
“Novel cinta itu lama-lama membosankan ya. Bagaimana menurutmu?” Jiyya dengan rambut hitam sebahunya mengangkat kepala, memandang kearah seorang pemuda yang nampak hampir mati karena rasa bosan. Sedang Jiyya sendiri masih sibuk dengan komputer lipatnya. Dia sedang mengurus satu kepentingan yang tidak bisa ditinggal. Tapi pemuda berisik disebelahnya nampak mencoba untuk meminta atensi lebih. Minimal reaksi atas tanya yang terujarkan beberapa saat yang lalu.
Jiyya berdehem sebelum buka suara. Hari ini dia tidak masuk, Jiyya ingin absen karena enggan bertemu dengan Sir Joan. Dia pikir dia bisa sendirian, tapi nyatanya tidak. Dia kedatangan tamu tak diundang. Dean. Pemuda itu tiba-tiba saja mengetuk pintu rumahnya dengan senyum lima jari dan kantong berisi ayam dan kentang goreng serta beberapa minuman kaleng.
Tadinya Jiyya ingin mengusirnya dan bilang bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Tapi bukan Dean namanya jika dia tidak bisa merangsek masuk. Pemuda itu punya satu kebisaan. Bisanya hanya memaksa.
“Ya, kalau kisahnya itu-itu saja, cinta pandangan pertama, cinta jadi benci, pun sebaliknya, aku pribadi bosan. Apalagi cerita tentang perselingkuhan, aku malas membacanya.” ujar Jiyya dengan mata yang masih pula bertengger pada laptop kesayangan. Dia tidak memberi sama sekali lirikan pada sang tamu.
“Tapi, kata Sir Yoga tema seperti itu sedang naik-naiknya. Rasanya sakan tidak memiliki kebebasan, kalau kau ingin diterima dan punya pangsa pasar kau harus mengikuti trend yang ada. Realistis katanya.” Dean berargumentasi sambil mengerucutkan bibirnya lucu, dan Jiyya sendiri merasa tidak harus melewatkan pekerjaannya untuk mengintip ekspresi pemuda itu. “Kalau begitu bagaimana dengan kisah persahabatan jadi cinta? Mencintai seseorang yang sudah dekat denganmu sejak lama tanpa pernah punya konflik berarti bukankah bisa jadi sebuah momentum yang lucu untuk diceritakan kepada anak cucu?”
“Kau terdengar seperti seorang kakek tua, Dean,” celetuk Jiyya, tangannya masih sibuk mengetik pada papan keyboard.
“Aku hanya minta pendapatmu.” Detik berikutnya Jiyya mendengar suara kaleng minuman yang sedang dibuka, dan pemuda itu langsung meneggaknya.
“No comment kurasa.” Jiyya dengan cepat memberikan jawaban. Dean melirik kearahnya dengan ekspresi sebal.
“Itu karena kau jatuh cinta pada Bestian yang adalah sahabat kita. Aku tahu kau hanya malu untuk berbagi pandangan soal itu. Setidaknya bantu aku Jiyya, aku butuh banyak inspirasi untuk karya-ku. Sir Yoga ingin aku membuat satu judul baru dengan tema general tapi harus yang tidak membosankan,” keluh Dean sekali lagi. Pemuda itu sepertinya sedikit serius dan bukan hanya sedang mencoba menggodanya untuk kepentingan hiburan semata.
Agak mengherankan memang bagaimana seorang Dean yang tidak bisa diam, malah masuk jurusan sastra dan sekarang katanya dia ditantang untuk membuat sebuah novel untuk tugas kuliahnya. Bukan berarti orang dengan kepribadian tak mau diam tidak bisa jadi seorang penulis, tapi kebanyakan yang Jiyya ketahui para penulis biasanya memiliki kepribadian yang lebih tenang. Dean mungkin pengecualian atas itu.
Akhirnya Jiyya berhenti dari aktivitas mengetiknya dan mengulurukan tangan yang langsung dimengerti oleh pemuda itu. Dean membukakan minuman kaleng untuk Jiyya tanpa harus mengatakan apa yang dia perlukan.
