
“Tidak! apa yang kau katakan? Kau tidak perlu berbuat sesuatu yang merugikan masa depanmu!”
“Kalau begitu, maukah kau tidur denganku? Sekali saja, Sir. Setelah itu aku berjanji tidak akan mengganggumu.
Bagaimana?”
Arthur bungkam seketika. Matanya melotot tidak percaya. Ini adalah kali pertama seorang gadis muda yang bersatus sebagai mahasiswinya sendiri berani mengatakan hal se-frontal itu terhadapnya. Arthur memang pernah menghabiskan waktu dengan gadis muda sebelumnya, tapi tentu saja pria itu bukan tipe pria seperti Joan yang tidak masalah melakukannya dengan siapapun. Arthur tipe yang lebih suka menjaga kehidupan pribadinya dengan tidak melibatkan orang yang dia kenal untuk sebuah hubungan satu malam.
Meski jujur, penawaran dari Silvana mengundangnya untuk berkata ‘Ya’ tanpa berpikir, tapi tetap saja beresiko. Dia berbahaya. Terakhir kali mereka melakukannya sampai tahap itu saja, Arthur sampai sulit berkonsentrasi dan susah tidur. Apalagi kalau mereka betulan melakukannya kan?
“Kenapa kau sangat terobsesi denganku?” Arthur berujar dengan nada lemah. Dia merasa heran karena baru kali ini ada seseorang yang menaruh perhatian padanya seberlebihan ini. Apa Arthur terlalusantai pada semua orang sampai dia semudah ini didekati?
“Karena kau adalah pria yang menarik perhatianku sejak aku memulai study-ku dikampus.” Silvana mengatakannya dengan tegas nan lugas. Arthur juga tidak menemukan adanya indikasi kebohongan sama sekali.
Diam-diam pria itu merasa tersipu atas pengakuan terang-terangan dari si gadis. Apa pula perasaan ini? sungguh kekanakan sampai dia perlu mendapatkan validasi dari Silvana dengan cara seperti ini.
“Aku benar-benar jadi salut pada Jiyya. Dia benar-benar bermental baja karena bisa bertahan berteman denganmu,” keluhnya sambil berdecak, berusaha menutupi rasa gugup dan debaran aneh di jantungnya. Arthur, jangan tergoda dia hanya gadis kemarin sore yang hobby menggoda pria. Sekali lagi pria itu menyimpan kata-kata penawar agar isi kepalanya tidak lagi menghianatinya.
“Sebentar lagi kau juga akan terbiasa dengan sisiku yang ini, Sir. Jadi bagaimana? Penawaranku masih berlaku. Kau bisa pegang janjiku Sir. Untuk yang pertama dan terakhir. Tidak lebih.” Arthur meneguk salivanya ketika Silvana nampak super serius dengan perkataannya.
“Kau benar-benar tidak akan melakukan hal bodoh ini lagi?” tanya Arthur, pria itu tidak bisa untuk tidak menyuarakan keputus-asaannya. Dia bingung bagaimana cara yang tepat untuk memberikan pengertian pada Silvana.
“Aku bisa menjaminnya, Sir," balas SIlvana yakin.
“Baiklah, kita lakukan. Tapi setelah itu kau harus menjadi lebih baik lagi, dan jangan pernah lakukan hal serupa pada orang lain,” ujar Arthur. Sesaat dia menutup mulutnya sendiri lantaran mengatakan hal yang ambigu.
__ADS_1
Maksudnya apa barusan dia melarang Silvana mendekati pria lain dengan cara yang sama?
Dia tahu bahwa ini pilhan yang salah, namun kalau memang benar dengan itu dia tidak akan mengganggunya dan menyerah mendekatinya lagi seperti ini. Mungkin itu bukan solusi yang buruk. Sebab menghindar juga percuma, karena gadis itu selalu saja memiliki cara menemukannya.
“Aku rajin mengikuti kelasmu, Sir. Akan kuingatkan bila kau lupa.”
