
Aduh!
Kalimat yang berkali-kali Arthur ucapkan sejak dia terbangun. Bahkan kali ini dia mengatakannya lagi ketika dia merasa bagian belakang tubuhnya tertekuk tatkala dia berjalan.
“Aku benar-benar sudah tua sepertinya. Rasa sakit ini membuatku makin menyadarinya,” gumam pria itu. Dia berhenti sebentar untuk mengeluhkan hal itu sambil menekan punggung bawahnya dan melakukan peregangan sebentar. Sampai dia mendengar bunyi ‘krek’ pada tulang belakangnya.
Meski sempat bertingkah seperti pria jompo, Arthur tetap berupaya untuk melangkahkan kaki sebagaimana mestinya. Berjalan dengan tangan yang dimasukan kedalam saku sedangkan satu tangannya lagi membawa beberapa berkas untuk bahan ajarnya. Dia sudah menyelesaikan kelasnya, dan ini adalah hari ketiga dia menyadari bahwa Silvana tidak masuk kelasnya.
Dia masih merasakan sisa dari petualangan liarnya dari tiga hari lalu. Mungkinkah Silvana juga merasakan hal yang sepertinya? Arthur meringis. Pria itu menyadari bahwa dia sedikit lebih kasar daripada biasanya. Pasti gadis itu sedang menderita sekarang. Memutuskan melupakan bayang-bayang gadis itu dari kepalanya. Arthur mengambil sebatang rokok yang ada disakunya dan meletakan benda itu dimulut.
Tapi walaupun otaknya terus-terusan memintanya untuk berhenti memikirkan kejadian menakjubkan itu, tetap saja Arthur nakal dan mengulang-ulang setiap adegan yang sempat dia lewati bersama dengan Silvana di kepalanya. Bahkan sesekali pria itu selalu merasa tidak percaya dengan apa yang dia telah lakukan. Meski benar apa yang dikatakan Silvana bahwa skandal antara mahasiswi dan dosen bukan hal baru, bahkan sudah menjadi rahasia umum. Kemudian usia Silvana juga sudah legal meskipun memang mereka terpaut cukup jauh. Namun yang namanya skandal tetaplah skandal. Bukankah harusnya dia merasa bersalah sekarang?
Arthur menyalakan rokoknya begitu dia tiba di kawasan khusus untuk merokok. Pria itu mengangkat bahunya dengan rileks sambil menutup kedua matanya rapat-rapat. Pengalamannya bersama Silvana itu sangatlah menyenangkan. Saking menyenangkannya sampai Arthur sangat ingin mengulanginya. Dia tahu bahwa sekarang cara berpikirnya sudah seperti seorang bajingan kelas kakap. Harusnya dia memukul dirinya sendiri karena berani berpikir begitu.
Anehnya, bagian yang menurutnya terbaik dari seluruh adegan panas tersebut adalah ketika mereka terbangun keesokan paginya. Arthur memeluk gadis itu, berbaring bersamanya dan melewati pagi secara kasual seperti dua insan yang telah dipersatukan oleh tali suci pernikahan. Adegan yang menjadi impiannya sudah sejak lama.
__ADS_1
Padahal mereka hanya sarapan bersama, dan menertawakan hal-hal bodoh. Gadis itu sangat lucu dan jenaka, dia memiliki lelucon dan selera humor yang sama dengannya. Meski adegan selanjutnya agak aneh. Sikapnya agak sedikit berubah tiba-tiba saat dia memutuskan untuk meninggalkannya sendiri.
Itu membuat pria itu sekali lagi dibuat bingung. Entah kenapa para perempuan yang akhir-akhir ini dekat dengannya dan telah menghabiskan malam bersamanya selalu memiliki intensi yang memusingkan kepalanya.
Pria itu memutuskan untuk kembali menuju ke parkiran untuk segera pulang. Urusannya di kampus sudah usai. Walaupun pria itu diam-diam berharap dia bisa bertemu dengan Silvana secara kebetulan. Namun hari ini sepertinya tidak mungkin terjadi.
Tapi sebelum pria itu mendekati motornya, tangannya ditarik kesamping. Sebagai seorang yang kerap berurusan dengan hal seperti ini mudah baginya untuk mengetahui siapa pelakunya tanpa perlu melihat. Setidaknya ini bukan ancaman besar untuknya, mulanya dia berpikir begitu.