“Mestinya kau baca literatur atau tanya pada Silvana. Dia bisa membantumu dalam masalah percintaan, apalagi kisah yang dia miliki dengan para pria selalu menarik.” Jiyya menerimanya dengan mudah. Lalu meneguk isi minumannya pula.
“Itu kan menurutmu, membaca itu membuatku mengantuk terus aku juga tidak punya intensi menarik tentang kisah hidupnya si Silvana. Hei, kalau kau tidak suka aku bertanya soal dirimu dan Bestian, kalau soal kita bagaimana Jiyya?” Untuk sesaat Jiyya menatap kearah Dean. Pria itu berujar tanpa senyuman menyebalkan yang kerap dia hadirkan dihadapan Jiyya seperti biasanya.
Tenggelam oleh perasaannya sendiri, soal membandingkan pemuda ini dengan Bestian. Jiyya hanya menyunggingkan senyum meski sedikit.
“Kita kan beda, Dean.” Jiyya menaruh minuman kaleng yang telah dia teguk isinya di sisi meja. Kembali menyibukan diri untuk mengetikan sesuatu pada komputer lipatnya. Sementara Dean masih setia menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan rasa penasaran.
“Kalau kau dan Sir Joan?” Seketika jemari yang lincah menekan tuts keyboard terhenti seketika. Ingatan soal apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Sir Joan langsung memenuhi kepala. Terutama adegan ciuman yang sempat mereka lakukan. Jiyya sebenarnya ingin memilih tak acuh, tapi sepertinya ekspresi muka yang dia perlihatkan pada Dean sekarang tidak cukup mendukungnya untuk keluar dari pertanyaan tidak nyaman yang baru saja Dean ucapkan tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
“Kenapa tiba-tiba kau bertanya padaku soal dia?”
“Hanya penasaran.”
“Urusanmu denganku sudah selesai kan? kenapa kau masih disini?” Jiyya mengalihkan topik untuk memecah keheningan mencekam yang tiba-tiba saja membuat dirinya tidak nyaman. Aneh saja berada dalam situasi sunyi dengan Dean yang notabene adalah pemuda paling berisik seantero kampus.
Dean menghela napas. “Betah,” tuturnya ringan kali ini sambil menggigit satu bagian paha ayam yang katanya sendiri hadiah untuk Jiyya. Memang dasar pemuda aneh.
“Kapan mau pergi?”
“Kau mengusirku? Sahabat macam apa kau ini Jiyya?” Dean sudah kembali pada kepribadian asalnya. Itu sedikit membuat Jiyya lega. Dean yang serius sedikit takut untuk dapat dia hadapi kalau boleh jujur.
“Kapan pergi?” tekan Jiyya lagi pada sahabat masa kecilnya itu.
“Ck, sebentar lagi.” Dean mendecak sebal, Jiyya melirik dan mendapati pemuda itu mengomel sendiri sambil beranjak dari posisi duduknya.
Namun sebelum dia benar-benar berdiri. Pemuda itu menangkap adanya sebuah notifikasi yang masuk ke ponsel Jiyya yang kala itu memang tergeletak begitu saja dalam jangkauan pandang si pemuda. Jiyya sendiri tidak sadar karena dia menyetel ponselnya tanpa nada dering. Oleh karena itulah Jiyya masih memfokuskan atensinya pada laptop.
“Hm?”
“Apa kau menyukai Sir Joan?”
Jiyya kontan menengadahkan kepala menatap Dean. Jiyya curiga dia tahu sesuatu, sebab sejak tadi dia selalu mencoba untuk mengangkat topik tentang pria itu. Dan kalau diingat-ingat lagi disetiap acara yang Dean buat selalu ada Sir Joan yang terajak. Kalau dipikir sekarang memang agak janggal. Tapi mana mungkin sih? Dean bukan tipe orang yang akan peka terhadap hal-hal seperti ini. Satu-satunya hal yang paling menarik baginya adalah Ramen dan juga uang.
