
“… aku penasaran apakah kau melakukannya dengan Sir Joan atau tidak?”
Raut muka Jiyya yang semula serius, langsung rusak dengan mudah tatkala mendengar pertanyaan Silvana untuknya. Semula gadis itu berpikir bahwa Silvana memiliki masalah yang serius dalam hidupnya sampai dia tidak hadir di kampus. Tadinya Jiyya hendak menjenguknya hari ini dengan Dean. Tapi mereka malah cekcok didepan kedai ramen kesukaan pemuda itu dan Jiyya sendiri enggan masuk sebab dia menyadari akan dijebak lagi oleh Dean untuk bertemu muka dengan Sir Joan.
Jiyya dan pria itu sudah selesai. Dia telah membuat batasan yang tinggi untuk itu. Tapi entah kenapa sejak dia keluar dari kediaman Sir Joan setelah dia berteduh disana, pria itu seolah kelimpungan dan berusaha terlalu keras untuk mendapatkan moment bersamanya. Jiyya benci untuk menyadari bahwa Sir Joan sampai hati menggunakan Dean untuk membujuk dirinya. Benar-benar pria merepotkan.
“Kami tidak melakukannya.” Kekehan Silvana kontan terhenti begitu mendengar sahabatnya berkata demikian.
“Apa? kau tidak melakukannya?”
“Iya, sejujurnya kami berhenti sebelum melakukannya,” aku Jiyya. Masih terasa panas pipinya bila dia mengingat apa saja yang sudah dia dan Sir Joan lakukan sebelumnya.
“Kenapa?”
“Aku merasa tidak bisa menghianati prinsip yang aku miliki.” Kali ini Jiyya berujar dengan nada bicara yang begitu serius.
“Kalau begitu bagaimana rasanya? Ya walaupun mungkin kau hanya sampai pada tahap foreplay.”
Jiyya menunduk, wajahnya tiba-tiba jadi terasa panas. Diluar dari dinding pertahannya, tiap kali dia mengingat soal itu. Jiyya tidak untuk tidak menyembunyikan ekspresi wajahnya. “Sebenarnya aku tidak tahu harus berkomentar apa.” Jiyya menggumam, suaranya nyaris hanya sedikit berada diatas bisikan.
Silvana kontan berteriak, dia bangkit dari posisi duduk bersilanya seketika begitu mendengar pengakuan Jiyya. Namun saat dia melakukannya, Silvana harus segera menyesali pergerakannya yang terlalu tiba-tiba. Gadis itu meringis membuat Jiyya sedikit khawatir. “Aduh!” Dia berteriak, sesaat menyadari pinggangnya yang berdenyut sakit. “Padahal sudah lewat beberapa hari tapi tetap saja aku tidak terbiasa dengan ini.”
__ADS_1
Jiyya yang paham apa yang menyebabkan sahabatnya ini mengaduh, kontan menatap gadis itu lekat-lekat. Dia bergerak sedikit dan mengubah posisinya sehingga dia berada disamping gadis itu dan menyikut dirinya.
“Aku sepertinya tahu apa yang menyebabkanmu jadi seperti itu. Silvana,” sindir Jiyya yang hanya dibalas senyum getir dari gadis itu. “Jadi bagaimana rasanya setelah berhasil menuntaskan obsesi tidak wajarmu itu, gadis nakal?” sambung Jiyya lagi dengan sebuah tanya. “Caramu mengeluh seperti nenekku saja.”
“Ya, aku bangga padamu Jiyya. Kau bisa menebaknya walau aku belum bilang apa-apa. Kau sudah semakin dewasa,” timpal Silvana sambil menepuk-nepuk bahu Jiyya seperti seorang guru yang bangga telah membagi ilmu pada muridnya.
“Kau pikir ulah siapa aku jadi begini? Berteman denganmu memang mengkontaminasi pikiranku. Setiap hari ada saja hal-hal yang membuatku berpikiran buruk.”
“Sayangku, jangan mengeluh begitu. Setidaknya ambil sisi positif dari apa yang aku bagi denganmu dan dari pengalamanmu bersama dengan Sir Joan.”
“Ya, kurasa. Aku tidak bisa bilang bahwa itu adalah sebuah pelatihan tepatnya. Meskipun memang bersamanya aku belajar beberapa hal.”
“Termasuk nikmatnya dari sentuhan pria kan?” Sekali lagi Silvana berusaha menggoda Jiyya yang dibalas gadis itu dengan menutup mulut Silvana rapat-rapat.
