Honey Trouble

Honey Trouble
Akhir Kisah


__ADS_3

Joan tahu bahwa Jiyya jelas-jelas melihat dan menyadari keberadaannya. Yang membuat pria itu tidak habis pikir adalah jangankan menegur, gadis itu justru malah buang muka dan pergi begitu saja seperti baru melihat hantu tanpa mengatakan sepatah katapun.


Sekarang Joan semakin mempertanyakan eksistensinya di dalam hidup gadis itu.


Apa yang sebenarnya Joan harapkan dari Jiyya ?


Jika gadis itu berada dalam situasi sulit, secara kebetulan Joan akan berada disana dan membantunya. Mereka akan kembali pada titik seperti dahulu kala, tapi setelah itu gadis itu akan menjadi orang asing dan mengabaikannya mati-matian. Jiyya selalu tidak pernah mau menuruti apapun yang Joan katakan meskipun itu juga


untuk kebaikan si gadis sendiri. Dia malah seenak jidat berkeliaran, menebar kekhawatiran pada Joan.


Pria itu telah menyelesaikan kelasnya. Jadi pria itu secara otomatis kembali ke ruangan untuk beristirahat sembari menunggu jam ajarnya yang lumayan sedikit jauh jaraknya dari kelas yang beberapa saat lalu telah dia selesaikan.


Jika dipikirkan, sebenarnya apa alasan logis Jiyya menghindarinya? Kalau Joan pria yang perhitungan bisa saja dia menagih semua hal yang sudah dia korbankan demi gadis itu. Dia punya cukup banyak utang jasa dan materi terhadapnya.


Bukan berarti Joan tidak ikhlas membantunya, tapi gadis itu bahkan tidak menanyakan setidaknya kabar atau sudi berbasa-basi saat mereka berdua berpapasan. Harusnya wajar bagi Joan untuk mendapatkan sepatah kata dari gadis itu. Intinya Joan kesal atas fakta bahwa Jiyya terang-terangan menjaga jarak dan menghindarinya seperti itu. Walaupun ini adalah bagian dari pada perjanjian mereka berdua.


Tapi tiba-tiba dia mendapati sebuah pesan masuk ke ponselnya ketika sedang dalam perjalanan menuju ke kediamannya. Dia nyaris menjatuhkan ponselnya sendiri begitu mengetahui siapa yang mengiriminya pesan.


Joan merasa heran karena tiba-tiba Jiyya mengabari dirinya. Gadis itu bilang ingin bertemu empat mata dengannya. Entah apa yang dia pikirkan. Tapi setelah melihat segalanya Joan tahu bahwa barangkali ini adalah keputusan yang telah gadis itu pikirkan sejak jauh-jauh hari. Mungkin…


“Selamat malam, Jiyya,” sapa Joan setelah pria itu diizinkan masuk ke dalam apartmentnya. Dia menatap Jiyya dengan alis terangkat, sedikit mengherankan dengan suasana yang ada di ruangan tersebut.


Jiyya tidak menjawab, gadis itu malah memilih menarik satu kursi yang barang kali merupakan isyarat bagi Joan untuk menuruti. Gadis itu bahkan menyuguhkan bir yang telah dia tuangkan ke dalam gelas kaca. Dia menaruh


benda itu di atas meja dan membagikannya pada Joan secara adil dan merata.


Dari yang Joan tebak, sepertinya pembicaraan ini akan sedikit serius. Sebab Jiyya sendiri tidak mengatakan apa-apa padanya sampai mereka terdiam dalam hitungan menit penuh sunyi.


“Ada apa dengan suasana yang penuh kemurungan ini?”


Joan tidak tahu apa yang menyebabkan gadis itu terlihat kusut, namun yang pasti sesuatu itu pastilah sangat rumit hingga dia kesulitan untuk menangani situasinya.


“Situasi yang saya jalani semakin sulit. Saya ingin bertanya, kenapa kau sebagai orang dewasa tertarik pada saya yang seperti ini?”


Mendengar Jiyya tidak menggunakan bahasa yang formal sedikit membuat Joan terkejut, semakin besar dampaknya ketika dia mendengar pengakuan gadis itu.

__ADS_1


“Apa salah bagi saya untuk mengakui perasaan padamu?”


“Ya."


“Lalu apa jawabanmu?” Dia bertanya, tapi gadis itu malah menghela napas dan menjeda percakapan mereka sebelum bibir itu kembali bergerak.


“Saya ingin mengucapkan selamat tinggal padamu,” tuturnya.


Seketika ekspresi wajah Joan kontan berubah. Kini yang murung tidak lagi Jiyya melainkan dirinya sendiri.


“Itukah alasanmu memanggilku kemari?”


