Honey Trouble

Honey Trouble
Rainy Days


__ADS_3

Jiyya bisa tenang hari ini lantaran seharian selama di kampus dia berhasil hampir tidak melihat Sir Joan sama sekali. Tapi sayangnya hal itu tidak bertahan lama, sampai cuaca menghianatinya. Hujan memutuskan melibatkan diri untuk mengacaukan harinya yang hampir sempurna.


Kala itu sore, dan Jiyya telah menyelesaikan kelasnya bersama Miss Dona. Dia bahkan mendapatkan nilai yang lumayan tinggi dibawah bimbingan wanita itu, sehingga mendapatkan ucapan apresiasi lantaran semua orang di kampus tahu bila Miss Dona termasuk dosen Killer yang paling sulit dan pelit memberi nilai pada mahasiswa dibawah ajarannya. Itu menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi Jiyya sekaligus menyemarakan harinya yang begitu indah.


Berkat hal itu pula, Jiyya sempat berhasil melupakan dengan sebaik mungkin kebodohan yang dia perbuat semalam. Juga deretan konversasi diantara mereka yang terkadang sedikit demi sedikit memenuhi memorinya seperti kilas balik. Jiyya pikir dia betulan tidak akan melihat Sir Joan sampai dia pulang dan bisa bernapas lega.


Sebetulnya Jiyya tahu bahwa dia sedikit konyol tentang ini. Sir Joan bukanlah seorang penguntit yang akan membuntuti dirinya, dia juga bukan anak kemarin sore yang berusaha mengejar Jiyya untuk mendapatkan perhatiannya. Sir Joan itu seorang dosen, dan sudah pasti dia juga sibuk dengan urusannya. Tapi tetap saja…


Jiyya melirik keatas langit, gumpalan awan hitam sudah bertengger diatas sana. Tetesan pertama bahkan jatuh ke hidungnya tatkala mendongakan kepala. Gadis itu kontan terkejut, dia masih harus berjalan menuju halte terdekat untuk pulang sedangkan dia baru keluar dari pelataran kampus. Sialnya dia juga lupa bawa payung, dan tidak mengecek soal perkiraan cuaca sebelum berangkat tadi.


Sialan.Gadis itu mengumpat dalam hati. Bisa-bisa dia akan basah kuyup di perjalanan jika begini. Satu-satunya tempat berteduh terdekat adalah sebuah gedung apartment. Mau tidak mau Jiyya berteduh disana karena hujan benar-benar deras sekarang. Dia mengecek ponselnya untuk meminta bantuan tapi sialnya baterainya habis. Jika sudah begini Jiyya hanya bisa pasrah. Dia terjebak, dan tidak bisa pergi kemana pun. Ini buruk.


“Oh Jiyya, sedang apa disini?” Jiyya mendongak dan mendapati Sir Joan berjalan mendekat kearahnya, dia juga sama basah bahkan lebih basah kuyup darinya. Menampakan tubuhnya yang kekar dibalik kemeja basah yang kebetulan berwarna putih.


Demi Tuhan, setelah susah payah menghindarinya seharian di kampus. Jiyya malah berteduh tepat dimana dosen mudanya itu tinggal? Sebenarnya seberapa putus asa dan menyeramkannya dia sekarang? Jiyya takut pria itu mengartikannya sebagai sebuah persetujuan dari ajakannya semalam.


“Saya disini bukan untuk mengunjungimu,” timpal Jiyya secara kontan alih-alih menjawabnya dengan cara yang normal. Oh tidak, apakah barusan itu dia mengatakan hal yang lumayan kasar?


Pelan-pelan Jiyya memandang Sir Joan, tapi dari ekspresi wajahnya Jiyya tidak menemukan adanya hal ganjil. Mungkinkah artinya dia sama sekali tidak terganggu oleh sikap Jiyya yang terlalu mencolok?

__ADS_1


“Saya juga tidak mengira begitu kok,” jawabanya. “Tapi karena sekarang kamu ada disini. Mau masuk kedalam? Rumahmu lumayan jauh dari kampus bukan? Terlebih kamu bisa flu bila berdiri diluar dalam kondisi basah seperti itu," imbuhnya santai. Jiyya kemudian melirik kearah dirinya, dia memang basah tapi tidak separah Sir Joan dan terus terang dia memang kedinginan karena sejak tadi angin ikut menerpa kulitnya.


Tapi masuk kerumah Sir Joan? Apa itu pilihan terbijak yang bisa dia ambil ? Dia takut, wajahnya malah memanas padahal tubuhnya dingin diterpa hujan. “Saya… saya tidak bisa masuk kedalam,” ujar Jiyya. Suaranya benar-benar kelewat pelan.


