pria itu cukup peka menyadari ketidaknyamanan mahasiswi manis ini, Joan menambahkan. “Kalau kamu tidak nyaman, saya akan masuk duluan dan mengganti pakaian saya dulu. Setelahnya kamu bisa gunakan kamar mandinya dan saya berjanji tidak akan masuk kedalam kamar saya saat kamu sedang didalam.”
Jiyya kontan tersentak, Sir Joan benar-benar orang yang sopan. Namun karena dia sangat menghargai Jiyya, serta memperlakukannya dengan hormat itu membuat Jiyya merasa tidak enak padanya. Bukankah ini seperti dia yang sekadar menumpang membatasi Sir Joan yang adalah pribumi di kediamannya sendiri. Jiyya tidak bisa lebih dari ini. Dia harus tahu diri.
“Tidak usah seperti itu, Sir. Maaf saya jadi membuat suasananya tidak nyaman. Kalau begitu saya izin menggunakan kamar mandinya ya.”
Meski Sir Joan mendapati langkah yang takut-takut dan ragu dari Jiyya, pria itu terkesan Jiyya memberanikan dirinya merobek batasan yang telah dia buat untuk membalas dirinya yang bersikap sopan terhadap gadis itu. Langkahnya terlihat lucu, apalagi saat gadis itu buru-buru masuk kedalam dengan setengah berlari
menuju ke kamar mandi. Gadis konservatif memang jauh lebih menarik, batin pria itu.
Sir Joan menikmati setiap tingkah spontan yang Jiyya perlihatkan padanya. Mau tidak mau, hal itu menyambut senyuman pada air mukanya yang selalu kaku. Yah, ini seperti sebuah skenario yang terencana. Jiyya sekarang berada di dalam apartmentnya, kondisinya basah kuyup, dan diluar sana hujan deras hampir seperti badai. Ada banyak kesempatan yang tersaji didepan mata untuknya.
Pria itu ikut masuk kedalam kamarnya, membuka atasannya yang basah dan melemparkannya ke dalam keranjang cucian. Semalam Joan yakin bahwa Jiyya mengatakan hal yang sebenarnya. Meski sedang mabuk gadis itu mengatakan kejujuran yang tidak bisa dia ragukan kebenarannya. Tapi kabar buruknya adalah fakta keberadaannya disini bukan untuk merealisasikan percakapan yang terjadi diantara mereka berdua semalam. Dia hanya tidak sengaja berteduh dibawah naungan gedung apartment-nya dan bukan untuk mengunjunginya.
Tapi tetap saja apa yang gadis itu katakan soal semalam masih menganggu ketenangannya, bahkan bisa dibilang topik itu terus meracuni pikirannya dan membuat dia tidak bisa fokus pada pekerjaan sama sekali. Dia sempat hilang arah, lantaran hampir seharian dia tidak menemukan Jiyya dimanapun. Gadis itu menghilang seperti mimpi, dan apa yang terjadi malam tadi lebih seperti sebuah fantasi. Gadis itu tidak melakukan apa-apa, dia tidak menggodanya dan juga tidak mencoba untuk melakukannya. Dia hanya bersikap seperti biasa, tapi Joan malah menanggapinya dengan sudut pandang berbeda. Ini gila, dia tidak pernah merasa sefrustasi ini karena wanita sebelumnya.
Ada keheningan sejenak, sampai Joan mendengar bunyi klik yang berasal dari pintu kamar mandinya. Joan memberinya senyuman manis, tapi Jiyya malah terlihat kaget dan tersipu sebelum akhirnya kembali membanting pintu. Joan heran dengan tingkah Jiyya, tapi saat dia menyadari apa yang membuat gadis itu kabur. Dia hanya bisa terkekeh.
Well,dia lupa kalau Jiyya mungkin tidak terbiasa memandang tubuh seorang pria dalam kondisi setengah telanjang. Salahkan Joan yang terlalu santai bahwa tidak semua perempuan satu tipe dengan wanita yang pernah dia kencani maupun yang pernah dia tiduri. Ada juga yang jenisnya seperti Jiyya, dimana dia masih terjaga. Mungkin sudah waktunya bagi pria itu untuk sedikit bersenang-senang. Dia jadi ingin menggoda Jiyya lebih dari ini.
Buru-buru pria itu mempercepat kegiatannya yang beberapa saat lalu sedang berganti pakaian. Dia mengenakan kaos berlengan panjang dan celana training yang sama panjangnya. “Jiyya, saya sudah berpakaian jadi kamu sudah sudah bisa keluar.”
__ADS_1
Sunyi, beberapa saat sampai kembali kenop pintu berputar dengan sedikit celah kecil disana. Jiyya mengintip dari kamar mandi untuk memastikan kebenaran sebelum akhirnya pintu terbuka lebar.
