Honey Trouble

Honey Trouble
Actualy


__ADS_3

“Tidak!” kali ini Silvana dan Jiyya secara refleks mengatakan hal yang sama untuk menolak Dean. Kedua gadis itu saling pandang setelah melakukannya terlebih suara mereka terlalu melengking.


Dean tersentak, dia mungkin tidak mengira akan mendapatkan penolakan yang sangat keras dari mereka berdua. Alhasil raut mukanya berubah sedih. Seperti anak kecil yang keinginannya tidak terpenuhi, Dean menendang tanah dengan ekspresi murung, menimbulkan debu yang berputar di sepatunya membentuk sebuah busur. “Kenapa tidak? kalian berdua kok sejahat ini padaku?”


“Karena apa yang kami bahas bukan sesuatu yang umum. Ini woman talk. Memangnya kau memerlukan hal-hal feminim untuk dibicarakan? Rasanya kau tidak butuh itu dan tidak ingin mendengarnya juga kan?” sela Silvana. Dia bergerak maju dan membuat jarak antara Jiyya dan Dean sambil melingkarkan tangannya pada tangan Dean. Kemudian berbisik di telinga pemuda itu. “Aku ingin membicarakan soal menstruasiku yang telat bulan ini dan tentang hal-hal seperti itu. Jadi tolong jangan buat aku semakin sulit dan malu untuk mengatakannya keras-keras. Intinya sekarang aku butuh Jiyya sekarang juga. Tolong permudah urusanku, dan jangan menghalangi. Oke?”


Mendengar kata menstruasi dan hal-hal lain yang Silvana mention dalam ucapannya kontan membuat pemuda itu pucat pasi. Apalagi cara Silvana menyampaikan kata-katanya itu dengan bernada mengacam. Gadis itu benar-benar horror menurut Dean. Dan itu memang sesuai dengan apa yang Silvana harapkan.


“Uh…” Si bocah berambut pirang tersebut pada akhirnya hanya bisa menegang, dia menarik dirinya menjauh dari Silvana sebisa mungkin. “O-oke, aku paham. Silahkan nikmati waktu kalian berdua. Aku tidak akan mengganggu.”


Saat Dean berkata begitu, kini Silvana beralih untuk menggandeng Jiyya disisinya. Senyuman Silvana mengembang melihat adanya api cemburu dari Dean. Pemuda itu menatapnya mereka berdua dengan alis berkerut.


“Aku tidak tahu apa aku bisa benar-benar percaya pada kalian. Maksudku hubunganmu dengan Jiyya sedikit lebih dekat dibandingkan aku dengannya,” gumam Dean. “Sekarang kau jadi sama mengerikannya dengan Jiyya, bahkan lebih darinya. Kau membuatku takut Silvana, dan lagi aku sadar bahwa kalian berdua hanya mempermainkan aku.”


Silvana dan Jiyya kontan saling pandang satu sama lain. Mereka terkikik melihat keputusasaan yang jelas di wajah Dean.


“Maksudmu apa sih Dean? Kamu cemburu Jiyya lebih memilih aku?” seru Silvana mencoba menggoda Dean lagi.


“Kami tidak pernah mencoba mempermainkanmu. Aku selalu serius. Lagipula aku tidak punya intensi untuk melakukan hal kekanakan seperti itu,” timpal Jiyya lagi.


Dean hanya cemberut kemudian menyilangkan kedua tangannya . “Ya, terserahlah. Aku memang tidak akan pernah menang dari perempuan.”


“Akui saja kekalahanmu Dean. Aku ini memang beribu kali lipat lebih menarik. Aku bisa bertaruh bahkan Jiyya mungkin akan lebih tertarik bermain denganku di atas ranjang daripada denganmu.” Silvana terkikik kemudian mulai menarik Jiyya untuk menjauh dari sana. Dia berbalik sekadar melambai dan memberikan wajah meledek pada Dean sekali lagi. “Sampai jumpa pangeran, putrimu aku culik dulu!” seru Silvana sambil menggandeng Jiyya,

__ADS_1


sementara Jiyya tidak mengatakan apa-apa dan hanya melirik kearah Dean saja.


Pria itu mendengking sebal sambil kemudian memberikan jari tengah dan menarik turun bagian bawah kelopak matanya untuk membalas Silvana yang menggodanya. Silvana hanya tertawa dengan reaksi yang Dean berikan. Sungguh sangat menghibur jiwanya yang beberapa saat lalu sedang carut marut.


Begitu mereka berdua telah cukup jauh dari Dean, atau dari siapapun yang dirasa mengenal mereka. Jiyya melepaskan dirinya dari gandengan Silvana dan memandangi sahabatnya itu dari atas kebawah.


