Honey Trouble

Honey Trouble
Bertemu Kamu


__ADS_3

“Dia benar-benar muridku yang hebat. Bayangkan dia bahkan bisa berlari paling cepat di trek! Kuberitahu kalian ya, muridku itu sudah tidak bisa diragukan lagi kemampuannya. Dia pekerja keras, dan pantang menyerah. Dia benar-benar membuatku kagum. Masih kecil tapi semangat juangnya tinggi. Ini gila! Aku selalu jadi termotivasi bila sedang mengajarinya.”


Arthur hanya bisa menghela napas sembari menggosok wajahnya tatkala dia mendengarkan cerocosan Ronald yang kali ini sedang membanggakan salah satu muridnya yang disebut-sebut akan mengikuti olimpiade olahraga nasional. Ya, itu memang akan menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang guru, saat murid yang diajarnya lebih hebat dari pada dia sendiri. Tapi sayangnya Arthur sedang tidak punya mood untuk meladeni Ronald.


Saat ini dia, Joan, dan juga Ronald datang ke kedai hot pot, lokasinya agak berbeda dari biasanya namun itu juga karena Joan tiba-tiba bilang ingin memakan sesuatu yang pedas. Dia juga menambahkan bahwa makanan pedas bisa menetralisir stress di kepala. Tapi tetap saja rekomendasi tersebut tidak memberi banyak pengaruh besar untuk Arthur. Untuk kedua kalinya saat dia sedang bersama dengan teman-temannya, mood Arthur menurun drastis lagi.


Faktornya sudah jelas gara-gara Kelly. Diperkumpulan mereka kali ini pun perempuan itu tidak menunjukan batang hidungnya sama sekali. Jelas ini menimbulkan sebuah lubang menganga yang tercipta atas rasa bersalah Arthur terhadapnya. Dia tidak bisa bersikap apatis, karena jelas ini terjadi akibat ulahnya. Sebab sudah bisa dipastikan bagaimana impact percakapan mereka kemarin dengan kelanjutan hubungan mereka berdua kedepannya.


Bahkan meski telinganya mendengar ocehan Ronald, kepala Arthur terus saja bergulir memikirkan soal kata-kata Kelly tentang Arthur yang telah menemukan seseorang. Apa maksud dari perkataan perempuan itu?


Bahu Arthur merosot, semakin dipikir semakin pusinglah dia. Pada akhirnya pria itu bertopang dagu, sebelum berbagi pandangan dengan Joan. Dia baru menyadari bahwa pria itu juga nampaknya memiliki masalah di hidupnya meski entah apa. Sebab biasanya walaupun Joan biasanya memang tidak banyak bicara tapi pria itu terlihat lebih pendiam dari biasanya.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Rasanya baru saja dia mendapati sesuatu yang cerah terjadi dihidupnya sendiri. Sekarang dia malah berada dalam sebuah kebingungan, dan mendapati jalan buntu. Biasanya Arthur akan menyelesaikan perasaan muram ini dengan one night stand. Hal itu biasanya cukup efektif mengusir kemuraman yang memenuhi kepalanya sekaligus menghilangkan pikirannya dari beragam hal memusingkan. Namun sekarang opsi itu bahkan terasa tidak lagi menarik untuk dia coba.


Dalam situasinya sekarang Arthur hanya berharap bisa bertemu muka dengannya. Satu orang yang adalah akar dari seluruh perasaan tidak menentu yang menghinggapi hati dan juga pikirannya.

__ADS_1


“Aku sudah memberitahumu jutaan kali loh, Silvana. Kalau makan pedas dinetralisirnya dengan minum susu!”


Telinga Arthur otomatis menajam begitu mendengar satu nama yang mengusir relung terdalam benaknya.


“Tapi aku tidak suka susu, maksudku minum susu hanya membuat perutku kembung. Aku tidak suka perasaan itu.”


“Aku hanya mencoba membantumu, kalau kau tidak suka cara itu ya sudah. Yang penting aku mau makan pedas.”


“Egois sekali kau Jiyya. Aku kan tidak begitu suka pedas!”


Arthur kini menatap pada sosok yang mulai melangkahkan kakinya dengan ringan, rambut pirangnya yang panjang berayun saat dia menggerakan tubuhnya tatkala dia membalas perkataan Jiyya. Hari ini penampilannya sedikit lebih simple. Bahkan rambutnya yang biasanya selalu dia urai, Silvana ikat hari ini.


