
”Kenapa Sir Joan memperlakukan saya seperti ini?”
Setelah merasa kesunyian lebih membuat atmosfer diantara mereka terasa canggung, Jiyya pada akhirnya angkat bicara. Dagu gadis itu berstagnasi dibahu kanan Sir Joan.
“Seperti apa?”
“Ya, seperti ini. Menggendong saya, dan mengantar saya pulang.”
“Anggap saja saya sedang berbaik hati pada mahasiswi cantik yang sedang patah hati.”
“Saya tidak patah hati.” Jiyya mengujar, meski begitu ekspresinya tidak dapat terbaca bila seandainya Sir Joan bisa melihat bagaimana air mukanya sekarang. “Dan saya… saya minta maaf,” gumam Jiyya.
Sir Joan tidak langsung berkomentar, sebaliknya pria itu hanya melanjutkan langkah kakinya membawa Jiyya menuju ke mobil yang dia parkir di pelataran restoran yang sebelumnya dia kunjungi.
“Untuk apa?” Akhirnya setelah Sir Joan mempertimbangkan banyak hal Jiyya mendengar suaranya sedikit lebih rendah dan lembut. Pria itu mungkin berpikir untuk tidak mengatakan sesuatu yang akan menyakitinya, atau menggunakan nada bicara yang akan menyinggungnya.
Mulut Jiyya sedikit menganga sebelum dia menjawab ucapan Sir Joan untuknya. “Untuk sikap saya yang buruk beberapa saat yang lalu. Saya tahu bahwa saya sangat bodoh karena merindukannya.”
Terus terang begitu mendengar pengakuan yang kedua kalinya dari Jiyya, jantung Joan merasa sedikit berkedut nyeri. Dia tidak suka itu. Tapi dia juga tidak bisa lari dari kenyataan yang ada. Dia menghentikan langkahnya sebentar, dan menyadari bahwa dia sudah tiba di pelataran parkir restoran.
Pria itu memilih membiarkan keheningan, memfokuskan dirinya untuk membuka kunci mobilnya lebih dulu dan memastikan Jiyya untuk duduk di kursi penumpang lebih dulu. Setidaknya dari jeda waktu yang Joan buat, dia bisa menanggapi perkataan gadis itu dengan cara yang lebih baik. Tidak dengan emosi berlebih, namun benar-benar murni pandangannya atas logika.
Setelah segalanya beres, pria itu kemudian berputar untuk duduk dikursi kemudi. Jiyya masih diam saja, pandangan matanya terlihat kosong. Joan tidak suka itu.
__ADS_1
“Ingin dengar pendapat saya?” Joan memecah kesunyian. Jiyya kontan melirik padanya. Gadis itu memasang ekspresi yang sedikit sulit untuk dapat di definisikan.
“Ya.”
“Menurut saya, itu tidak bodoh sama sekali.”
Jiyya tidak menjawab lagi, melihat respon yang gadis itu buat untuknya. Joan sedikit khawatir gadis itu akan menangis seperti tadi. Jika hal itu terjadi, Joan takut dia melakukan hal yang salah untuk menenangkannya. Terlebih saat Joan mendapati alis Jiyya yang berkerut dengan dagunya yang sedikit bergetar. Meski di detik berikutnya dia menggelengkan kepala. Nampaknya Jiyya berusaha untuk tidak terbawa perasaan serta suasana yang tidak sengaja terjadi diantara mereka berdua karena satu nama.
“Apa Sir Joan pernah merindukan dia? Maksudku, kau, Dean, dan juga Bestian terlihat memiliki hubungan yang sangat dekat sebagai guru dan murid. Dimataku setidaknya begitu.”
Joan yang semula hendak menyalakan mesin mobilnya tiba-tiba mengurungkan niatan tersebut. Dia menatap kearah depan, tanpa suara. Dia tidak pernah menyangka bahwa Jiyya akan mempertanyakan hal seperti ini kepadanya. Ini adalah jenis percakapan yang tidak pernah dia pikirkan akan muncul kepermukaan dengan cara seperti ini.
Apakah Joan merindukan Bestian? Sesungguhnya dia tidak punya rasa ingin tahu tentang hal itu sedikitpun. Terlintas dibenaknya saja tidak. Joan sejauh ini tidak tahu apakah dia merindukan sosok Bestian secaranya nyata atau merindukan soal dia dalam segi ikatan emosional. Ikatan emosional yang terjalin seiring waktu bukan sebagai dosen dan mahasiswa namun lebih kepada ikatan persahabatan antar pria. Dan kalau ditilik lagi Bestian sejujurnya adalah seorang mahasiswa yang sempurna dan yang paling dapat Joan banggakan setelah dia terjun untuk pertama kalinya dalam bidang mengajar.
Namun, ketika dia menatap mata Jiyya dengan cara yang lebih mendalam, Joan tahu dia harus mengatakan sesuatu. Dia harus memiliki jawaban meskipun dia sendiri tidak yakin.
“Ya.” Joan akhirnya buka suara setelah sekian lama, suaranya terdengar mantap walaupun jauh dalam lubuk hatinya terasa sakit.