“Oh ya Jiyya, mau saya pinjamkan pakaian?” Joan mendekat kearah lemari pakaiannya lagi “Pakaianmu terlihat sangat buruk karena basah, kalau kamu menunggunya sampai kering di tubuhmu kamu bisa kena flu. Jadi tolong jangan ditolak ya.”
Jiyya tidak berkomentar, dia menggembungkan pipinya. Dia tidak habis pikir, Sir Joan bisa sangat santai menghadapinya padahal beberapa saat yang lalu Jiyya melihat dia nyaris dalam kondisi setengah telanjang. Apakah dia memang selalu secuek itu? terlebih kenapa sekarang dia jadi terkesan memperlakukannya seperti seorang anak kecil?
Apa benar Sir Joan sudah melupakan semua omong kosong yang Jiyya katakan semalam? Karena sungguh, kejadian semalam dan beberapa saat lalu membuat gadis itu makin tak nyaman untuk berlama-lama bersamanya disini. Apalagi mereka hanya berdua saja.
Sejujurnya dia takut bahwa apa yang Silvana katakan mengenai dirinya adalah kebenaran. Kadang orang lebih jeli soal diri kita dibanding kita sendiri selaku pemilik tubuh. Jiyya takut dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri lagi. Bagaimana jika secara tidak sengaja dia kembali melakukan hal bodoh lagi? Benarkah itu adalah hal yang bodoh jika dia benar-benar melakukannya dengan Sir Joan? Atau apakah yang pendapat Silvana patut untuk dia pertimbangkan? Haruskah dia benar-benar melepaskan mahkotanya untuk mendapatkan sebuah pengalaman ?
Tiba-tiba Jiyya jadi teringat dengan apa yang Silvana yang bilang ‘Aku melakukannya saja ketika aku rasa punya kesempatan untuk itu’. Jiyya benci akan pikirannya sendiri. Jika Silvana bisa melakukannya begitu saja, bagaimana dengan dia? Perempuan itu pada dasarnya memang menyukai hal-hal semacam itu sementara dia tidak.
Tapi ketika hal mustahil bahkan bisa terjadi pada sahabatnya, maka bukankah itu berarti hal yang sama juga memungkinkan terjadi pada dia juga? Lagipula permainan itu hanya membutuhkan sepasang manusia dan kesempatan saja kan? sisanya mengalir karena insting yang akan mengambil alih.
Sementara itu Sir Joan sibuk mengacak lemari pakaiannya, dia sejenak melirik kearah Jiyya yang kontan langsung menutupi bagian depan tubuhnya dengan tangan seolah mencegah Sir Joan menatapnya pada bagian tertentu ditubuhnya.
Sir Joan hanya tersenyum kecil sebelum kemudian menunjukan Jiyya sebuah pakaian yang lebih mirip gaun tidur wanita dengan renda-renda pada bagian dada dan ujung roknya.
Tanpa berdosa, pria itu kemudian hendak keluar dari kamarnya untuk memberikan kesempatan pada Jiyya berganti pakaian.
Namun Jiyya justru menatap kaku gaun yang Sir Joan tawarkan padanya, nampak menelan ludah sebelum bicara. “Anu… Sir Joan,”
Sir Joan yang baru saja melewati pintu kamarnya berbalik untuk menanggapi panggilan mahasiswi manisnya itu. “Ya? Ada apa Jiyya?”
“Saya tidak bisa memakai itu,” cicit Jiyya dengan suaranya yang nyaris tidak terdengar karena kelewat kecil. “Saya sejujurnya tidak keberatan mengenakan pakaianmu. Maaf kalau saya lancang, tapi pakaian wanita yang Sir Joan tawarkan tidak nyaman untuk saya kenakan.”
Mendengar kata-kata Jiyya, seringai kecil muncul diwajah Joan. Jadi, bukankah ini seperti Jiyya sedang mencoba memancingnya untuk memainkan permainan itu? apakah ini sebuah kode darinya agar Joan mau melangkah lebih jauh? Sebenarnya yang manapun pilihan Jiyya, keduanya adalah jebakan. Namun Joan tidak mengira Jiyya akan dengan mudah masuk kedalam umpan bahkan meminta hal lain sebagai gantinya. Itu tidak terduga sebenarnya.
__ADS_1
Joan segera mengatur kembali ekspresi wajahnya. Dia cukup berpengalaman dalam poker face oleh sebab itu dia dapat dengan mudah mendapatkan ketenangannya kembali dan bertingkah biasa saja meskipun isi hatinya tidak. Pria itu menatap langit-langit seolah mempertimbangkan ide Jiyya.
