
Melihat dosen tampannya kebingungan, hal itu justru malah membangkitkan sesuatu dalam diri Silvana. Gadis itu tidak bisa berhenti terpesona pada apa yang sedang dia saksikan didepan mata. Sosok Sir Arthur benar-benar seribu kali lipat lebih tampan dalam situasi ini. Rambutnya yang acak-acakan dengan bibirnya yang basah malah menambah kesan seksi pada pria itu.
Ya, Sir Arthur yang Silvana pikir tidak akan pernah bisa dia sentuh sejauh ini, justru telah dia dapatkan meskipun dengan cara yang bisa dibilang tidak benar. Tapi hey, ini adalah sebuah bentuk usahanya. Benar atau tidak Silvana hanya perlu memastikan bahwa dia meraih apa yang memang dia inginkan. Dia tidak peduli dengan metode apa dia bisa meraihnya.
“Aku baru saja memberimu ucapan terima kasih yang pantas Sir. Ini imbalan bagi pria gentleman yang telah membela harga diriku dari kedua laki-laki brengsek tadi.” Silvana memberi alibi untuk mengusir raut kebingungan dari wajah sang dosen muda.
Tapi ketika melihat raut mukanya yang makin carut marut, gadis itu malah tidak tahan untuk menciumnya lagi. Ya, dia benar-benar melakukannya. Membuat Sir Arthur kembali terhenyak atas aksi lumayan brutal yang dia lakukan.
Mulanya Silvana sedikit khawatir sang dosen akan menolaknya atau bisa jadi pria itu akan mundur dan membencinya. Namun spekulasi tersebut lenyap berganti dengan rasa girang dalam hati ketika menyadari bahwa
ciumannya kali ini diambil alih kontrolnya oleh Sir Arthur.
Sadar bahwa perasaannya terbalaskan, Ciuman itu semakin dalam,mereka saling bertautan satu sama lain. Ketika asupan oksigen mulai menipis keduanya melepaskan ciuman mereka.
“Wow… benar saja, seperti yang sudah aku duga,” komentar Silvana nampak puas atas kinerja sang dosen terhadap dirinya.
“Kau tidak harus menduga apa-apa,” jawab Sir Arthur. “Lebih baik kita berhen—" ujaran pria dewasa itu langsung terpotong begitu merasakan jemari gadis itu telah bergerilya menyentuh bagian yang membuat si gadis penasaran sejak lama.
Silvana tentu tidak akan membiarkan ada ucapan seperti itu keluar dari mulut dosen kesayangannya. Terlebih dia sudah sejauh ini, dan lagi ini adalah sebuah scene yang sesungguhnya telah dia nantikan dan dia dambakan.
Silvana masih ingat bagaimana mengagumkannya Sir Arthur ketika dia pertama kali mendapati pria itu sedang bercinta dengan seorang wanita ditempat terbuka. Maka dengan bekal rasa ingin yang sama, Silvana ingin
mewujudkan fantasi liarnya menjadi kenyataan. Dia ingin merasakan apa yang perempuan ****** itu rasakan. Karena itu Silvana akan memastikan dirinya memberikan kesan cukup baik untuk dapat diingat oleh pria ini. Akan lebih bagus bila dia mulai menggunakan Silvana sebagai objek fantasi dewasanya.
“Silvana …” Cara Sir Arthur memanggilnya sekarang benar-benar sangat seksi. Suaranya yang sedikit serak dengan napasnya yang memberat, serta banyaknya campuran emosi didalam baritone pria itu justru malah
memacu Silvana untuk berbuat lebih.
Alih-alih menghentikan aksinya, pria itu seperti sudah mulai takluk akan nafsunya sebagai manusia dibandingkan akal sehatnya. Sebab Silvana tahu bahwa dia tidak menerima sedikitpun penolakan dari gesture tubuhnya.
Melihat kesempatan emas didepan mata, Silvana jelas tidak akan menyia-nyiakannya. Gadis itu makin berani sekarang, bahkan posisinya telah berubah menjadi berlutut dihadapan dosen tampannya. Silvana tersenyum
ketika pria itu terlihat sudah pasrah akan keadaan mereka berdua berdua.
“Fuck, Silvana.” Sejujurnya gadis itu sedikit kaget mendengar sang dosen mengumpat dengan kata kasar, tapi suaranya yang seksi jelas tidak bisa mendapatkan pengabaian. Gadis itu malah sudah mulai melakukan apa yang dia inginkan sejak lama. “Bagaimana kalau ada orang yang kemari dan melihat kita?”