Jiyya mengamati wajahnya selama beberapa saat. Kini kedua insan itu nampak saling bertukar duka dan kenangan yang sama. Bagi Joan, Jiyya adalah gadis yang manis dan sangat cantik. Dia sudah menjelma menjadi sosok wanita yang anggun dan bersahaja. Dia juga sudah tahu bagaimana seluk beluk Jiyya dapat menaruh hati pada Bestian. Sejatinya, Joan mengakui bahwa kedua orang itu adalah pasangan yang serasi. Hanya saja takdir mereka berbeda. Hubungan mereka tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain dalam keheningan yang dalam. Di akhir tatapannya, Jiyya tiba-tiba saja memiringkan kepalanya dan kemudian tersenyum pada Joan.
“Ayo, kita pulang sekarang Sir. Saya merasa lelah.”
__ADS_1
Mendengar ajakan tersebut, dan bagaimana cara mengucapkannya. Joan juga dapat merasakan rasa lelah yang gadis itu rasakan. Padahal rasa lelah bukan sesuatu yang bisa ditularkan, namun Joan betulan merasakannya seolah hal itu di transfer-kan oleh Jiyya kepadanya.
Joan melirik dan kini Jiyya sudah duduk diam di posisinya dengan posisi kepala menghadap pada jendela mobilnya. Seolah Joan tidak lagi menarik untuk dipandang. Barangkali suasana malam lebih menawan untuk disaksikan.
Memutuskan untuk mengabulkan ajakan gadis itu, Joan mulai menyalakan mesin mobilnya dan membawa kuda besi beroda empatnya itu segera pergi dari pelataran restoran.
Hanya perlu sekitar lima belas menit saja bagi Joan untuk mengantarkan Jiyya menuju ke sebuah gedung yang pria itu ingat sebagai tempat tinggal Jiyya. Joan bukannya seorang penguntit atau apa, namun pernah sekali Dean memberitahu dia soal tempat tinggal Jiyya, sehingga pria itu dengan mudah dapat mengingatnya hingga sekarang. Terlebih dari Dean pula, Joan tahu bahwa gadis itu tinggal sendiri sejak SMA. Itu adalah sebuah informasi yang menyenangkan untuk didengar, namun Joan tidak pernah benar-benar berkunjung seperti ini.
Pria itu menghela napas sebelum akhirnya Joan sadar bahwa gadis yang dia bawa nampak tertidur lelap di kursi penumpang. Joan tidak langsung membangunkannya. Pria itu malah lebih memilih untuk memandanginya. Jiyya terlihat cantik tatkala gadis itu menutup kedua matanya, bibirnya terlihat mengerut, namun masih cukup menggoda untuk dilumat seperti inginnya.
Sebetulnya bisa saja Joan membangunkan Jiyya dan mengatakan padanya bahwa mereka sudah sampai. Namun Joan tidak melakukannya. Dia justru mengambil moment ini sebagai kesempatan baginya untuk lebih dekat dengan Jiyya. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya untuk sekadar menyentuh dengan lembut pipi si gadis. Mengabaikan sengatan listrik yang langsung menjalar melalui pembuluh darahnya ketika jemarinya bersitumbuk dengan pipi Jiyya yang halus. Ini benar-benar gila. Joan pernah menyentuh bagian lain yang lebih menantang. Tapi sialnya, dia malah gugup saat menyentuh pipi Jiyya yang masih terbilang normal untuk disentuhnya.
“Jiyya, apakah setelah ini semua kamu masih tidak ingin menyerah soal dia? Apa itu artinya aku tidak memiliki kesempatan untuk mengisi hatimu?” Itu narasi yang konyol untuk Joan katakan. Terlebih dia memperdengarkannya dihadapan Jiyya yang sedang tertidur. Bukankah itu sama seperti bicara pada batu?
“Hei, kalau kau tertidur seperti ini kau bisa mengundang bahaya untuk dirimu sendiri. Aku tahu kau menganggapku sebatas dosenmu. Tapi aku tidak hanya memandangmu sebagai mahasiswiku, Jiyya. Sangat berbahaya bagimu bila kau terus saja melonggarkan pertahananmu seperti ini. Aku juga lelaki. Bahkan bisa dibilang si brengsek yang mengambil banyak kesempatan untuk dapat menyentuhmu,” gumam Joan lagi.
Mulanya hatinya tergoda untuk melakukan sesuatu yang gila. Seperti menyentuh bagian yang menggoda untuknya atau bahkan menikmati bagian bawah tubuh gadis itu saat dia tertidur. Ya, itu ide yang brilliant. Namun sayangnya Joan masih punya cukup otak untuk digunakan. Dia tidak mau Jiyya berbalik membencinya kalau dia salah langkah.
Sejujurnya yang tadi pun, Joan sempat khawatir Jiyya akan marah karena dia bisa dibilang menyerangnya saat Jiyya sedang dalam kondisi yang rentan. Menyentuhnya seperti itu dengan dalih ingin membantu. Tapi tetap saja Joan ini pria brengsek bukan?
Alih-alih melakukan bisikan setan yang mampir ditelinganya, Joan kembali ke posisi semula dan menyenderkan tubuhnya pada kursi kemudi.
Ada keheningan selama beberapa menit dan pandangan pria itu nampak kosong melompong kearah langit malam. Dia menutup matanya sendiri, kemudian membiarkan angannya melambung tinggi. Segera setelah itu yang bisa didengar hanyalah sebatas napas mereka yang meresap kedalam udara disekitar.
__ADS_1
Jiyya dan Joan sama-sama tertidur di dalam mobil.