
Silvana menggerutu, dia mengumpat pada dirinya sendiri karena lalai. Gadis itu berjalan dengan susah payah, lantaran mulai merasakan efeknya. Jiyya sempat menyebutkan soal lututnya yang terluka. Ya, dia tidak merasakannya saat itu juga karena pikirannya lebih fokus pada kesenangan yang dia dapatkan. Tapi hari ini tidak begitu.
Seharian Silvana mencari keberadaan Sir Arthur. Tapi dia tidak menemukan keberadaan pria itu dimanapun well, sebenarnya kalau boleh jujur Silvana tidak begitu percaya diri maksimal hari ini. Sebab penampilannya kali ini tidak begitu prima karena dia tidak ingin ada seorangpun yang berkomentar soal luka dilututnya seperti yang Jiyya lakukan. Alhasil dia mengenakan celana jeans panjang dan bukan rok mini yang biasa dia kenakan.
Namun tentu bukan Silvana namanya kalau dia tidak bisa memadupadakan busana yang dia kenakan ke kampus. Karena tidak bisa menampakan bagian bawah tubuhnya, Silvana memilih tanktop ketat sebagai atasan dan
mengenakan kemeja berlengan pendek untuk membuatnya tidak terlalu terbuka. Alasannya simple, dia pernah ditegur Miss Kelly karena penampilannya yang terlalu mengekspos tubuh. Dengan alasan untuk menghindari amukan perempuan tua itu, Silvana menyiasatinya dengan cara ini ketika menghadiri jam ajarnya.
Ketika kelas yang dia hadiri telah usai, gadis itu bahkan berpisah dari Jiyya hanya untuk kembali berkelana mencari Sir Arthur. Dia agak takut pria itu menghindarinya karena Silvana telah menggodanya dan berbuat sedikit lebih jauh. Dia tidak mau Sir Arthur menjaga jarak darinya bahkan meski itu untuk kebaikan mereka. Dia tidak rela. Karena dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan dari pria itu.
Tapi memang dasar Silvana mungkin sedang tidak beruntung. Sampai sore, dia tidak menemukannya. Bahkan cuaca ikut meledeknya dengan menghadirkan hujan yang turun dengan deras. Ini benar-benar sebuah kemalangan bertubi-tubi untuknya. Pertama dia tidak bertemu muka dengan Sir Arthur seharian, lututnya sakit, dan sekarang hujan deras sehingga dia mungkin tidak akan bisa pulang dan pergi kemanapun. Belum lagi kepalanya yang penuh dengan berbagai spekulasi buruk.
Dia tidak bisa tenang memikirkan Sir Arthur yang memilih untuk memutus hubungan mereka dan menganggapnya angin lalu. Oh Tuhan, bagaimana kalau dia berpikir bahwa Silvana jatuh cinta padanya atau sesuatu seperti itu?
Karena Silvana tidak pernah tertarik pada Sir Arthur secara asmara. Silvana tidak memiliki sebuah rasa bernama cinta sejak dia dikecewakan oleh pria pertama dalam hidupnya. Apa yang dia lakukan terhadap Sir Arthur bukan atas dasar ketertarikan dalam segi kemurnian seperti itu. Silvana hanya penasaran padanya, dan tertarik dalam ranah seksual saja.
Sejauh yang dia tahu, Silvana hanya terobsesi untuk bisa tidur dengan pria itu. Setidaknya sekali. Setelahnya dia mungkin tidak akan pernah mengejar pria itu lagi dan mencari buruan baru. Niatan awalnya memang begitu. Bahkan Silvana juga sempat hilang minta karena Sir Arthur terlalu sulit untuk dia taklukan.
Ketertarikannya kembali meningkat dua kali lipat baru-baru ini saat dia mengintip bagaimana performa Sir Arthur di gang sepulang dari menyelesaikan tugas kampus. Dan juga kemudian pengalaman yang dia dapatkan bersamanya di gang ketika pria itu mengantarnya pulang juga adalah alibi paling tinggi yang membuat Silvana makin menginginkannya saja. Terus terang yang waktu itu memang sangat tanggung sekali.
Ketika dia mengingat sensasi yang dia dapatkan dari pengalamannya dimasa lalu, membuat pakaian dalam yang dia kenakan jadi terasa lebih lembab daripada sebelumnya. Belum habis ingatan soal itu tergambar dibenaknya. Tiba-tiba saja Silvana merasakan ada tangan yang terulur dan meraih bahunya dari belakang.
__ADS_1
Silvana refleks berteriak sebagai antisipasi. Dia yang lengah benar-benar membuat jantungnya berdebar-debar. Tapi siapa yang bisa memperlakukannya dengan cara seperti itu saat dia masih dikampus? Karena meski dia lumayan terkenal. Tapi Silvana bukan tipe orang yang bisa disentuh oleh orang yang tidak dia inginkan. Dia benci bila orang terobsesi padanya, dan hanya tertarik pada orang yang menurutnya menarik saja.
“Hallo.” Silvana menoleh kearah suara yang dia kenal. Lututnya benar-benar terasa hampir lemas ketika dia melihat Sir Arthur berdiri dibelakangnya.
“Shit!” Silvana mengumpat secara refleks.Dia memang terlalu sesukanya, oleh sebab itu terkadang banyak tenaga pengajar yang tidak terlalu suka terhadap Silvana karena ini. “Aku benar-benar berpikir bahwa aku baru saja
disentuh oleh pria hidung belang. Kamu tidak harus menyentuhku lebih dulu seperti itu, Sir.” omel Silvana.
