Honey Trouble

Honey Trouble
Morning Time


__ADS_3

Saat dia memikirkan soal Jiyya, sahabatnya. Sir Arthur sudah kembali kepadanya namun kali ini pria itu datang dengan nampan berisi kudapan dan dua cangkir yang Silvana ketahui isinya sebagai kopi. Pria itu juga sudah mengenakan kimono handuk untuk menutupi tubuhnya. Ah, layanan pesan antar hotel ini cukup cepat dan tanggap rupanya. Pria itu terlihat menyeringai tatkala Silvana memberikan tatapan sedikit kecewa lantaran dia yang memang sudah menutupi tubuhnya lebih dulu.


“Tidak sopan menatapku dengan tatapan seperti itu,” ujar pria itu seraya meletakan nampan diatas meja terdekat ranjang. Sementara dia kemudian mendudukan dirinya di tepi ranjang sambil memberikan Silvana satu cangkir yang telah disesuaikan dengan pesanannya. “Nah, ini milikmu Princess, satu kopi dengan lebih banyak gula, ekstra krimer dan susu.”


Silvana tersenyum mendengar panggilan barunya dari pria ini. Ya, meskipun itu dia ucapkan dengan nada menyindir. Bukan jenis panggilan yang diutarakan dengan cara yang seksi saat mereka berdua bercinta. Lebih dari apapun Silvana lebih suka panggilan ‘Baby girl’ dibandingkan ‘Princess’.


Silvana menerimanya segera, kemudian menggunakan ujung jemari kakinya menyentuh bagian paha Sir Arthur yang tidak tertutup oleh kimono handuk. Hanya sekadar menggodanya sambil meneguk cangkir miliknya.


“Hmm…” gumamnya. “Lumayan mendekati seleraku, ah… dan untuk tatapanku padamu. Itu hal yang tidak bisa dihindari. Aku kecewa karena kau menutup tubuhmu dengan itu. Bagaimana bisa aku tidak menanggapinya? Sejujurnya aku lebih suka kau tidak mengenakan apa-apa, Sir.”


Sir Arthur hampir tersedak kopi yang dia minum, untungnya dia belum menyeruput cairan yang masih panas tersebut segera. Pria itu meletakan cangkirnya di atas meja tempat dia menyimpan nampan dan kudapan yang dipesannya. Pria itu tertawa segera.


“Silvana, kata-katamu terdengar seperti pria tua yang mesum.”


Silvana ikut cekikikan mendengar komentar tidak terduga dari si dosen muda. Dia mengangkat bahunya sendiri sambil tertawa. Meneguk kopi-nya lagi dengan tenang selepas tawanya habis.


Gadis itu tidak pernah merasa sebahagia, sepuas, dan sesantai ini sebelumnya untuk jangka waktu yang terbilang lama. Mengapa ya, hal-hal seperti ini harus terjadi untuk sebentar saja? Dia berhenti sejenak, lagi-lagi dia merasa nyeri untuk sesuatu yang tak kasat mata. Dia melirik kebawah cangkir yang sedang dia pegang. Apakah benar hubungan mereka ini hanya akan terjadi sekali saja lalu segalanya akan kembali pada titik awal. Berpura-pura mereka tidak pernah menghabiskan malam panas, saling memuaskan, saling mengisi, saling membutuhkan. Menganggap bahwa semua itu hanyalah mimpi yang mustahil untuk diulang kembali.


Gadis itu mendongak lagi, kegelisahan yang dia rasakan makin nyata. Dia sungguh ingin kembali bertanya apa tentang apa yang pria itu pikirkan terhadapnya. Dia ingin bertanya apa mereka bisa melakukannya lagi lain kali. Tetapi anehnya kali ini dia merasa takut untuk bertanya. Dia tidak sanggup mendengar penolakan dari pria ini. Karenanya Silvana membiarkan kata-kata itu mengering dan mati di tenggorokannya. Alih-alih mengungkapkan perasaannya secara gamblang terhadap Sir Arthur.

__ADS_1


Meski memang dia menyesal lantaran menentang pria ini dengan mengatakan dia tidak akan mengganggunya lagi setelah mereka menghabiskan satu malam panas. Mungkin setidaknya Silvana bisa sedikit bersyukur. Sebab paling tidak dia berhasil menuntaskan obsesi dan ambisinya.


Ya, harusnya begitu, tapi anehnya dia menginginkan hal yang lebih.  Dia sangat memerlukan sentuhan pria itu lagi sebelum mimpi ini berakhir.


Silvana meletakan kembali cangkirnya diatas meja samping tempat tidur dan kemudian mengganti posisi duduknya. Dia memeluk pria itu dari belakang sehingga bagian depan tubuhnya menempel secara ketat pada punggung pria itu. Sementara tangannya melingkar ke pinggang pria itu.