“Hai, sudah lama kita tidak berbincang,” ujar suara feminim yang kini telah merebut rokok yang ada dibibirnya begitu saja. Arthur sedikit agak menggerutu begitu menyadari bahwa orang yang dia temui sekarang adalah Kelly. Apalagi saat perempuan itu menginjak rokok yang baru saja dia nyalakan dengan sangat mudah tanpa rasa bersalah.
Arthur tidak tahu bagaimana caranya dia harus bereaksi atas hal ini. Terlebih tindakan seenaknya macam ini malah memaksa pria itu mengingat soal Silvana dan tingkah random yang gadis itu lakukan.
Apalagi dia baru sadar bahwa dia dan Kelly sedang tidak berada dalam hubungan baik akhir-akhir ini, dia marah untuk sesuatu yang tidak Arthur mengerti.
Biasanya kalau dia sudah seperti ini Arthur harus menebus seluruh mood buruk yang wanita itu rasakan dengan sebuah **** yang berat dan ganas. Biasanya Arthur akan dengan senang hati menyambutnya dan bahkan membalasnya dengan cara yang lebih dari yang wanita itu inginkan. Hanya saja tidak untuk hari ini…
__ADS_1
Ciuman panas Kelly saja dia tak balas seperti biasanya. Merasa tidak disambut dengan baik, akhirnya wanita itu menyerah. Kelly mundur untuk sekadar mendapati ekspresi penuh dari pria yang tidak memberinya kabar apa-apa selama hampir satu pekan ini. Kelly tentu tidak buta, instingnya sebagai seorang perempuan yakin bahwa pria dihadapannya barangkali telah main serong dengan perempuan lain saat dia memberikan jeda waktu agar pria mendapatkan pelajaran.
Kelly sesungguhnya sering kali mendapati pria itu dekat-dekat dengan seorang mahasiswi, yang memang terkenal dikampus dimana mereka bekerja. Penampilannya yang bak boneka barbie hidup dengan wajah cantik, tentu membuat Kelly yang cemburu dan marah pada Arthur karena pria itu tidak menolak setiap godaan yang gadis itu lancarkan terhadapnya. Itu sebabnya dia kerap kali bersikap agak berbeda pada gadis itu, dan kerap kali menegur cara berpakaiannya.
Tapi sejak tiga hari lalu, Kelly tidak lagi melihat gadis itu berkeliaran disekitar Arthur. Oleh sebab itulah dia bergerak sendiri untuk menguji Arthur. Tapi setelah dia melakukan hal seperti ini, pria itu hanya diam saja? kenapa? Apa ada yang salah? Apa ada yang terlewatkan olehnya?
Apalagi tatapan yang pria itu arahkan padanya sekarang benar-benar membuat Kelly terganggu. Namun tanpa tedeng aling-aling dia langsung mengarah pada resleting celana pria itu. Dia tidak ingin merasa kecewa lebih dari ini.
“Apa yang sedang kau lakukan Kelly? Kita masih di area kampus!” tangan pria itu bahkan menahannya untuk melakukan tindakan selanjutnya. Kelly merasa harga dirinya baru saja dihancurkan oleh Arthur.
“Apa? aku hanya melakukan apa yang biasa kita lakukan,” tekan Kelly tidak terima dengan cara Arthur yang mencoba untuk menghentikannya.
“Aku tidak bisa melakukannya, dan itu berarti kita tidak bisa melakukannya,” balas Arthur. Kepalanya berputar menghindari tatapan Kelly yang kontan menajam saat Arthur menjawab pertanyaan perempuan itu dengan kejujuran.
“Kenapa tidak bisa? aku menginginkannya dan kau juga akan segera menginginkannya. Kita selalu begitu. Kecuali telah terjadi sesuatu.” Kelly setengah merengek, dia berusaha untuk menggapai celana pria itu lagi. Namun Arthur bersikeras untuk tidak membiarkan miliknya disentuh oleh Kelly. Entah mengapa dia cukup tegas kali ini. “Apa karena kau baru saja tidur dengan oranglain? Bukankah hal itu sudah lumrah diantara kita dan hal itu tidak pernah menghentikan kita sebelumnya?"
__ADS_1