“Sebenarnya itu lebih bagus, Sir. Meskipun aku sebenarnya cuma punya niat untuk membuatmu keluar disini,” balas Silvana, gadis itu bahkan masih sempat mengedipkan mata pada sang dosen yang kini telah menatapnya dengan mata berkabut gairah. “Kalau kau khawatir soal orang yang lewat, tenang saja. Kurasa tidak akan pernah ada orang yang akan lewat kemari. Jadi jangan cemas dan nikmati saja oke?”
Maka terjadilah, di tempat yang tidak terbayangkan. Di muka umum. Silvana tahu bahwa dia sudah tidak waras karena melakukan ini. Dia bahkan melupakan fakta bahwa lututnya sedikit terluka akibat aktivitas nakalnya sendiri. Bahkan pria itu juga memberikannya balasan yang tidak kalah nikmat sebagai bentuk atas respon seorang pria gentleman. Namun tentu saja setidaknya Sir Arthur masih menyisakan sedikit sisa kewarasan di kepala dan berhenti hingga di titik itu saja. Sesuatu yang sangat tidak di sukai oleh Silvana. Tanggung.
“Kau tidak bisa begitu saja membuatku frustasi begini. Kau pikir aku bisa pulang dan tidur nyenyak dengan senang hati setelah setengah jalan begini?” tuntutnya.
Sir Arthur hanya tersenyum kecil lalu mengacak-acak rambut mahasiswinya yang cantik. “Kau memang nymphomaniak kecil,” ujar pria itu. Anehnya Silvana seolah menangkapnya sebagai sebuah bentuk rasa sayang dari pria itu.
Ya, dan itu hanya berlaku untukmu. Sahut Silvana didalam benaknya.
__ADS_1
“Nah sekarang …” Sir Arthur lantas bertolak pinggang. “Sebaiknya kita harus segera pergi dari sini. Aku akan mengantarmu pulang kerumah. Tapi kuingatkan jangan menyesatkanku lagi seperti tadi, anak nakal.”
“Maaf, tapi untuk itu aku tidak janji.”
“Kau benar-benar mahasiswi yang nakal, Silvana.”
***
“Sir Joan, kenapa kau selalu ada dipikiran saya dalam ranah yang berbahaya? Kenapa kau selalu menganggu saya dengan kehadiranmu? Kau ini terobsesi pada saya atau apa?”
Joan sedikit mundur menjauh tatkala jari telunjuk Jiyya menunjuk-nunjuk terus kedepan mukanya. Pria dewasa itu hanya bisa tersenyum maklum pada mahasiswi pintar yang sudah menggeser posisinya menjadi seorang gadis yang sedikit menarik perhatiannya.
Tingkah laku Jiyya yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan dirinya diawal pertemuan membuat gadis itu jadi kian menggemaskan. Padahal sejak tadi gadis itu cuma diam saja. Entah itu terhadap Dean maupun terhadap dia. Dan ya, Joan sadar bahwa gadis itu jelas-jelas sedang membangun dinding yang tinggi, khusus
untuknya. Namun untungnya, sejak gadis itu meminum beberapa gelas. Jiyya tiba-tiba menjadi sangat cerewet terutama kepada dirinya. Terima kasih pada Dean yang sudah berhasil mengeret sahabat kecilnya itu sehingga dia bersedia datang ke bar seperti ini bahkan berupaya keras mencairkan suasana diantara mereka bertiga.
Meski begitu sebagian dari diri Joan merasa agak bersalah, lantaran dia sejatinya tidak pernah ingin mengambil keuntungan apapun dari kondisi Jiyya yang kini sedang mabuk dihadapannya. Dan memang seharusnya tidak boleh. Namun tingkah laku Jiyya yang terlalu imut didepannya serta ucapan-ucapan spontan dan pengakuannya sebagai ‘gadis perawan idiot’ membuat Joan mau tidak mau malah menyusun berbagai skenario licik dikepalanya.
Bagaimana dengan kondisi Dean selaku penghubung? Ya, pemuda itu baik-baik saja bahkan saking baiknya dia sudah tertidur pulas dengan air liur yang menetes membasahi mejanya setelah minum dua botol tanpa henti seperti orang kesetanan.