Disebelahnya, Arthur juga menyadari ada gerak gerik tidak wajar dari Joan. Entah mengapa dia merasa bahwa pria itu jadi sedikit lebih bersemangat daripada beberapa saat yang lalu. Bahkan lebih daripada Arthur nampaknya. Tapi Arthur salut meski  sorot matanya nampak berapi-api, pria itu sangat pintar menutupi apa yang dia rasakan dengan baik. Meskipun dia heran mengapa pria itu tiba-tiba terlihat tertarik.


Berbeda dengannya yang mungkin nampak seperti anak anjing kecil manja yang bertemu majikannya. Hampir kesulitan untuk menahan dirinya saat dia merasakan adanya letupan perasaan penuh euphoria di hatinya. Banyak dari anak didiknya yang selalu berkata begitu, dan bahkan Arthur menjamin mereka bersedia bersaksi untuk itu.

__ADS_1


Meski memang kenyataannya demikian, Arthur merasa dia perlu untuk sedikit jaga image dan menahan dirinya ketika Jiyya dan Silvana sempat melirik kearah meja mereka. Merasa bodoh, dan kedapatan curi pandang. Arthur langsung mengalihkan pandangannya kearah lain dengan cepat. Mencoba untuk bersikap kalem, dan berpura-pura tidak mengetahui keberadaan para gadis itu.


Tapi Joan berbeda darinya, pria itu tiba-tiba saja berdiri dari kursinya. Dia dengan sangat percaya diri mendekati Jiyya, mereka kemudian terlibat sebuah pembicaraan yang entah apa. Tapi yang pasti Jiyya nampaknya tidak terlalu suka didekati oleh Joan. Raut muka gadis itu terlihat sangat jelas, sama sepertinya yang tidak pandai menyembunyikan emosi. Sementara Arthur tetap berada di posisinya, dalam hati pria itu berdoa bahwa barangkali Silvana akan mendekatinya seperti biasa. Tapi hingga akhir, dia tidak mendapati gadis ceria itu mengikis jarak apalagi menyapanya.


Salah tingkah, dan merasa buruk. Arthur tiba-tiba saja meminta izin pada Ronald untuk pergi ke kamar kecil. Pria itu benar-benar putus asa. Silvana tidak seperti yang dia ingat. Gadis itu seolah berusaha untuk tidak mendekatinya dan menyapanya seperti biasa.


Arthur mencuci mukanya dengan air keran di wastafel, dan menatap wajahnya lekat-lekat melalui cermin. Saat itulah dia menyadari apa yang sudah terjadi. Merekabercinta sekali, dan menurut penuturan gadis itu dia akan berhenti mengejarnya. Harusnya Arthur senang gadis itu berhenti bertingkah disekitarnya, dan dia kembali menjadi sosok mahasiswi biasa. Tapi sesuatu di dalam dirinya berteriak tidak senang. Dia menyesalinya. Harusnya waktu itu, dia memegang tangan Silvana dan mencegahnya pergi. Tapi dia tidak melakukannya dan malah melihatnya pergi begitu saja. Arthur tahu dirinya sudah sangat tolol karena ini.


“Halo, Sir Arthur.”


Tepat ketika Arthur keluar dari pintu kamar kecil, pria itu terperanjat menyadari bahwa eksistensi Silvana telah berpindah. Gadis itu ada dihadapannya dan menyapanya.


“Ah, h-halo Silvana!” Tubuh Arthur tidak bisa diajak kerja sama. Pria itu bahkan hampir saja tersandung, bila dia tidak cepat Pastinya sekarang dia terlihat konyol dimata Silvana. Tapi untuk menutupi kegugupannya, pria itu menggaruk bagian belakang kepalanya, bertanya-tanya mengapa gadis itu mendekatinya lagi meski dia suka itu.


Benar saja Silvana langsung terkikik melihat Arthur yang kikuk dihadapannya. Arthur merasa detik itu juga dia ingin menggali lubang dan menenggelamkan dirinya hingga di bagian terdalam.

__ADS_1


“Apa setelah kau melihatku, kau berusaha untuk menghindar dariku, Sir?”


__ADS_2