
Anehnya pria itu bahkan memiliki sebuah pemikiran baru tentang gadis yang sedang ada dipelukannya. Dia ingin mencintainya dan membuat gadis ini baik-baik saja saat bersamanya setidaknya untuk sementara meskipun Jiyya tidak akan pernah bisa balas mencintainya sama sekali.
Dia mencoba untuk mengungkung tubuh Jiyya, sehingga bila ada orang yang melihat perbuatan mereka. Tidak ada yang akan bisa melihat siapa perempuan yang sedang dicumbunya. Tangannya merayap dan meraih bagian yang paling sensitive ditubuh gadis itu. Hasilnya Jiyya langsung ambruk, gadis itu mengerang sambil membenamkan wajahnya ke leher Joan saat dia mulai membelai bagian itu dengan jarinya dengan kelembutan.
Joan mundur sedikit, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan apapun dalam moment ini. Dia ingin Jiyya secara utuh. Dia ingin melihat ekspresi apa yang gadis itu buat ketika sedang bermain dibawah sana. Begitu melihat raut wajah kepayahan dan penuh kepasrahan dari Jiyya. Joan tidak bisa menahan dirinya untuk sekali lagi menangkup bibir Jiyya yang sesekali mendesis akibat ulahnya.
Setidaknya dengan ini, suara Jiyya tidak akan bisa didengar. Walaupun memang sayang rasanya karena ******* Jiyya adalah suara favoritnya sejauh ini. Tapi Joan tidak mau berbaik hati membagi suara itu kepada siapapun.
Lidah mereka terjalin dan melingkar satu sama lain. Meski telah mencoba menutupi suara Jiyya melalui ciuman itu, namun tetap saja Joan tidak mampu meredam erangan Jiyya dalam ciuman mereka. Gadis itu melepaskan pagutannya, dia meraih bahu Joan yang sedang bekerja dibawah sana. Kedua kaki gadis itu nampak sedikit kesulitan untuk menapak tanah. Joan juga mulai merasa bahwa tangannya sudah mulai basah dan licin. Sepertinya Jiyya akan segera mendekati puncaknya.
Jiyya terlihat mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Sepertinya gadis itu berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apapun. Dan itu membuat Joan merasa makin bergairah padanya.
“Gunakan saya, jangan menyakiti dirimu sendiri.” Dia melemparkan bahunya untuk Jiyya gunakan sebagai pelepasan rasa frustasi. Jiyya begitu penurut sekarang, namun Joan tidak mengira bahwa gadis itu benar-benar akan mengigit bahunya ketika dia mengatakan pada Jiyya untuk menggunakannya. Pria itu meringis. Tapi bukan berarti pergerakannya dibawah sana mengendur. Merasa Joan memberikannya pergerakan tidak wajar dibawah sana. Tubuh Jiyya terdorong kedepan. Rambutnya jatuh menutupi wajahnya.
“S-sir… Joan.” Suara Jiyya terdengar seperti sedang tersedak, Joan tahu bahwa dia sudah hampir berhasil mengantarkan Jiyya pada gerbang kenikmatannya. “S-saya… saya…” Gadis itu hampir ambruk, tapi Joan segera bergerak mendekatinya, memastikan gadis itu masih bisa bertumpu pada tubuhnya. Kini kata-kata yang gadis itu ucapkan tidak lagi jelas, teredam suara erangan yang keras.
__ADS_1
Joan bergerak untuk mencondongkan tubuhnya untuk dapat menghisap tengkuk gadis itu, membuat Jiyya semakin mengerang. Joan jadi semakin gemas, ketika mendapati gadis itu menggigit bahunya lagi untuk menutupi erangan nikmat yang bisa keluar kapan saja. Joan bahkan semakin gencar menggodanya, kali ini dengan mengarahkan satu tangannya yang bebas untuk menangkup bagian sensitif yang menjadi favorit keduanya ditubuh gadis itu.
Tubuh Jiyya mengejang, hanya napas yang memberatlah yang Joan dapati dari gadis itu. Cairan hangat membasahi jemarinya, tapi bukan berarti Joan berhenti bergerak. Dia tetap bergerak bahkan semakin meningkatkan kecepatannya sebaik mungkin.