“Sungguh sebuah kejutan, saya tidak pernah tahu bahwa saya ternyata cukup special untuk berada dipikiranmu Jiyya,” kata Joan, menjawab dengan lembut pertanyaan Jiyya yang sedang dalam kondisi mabuk tersebut. “Jadi kamu mau saya bagaimana sekarang, hm?”
Jiyya terantuk dimejanya, seolah dia sedang mencob untuk menyembunyikan wajahnya. Namun tidak lama kemudian dia sekali lagi menunjuk kearah dosen tampan itu dengan pandangan mendelik tak suka. “Silvana bilang kau itu punya performa gahar di atas ranjang, Sir. Dia juga bilang pada saya bahwa sudah banyak perempuan yang kau jamah dan nikmati. Bagaimana bisa seorang dosen memiliki citra seperti itu? perempuan gila itu terus saja mengkontaminasi pikiran saya tentang dirimu. Ini benar-benar mengganggu. Sekarang apapun yang kau katakan
jadi terdengar kotor dipikiran saya. Terlebih saya jadi tidak bisa memandangmu dengan cara yang biasa.”
Laki-laki itu kemudian menurunkan masker yang dia kenakan, menampakan wajahnya secara gamblang kepada mahasiswi cantiknya tanpa penghalang seperti biasa. Joan adalah sebuah definisi dari karya Tuhan paling seksi. Dia punya rahang yang tegas, dengan bekas cukuran membayang diatasnya. Ada lesung pipi kanannya, ketika pria itu tersenyum kearahnya. Kontan wajah Jiyya memerah dan mencoba berbalik menghindarinya. Melihat reaksi alamiah tersebut, Joan hanya geleng-geleng kepala dan kemudian memposisikan maskernya seperti semula.
“Ada yang salah dengan muka saya Jiyya?”
“Tidak ada, hanya saja kau benar-benar tampan,” sembur Jiyya yang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ekspresinya terlihat ngeri seperti orang yang baru salah berucap.
Joan tertawa dibalik maskernya, Jiyya benar-benar memiliki beragam ekspresi yang begitu menarik. “Ah, well… terima kasih Jiyya, itu pujian yang manis. Kau juga gadis yang cantik.”
Wajah Jiyya semakin memerah ketika mendengar pujian tulus dari dosen mudanya itu. Gadis itu kemudian tiba-tiba saja menatap mata Joan dengan cara yang paling serius. Tatapan mata yang selalu dia arahkan ke papan tulis jika Joan sedang mengajar dikelas. Tatapan yang selalu dia sukai dari muridnya yang pandai. “Sir Joan, saya pernah dapat nasehat dari Silvana kalau saya harus bercinta.”
Kening Joan kontan mengerut. “Apa?” tanyanya. “Maksudmu Silvana ingin kau bercinta dengan dia begitu?” kedua bola matanya dan mulutnya melebar. Pria itu jadi membayangkan adegan mereka berdua, dan itu bukanlah sesuatu yang buruk untuk mengisi fantasi liarnya sebagai seorang pria.
“Bukan begitu!” Cepat, Jiyya menolak spekulasi dosen mudanya itu. “Bukan saya dan dia. Tapi Silvana bilang bahwa saya dan Sir Joan—” gadis berambut pendek itu menunjuk dirinya dan kemudian Joan dengan jemari telunjuknya. “—harus bercinta.”
Mendengar penuturan gadis itu kontan Joan semakin tertarik untuk mendengar lebih jauh lagi. “Oh, benarkah itu?” Sebenarnya bayangan soal dia dan Jiyya yang menghabiskan malam bersama pernah sekali dua kali dia jadikan sebagai pemuas dirinya entah itu saat sedang sendiri atau saat sedang bermain dengan oranglain. Tapi dia tidak pernah mengira bahwa rupanya ada oranglain yang memiliki fantasi serupa dengan yang dimilikinya. Dia tahu bahwa Silvana memang mahasiswi yang mencolok di kampus, entah itu karena kepribadiannya maupun
karena penampilannya. Joan bahkan heran bagaimana bisa dua kepribadian mereka yang bertolak belakang itu membuat mereka bisa berteman.
Namun dibalik itu semua, Joan nampaknya harus menghaturkan terima kasih pada Silvana karena dia memberikan ide yang luar biasa pada sahabatnya. Joan rasa dia bisa cocok dengan sahabat gadis itu dalam urusan seperti ini.