Silvana menarik tangan Jiyya dari mulutnya, kemudian gadis itu menyeringai dengan cara yang Jiyya tidak sukai.
“Ya memang benar. Aku hanya bisa berkata ‘wow’ sebelum memulainya dan cuma sanggup mendesah-desah saja saat kami mulai bermain.” Silvana menceritakannya dengan sangat santai. Kini bahkan gadis itu mengubah posisinya menjadi terlentang di samping kasur Jiyya yang tidak terlalu tinggi. Meletakan kepalanya pada benda
empuk itu sebelum menutup kedua matanya rapat-rapat. Jiyya hanya menatap tingkah gadis itu diam-diam. “Itu benar-benar sebuah pengalaman yang lebih baik daripada yang aku pikirkan. Sir Arthur benar-benar diluar ekspektasiku.”
Jiyya kemudian melakukan hal yang sama dengan sahabatnya meski begitu kepala Jiyya menghadap pada Silvana yang masih anteng menutup kedua matanya. “Kalau begitu bukankah itu artinya sepadan dengan rasa sakit yang kau dapatkan? Lagipula, kenapa kau harus merasa kesakitan? Kau kan sudah sering berhubungan **** sebelumnya.”
__ADS_1
Silvana hanya terkekeh sebelum membuka kedua matanya, dia kembali bangkit dari posisinya menjadi duduk kembali sambil melambaikan tangannya didepan wajahnya sendiri. “Sir Arthur itu besar, Jiyya.” Silvana hanya mengatakan kalimat itu saja, sengaja dia berbuat demikian hanya sekadar ingin melihat reaksi Jiyya terhadap hal ini. Silvana menyeringai ketika dia berhasil membuat warna merah muda di wajah sahabatnya lagi. “Ah, dan dia ternyata tipe pemain yang kasar, tapi dengan cara yang begitu terampil. Aku bisa menceritakannya padamu dari
awal kami melakukannya sampai beberapa ronde bila kau memohon padaku.”
“Sial! Untuk apa aku memohon padamu soal itu?”
“Aku ini sahabat yang bermurah hati. Kupikir kau penasaran soal itu karena kau belum sempat melakukannya kan? jadi kalau kalian melakukan foreplay kau juga sudah melihat miliknya Sir Joan kan?”
Jiyya hanya bergidik ngeri dengan pertanyaan super frontal yang diucapkan oleh sahabatnya. Dia tidak melihatnya secara langsung. Bagaimanapun saat itu, dia hanya melihat Sir Joan dengan celana training panjangnya. Pria itu hanya bertelanjang dada dan tidak melepaskan celananya sama sekali. Lagipula mereka juga hanya berciuman saja, tidak lebih.
“Aku tidak tahu. Jangan tanya aku soal itu.” Ketus Jiyya pada akhirnya.
Silvana memutar bola matanya. “Hei, aku ingin dengar detailnya Jiyya! Seperti apa dia? Bagaimana ukurannya? Apakah dia seksi saat melakukannya? ya sesuatu seperti itu.”
Jiyya menggigit bibir bawahnya, dia berpaling muka dan hanya sanggup menatap lantai saat mengingat moment krusial yang terjadi antara dia dan Sir Joan. “Aku sekarang setuju bahwa dia pria yang tampan,” gumam Jiyya. “Tapi dia tidak sopan dan aku benci padanya.”
Mendengar pengalaman Jiyya, kontan gadis itu menggenggam tangan Jiyya. Berusaha menatap wajah gadis itu sebisa mungkin karena kini Silvana sudah kelewat antusias mendengar detail dari hubungan pertama Jiyya dengan seorang pria.
“Aku tahu kau berbohong. Katakan saja berapa lama dia melakukannya? apa dia membuatmu keluar?” Silvana bahkan mencondongkan tubuhnya sembari menggoyang-goyangkan tubuh Jiyya agar sahabatnya itu mau bicara padanya. Silvana sangat terpacu untuk menuntut Jiyya dengan penuh semangat.
Namun karena sikpanya itulah, Jiyya justru malah jadi menatapnya dengan pandangan tidak nyaman. “Ada apa sih denganmu Silvana? Kenapa kau terobsesi sekali ingin tahu apa yang terjadi antara aku dan Sir Joan? Biasanya kau selalu tidak pernah mau mengalah saat kita bicara. Selama ini kau kan selalu bicara tentang dirimu sendiri dan memaksaku mendengarkanmu.”
__ADS_1
Sialan kau Jiyya, kenapa kau selalu begitu perseptif?