“Aku mau mandi,” gumam gadis itu. “Dan aku mau kau melepas benda menjengkelkan ini dari tubuhmu saat aku selesai nanti.”


Sir Arthur tertawa lagi. “You are a harlot,” sahutnya kemudian. Suaranya terdengar geli.


Silvana mengubah posisinya sehingga kini dia bisa duduk disamping pria itu. Merenggangkan tubuhnya yang pegal-pegal. Jujur saja Sir Arthur sendiri juga tidak bisa berpaling muka ketika ada seorang gadis muda melakukan hal seperti ini disisinya. Dadanya naik turun ketika dia melakukan sedikit peregangan pada tubuhnya.


Padahal Silvana hanya sedang mencobanya. Tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Namun untungnya sebelum dia benar-benar menyentuh lantai. Sir Arthur telah lebih dulu meraihnya dan memastikan dia tidak terjatuh.


“Silvana?”


“Ini salahmu, Sir!” Silvana berupaya untuk mencoba kembali berdiri dan merasakan keseimbangannya masih goyah. Wajahnya meringis. Seluruh tubuhnya benar-benar\ berteriak nyeri. Terlebih pinggulnya dan celah diantara kedua kakinya yang masih terasa sakit. Dia gagal. Ini pertama kalinya dia kesulitan untuk berjalan setelah melakukannya dengan seorang pria.


Terlepas dari reaksi yang Silvana perlihatkan. Diam-diam Sir Arthur malah menyeringai, nampak merasa bangga melihat ulahnya yang membuat gadis cantik ini kesusahan dan memberi dampak yang cukup signifikan pada tubuh kecilnya.

__ADS_1


“Ya, ya, ya. Silahkan tertawa sepuasmu.” Silvana tidak benar-benar marah, hanya saja dia merasa kesal lantaran cuma dia yang merasa sakit sedangkan pria ini malah terlihat segar bugar bahkan berkilauan didepan matanya.


Sir Arthur tiba-tiba saja meraih dan menarik pinggang gadis itu sehingga Silvana mendarat dengan mudah di pangkuannya. Hidung mereka bersentuhan lantaran pria itu sedikit menunduk padanya.


“Sepertinya kau tidak akan bisa meninggalkan ranjang ini untuk sementara waktu, Silvana,” bisiknya secara seduktif.


Silvana tidak bisa menahan senyuman di bibirnya. Ya, setidaknya sebelum semuanya benar-benar berakhir dia harus memastikan dirinya tidak akan lagi merindukan pria ini. “Wah, tapi bila aku hanya diam saja diatas ranjang aku akan bosan. Aku perempuan yang mudah bosan kau tahu?” sahut Silvana.


Sir Arthur menyeringai. “Ada hal-hal tertentu yang bisa kita lakukan, aku jamin kau tidak akan bisa merasa bosan.” Pria itu kemudian sekali lagi membaringkan Silvana diatas tempat tidur dengan penuh kelembutan. “Aku akan mencoba membantu meringankan rasa sakitnya dengan memberimu pijatan. Itu akan membuat otot-ototmu lebih rileks.” Dia kemudian membawa tangannya yang besar menuju kearah kedua kakinya dan memijatnya dengan santai.


Itu benar-benar membantunya merasa nyaman dan lebih baik. Meskipun memang terkadang sentuhan Sir Arthur pada beberapa titik yang paling sakit agak sulit untuk dapat dia tahan sehingga tanpa sadar dia mengaduh. Meski begitu tetap saja, pinggangnya terasa panas. Melihat bagian tubuh polos pria itu mengintip dari kimono handuk yang dia kenakan saat bukanlah antiafrodisiak. Berkat hal itu Silvana merasakan efek sentuhan pada bagian privatnya. Wajar karena kedua tangan pria itu kini memfokuskan pijatannya pada bagian pahanya.


Meski mulanya memang sakit, tapi lama kelamaan Silvana mulai merasakan bagian ototnya yang sakit tidak lagi merasa tegang seperti sebelumnya. Alhasil gadis itu menutup matanya guna menikmati pijatan Sir Arthur pada bagian tubuhnya yang sakit.


Namun kemudian Silvana terperanjat merasakan sesuatu merambat bagian yang tidak seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Kini pijatan tidak lagi dilakukan oleh tangannya, pria itu nampaknya ingin menggunakan lidahnya sebagai alat untuk membuat Silvana lebih nikmat.


Silvana menatap lekat-lekat wajah tanpa dosa yang kini berada diantara kedua pahanya entah sejak kapan. Ah, atau memang inikah poin utama dari kegiatan yang dia katakan diawal? Nakal sekali dosennya ini.


"Jadi apa pendapatmu, Silvana?"

__ADS_1


__ADS_2