"Apa itu? bermain bersamamu di atas ranjang? terdengar menjijikan."


"Kalau kau bersedia aku tidak keberatan bermain dengan perempuan."


“Hei, jujur apa yang terjadi padamu?” Dia menunjuk kearah jalan Silvana yang sedikit agak terpincang-pincang. “Kau harus menceritakan segalanya padaku. Alasan mengapa aku tidak melihatmu selama tiga hari dikampus. Atau kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali. Kau benar-benar membuatku panik Silvana,” sambung Jiyya lagi.


“Aku benar-benar sedang tidak berada dalam kondisi yang bagus selama tiga hari kemarin,” balas Silvana. Dia melirik keatas langit yang kebetulan ditaburi oleh bintang-bintang malam itu. “Aku ingin menginap dirumahmu malam ini.”


“Ya, aku akan izinkan berhubung kita tidak bicara selama itu,” sahut Jiyya sebagai final daripada keputusannya.


“Dan hei, yang ingin kutanyakan sama denganmu,” ujar Silvana cepat-cepat. Dia belum mau mendiskusikan hal yang serius sebelum mereka tiba di mess milik Jiyya.


“Apa?” Kini setelah Jiyya melihat Silvana yang tiba-tiba semangat, terus terang dia punya firasat yang buruk tentang itu.


“Kau sudah melakukannya dengan Sir Joan?”


Ketika mendengar kata-kata Silvana, kontan wajah Jiyya merah padam. Tapi tidak bisa dipungkiri ada juga amarah yang dapat Silvana temukan dari gadis itu. Silvana menyeringai, sepertinya mereka punya banyak hal untuk didiskusikan malam ini, dan Silvana bertaruh mereka bisa tidak tidur untuk membicaraknnya sampai pagi.

__ADS_1


“Kupikir alasan kenapa kau absen dari kampus karena kau sakit, Silvana. Tapi setelah mendengar kau membahas hal ini lagi sepertinya kau baik-baik saja dan masih menjadi Silvana yang aku ingat,” sahut Jiyya terdengar sebal. Dia dengan lihai menghindari topik ini. Namun dari situ Silvana mencurigai bahwa telah terjadi hal yang tidak beres pula antara Jiyya dan Sir Joan. Dia berharap mereka tidak memiliki kesamaan dalam hal ini.


“Oh ayolah, aku hanya menebak. Kau tidak perlu menjadi sekesal itu,” canda Silvana. Sejujurnya dia memang senang memancing sahabatnya itu untuk sedikit geram akan pertanyaan frontalnya. Dia membutuhkan sedikit hiburan sebelum masu~~~~k ke dalam topik yang berat. Tentu saja menurut Silvana itu lumayan memberatkan untuk di


bahas.


“Padahal aku berharap kalau kita bertemu topik yang akan kita bicarakan menjadi lebih serius. Tapi aku memang tidak bisa berharap banyak padamu.” Jiyya berdecak sebelum akhirnya mereka kembali berjalan tanpa suara.


Kedua gadis itu kini tanpa terasa telah tiba di gedung mess yang Jiyya tinggali. Keduanya mulai masuk dan kini sedikit menahan untuk tidak mengatakan apapun sampai memastikan mereka masuk kedalam ruangan yang Jiyya tempati.


Setelah melepas sepatu dan jaketnya, Silvana kemudian merebahkan dirinya pada kasur Jiyya segera begitu dia sampai sementara Jiyya langsung menuju ke dapur.


“Kalau boleh aku ingin bir. Kau punya Jiyya?” tanya Silvana seraya mendongakan kepalanya ke atas. Jiyya hanya menaikan sebelah alisnya. Meski sebal tapi dia tetap bergerak untuk memenuhi permintaan sang kawan.


“Kau beruntung karena aku punya beberapa kaleng lagi yang tersisa,” sahut Jiyya dari arah dapur.


“Sempurna,” sahut Silvana.


Jiyya kemudian mendatangi Silvana yang sudah standby di kamarnya. Jika bir menjadi teman mereka bercerita. Jiyya paham bahwa Silvana punya hal yang sifatnya urgent untuk dikatakan. Jiyya kini duduk dihadapan gadis itu dan membukakan kaleng bir yang dia suguhkan untuk Silvana. Gadis itu menerimanya dengan baik.


“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi sampai kau menghilang selama tiga hari?” tanya Jiyya dengan nada bicara yang terkesan serius.


“Well, sebenarnya…”

__ADS_1


__ADS_2