__ADS_1
“Ya, Sir.”
“Dan bagaimana tanggapanmu soal itu?”
Gadis itu terlihat menggerakan bibirnya, terlihat sangat malu untuk mengaku. “Saya tidak
tahu,” gumamnya. “Tapi yang pasti saya bilang pada Silvana bahwa itu tidak
mungkin terjadi.”
“Kenapa tidak?”
“Karena Sir Joan tidak mungkin mau bercinta dengan saya dan saya sendiri juga sudah punya orang yang saya sukai,” jawab Jiyya.
Sebenarnya bagi Joan itu terdengar agak sakit, dia memang tahu bahwa gadis ini punya seorang pria yang merajai hatinya. Tapi mendengar dia berkata demikian rasanya tetap saja agak sedikit hampa.
Sedangkan bagi Jiyya, posisi dirinya yang sedang mabuk membuat gadis itu memuntahkan semua hal yang membebani dirinya. entah itu dari segi emosional, maupun segala rahasia yang membuatnya sakit kepala. Gadis itu akan menjadi sangat sensitif terhadap segala hal, itu sebabnya dia tidak suka bar dan minuman keras karena
setelahnya dia akan menjadi dua orang yang berbeda.
Joan tidak langsung berkomentar, pria itu melirik dan mendapati Jiyya meremas hoodie yang
dia kenakan dengan gelisah.
“Ya, saya memang tidak mau,” jawab Joan dengan nada suaranya yang kalem. Padahal dalam hati ada api yang membakar dirinya sendiri. Ini sangat kekanakan sebetulnya, tapi memang itulah yang pria itu sedang rasakan sekarang.
Mendengar jawaban Joan, ekspresi wajah Jiyya berubah. Gadis itu terlihat melebarkan mata tatkala mata mereka bertemu pandang satu sama lain.
“Saya tidak mau melakukannya. Tidak sekarang, saat kamu sedang mabuk. Tapi lain kali, saya mau bercinta dengan kamu. Off course.”
“Huh? A-apa?” Jiyya mengerjapkan kedua matanya, terlihat agak kaget dengan pengakuan si dosen muda.
“Saya beritahu sesuatu yang penting padamu, Jiyya.” Joan maju mendekati Jiyya, wajah mereka nyaris bersentuhan karena jarak yang benar-benar dikikis hingga nyaris tidak bersisa. Kemudian mendekatkan dirinya sekadar berbisik di telinga Jiyya. “Mungkin kamu harus mengunjungi saya besok, saya lebih suka menghadapi kamu dalam keadaan sadar. Supaya kita sama sama suka, dan kita bisa lihat apakah perasaanmu itu akan berubah atau tidak.”
Seolah belum puas dengan itu, pria itu menurunkan maksernya dan menjilat cuping telinga Jiyya dengan ringan. Kontan tubuh gadis itu merinding laksana terkena kejut listrik yang menjalar hingga ke tulang belakangnya.
Puas dengan aksinya Joan kembali mundur dari posisinya dan menjaga jarak seperti semula. Joan kemudian memapah tubuh Dean yang terkulai lemas sejak tadi dibahunya tanpa merasa kesulitan sedikitpun. “Kamu bisa pertimbangkan tawaran saya. Oh ya, saya juga akan memanggil Silvana untuk membantumu pulang.”
“Umm….” Jiyya bahkan tidak kini tidak sanggup menggunakan mulutnya untuk bicara. Dia terlihat linglung.
Joan tidak merasa perlu untuk memberikan atensi lagi setelah itu, dia kemudian pamit pergi membawa Dean bersamanya. Sementara Jiyya hanya diam sambil menatap punggung pria itu dengan tatapan kosong.
Ketika eksistensi mereka berdua benar-benar pergi. Jiyya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Gadis itu berteriak dengan suara tertahan sambil mengetuk-ngetukan dahinya ke atas meja. Dia tidak peduli tingkahnya sekarang malah menarik perhatian beberapa pasang mata. Tapi yang jelas, adegan dimana dia dan Sir Joan saling bertukar kata tergambar jelas dibenaknya.
“Apa yang baru saja aku lakukan? Jiyya bodoh Arrgghh!” jeritnya frustasi sambil kemudian minum beberapa gelas lagi.
__ADS_1
“Nona ada apa? tenanglah Nona!”