“Saya tidak akan melakukan apapun padamu Jiyya.” Jiyya sedikit dibuat merinding dengan balasan yang dia terima dari Sir Joan. Suaranya begitu lembut. Apakah sebelumnya Sir Joan memang seperti ini padanya?


“Tapi saya—”


“Saya hanya menawari kamu tempat berteduh sampai hujan reda. Setidaknya bila dirumah saya kamu akan jauh lebih hangat daripada menunggu disini," potong Sir Joan cepat.


Jiyya diam agak lama, bila gadis itu mencoba untuk menolaknya dia mungkin akan membuat sebuah kesalahpahaman baru menjadi seorang gadis tidak sopan yang menolak kebaikan. Selain itu mungkin saja hanya dia yang berpikir buruk soal semalam, Sir Joan sendiri pasti tidak akan memikirkan soal itu kan?


“Tentu tidak Jiyya, kan saya yang menawari. Kalau begitu mari masuk kedalam.”  Jiyya kemudian mengekori sang dosen, pria itu memandu langkah menuju lantai dimana dia tinggal. Segalanya benar-benar nampak normal sampai saat ketika mereka memasuki lift, barulah Jiyya kembali harus sibuk membersihkan pikirannya.


Bergaul dengan Silvana membuat pikirannya mudah terkontaminasi hal buruk. Apalagi saat dia dan Sir Joan berduaan begini. Sesekali Jiyya melirik kearah pria itu. Tubuhnya benar-benar bagus, divine feminime nya berbisik dalam hati. Memang benar apa yang Silvana bilang, kalau akan sangat meragukan bahwa Sir Joan belum pernah melakukannya dengan siapapun. Dia adalah pria yang menarik, pasti sudah banyak tubuh wanita yang telah dia jamah dengan penampilannya ini.


“Jiyya, ada apa? kenapa melamun?”


“A-ah? Ya?” Lamunannya terputus, Jiyya sungguh malu lantaran pikirannya malah tak fokus dan kini pria itu sudah keluar dari lift entah sejak kapan.

__ADS_1


“Kita sudah sampai, jadi ayo keluar dari lift.”


“Iya.” Ingin sekali Jiyya melubangi tanah dan mengubur dirinya disana. Rasa malu telah mencapai batas maksimal. Dan lagi kenapa sekarang dia jadi tidak bisa berprilaku dengan benar disekitar Sir Joan seperti biasanya lagi? Ini benar-benar membuat gadis itu putus asa.


Sir Joan hanya tersenyum, lalu kembali melangkah menuju sebuah pintu yang letaknya berada dipaling ujung. Pria itu membuka pintunya kemudian membuka pintu lebar-lebar.


“Jadi Jiyya silahkan masuk. Ini rumah saya, maaf didalam mungkin agak sedikit berantakan. Maklum saya kan masih bujang,” ujar pria itu. Entah mengapa Jiyya merasa kata terakhir yang pria itu ucapkan agak ditekankan. Entah untuk tujuan apa. namun alih-alih menanggapinya lebih panjang Jiyya memilih untuk melewatkan percakapan itu begitu saja. Dia melangkah masuk setelah pria itu melangkah kedalam.


“Permisi,” ujar Jiyya sambil melepaskan sepatunya. Joan hanya melirik sambil mengulum senyuman.


Hal pertama yang Jiyya dapati dari tempat tinggal Sir Joan adalah wangi khas parfum yang seolah menjadi signature-nya. Ruangannya begitu rapi dan tertata, sangat kontradiktif dengan ucapan Sir Joan barusan. Ada banyak buku yang bejejer apik di rak buku. Sepertinya Sir Joan punya hobby membaca buku. Dan itu bagus, karena Jiyya juga memiliki hobby yang sama.


Kemudian pandangan Jiyya terhenti pada sebuah pintu yang terbuka lebar, ada sebuah kasur disana dalam kondisi yang berbeda dengan ruangan yang Jiyya tempati. Oh sial, Jiyya baru saja mengintip ke kamar tidur dosennya.


“Anu, boleh saya menumpang ke kamar mandimu, Sir?” ujar Jiyya berbisik malu. Dia agak tidak nyaman dengan pakaiannya sekarang, jadi Jiyya pikir mungkin dia bisa mengeringkannya di kamar mandi yang pasti terdapat mesin cuci dan pengering disana.


Sir Joan tersenyum padanya sambil menganggukan kepala. “Tentu saja, kamar mandinya ada didalam kamar saya.” Pria itu menunjuk kearah pintu yang beberapa saat lalu sempat diintip oleh Jiyya.


Oh tidak, kenapa dari sekian luasnya tempat ini, mengapa kamar mandi harus berada disana?Batin Jiyya menjerit. Kalau boleh jujur ruangan itu adalah tempat yang paling dia hindari. Tapi sekarang dia haruskah dia masuk kedalam sana?

__ADS_1


__ADS_2