Honey Trouble

Honey Trouble
Pengharapan?


__ADS_3

Jiyya pikir keheningan akan membunuh suasana tapi nyatanya tidak. Dia malah mendapati Sir Joan menatap sembari mengelus pipinya dengan sangat lembut. Apakah orang yang berada di depan Jiyya saat ini betulan Sir Joan yang tempo hari menyentuhnya dengan cara yang liar? Pria yang sama yang pernah mengutarakan perkataan nakal terhadapnya? Benarkah ini adalah Sir Joan yang itu?


“Kupikir karena apa yang sudah terjadi diantara kita.”


Jiyya mencoba untuk menutup pembicaraan ini sebisanya. Topik ini hanya membuat dirinya canggung sekaligus membuka luka lamanya. Selain itu jantungnya sekarang berdebar dengan keras tak bisa dikompromi. Jiyya takut Sir Joan akan mendengarnya, mengingat jarak mereka yang cukup dekat saat ini.


Sir Joan tertawa. “Bukankah kamu sendiri yang membuat saya jadi penasaran sampai bergerak lebih dahulu padamu?”


Ah iya, Jiyya benar. Kenapa pula dia membuat situasi ini semakin pelik, kenapa dia masih mengingat masa kelam itu dengan benar? Jiyya jadi malu sendiri karena tingkah polahnya dimasa lalu. Akibatnya dia jadi sedikit kelabakan dan panik.


Sir Joan terkekeh lagi. “Jiyya selalu terlihat lucu kalau sedang panik,” katanya dengan sangat ringan.


Jiyya berdehem dan menegakan kepalanya, lalu mulai memiliki keberanian untuk mendorong bahu pria itu menjauh darinya.


“Apa hal itu menjadi sebuah penghiburan bagimu? Sir Joan nampak berada dalam mood yang bagus sekarang.”


“Kurasa begitu.” Lelaki itu menganggukan kepalanya. “Akan lebih baik bila kamu menjadi permaisuri saya.”

__ADS_1


Jiyya kontan terkesiap. Hal itu tidak pernah ada didalam pikirannya sama sekali, atau cara pria itu mengatakan hal sekonyol itu terhadapnya membuat Jiyya terkejut. Apa dia sedang mencoba untuk membuat sebuah drama disini?


“Saya tidak cocok dengan peran seperti itu.” Jiyya berkata pelan, sambil secara perlahan mulai menapakan kakinya keluar dari mobil sang dosen muda. Dia baru ingat hal yang harusnya sejak tadi dia lakukan.


“Kenapa tidak?”


“Karena saya tidak cantik seperti seorang permaisuri yang ada dibuku dongeng maupun di realita hidup kita.”


Jiyya sebenarnya hanya berkata asal, namun tentu saja alasan itu cukup masuk akal dan bisa diterima oleh akalnya. Permaisuri itu sosok yang selalu identik dengan kecantikan, mulus, anggun, memiliki rambut panjang, pakaian yang bagus, berkharisma, memiliki kebijaksanaan, dan terakhir bisa membuat oranglain berdebar-debar hanya karena dapat berjumpa dengannya. Anggapan itulah yang Jiyya yakini soal eksistensi permaisuri dan dari semua itu Jiyya merasa tidak memenuhinya sama sekali.


Namun, Joan berang bukan main mendengar alibi Jiyya. Bisa-bisanya gadis ini mengatakan padanya sebuah omong kosong seperti itu. Jiyya jelas-jelas sempurna di mata Joan. Bahkan bila Joan cukup rajin, dia bisa menulis citra seorang Jiyya dalam sebuah buku tebal bila gadis itu tidak puas hanya dengan satu kata yang Joan telah sematkan untuknya. Joan akan membeberkan secara detail tentang betapa mengagumkannya sosok Jiyya.


“Apa menurutmu seorang permaisuri haruslah cantik?” Joan akhirnya bertanya.


Jiyya mengetukan jemarinya di pintu mobil Sir Joan. Dia harus berpikir sedikit lebih mengerucut untuk membuat Sir Joan puas dan melepaskannya.


Joan sendiri malah terhibur melihat sisi Jiyya yang lainnya mala mini. Dia cukup senang, entah karena hari ini dia bisa berduaan dengan gadis itu. Atau karena dia telah mengucapkan sesuatu yang dia pertahankan dibenaknya setelah sekian lama.

