
Sudah tiga hari, Silvana tidak pernah terlihat batang hidungnya. Selama tiga hari kebelakang pula Jiyya cukup sibuk dengan seluruh urusannya dengan Ms. Donna. Dosen killer tersebut sejak mendapati Jiyya mendapatkan nilai bagus di mata kuliahnya jadi kerap memberikan banyak sekali tekanan, semua orang salut pada Jiyya lantaran bisa bertahan dengan Ms. Donna yang pemarah dan moody akut. Memang agak membuatnya stress, tapi selama otaknya digunakan bekerja, Jiyya jadi terbantu untuk melupakan hal-hal yang salah kaprah dari hidupnya belum lama ini.
Namun berkat itu pula dia jadi tidak punya waktu untuk menjenguk Silvana yang Jarvis bilang sedang sakit. Entah benar atau tidak, karena pemuda itu memang selalu menjadi hotline bling-nya Silvana bila gadis itu sedang kesusahan. Sekali lagi Jiyya berharap itu bukan sebuah kebenaran. Tapi bila bukan soal kesehatan, lantas apa? Jiyya sendiri bahkan lupa apa yang terakhir kali mereka bicarakan.
Karena itu, seusai mengikuti kelas yang kebetulan sama-sama diikuti oleh Jarvis. Jiyya meminta waktu pada si pemuda pemalas itu untuk bicara.
“Jarvis!” Jiyya memanggil pemuda yang dia kenal sebagai sahabat dekat Silvana, begitu mereka berpapasan di parkiran kampus.
“Yo, Jiyya ada apa?” Jarvis berbalik padanya, wajahnya yang terlihat mengantuk memang adalah ciri khas dari seorang Jarvis. Jiyya, memberi pemuda itu senyuman manis.
“Sudah tiga hari Silvana tidak masuk, benar dia sakit?” tanya Jiyya, dia sebetulnya mengunjunginya. Tapi sejak dia absen kemarin bahkan tiga hari berlalu terhitung dari hari itu, Jiyya benar-benar sibuk. Sebetulnya dia sengaja sih membuat dirinya sibuk. Sehingga dia tidak bisa meminimalisir segala hal tentang Sir Joan dari kepalanya. Terakhir kali Jiyya memang sangat kesal padanya.
Perlakuan pria itu terhadapnya, Jiyya nilai seperti perlakuan seorang pria hidung belang pada perempuan penjaja tubuh. Jiyya tidak suka dengan ide itu. Meski memang semua itu terjadi karena dia yang memulai dengan didasari rasa penasaran dan terhasut ucapan Silvana. Tapi untuk sekarang Jiyya akan memastikan dia tidak lagi terperosok dalam hal-hal seperti itu.
Perhatian Jiyya teralihkan pada Jarvis yang tiba-tiba menguap.
“Menurutnya sih begitu. Tapi aku juga belum crosscheck soal kebenarannya. Kurasa sekarang aku akan berkunjung kerumahnya. Untuk memastikan saja dia pura-pura atau betulan. Kebetulan Ibuku terus memintaku mencari tahu kabar anak itu,” sahut Jarvis cuek. Dia melirik kearah Jiyya yang sedikit khawatir. “Mau ke rumahnya juga? Kita bisa pergi bersama,” tawar pemuda itu. Tapi dengan sangat menyesal Jiyya harus menggelengkan kepalanya. Dia harus mengikuti bimbingan khusus, Ms. Donna minta Jiyya pergi ke ruangannya dijam usai kelas.
“Sayangnya aku tidak bisa sekarang. Paling nanti malam kurasa, soalnya sekarang aku masih ada urusan dengan Ms. Donna.” Jiyya menjawab tanya pria itu dengan sedikit kikuk.
__ADS_1
“Ah.Perempuan merepotkan itu.” Jarvis menganggukan kepala. Perempuan merepotkan jelas merujuk pada Ms. Donna yang memang selalu serba ribet. Jiyya sudah merasakannya sendiri.
“Tapi aku ingin menitipkan sesuatu yang bisa kau bawa untuk Silvana," tutur Jiyya cepat.
