
“Yes please.” Silvana menggumam.
Senyum Sir Arthur melebar dan kemudian pria itu menundukan kepalanya disana. Hisapan serta belaian dia fokuskan pada bagian yang sudah dia ketahui sebagai kelemahan gadis itu. Hal itu tentu saja langsung mendapatkan respon erangan dari yang bersangkutan. Tangan gadis itu bahkan mulai bergerak untuk untuk mencengkram seprai di kedua sisi tubuhnya sebagai penghantar rasa frustasinya dalam kenikmatan. Pria itu benar-benar sangat menikmati aktivitasnya.
Silvana sekali lagi mengerang tatkala merasakan bagian tubuh yang tidak bertulang terdorong ke dalam dirinya. Denyutan kenikmatan memaksa gadis itu untuk bergerak gelisah lantaran merambat menuju tulang belakangnya. Kedua jari kakinya melengkung merasakan Sir Arthur bergerak sejauh dan sedalam yang dia bisa dengan lidahnya.
Sekali lagi Silvana mengerang, menggerakan tangannya untuk menyentuh rambut hitam milik pria itu sesekali menjambaknya bila pria itu kedapatan berbuat nakal dibawahnya. Bukan salahnya, Silvana merespon semua itu dengan merentangkan kedua kakinya sendiri. Toh, dia hanya berharap mendapati Sir Arthur lebih jauh lagi di dalam dirinya.
Memahami bahwa itu tidak cukup baginya, pria dewasa itu kemudian merambatkan keduatangannya untuk menyentuh titik vital gadis itu. Memberikan remasan lembut sementara bibirnya masih bekerja dibawah sana. Membuat gadis itu menjerit dalam kesenangan.
Sampai akhirnya dia menyentak tubuhnya, ketika merasakan gelombang miliknya telah datang. Sensasi lidah pria itu terlalu brutal dibawah sana hingga Silvana tidak bisa lagi memikirkan apa-apa. Seluruh pemikirannya tersedot habis, padahal beberapa saat yang lalu dia banyak memikirkan soal masa depan hubungannya dengan pria ini.
Tubuh Silvana lagi-lagi mengejang, merasakan performa pria itu memanjakan dirinya dengan sangat liar. Terlalu banyak titik yang dia serang hingga pada akhirnya Silvana tidak sanggup untuk melawannya.
Silvana datang dalam satu waktu, tubuhnya kontan menggigil sekaligus meneriakan namanya keras-keras. Meski begitu tetap saja pria itu enggan bergerak dari sana dan malah tetap disana. Menjilat setiap tetesan yang keluar dari sana tak peduli dengan Silvana yang masih berada dalam kondisi lemas tak berdaya akan ulahnya. Ketika dirasa usai, Sir Arthur kemudian merangkak diatas tubuh Silvana yang tengah berbaring sembari mengatur napasnya.
“Apa itu cukup membantu meringankan rasa sakit ditubuhmu?” tanya pria itu.
Silvana hanya sanggup memberikan senyuman ditengah napasnya yang terputus-putus. Begitu dia mendapati lagi tubuhnya kembali pada kondisi normal, barulah Silvana memberi komentar. “Itu lebih dari cukup, Sir.”
__ADS_1
Sir Arthur menyeringai, pria itu kemudian berguling disamping Silvana kemudian melingkarkan kedua tangannya pada tubuh mungil gadis itu. Membawa Silvana semakin mendekat padanya.
Silvana sendiri menutup kedua matanya sambil meringkuk disamping pria itu. Dia masih terlalu takut untuk bertanya akan kelanjutan dari hubungan mereka atau minimal soal apa yang akan terjadi kedepannya diantara mereka. Meski begitu Silvana tidak menampik bahwa dirinya amat senang dengan seluruh waktu yang telah dia habiskan dengan pria berjanggut tipis ini. Setidaknya dia bisa merasa bahagia bersamanya meskipun hanya sebentar saja. Jenis perasaan yang tidak bisa dia paksakan untuk berada dalam genggaman tangannya.