__ADS_1


“Minimal harus secantik Silvana,” kata Jiyya kembali membuat atensi Sir Joan kembali padanya. “Dia cantik, ceria, dan semua orang suka padanya. Dia bisa memenuhi standarisasi itu.” Untuk segi fisik mungkin iya, Silvana cocok untuk itu. Namun bila soal kepribadian sepertinya tidak. Jiyya membatin. Bagaimana jadinya sebuah kerajaan bila dipimpin oleh seorang permaisuri macam Silvana. Apa tidak hancur? Diam-diam Jiyya jadi ingin tertawa sendiri membayangkannya. Tapi kan orang cenderung melihat fisik terlebih dahulu sebelum menilai kepribadian bukan? Itu sebuah kenyataan. Kejam atau tidak memang begitulah hukum alamnya.


Jiyya bukan berarti menganggap bahwa Silvana adalah seorang gadis yang buruk. Tidak, bagaimanapun mereka telah bersahabat sejak lama. Jiyya tentu tahu luar dalamnya. Namun sejak bersamanya, Jiyya paham bahwa orang akan memandang penampilan terlebih dahulu. Meski memang terkadang gadis itu menyesatkannya dalam beberapa hal, namun hidup Jiyya jadi lebih berwarna dari apapun.


Tiba-tiba Jiyya mendengar Sir Joan tertawa. Jiyya menatapnya dengan sangat heran. Apakah Jiyya baru saja mengatakan sesuatu yang lucu? Silvana kan memang sudah jelas punya bagian-bagian yang Jiyya tidak miliki. Silvana itu seperti perwujudan atas dewi karena dia bisa memikat oranglain tanpa bicara lebih dulu dengannya.


“Dari yang kudengar katanya sejak kecil kamu itu suka membaca dongeng, dan sangat mengagumi seorang Permaisuri. Lantas kenapa ketika saya tawari menjadi permaisuri, kamu malah tidak mau?”


“Hanya tidak ingin saja.”


Dan dengan itu Jiyya berbalik, menutup pintu mobil sang dosen yang telah membawanya dalam sebuah percakapan absurd. Jiyya tahu bahwa mungkin perkataannya terdengar dingin. Tapi sungguh, kenyataan bahwa saat ini dia tidak ingin adalah hal fakta. Dia tidak berbohong.


Tapi tak lama setelah Jiyya meninggalkan mobil Sir Joan. Gadis itu merasakan tangan Sir Joan di pergelangan tangannya sendiri. Dia mengerjarnya? Untuk apa?


Joan seketika menyesali pilihan yang diambilnya. Dia tidak habis pikir langsung keluar dari mobilnya untuk kemudian mencegatnya dengan cara seperti ini untuk mendapatkan perhatian dari gadis itu. Joan akan mengutuk hal ini seumur hidupnya, namun pria itu sangat tidak tahan untuk membiarkan sesuatu diantara mereka berakhir begitu saja. Dia ingin sekali memeluk Jiyya sekarang juga, demi apapun.


Dan itulah yang dilakukan Joan, dengan sekali sentakan pria itu membuat Jiyya berbalik kembali. Dia berhasil merangkul gadis itu dalam sebuah pelukan erat. Sang gadis kontan terkejut bukan main merasakan kekuatan yang Joan salurkan demi untuk menariknya dan sekarang dia berhasil berada dalam pelukan pria itu.

__ADS_1


Keduanya seketika terbius akan wangi satu sama lain yang sangat mereka kenal dan barangkali diam-diam sudah berada dalam tahap saling menyukai satu sama lain. Jiyya tadinya ingin mangkir, namun yang terjadi justru gadis itu malah meneteskan air mata tanpa suara. Disisi lain, Joan bisa merasakan bahunya dadanya terasa basah. Hati Joan mencelos dibuatnya.


Mengapa gadis ini harus menangis? Joan ingin tahu, sampai matipun dia sangat ingin tahu. Apakah karena gadis itu sempat memberinya penolakan lalu dia menyesal? Ataukah dalam situasi ini bisakah Joan memiliki sedikit pengharapan?


__ADS_2