
Arthur menatap kedua bola mata biru dari gadis itu, untuk beberapa saat pria itu akhirnya memberikan jawaban berupa gelengan kepala.
“Aku hanya ingin merokok, tapi tiba-tiba saja aku merasa harus pergi kemari. Kau sendiri mau menggunakannya?”
“Tidak, aku kemari karena ingin bertemu denganmu.”
“Jiyya?”
“Dia sudah pergi dengan Sir Joan.”
“Oh begitu.”
Ini benar-benar obrolan yang paling canggung seumur hidupnya. Merasa tidak tahu harus berbuat apa dan mengatakan apa, pada akhirnya Arthur memutuskan untuk pergi dari situasi ini segera. Namun siapa sangka saat pria itu mencapai pintu keluar restoran dia menyadari Silvana sedang membuntutinya.
“Kau meninggalkan temanmu begitu saja, Sir?” komentar Silvana saat mereka kini sudah tepat berada diluar restoran. Jalanan sudah sedikit lebih gelap, dan tidak begitu banyak orang yang melewati tempat ini. Karena posisi restoran yang terbilang tersembunyi dan melewati gang sebelum bisa menemukan jalan raya. “Apa kau memang tipe orang yang tidak memiliki empati? Tapi aku harap kau hanya berpura-pura tidak peduli saja padaku,” sambung gadis itu lagi.
Arthur melihat sekelilingnya, dia menemukan sebuah gang dimana untuk pertama kalinya dia dan Silvana membuat sebuah petualangan panas tak lazim dimuka umum. Pria itu dengan cepat mengambil rokok di saku sebelah kanan celana, kemudian menyalakannya. Dia melirik sedikit kearah Silvana yang mengekor disisinya. Arthur melemparkan senyuman kecil kearah gadis itu ketika dia melakukannya.
“Aku tidak melakukan apa-apa. Kau sendiri yang menghilang dari pandanganku. Bukankah sikapmu sekarang menunjukan seberapa banyak kau merindukanku?” Arthur menyindir gadis itu setelah menghisap nikotin kesukaannya. Mencoba untuk bersantai dan menikmati apa yang benda itu berikan untuk memperbaiki mood-nya.
Silvana terlihat memutar matanya dan kemudian menatap tajam pada Arthur. Tatapan itu terlihat menusuk, membuat Arthur jujur saja sedikit tersentak karenanya. “Harusnya kau juga berkaca pada dirimu sendiri, kata-kata itu lebih cocok untuk dirimu sendiri, Sir,” balasnya keras, dia memang pandai membuat Arthur kelimpungan apalagi saat gadis itu memberikannya sebuah senyuman dengan matanya yang bersinar.
__ADS_1
Sejauh ini interaksi diantara mereka benar-benar baik-baik saja. Dan sangat normal, tidak ada sentuhan dan sebagainya. Hanya saja, Arthur merasa ada yang kurang. Dia merasa kecewa dan hampa saat gadis itu tidak kunjung menyentuhnya seperti biasa.
Kemudian ada keheningan yang cukup panjang diantara mereka berdua. Arthur cukup peka dan sadar bahwa Silvana sejak tadi hanya memperhatikan dirinya yang sibuk menghirup lebih banyak asap dari rokok yang sedang dia nikmati. Menyadari bahwa gadis itu tidak akan angkat bicara akhirnya Arthur mengalah.
“Kenapa Jiyya harus pergi dengan Joan? Mereka memang punya hubungan yang sedekat itu ya?”
Silvana meletakan kedua tangannya dipinggulnya. Ada senyuman jahil tercetak diwajahnya. Setidaknya Arthur lega bahwa gadis itu lebih baik daripada anggapan dia sebelumnya. Arthur sebetulnya sempat khawatir karena Silvana tidak kunjung masuk kelas dan orang-orang bahkan bilang dia tidak masuk kampus selama tiga hari. Jarvis juga tidak mengatakan apa-apa. Arthur takut alasan mengapa dia tidak ke kampus adalah dirinya. Lebih cemas lagi kalau gadis tiba-tiba gadis itu memutuskan untuk keluar. Tapi nampaknya semua kekhawatiran itu tidak benar
terjadi.
“Kenapa kau ingin tahu?” gumamnya. “Ada banyak hal yang kau tidak sadari ya, Sir. Tapi aku mengapresiasi rasa ingin tahumu.” Ada jeda sejenak dan kemudian gadis itu malah menatapnya lekat-lekat. “Memangnya kenapa kalau Jiyya dan Sir Joan dekat? Apa Sir Arthur tertarik padanya? apa aku tidak cukup untukmu, Sir?”