Sir Arthur kemudian membelai rambut Silvana. Dulu kontak fisik ini akan terjadi saat Silvana mendapatkan nilai terbaik di mata kuliahnya, tapi sekarang pria itu melakukannya karena dia merasa harus untuk itu. Seperti sebuah kebiasaan baginya untuk mengapresiasi seorang wanita dengan mengelus puncak kepala mereka, atau dengan membelai rambut mereka. Sebab rata-rata perempuan yang pernah dia tiduri selalu berambut panjang. Begitu pula Silvana. Dia sudah terbiasa dengan situasi ini sebelumnya.
“Sir Arthur, ada yang ingin aku tanyakan.” Silvana yang sejak tadi bimbang entah harus mengatakannya atau tidak, merasa gatal untuk menyuarakan apa yang sebenarnya berada dalam benak gadis itu.
“Ya, tanyakan saja.”
“Jadi bagaimana menurutmu tentang kita? Maksudku… sebelum ini aku sempat bertanya padamu.” Silvana harap pria itu tidak lupa dengan pertanyaan yang dia ajukan.
“Tentang kau yang akan berhenti menggangguku setelah kita melakukan hal ini?” sahut pria itu.
“Sir, apa kau membenciku?” Suara Silvana agak tercekat, kerongkongannya terasa sakit dan kering padahal yang dia pertanyakan adalah hal yang sebenarnya tidak begitu penting untuknya.
“Aku tidak pernah membencimu.”
“Lantas kenapa kau terkesan ingin aku berhenti mengikutimu?”
__ADS_1
Ya, Silvana tahu bahwa obrolan super berat seperti ini membuat situasi akan berubah canggung. Meskipun mereka baru saja selesai memberikan kenikmatan masing-masing, namun suasana yang Silvana bangun kini benar-benar sangat mencekik. Alih-alih menjawab secara langsung pria itu malah mengelus rambutnya dengan sangat pelan.
"Jika seperti ini tidak kah kau berpikir hubungan ini terasa seperti..."
"Majikan dan peliharannya? kau menjadi majikanku dan aku menjadi mahasisiwi peliharaanmu?" sahut Silvana sedikit sarkas yang sejenak membuat Sir Arthur sedikit salah tingkah. Terus terang kalimat yang Silvana lontarkan barusan terlalu kasar dan tajam.
“Aku tidak, hanya saja bila ini diteruskan ini tidak baik untuk kita. Lagipula kau ini masih muda dan ada banyak pria yang lebih pantas untuk bersanding denganmu ketimbang aku," ujar Arthur.
“Jadi, apa artinya kau baru saja menolakku?”
“Maaf, Silvana.”
“Fine,terima kasih Sir. Aku hanya ingin mengetahui jawaban darimu saja. Terus terang aku memang suka yang to the point sejak awal. Aku mengapresiasi penuh jawaban jujur darimu,” timpal Silvana. Gadis itu berusaha menggunakan nada yang ceria saat mengatakannya. Dia juga beringsut dari ranjang dan mulai memunguti ceceran pakaiannya dilantai.
Dia harus bangun, mimpi indah ini akan usai. Setelah dia pergi dari tempat ini, maka kandas pula hubungannya dengan Sir Arthur.
“Silvana, kau tidak apa-apa?” Kenapa dari sekian banyaknya pertanyaan Sir Arthur harus menanyakan soal itu? tentu saja jawabannya adalah tidak baik-baik saja! bagaimana bisa seorang gadis yang ditolak bisa tak merasakan apa-apa.
Ah, sial… perasaan melankolis memang benar-benar membuatnya menjadi seorang gadis yang menyedihkan.
__ADS_1
Silvana tidak menjawab pertanyaan yang sebetulnya gadis itu tahu bahwa Sir Arthur sudah memegang jawabannya tanpa perlu penegasan darinya.
“Aku harus pergi, jika semakin lama disini kurasa tidak akan baik untuk hatiku.”