“Dia tidak usah diberi apa-apa.” tolak Jarvis tegas, agak lucu memang kalau membayangkan interaksi Silvana dengan pemuda ini.
“Kau kan bukan dia, kok kau menolaknya begitu?” Jiyya terkekeh mendengar jawaban Jarvis. Pemuda itu hanya menghela napas kemudian sekali lagi melirik kearah Jiyya.
“Mau kau beri apa perempuan itu?”
“Ayam goreng. Kita ke tempat ayam goreng langganan kami. Dia pasti bersemangat lagi setelah makan itu.” Tunjuk Jiyya pada sebuah kedai yang tidak jauh dari kampus. Mungkin bisa ditempuh sekitar lima belas menit dengan berjalan kaki.
“Tunggu disini, aku akan bawa motorku dulu,” ujar Jarvis sambil membawa langkah kakinya menjauh ketika dia berkata begitu. Tapi Jiyya malah mengikuti pria itu.
“Eh? Kita bisa jalan kaki kok.” Niatannya dia tidak ingin Jarvis merasa repot. Tapi rupanya dia tidak sama dengan Dean.
“Aku tidak mau kakiku pegal. Jadi kita kesana naik motorku saja. Nanti kuantar kau kembali kesini, supaya kau bisa langsung mengerjakan urusanmu dengan Ms. Donna.” Dia orang yang praktis, dan tidak suka banyak basi-basi nampaknya. Kepribadiannya yang begitu kontras dengan Silvana membuat Jiyya terkadang heran bagaimana mereka bisa tetap awet berteman. Tapi kemudian dia berkaca pada dirinya sendiri dan Dean. Mereka juga punya kasus yang sama.
Pada akhirnya Jiyya kemudian tersenyum menanggapi saran dari Jarvis. Itu memang jauh lebih efektif untuk mereka berdua.
__ADS_1
“Ya sudah kalau maumu begitu.”
Jarvis tidak mengatakan apa-apa dan hanya menganggukan kepalanya.
Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Jiyya membelikan sekotak ayam goreng utuh yang telah dipotong-potong oleh si pemilik kedai untuk memudahkan dikonsumsi. Pria itu juga melakukan apa yang dia katakan, mengantarkan Jiyya kembali ke kampus dengan motornya padahal Jiyya sudah menolak untuk diantarkan.
Tapi Jarvis bilang dia tidak meninggalkan Jiyya begitu akhirnya mau tidak mau Jiyya hanya bisa menurut.
“Terima kasih ya Jarvis, aku titip salam saja pada Silvana.” Jarvis menganggukan kepalanya.
“Jangan terlalu mengkhawatirkan dia. Yang harus kau khawatirkan itu dirimu sendiri. Kau terlalu sibuk, jangan memaksakan dirimu sendiri dengan kesibukan yang tidak bisa kau tangani. Kalau sakit, kau sendiri nanti yang kerepotan.” Itu adalah kalimat yang paling panjang selama dia bicara dengan Jarvis. Jiyya tidak mengira pemuda yang Silvana sebut-sebut si pecinta tidur siang dan hanya peduli pada hidupnya sendiri bisa mengatakan sesuatu yang bernada penuh perhatian seperti itu.
“Tidak perlu cemas. Aku paling tahu kapasistas diriku sendiri.”
“Baguslah kalau begitu. Sebab kalau kau sakit, aku juga akan ikut sakit kepala karena Silvana pasti menggangguku untuk menjengukmu. Dia jelas lebih merepotkan dari pada kau, makanya aku tidak ingin terjerumus lagi.” Jiyya terkekeh atas penuturan Jarvis. Sudah pasti begitu, Silvana kan memang orang yang super heboh soal apapun.
“Akan aku usahakan.”
“Oke, sampai jumpa Jiyya.” Pria itu menutup helmnya setelah berujar demikian. Motor pemuda itu menderu meninggalkan pelataran kampus juga Jiyya yang berdiri sendirian.
__ADS_1
Gadis itu tertawa pelan dengan tangannya yang beranjak menyelipkan beberapa helaian rambutnya ke belakang telinga. “Matahari sore ini indah sekali. Apapun yang Silvana hadapi kuharap dia bisa dengan segera menyelesaikannya.”