Honey Trouble

Honey Trouble
Pernyataan Mendadak


__ADS_3

Bagi Joan, kehidupan yang dia miliki sudah seperti sebuah pertunjukan komedi. Dia tidak tahu apa yang semestinya dia perlihatkan, entah harus tertawa atau biasa saja karena segala hal terasa jadi begitu monoton dan tidak lagi memiliki adanya gairah di dalamnya. Segalanya sudah sangat alami. Joan juga sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang berjalan layaknya saat dia sedang menyelesaikan setiap potongan puzzle menjadi satu bentuk utuh. Kehidupannya tidak pernah terasa lengkap bahkan barang sehari.


Namun setidaknya dia ingin menyelesaikan sesuatu. Menjaga sesuatu yang selalu dirasa sempurna, indah sekaligus mendebarkan, menyenangkan dan juga menyakitkan.


Permulaan kisah ini tanpa perkenalan resmi dengan basa basi siapa namamu menjadi titik tertariknya garis asmara antara Joan dengan mahasiswi manisnya kini. Joan dulu mengidentifikasikan perasaannya pada Jiyya sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama, cukup aneh sebetulnya untuk menjadi metodi bagi seorang Joan menjatuhkan hati. Karena disaat yang sama dia akan bertanya pada dirinya sendiri tentang sejak kapan seorang Joan percaya dengan kisah cinta pandangan pertama seperti itu?


Duduk di kursi mobil kesayangan dengan topik pembicaraan yang sejujurnya paling anti bagi Joan untuk dibicarakan seperti ini bukanlah gayanya. Tapi nampaknya sudah berapa tahun lalu tepatnya dihitung sejak pertemuan pertama hingga Jiyya berhasil berada dalam ranah pandangannya setiap hari? Kehadiran gadis itu sudah mengawali kisah pahit, manis kemudian pahit lagi sepanjang yang Joan rasa. Dia memang kerap menjadi pendengar setiap gadis itu terkena duka lara, tapi hanya sebatas itu. Sebab dimasa lalu Joan hanya memposisikan dirinya sebagai seorang ‘guru’ atau orang yang lebih tua sehingga bisa dituakan. Tapi Joan merasa dia sudah tidak sanggup untuk bertahan dalam peran itu selamanya.


Dia sejujurnya sangat bahagia ketika Jiyya, tiba-tiba saja memiliki sedikit rasa tertarik padanya walaupun dalam ranah penasaran saja. Joan juga mensyukuri moment yang pernah terjadi diantara mereka akhir-akhir ini. Terutama saat Joan berhasil menyentuhnya. Untuk merenggut mahkotanya? Tidak. Dia tidak akan sekurang ajar itu meskipun dia menginginkannya. Dia tidak bisa memaksa gadis yang menurutnya paling istimewa dihidupnya.


Melirik dari sudut mata setelah pengakuan itu dia gaungkan, Jiyya masih belum bereaksi penuh tentang pernyataannya. Joan bisa melihat Jiyya yang duduk disampingnya, terdiam membatu. Joan tahu bahwa pastinya gadis itu akan sangat kebingungan dengan pengakuannya ini. Dia harus menyerah untuk malam ini. Tidak bagus jika dia menuntut jawaban dari gadis itu dengan segera. Dia tidak ingin memperburuk keadaan diantara mereka berdua.


Joan membuka pintu mobil otomatisnya, kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya kearah pintu mobil. Jiyya terkesiap, terkesan menghindari dan mencoba untuk melindungi diri. Joan tahu bahwa dia barangkali sudah melewati batas lagi tanpa dia sadari karena kesabarannya telah terkikis habis.


“Jiyya, kamu melamun,” bisik Joan.


Pria itu memperhatikan Jiyya— sebenarnya selalu dalam setiap kesempatan yang dia miliki. Gadis itu sepertinya larut terlalu jauh di dalam kepalanya.

__ADS_1


Alhasil Joan memutuskan untuk mendorong pintu mobil untuk Jiyya, mempersilahkan gadis itu pergi seperti inginnya sejak awal. Jiyya mencoba untuk beringsut tapi karena Joan masih dapat menjangkaunya.


Lihatlah raut bingung yang sekarang ditampilkan oleh gadis itu terhadapnya. Menggemaskan. Kosa kata menggelikan itu memang sangat cocok disematkan kepada Jiyya. Membuat Joan tanpa sadar makin terpaku. Dalam diam, mereka hanya bisa bertatap-tatapan. Meski hanya sedikit, tapi Joan yakin dia baru saja mendapatkan sebuah senyuman kecil diwajah gadis itu.