“Ah, saya pikir kamu tidak akan nyaman dengan pakaian saya. Tapi baiklah bila itu membuatmu lebih nyaman. Kamu memang bukan tipe gadis yang mau memakai pakaian seperti itu sih,” komentarnya ringan.
Jiyya menganggukan kepalanya. Namun matanya kontan membelalak lebar saat Sir Joan tiba-tiba saja menarik keatas kaos berlengan panjang yang sedang dia kenakan dengan santai. Tubuh Jiyya berdiri kaku, sekali lagi dia mendapatkan asupan tubuh pria dewasa yang seksi tepat didepan matanya. Bukan dari foto-foto yang sering Silvana kirim ke ponselnya untuk menggoda Jiyya.
Tubuh Sir Joan memang masuk kategori kurus, tapi sangat berotot. Bahkan di bagian perutnya tercipta kotak-kotak luar biasa yang memanjakan mata. Mata Jiyya secara tidak sengaja jatuh lebih kebawah lagi tepatnya pada bagian cekungan yang mengarah di area depannya tertutup rapat oleh celana training yang dia kenakan. Bagian itu sedikit menyembul, bahkan saat tidur-pun ukurannya sebesar itu? sadar akan pikirannya yang sudah terlalu jauh entah kemana.
Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Rasa panas menjalar ke seluruh wajahnya, kenapa Sir Joan bertingkah sangat random begini? Astaga!
*“Oh ****!”*Jiyya tidak bisa menahan dirinya untuk mengatakan kalimat umpatan meskipun sekadar bergumam. Ini buruk. Hatinya tidak siap dengan ini. Dia tidak siap untuk sebuah kemungkinan lain yang barangkali bisa menjadi kenyataan padahal dia sudah mengatakan pada Silvana dan dirinya sendiri bahwa itu tidak akan pernah terjadi. Tapi kalau sudah begini siapa yang akan menjamin?
Sir Joan yang telah berhasil mengeluarkan kepalanya dari bagian atas pakaian itu kemudian menatap Jiyya dengan super serius. “Ada apa? apa kamu mengatakan sesuatu Jiyya?”
Jiyya memandangi visualisasi yang memanjakan matanya itu sekali lagi. Kali ini lengkap sudah. Sir Joan yang selalu menyisir rambutnya dengan rapi berdiri dalam keadaan telanjang dada dengan rambut acak-acakannya yang alami. Jiyya tidak percaya bahwa Sir Joan benar-benar pria yang sangat menawan. Kenapa dia baru menyadarinya sekarang?
“Bagaimana ini, kalau situasinya begini… bisa saja kami melakukan apa yang Sir Joan tawarkan padaku semalam,” ceplos Jiyya dengan suara yang kecil.
Gadis itu menutup mulutnya dengan cepat. Tidak, kenapa dia mengatakan hal itu? ini memalukan! Dia sedang seratus persen sadar dan tidak ada alasan baginya untuk mengelak.
Ketakutannya menjadi kenyataan. Jiyya kembali membuat kesalahan dengan tidak sanggup mengontrol dirinya dengan benar. Oh Tuhan! Jiyya tidak sanggup berdiri dan ditatap oleh Sir Joan sekarang. Dia ingin menghilang dari planet bumi.
Alih-alih mencemoohnya, atau mengusirnya karena Jiyya sudah mengatakan hal yang tidak sopan padanya. Sir Joan malah mengangkat alisnya sambil memegang atasan yang baru saja dia buka dengan kepalanya yang sedikit miring ke kanan.
“Is that so?”
“T-tidak, dan saya salah bicara, saya tidak bermaksud…” Jiyya terlihat gugup, dia membalik tubuhnya membelakangi Sir Joan. baginya sekarang sudah terlambat untuk menutupi. Sudah kelewat tanggung untuk menghindari karena dosennya ini sudah mendengar apa yang dia ucapkan. Ini ulah Jiyya yang malah memanggil kembali kenangan mereka semalam. Karena itu gadis itu hanya sanggup untuk melemparkan tatapan tidak berdaya terhadap Sir Joan yang menatapnya dengan pandangan lembut namun serius. “Saya sedikit penasaran, tapi saya tidak benar-benar tahu bagaimana melakukannya,” aku gadis itu.
__ADS_1
Hanya dalam waktu sekejap, tiba-tiba saja tanpa Jiyya sadari Sir Joan telah mendekat dan bahkan telah berdiri dibelakangnya. Sekali lagi Jiyya dapat merasakan hembusan napas yang hangat menerpanya, berikut bibir Sir Joan yang sudah berada didekat telinganya.
“Melakukan apa Jiyya? Ask for ***?”