
“Silvana.” Mendengar namanya disebut, gadis itu kontan menatapnya Sir Arthur. Silvana seolah berupaya mencari kebenaran dari perasaannya melalui kedua mata itu. Dan benar saja, Silvana menemukan dirinya hanyut dalam sebuah gelombang tertentu tatkala tatapannya terfokus pada kedua bola mata berwarna coklat yang dimiliki sang dosen tampan. Kedua manik matanya terlihat sangat cantik, Silvana suka itu.
“Aku tahu kalau kau sudah sering kali mendengar ini dari oranglain. Tapi kupikir aku harus mengatakannya pula. Ini seperti sebuah kewajiban untukku.” Sir Arthur mencondongkan tubuhnya ke depan Silvana dan menyandarkan dahinya ke dahi Silvana. “Kamu cantik, Silvana.”
Jantung Silvana berkontraksi, kali ini bahkan rasanya jauh lebih sakit lagi. Oh ya ampun, Silvana benar-benar frustasi menghadapi dirinya sendiri sekarang. Silvana, berhentilah menjadi begitu emosional. Gadis itu membatin. Dia mencoba sebisa mungkin mengendalikan dirinya agar tidak lagi terjebak dalam perkataan manis buaya darat. Sir Arthur hanya mencoba bersikap baik dan menghargaimu, Silvana. Tidak ada intensi lebih, dan ini hanyalah sekadar **** belaka. Hormon memang biasa membuat orang menjadi emosional. Sekali lagi Silvana
menambahkan argumen untuk dirinya sendiri.
Otaknya bekerja, logikanya juga memiliki penalaran yang sama. Tapi sayangnya tubuhnya tidak, dan malah memilih untuk menghianati. Silvana tahu bahwa sekarang pipinya sudah kepalang bersemu merah. Dia butuh pengalih perhatian, dia tidak boleh bersikap seperti ini. Jangan sampai Silvana mengatakan sesuatu yang bodoh lagi dan merusak suasana. Dia tidak boleh jatuh cinta betulan.
Tanpa bicara Silvana bergerak turun, dia menundukan kepalanya untuk meraih sesuatu dibalik selimut. begitu dia telah menemukannya, Silvana merasa jauh lebih lega dan juga senang. Sir Arthur ternyata seorang penderita morning wood yang cukup serius dan akut. Ini akan menjadi pengalih perhatian yang bagus.
Perlahan Silvana bergeser dan bergerak kebawah tubuh pria itu, Sir Arthur kontan mengangkat selimut untuk melihat ulah apa lagi yang hendak dilakukan oleh mahasiswi nakalnya itu.
“Silvana, tidak usah. Kau tidak perlu—” Belum sempat dia menuntaskan ucapannya, Silvana sudah lebih dulu meletakan tangannya yang telah dia beri pelicin dengan air liurnya sendiri. Adegan selanjutnya sudah bisa ditebak, tanpa harus menunggu lama perbuatan Silvana terbayar kontan tatkala napas pria itu berubah tajam dan
berat ketika dibuai oleh Silvana yang sedang memanjakannya dibawah sana.
Nah, dalam situasi seperti inilah Silvana akan jauh merasa aman. Dia sangat hafal bagaimana cara menyenangkan seorang pria dengan tindakannya dan membuat hatinya teralihkan dalam sebuah emosi yang memusingkan. Lagipula sejauh ini tindakannya jauh lebih efektif daripada menggunakan lidah sekadar untuk membalas kata-kata.
__ADS_1
Bahasa cintanya bukan afirmasi kata yang disaat yang sama adalah kelemahannya. Sebab Silvana kadang selalu mendapati dirinya kesulitan untuk bereaksi terhadap jenis emosi seperti ini. Gadis itu pikir dia tidak akan pernah lagi merasakannya karena hatinya sudah terlanjur beku untuk urusan cinta dan sejenisnya.
Bagian dalam pikirannya memberitahu Silvana bahwa apa yang dia rasakan terhadap Sir Arthur sekarang bukan hanya rasa tertarik untuk menidurinya, melainkan sebuah rasa suka yang hampir bermemorfosa menjadi jatuh cinta. Sayangnya perasaannya menolak akan hal itu, sisi hatinya yang dahulu terluka membuat gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat.
Silvana mulai menggerakan tangannya dalam ritme yang teratur, merasakan tekstur unik sekaligus menikmati suguhan suara geraman dari pria itu saat dia melakukannya walaupun nampaknya pria itu berusaha untuk tidak memperdengarkan apa-apa.
Bagaimanapun, Sir Arthur tetap tidak sanggup untuk menahan suaranya sendiri. Kenikmatan yang Silvana bagi terlalu sulit untuk dapat dia abaikan. Gadis itu cukup percaya diri dengan performanya. Melihat kini sudah tidak ada perlawanan, Silvana mendongak dan menggigit bibirnya saat dia melihat Sir Arthur menutup matanya, meresapi apa yang sedang tangannya perbuat padanya.
“Shit!” Sir Arthur mengerang dia menggerakan bagian bawah tubuhnya keatas, mendorong dirinya agar lebih masuk kedalam cengkraman tangan Silvana disana.