“Aku menyukai kalian semua," jawab Jiyya yang langsung di tanggapi dengan tawa oleh Dean. Tangannya bergerak sekadar menyugar rambutnya sendiri.
Dean adalah salah satu pemuda yang bisa dibilang paling mengerti sosok perempuan macam Jiyya. Wajar sekali untuknya dapat memahami gadis itu. Mereka sudah saling mengenal sejak belia. Nyaris serupa dengan persahabatan antara Jarvis dengan Silvana. Tapi bedanya, tidak pernah ada selentingan kabar dan isu tak sedap yang mengatakan bahwa Dean dan Jiyya memiliki hubungan khusus lebih dari sekadar teman.
Dean sendiri untungnya memang tidak memandang Jiyya dengan sudut pandang berbeda. Dia menganggap gadis itu sudah seperti saudaranya sendiri dan sudah saling menitipkan diri masing-masing. Orangtua mereka juga sangat dekat, jadi hal-hal seperti mengunjunginya seperti ini bukan sebuah hal besar dan tidak akan pernah menjadi skandal.
Meski begitu ada satu masa dimana Jiyya mengalami perubahan besar dalam memperlakukannya. Tepatnya saat Bestian masuk kedalam lingkaran pertemanan mereka berdua, dan Dean sadar bahwa sejak itu pula Jiyya telah menjatuhkan hatinya kepada pemuda itu. Walau dia sudah tidak lagi bersama mereka, nampaknya gadis itu masih menyimpan rasa yang sama besarnya seperti dahulu.
__ADS_1
Setelah dengan Bestian kini terbit Sir Joan. Gadis itu memang selalu menarik orang-orang terdekat untuk jatuh cinta padanya. Dan semua ketertarikan itu selalu dimulai dari ikatan persahabatan. Dean tidak bodoh, meskipun barangkali Jiyya menganggapnya demikian. Dia sadar bahwa Sir Joan tertarik pada Jiyya sejak pertama kali Dean memperkenalkannya pada sahabat masa kecilnya itu.
Ya, dia selalu bernasib layaknya mak comblang bagi Jiyya yang bersifat pasif dalam hubungan asmara.
“Aku pamit pulang, sudah jam segini.” Dean melirik arloji yang dia kenakan di tangan kirinya. Dia kini melihat Jiyya menatap lurus ke wajahnya.
“Hati-hati.”
“Aku rasa aku akan kedinginan. Pinjam jaketmu ya.”
“Ck, Aku tidak punya jaket ukuran besar.”
Dean nampak tidak peduli, malahan dia mencoba mengacak lemari Jiyya tanpa merasa canggung. Untungnya Jiyya memisahkan pakaian dalamnya tidak berada dalam satu lemari yang sama. Inilah yang di khawatirkan bila sembarangan menyimpan. Ada satu entitas paling absurd yang bisa mengacak lemarinya tanpa malu dan wajah berdosa.
“Aku rasa jaket yang pernah dipinjamkan Bestian dulu masih ada di lemarimu.”
Ucapan Dean tepat menekan sesuatu di dada Jiyya. Dean masih ingat soal itu? rasanya agak aneh untuk Jiyya. Dia diam agak lama.
“Pakai saja.”
“Terima kasih, Bestie.” Begitu Jiyya melirik, Dean sudah mengenakan jaket milik pria itu. Dadanya terasa sesak sekali lagi.
“Sudahlah pulang saja sana.” Usir Jiyya dengan gesture tangan. Dean hanya terkekeh sambil bergerak kearah pintu keluar.
“Hei, hari ini Silvana juga tidak masuk loh. Kalian berdua kompak ya,”
“Ha?”
Belum sempat Jiyya bertanya, Dean sudah lebih dulu melenggang pergi karena Jiyya mendengar suara pintu yang berderit menutup sendiri sudah menjadi bukti konkret bahwa pria itu sudah tidak ada disekitarnya lagi.
Apa maksudnya Silvana tidak masuk? Apa terjadi sesuatu yang sama kepada mereka berdua?
__ADS_1