“Saya menghargai Sir Joan sebagai orang yang penting bagi saya. Terlebih faktanya kau adalah orang yang dekat dengan saya sampai kita kemudian tersesat dan melakukan hal itu. Dalam pikiran saya, tidak ada cara yang lebih bagus selain mengakhiri rasa frustasi ini dengan perpisahan.”


“Kamu benar-benar perempuan yang kejam, Jiyya.”


“Tentu, sejak awal saya memang begitu. Saya merasa bahwa segalanya akan semakin pelik bila saya masih ada disini. Saya juga tidak yakin bisa bertahan bila terlalu banyak beban yang harus saya tanggung.”


“Apakah alasan saya yang mencintaimu adalah beban untukmu?”


“Karena itu adalah kamu."


“Karena kau bodoh.”


“Dan kamu tidak?”


“Saya juga, karena itulah saya memutuskan untuk pergi. Sekaligus saya ingin membalas budi, terima kasih telah menjadi orang yang mau menemani saya hingga akhir, memberi saya cinta dan kasih yang tulus serta hal-hal lain yang tidak saya ketahui. Kau terlalu berlebihan pada saya.”


“Kamu tahu alasan saya melakukannya.”


“Ya, karena itu saya minta untuk berhenti melakukan hal yang tidak perlu. Saya minta tolong untuk jangan menghubungi atau mencoba untuk mencari.”


Itu terdengar menyakitinya, Joan bahkan tidak yakin sekarang dia berada dimana dan sedang apa. Kepalanya kosong, ini seperti sebuah kabar yang tidak terduga. Serangan perang? Ya, karena hatinya baru saja di bombardir


oleh serangan yang luar biasa.

__ADS_1


“Kenapa harus begini?”


“Sebelum segalanya terlambat,” tutur Jiyya padanya.


Joan selalu dibuat takjub oleh Jiyya, sebentar gadis itu akan begitu tangguh, sebentar dia menjadi gadis yang polos dan hari ini dia menjadi sosok seorang perempuan dewasa yang sangat anggun juga berkelas. Dia sudah pernah mendapatkan penolakan dari Jiyya, tapi kali ini syarat yang dia minta terlalu sulit untuk dapat dia kabulkan.


Dia akan merindukan Jiyya, dia akan merindukan seorang gadis yang dia cintai. Seseorang yang begitu luar biasa, cantik, dan juga kuat. Tapi dia juga dipaksa untuk harus merelakan. Joan bahkan tidak yakin apakah dia sanggup atau tidak, karena nyatanya meski telah di tolak Joan masih terus berupaya untuk mendapatkannya.


“Kau tidak harus memasang wajah seperti itu,” timpal gadis itu lagi saat Joan hanya menundukan kepalanya untuk mendinginkan pikirannya yang bergejolak.


“Ya, tapi kamu akan segera pergi.”


Jiyya tiba-tiba saja mendekatinya, dalam satu pergerakan yang tidak dapat Joan prediksi gadis itu memeluknya. “Ini salahmu, kalau saja kau  tidak jatuh cinta pada saya maka situasinya tidak akan seperti ini. Saya benci hidup yang penuh dengan masalah merepotkan. Ini adalah upaya terbaik untuk meraih kembali ketenangan hidup saya lagi.”


“Orang tidak bisa menentukan sendiri kepada siapa mereka akan jatuh hati.”


“Tidak, yang benar adalah kau ceroboh.”


Pelukan itu kemudian terlepas. Joan hanya bisa memandang gadis itu dengan pandangan yang tidak bisa dia pahami. Terlalu kompleks baginya mengetahui tentang situasi ini.


“Katakan alasan yang sebenarnya Jiyya,”


“Bestian menghubungi saya, dan dia ingin kami bisa bersama.”


Jantung pria itu membengkak dan tiba-tiba saja dia merasakan terlalu banyak gejolak emosi di dalam dadanya. Kedua tangannya mengepal. Joan mengangkat kepalanya lalu seketika dia mendorong Jiyya hingga terjebak di dinding. Tanpa aba-aba Joan langsung mencium bibir gadis itu. Dia mendengar Jiyya mengerang dan berusaha melepaskan dirinya dari Joan.


Persetan! Bagaimana sekarang Joan akan hidup bila tanpa Jiyya? Bagaimana bisa dia hidup dengan lubang menganga di hatinya? Bagaimana mungkin dia sanggup untuk melepaskan Jiyya untuk di bawa oleh seorang pria yang meninggalkannya sejak lama? Jiyya terlalu cantik, baik hati, cerdas, dan berprinsip dibandingkan semua wanita yang pernah dia dekati.


“Kamu milik saya.” Joan bergumam.


Jiyya hanya mengunci matanya dengan pria itu. “Tapi saya tidak pernah menginginkan itu. Sekarang keluar dari rumahku!”


“Kamu mengundangku, lalu mengusirku?”


“Kau pantas mendapatkannya karena kau baru saja memperlakukan saya seperti seorang pelacur!”

__ADS_1


__ADS_2