Joan selalu dipenuhi oleh rasa ingin tahu. Alasan kecil seperti mengapa Jiyya bisa tersenyum, mengapa Jiyya menampakan raut muka kesal, mengapa Jiyya dapat tertawa, atau mengapa Jiyya memilih diam saja alih-alih memberikannya jawaban. Gadis itu hanya menatapnya. Namun senyuman itu masih belum hilang dari wajahnya. Jantung Joan kontan berdegup, akhir-akhir ini dia memang jarang melihat Jiyya tersenyum disekitarnya.


“Jiyya,” sebut Joan untuk menyadarkannya.


Namun gadis itu masih pula membatu dengan wajah yang makin memerah seperti kepiting rebus. Joan tergoda untuk menjahilinya. Ingin sekali Joan menanyakan status hubungan mereka dan apa yang gadis itu pikirkan padanya sekali lagi. Sesuatu seperti sebenarnya kita berdua ini apa?


Joan tahu bahwa suatu har dia akan tertolak oleh sebuah alasan klise. Yah, mungkin seperti perbedaan usia, atau karena status yang mereka bawa saat ini (dosen dan mahasiswi) hal yang sangat Jiyya sekali. Tapi walau Joan sangat ingin tahu alibi terbaik mengapa mereka tidak bisa berdampingan, dia sudah sangat bersabar untuk menyimpan seluruh kemungkinan itu di dalma benaknya. Apa Jiyya tidak suka? apakah hanya Joan saja yang salah mengartikan sikap gadis itu padanya? apakah ini rasa yang terjalin secara sepihak?  Atau benarkah ini semua hanyalah takdir kejam yang Tuhan gariskan untuk memperburuk keadaan hidupnya yang sudah malang sejak awal.


“Sir Joan.” Kini giliran Jiyya yang menyebut namanya.


Aduh kacau, Joan tidak bisa lagi memikirkan ritme pada tiam kalimat yang paling tepat untuk mendeskripsikan perasaannya sekarang.


Oh Tuhan, sekarang seorang Joan, pria paling dengan predikat kelas kakap soal merayu perempuan sekarang dibuat berdebar hanya karena seorang gadis menyebut namanya.

__ADS_1


Jiyya sedikit mendongak menatapnya, hal yang sangat disukai oleh Joan baru-baru ini. Fakta bahwa dia memang lebih tinggi darinya membuat Jiyya jadi terlihat lebih kecil dan mungil. Joan masih ingat saat tubuh kecil ini berada dalam dekapannya selama semalam.


Jiyya itu sempurna, dia gadis yang paling kuat, paling pintar, paling baik hati, paling keren, paling cuek, paling menawan dan paling— sudahlah, terlalu banyak paling untuk mendeskripsikannya. Intinya Jiyya adalah perempuan terbaik yang bisa dia kenal dan dia jangkau sejauh ini. Dan sejujurnya sekarang Joan sudah setengah mati mempertahankan kewarasannya sendiri untuk tidak memeluk ataupun mencium gadis ini lebih dulu bila bukan dia yang menginginkannya seperti saat itu.


Jiyya ini sebenarnya adalah sumber insecurity yang baru saja dia sadari. Namun selain daripada itu, Jiyya juga adalah sumber kebahagiaannya. Hal-hal kecil pada mulanya bisa berpendar menjadi besar dan rumit bila berkaitan dengan gadis ini. Itu membuat Joan kesal, tapi dia tidak bisa marah padanya. Mengapa dia begitu pintar? Mengapa dia begitu kokoh dan tidak tertembus ? mengapa dia tidak bisa menjadi orang yang mengisi relung hatinya?


Sejujurnya banyak mengapa yang lainnya, seperti mengapa Jiyya begitu cantik hingga laki-laki lain selalu berhenti sekadar untuk meliriknya. Mengapa gadis itu selalu mempesona sehingga membuat Joan cemburu pada para pria asing yang mencoba untuk mendekatinya.


Gila, Joan sejatinya adalah seorang pria pencemburu buta. Dia bisa melakukan apa saja untuknya. Oh Tuhan, mengapa pula dia harus jatuh cinta pada seorang Jiyya yang sesederhana ini?


Joan tidak sadar telah meletakan telapak tangannya pada pipi gadis itu. Jiyya, sendiri dengan mengejutkannya malah menutup mata dan menyadarkan pipinya pada tangan Joan yang besar. Seolah dia memancing Joan untuk berbuat lebih.


“Maaf.”


“Untuk apa?”


“Untuk pernyataan cinta yang terlalu mendadak.”

__ADS_1


__ADS_2