Rasanya darah mengalir dengan sangat tajam keseluruh tubuhnya. Dia tidak mengira akan mendapatkan seperti itu dari Silvana. Tadinya dia hanya ingin mencairkan suasana, tapi dia salah langkah dan semakin membuat situasi diantara mereka kembali memburuk. Sebelum menjawabnya, Arthur terkekeh kecil. Dia tidak boleh kalah oleh mahasiswinya yang cerdik dalam urusan berdebat. “Kau lebih dari cukup untukku Silvana, dan aku yakin bahwa kau juga sudah tau soal itu.”
“Nice to hear that,” gumam gadis itu, anehnya Arthur mendapati nada yang kurang bersemangat dari gadis yang biasanya selalu ceria dalam setiap situasi dalam hidupnya itu.
Arthur hanya menatapnya, tapi tidak ingin berkomentar soal itu dan kembali membuat suasana diantara mereka beratmosfer tidak mengenakan lagi. Meski dia memang penasaran dan bertanya-tanya tentang apa yang baru saja terjadi pada gadis itu.
Arthur malah menghisap rokoknya lagi secara mendalam, dia mengarahkan pandangannya ke langit.
“Jadi kali ini pun kau ditinggal sendirian lagi? Jiyya meninggalkanmu begitu saja begitu?” komentar Arthur, dia berusaha untuk menjaga nada bicaranya tetap santai. “Kalian berdua bahkan belum sempat memesan makanan.”
__ADS_1
Silvana menyilangkan tangan di depan dadanya sambil mengangkat bahu. “Well, aku ini adalah seorang sahabat yang super pengertian. Jadi aku tidak keberatan meskipun ditinggalkan, dan aku juga tidak akan menghentikannya.” Tiba-tiba saja Arthur mendapati adanya senyum licik dari wajah Silvana.
Arthur setengah ingin langsung menyambar dan menciumnya saja. Tapi dia masih punya akal sehat dan pengendalian diri yang kuat dan ketabahan yang cukup tinggi. “Apa maksud perkataanmu itu?”
Sekali lagi Silvana hanya memberikannya sebuah seringai penuh arti yang tersungging pada air mukanya yang semula tidak begitu semangat. Itu setidaknya lebih baik untuk Arthur saksikan. “Sayangnya hanya aku yang tahu pasti tentang itu. Untukmu, kurasa suatu hari nanti kau akan mengerti dan mendapatkan jawabannya sendiri, Sir Arthur.”
Arthur hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil pada tingkah Silvana yang berlagak tahu segalanya. Pria itu kemudian memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Yah, ngomong-ngomong yang ingin aku katakan padamu… uh… apa kau sudah makan sebelumnya? Atau saat ini perutmu benar-benar dalam keadaan kosong? Aku takut kau pulang dalam keadaan kelaparan tentunya.”
Mata Silvana melebar sedikit tapi sejurus kemudian gadis itu melirik kearah tanah yang dia pijak. “Aku belum makan,” akunya. “Dan kau tahu aku hanya makan tadi pagi. Itupun karena Mama yang memaksaku, dan telur orak arik buatannya benar-benar asin sampai aku minum tiga gelas untuk sepiring sarapan.”
Arthur menatap lekat gadis itu. Silvana benar-benar tidak menggodanya dengan perkataan maupun tingkahnya. Dia benar-benar bersikap sangat normal. Apa hanya Arthur yang berharap selama ini? sejak dia tidur dengan gadis ini pikirannya benar-benar tidak bisa tenang.
“Well…”Arthur memulai lagi, dia benar-benar kikuk bahkan sebelum berhasil mengatakannya. “Aku tadinya ingin
membelikanmu makanan, tapi kalau misalkan kau tidak ingin aku tidak memaksakamu untuk—”
“Kau ingin mengajakku makan malam, Sir?” Tiba-tiba Silvana menginterupsi perkataan pria itu. Dia meletakan kedua tangannya dibelakang punggung, bahunya bergerak naik turun dengan cara genit seperti yang biasa Arthur dapati dari Silvana “Seperti… kencan ekslusif dengan malam panas dan sebagainya?”
Rokok Arthur hampir jatuh dari mulutnya. Untung saja pria itu bisa menahannya. Dia segera meraih rokoknya dengan tangan. “Eh.. um… aku…”
__ADS_1
“Bercanda!” Silvana terkikik dan kemudian menunjuk tepat ke wajah Arthur. “Kau sangat mudah tersipu dan salah tingkah ya, Sir.” Meskipun nyatanya Arthur tidak sendiri sebab gadis itu juga sama merah jambunya dengan dia sekarang. Bedanya gadis itu pandai menyembunyikan emosinya dengan baik meskipun tetap saja keluar dari
wajahnya. “Ayo Sir, aku lapar. Aku mau makan malam bersamamu.”