Jiyya tidak tahu harus bagaimana sekarang. Pria ini gila. Dia sudah melakukan hal yang diluar moralitas. Mencumbunya di muka umum tanpa takut sama sekali. Jiyya tidak bisa menggunakan akal dan logikanya saat tubuh bagian bawahnya dijamah dengan cara yang tidak dapat Jiyya jabarkan. Memang benar bahwa ini kali pertama untuknya disentuh dibagian oleh Sir Joan. Tapi tetap saja sentuhan pria itu selalu berefek dahsyat untuk tubuhnya.
Sir Joan menyiksanya dengan sebuah serangan kejutan yang tidak dapat dia pikirkan. Dia memberinya kenikmatan yang berlarut-larut dan sanggup membuat Jiyya dibuat melayang-layang. Dia sudah tidak tahu lagi dimana dia berpijak, atau apa yang sedang mereka bicarakan sebelumnya. Seluruh rasa sakit, dan juga kesedihannya seolah terbang jauh saat Sir Joan sudah menyentuhnya.
Joan merasakan sekali lagi kedua kaki gadis-nya menegang dan merapat. Dia mengerangkeras dan hampir terjatuh, untung saja Joan cukup sigap untuk membuatnya bertahan dalam kondisi berdiri. Tangan gadis itu mencengkram bahunya kuat-kuat nyaris seperti memberikannya cakaran disana. Joan meringis, tapi setidaknya rasa sakit yang dia dapatkan bisa membuat Jiyya mendapatkan gelombang kenikmatan.
Dia sudah datang. Mungkin dua kali sejauh yang Joan rasa namun yang kali ini pastinya yang paling dahsyat dari yang pertama. Joan melepaskan tangannya dari sana. Jari yang dia gunakan benar-benar sudah sangat basah sementara Jiyya merosot ke tanah sambil mengatur napasnya.
“Kau benar-benar pria yang gila!” teriak Jiyya setelah dia mendapatkan kembali logikanya.
“Hanya cara ini yang saya pikir bisa membantu mengalihkan pikiranmu dari dia. Kata-kata saja tidak akan cukup membuatmu melupakan, tapi sentuhanku bisa.”
__ADS_1
Joan kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan Jiyya yang sudah terduduk lemas ditanah. Pria itu menarik dagu Jiyya dan sekali lagi memberinya sebuah ciuman yang lembut. Bibir Jiyya memang adalah ekstasi yang tidak bisa dia tolak. Terlalu adiktif dan membuat Joan merasa ingin mendapatkan hal yang lebih lagi darinya.
Sedangkan Jiyya, benar-benar tidak habis pikir tentang dirinya sendiri. Gadis itu tidak mengira bahwa sekali lagi dia telah terperangkap dalam buaian Sir Joan. Namun dia juga tidak bisa menyanggah ucapan Sir Joan untuknya. Sentuhan pria itu memang sangat efektif membuat Jiyya melupakan segalanya. Bahkan bibir pria itu terasa bagaikan belaian yang paling lembut yang bisa Jiyya dapatkan. Dia menghela napas. Membungkam suaranya sendiri.
“Sepertinya kamu akan sedikit kesulitan berjalan. Saya akan mengantar kamu pulang,” ujar Joan sambil kemudian menawarkan punggungnya sendiri untuk Jiyya naiki.
“Saya tidak mau digendong,” tolak Jiyya. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Sir Joan menawarinya hal yang memalukan untuk dilakukan.
Jiyya memang sering melihat adegan seperti ini dalam drama romantis di televisi. Silvana juga kerap kali bilang bahwa dia ingin merasakan sensasinya. Tapi Jiyya tidak, menurutnya itu terlalu memalukan untuk dilakukan, terlebih Jiyya paling tidak suka menjadi pusat perhatian orang-orang.
“Apa boleh buat,” ujar Joan. Dia tahu gadis-nya ini akan menolak tawarannya. Dia juga tidak mungkin memaksanya untuk berdiri karena pasti kedua kaki Jiyya masih lemas untuk dipakai menopang tubuhnya apalagi untuk berjalan.
Akhirnya dia memilih opsi berikutnya, menggendong Jiyya secara paksa dengan memposisikan tubuh gadis itu didepan tubuhnya. Sehingga bagian depan tubuh mereka bersentuhan satu sama lain. Jiyya mulanya meronta sepanjang jalan, tapi lama kelamaan setelah mereka melalui jalanan yang ramai. Jiyya mulai diam dan nampaknya dia membenamkan kepalanya di bahu Joan.
“Sudah mulai menerima situasinya?”
__ADS_1
“Jangan ajak saya bicara Sir. Ini benar-benar membuat saya malu.”