“Ya, maafkan aku,” ujar Sir Arthur sambil menggaruk belakang lehernya agak canggung. Tapi sejurus kemudian mahasiswi cantiknya ini malah memberinya senyuman.
“Tidak akan kumaafkan. Kau harus dapat hukuman karena menyentuhku tanpa izin.” Sir Arthur mau tidak mau meneguk salivanya ketika gadis itu memperlihatkan ekspresi nakal diwajahnya. Pria itu selalu kelimpungan menghadapi Silvana. Oleh sebab itu seharian dia mencoba untuk menghindari gadis itu sebisanya. Tapi memang dasar nasibnya tidak beruntung. Saat dia hendak pulang dia malah melihat gadis itu berdiri didepan gedung dia malah melihat Silvana yang berdiri disana.
“Baiklah, mau kuantar pulang? Kebetulan sekali hari ini aku bawa mobil.” Ya, pria itu benar. Biasanya Sir Arthur memang selalu membawa motor ke kampus.
“Baiklah tunggu sebentar ya aku ambil mobilku. Kamu tunggu disini dan jangan melakukan hal yang bodoh,” ujar Sir Arthur. Sementara Silvana hanya menganggukan kepalanya patuh.
Gadis itu menatap kepergian Sir Arthur darinya. Ya, ternyata spekulasi buruknya tidak benar-benar terjadi. Pria itu
memperlakukannya masih sama seperti yang dia ingat dan satu hal lagi. Jodoh tidak kemana. Dia menyukai pribahasa itu mulai sekarang.
Lima menit kemudian, mobil yang Silvana ketahui sebagai Rezvani Tank X telah terparkir didepan matanya. Bahkan mobil pria itu mencerminkan dirinya sekali. Dia memang pria dengan sejuta pesona gahar yang mempesona.
__ADS_1
“Mobil yang keren, Sir,” ujar Silvana sesaat dia masuk dan duduk di kursi penumpang di dalam mobil tersebut. Sir Arthur hanya mendecakan lidahnya, meski begitu senyuman juga terbit di wajah pria itu. Membuat Silvana gemas dan jadi tidak tahan.
“Kau ini memang perempuan yang jago bicara ya, sudahlah kita—” ujaran Sir Arthur terpotong ketika bibir gadis itu telah mencapainya. Silvana mendorong Sir Arthur hingga pria itu bersandar sepenuhnya pada kursi mobil.
Samar-samar Arthur sadar bahwa mereka saat ini masih berada diarea kampus. Ini tindakan yang terlalu beresiko. Meskipun kaca mobilnya gelap dan tidak bisa dilihat dari luar tapi tetap saja, ini bukan tepat yang tepat untuk ini. Dia berusaha untuk menjauhkan Silvana dari tubuhnya. Tapi gadis itu benar-benar putus asa ketika dia melakukannya, lidah gadis itu menjelajahi dirinya dengan penuh semangat. Sementara tangannya mulai bergerak turun menyerang bagian diantara kedua kakinya.
Dia jadi lebih liar daripada yang Arthur ingat, ada apa dengan gadis ini? dia sangat berbahaya namun adiktif. Seluruh akal sehatnya seolah ditarik keluar. Terlebih ketika gadis itu telah sibuk membelainya dibawah sana. Meski dari luar, tetap saja terasa. Ini benar-benar membuatnya kesulitan.
Ketika mereka berdua kehabisan oksigen barulah keduanya berpisah. Arthur mendorong gadis itu untuk duduk di kursinya.
“Apa yang kau lakukan? Kita masih berada di kampus! Bagaimana kalau ada yang melihatmu?” Sentak Arthur. Pria itu benar-benar sedikit panik dan agak takut. Namun anehnya dia justru mendapati ekspresi yang berbanding terbalik dari gadis itu.
“Ah, sebenarnya justru itu akan jadi semakin menegangkan bukan? Kita akan semakin terpacu jika ada yang menyaksikan kita,” balasnya ringan seolah itu bukanlah hal besar untuknya.
“Silvana, dengar. Ini bukan ide yang bagus. Bukankah aku sudah bilang padamu bahwa kita harus menghentikannya?” Sekali lagi pria itu memberikan Silvana pengertian.
“Asal sama-sama suka itu bukan hal yang salah, Sir. Lagipula aku rasa kau juga menikmatinya,” jawab Silvana santai. Kontan Arthur hanya bisa menepuk dahinya. Anak ini benar-benar bebal.
“Masalahnya bukan disana. Kita ini punya hubungan yang sulit. Maksudku aku adalah dosenmu, dan kau mahasiswiku,” tegas Arthur seraya memegang bahu Silvana untuk menghentikan pergerakan barbar gadis itu padanya.
“Memangnya kenapa? Aku masih single dan kau juga. Usia bukan hambatan. Kalau kau terganggu dengan status itu aku bisa mempertimbangkan untuk mengambil cuti sementara.” Arthur benar-benar tidak paham, gadis itu selalu saja punya akal untuk membalas perkataannya. Bahkan untuk yang sekarang saja Silvana telah berhasil menohoknya.
__ADS_1
Dia memang telah berusia matang, namun masih single. Itu menyakitinya, tapi Arthur tidak bisa menjawabnya karena yang gadis itu katakan benar. Namun yang membuat Arthur gemas adalah kalimat penegasan dari gadis itu,
dia rela cuti untuknya? Segila apa sebenarnya gadis ini?