Silvana terkikik geli, dan mulai mengabulkan apa yang pria itu harapkan. Kedua tangan Sir Arthur berstagnasi di dahinya sendiri, setengah menutup kedua matanya. Meski begitu pria itu tetap memastikan dapat mengintip bagian bawah tubuhnya yang sedang diberikan pelayanan super panas oleh si mahasiswi barbie. Tangan kecilnya terasa begitu dingin untuk bagian dari dirinya yang terasa panas. Pria itu mengerang lagi akibat kenikmatan yang dia dapatkan. Silvana benar-benar terlalu hebat, dia bisa menangani Sir Arthur dengan baik hanya dengan tangannya.
“Aku tidak akan pernah bisa terbiasa dengan tingkah lakumu diatas ranjang,” gumam pria itu jujur.
“Dan di sofa juga,” balas Silvana nakal.
Sir Arthur tertawa dan Silvana merasakan pipinya merona lagi. Kenapa tawa pria itu jadi sangat berarti baginya? Seluruh pertanyaan yang lagi-lagi muncul membuat gadis itu tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Namun terlepas dari itu semua Silvana merasa senang bisa membuat dosen tampannya dapat tertawa selepas itu. Aduh buyung, sudah jelas Silvana dalam masalah sekarang karena segalanya semakin jelas untuk dirinya sendiri.
Begitu tawanya mereda, Sir Arthur mengangkat tangannya untuk menangkup wajah Silvana. Gadis itu menutup matanya. Ya, Silvana pikir dia mungkin akan mendapatkan ciuman lagi. Tapi seiring penantian tidak terjadi apa-apa selain Sir Arthur yang hanya memberikan gadis itu cengiran.
__ADS_1
Pria itu kemudian mengambil tisu dari nakas dan mengelap seluruh cairan yang membasahi tubuh Silvana. Meski kecewa mulanya, tapi mendapatkan perlakuan yang super lembut dari Sir Arthur, Silvana hanya bisa diam saja sambil merasakan debaran di jantungnya yang lagi-lagi menggila hanya karena perhatian kecil yang pria itu berikan secara cuma-cuma.
“Kau pasti lelah, mau pesan sesuatu? Kopi misalnya?”
Silvana menatap kedua mata yang begitu cerah untuknya. Pria itu terlihat berkilauan, bahagia serta puas. Silvana sebenarnya ingin berpura-pura bahwa senyuman itu terjadi murni karena dirinya sendiri dan bukan hanya karena dia baru saja melayaninya beberapa saat yang lalu. Namun realita akan selalu pahit kan? dia tidak mau menjadi seorang gadis yang denial.
“Ya, itu ide bagus,” jawab Silvana. “Ekstra gula oke? Harus manis. Gula yang jauh lebih banyak dari yang kau anggap normal dari kebanyakan manusia pada umumnya. Dengan tambahan krimer dan susu juga bila tidak keberatan.”
“As you wish, Baby girl,” Sir Arthur terkekeh, dia mulai menggerakan tubuhnya menuju kearah telepon yang letaknya ada di meja khusus untuk memesan pelayanan pesan antar. Membiarkan tubuhnya yang tidak tertutup apa-apa terekspos bebas dan dapat disaksikan oleh mata Silvana yang lapar. Si mahasiswi barbie kembali membanting tubuhnya ke ranjang hanya untuk menonton pemandangan menyenangkan yang bisa dia lihat dari sudut pandangnya sekarang.
Ya, ini sedikit menghibur. Silvana bersyukur pria itu tidak memilih memakai pakaiannya lebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Sungguh, gadis itu amat sangat menikmati tekstur berwarna perunggu dari punggungnya yang besar dan juga lebar. Menyaksikan otot-ototnya bergetar ketika tangannya mengangkat gagang telepon. Si mahasiswi cantik menghela napas panjang. Sekali lagi dia menyetujui anggapannya bahwa Sir Arthur benar-benar seksi. Selain itu, ada yang membuatnya penasaran. Adalah bekas luka ditangannya membuat gadis itu memang sempat ingin dia pertanyakan. Namun karena itu adalah urusan dalam ranah pribadi akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk tahu lebih banyak lagi.
Silvana cukup tahu untuk membedakan urusan ranjang dan pribadi.
Tapi ketika pria itu tidak ada disisinya secara nyata, sekali lagi pikiran Silvana dihantam oleh realita. Dia tidak membayangkan bahwa keesokan paginya akan jadi begini. Kenapa pria itu bisa berubah menjadi begitu baik? Kenapa pula Silvana bertingkah seperti gadis yang tolol? Bagaimanapun dia terkadang kehilangan kendali bahwa dia sungguh seperti seekor anjing yang begitu kelaparan akan cinta. Dia sangat membutuhkan perhatian pria itu.
Dia mungkin harus membicarakan hal ini dengan Jiyya. Gadis itu pasti tahu harus berkata apa untuk menyadarkannya dalam situasi ini. Samar-samar pula gadis itu mulai bertanya-tanya, apakah Jiyya berada dalam situasi yang sama sepertinya? Dia penasaran apakah hubungan Jiyya dan Sir Joan benar-benar berlanjut dan
selangkah lebih dekat seperti dia dan Sir Arthur?
__ADS_1