“Tapi kau melakukannya bukan untuk tujuan yang sama dengan anak-anak lainnya.”
“Yang penting aku punya motivasi menjadi mahasiswi teladan dikelasmu kan?”
“Kau benar-benar tidak bisa ditebak.”
“Ya, itu keahlianku. Jadi mau melakukannya dimana? Di mobil? di rumahmu? Karena dirumahku mustahil.”
“Aww… aku jadi tidak sabar. Aku suka kejutan.”
Arthur tidak menjawab, dia membiarkan Silvana berceloteh sepanjang jalan. Sementara dia sendiri sedang memikirkan kerumitan dikepalanya. Kemana baiknya dia membawa gadis muda ini bersamanya? Dia tidak pernah berpikir soal lokasi biasanya. Arthur bisa melakukannya dimana saja, termasuk di gang sempit seperti yang pernah dia lakukan dengan Silvana dan perempuan lain.
Namun, dengan tipe gadis seperti Silvana, dia takut akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri bila sembarangan melakukannya ditempat antah berantah.
Akhirnya setelah berputar-putar dengan mobilnya, pria itu memilih sebuah hotel cinta yang agak mewah. Arthur sengaja membawa Silvana agak jauh dari lingkungan mereka. Arthur tahu bahwa tindakannya sekarang bisa dibilang sebagai sebuah langkah paling ber-effort tinggi yang pernah dia lakukan untuk seorang perempuan.
Silvana menjerit kecil ketika menyadari kemana Arthur membawanya. “Serius kita akan melakukannya disini? wow… aku tidak tahu kalau kau orang yang cukup murah hati dan royal, Sir. Kalau begini aku jadi takut jatuh cinta betulan padamu,” komentar gadis itu begitu mereka keluar dari mobil.
Arthur tidak menjawab. Pria itu benar-benar sedang sibuk dengan isi kepalanya sekarang.
__ADS_1
“Sir Arthur, ada apa? apa sekarang kau jadi merasa ragu?”
“Sebenarnya iya. Aku merasa baru saja melanggar moralitasku sebagai seorang dosen.”
“Aku tidak paham mengapa kau sangat sulit tentang ini. Maksudku, kau pasti tahu bahwa yang melakukan hal ini tidak hanya kau saja. Itu sudah menjadi rahasia umum dikampus kita, Sir.”
Ya, itu benar. Silvana tahu bahwa ada pula beberapa teman sejawatnya yang melakukan hal ini untuk mendapatkan nilai yang tinggi atau sekadar minta diluluskan dalam setiap sesi ujian. Tapi Silvana tidak seperti itu, untuk urusan ranjang dia sangat selektif dan tidak sembarangan. Selain untuk kesenangan dia juga harus memastikan pria yang dia ajak tidur cukup enak untuk dipandang.
“Ya, aku memang bukan pemilih soal perempuan. Tapi di usiaku sekarang rasanya tidak benar saja bila aku hanya bersenang-senang.”
“Oh... Ayolah, aku tahu kau tidak sesuci itu. Aku pernah melihatmu bermain dengan seorang perempuan dimuka umum. umm… di gang sempit dekat bar tengah malam.” Silvana menaruh jarinya di dagunya sendiri ekspresi yang dia perlihatkan sangatlah polos. Berbanding terbalik dengan topik yang dia bicarakan.
“A—apa kau bilang?”
“Aku melihatnya loh, kau terlihat sangat jantan saat itu, perempuan yang kau layani juga terlihat puas. Kalau
boleh jujur, karena itulah aku jadi penasaran padamu.” Arthur kontan kaget mendengarnya.
Dia tidak menduga bahwa perbuatan laknatnya saat itu diketahui oleh orang yang dia kenal. Bahkan orang yang melihatnya berdiri didepannya dengan senyuman tanpa dosa. Melakukannya saat mabuk benar-benar bukan pilihan yang bagus untuknya. Pria itu mengumpat.
“Itu tidak seperti kelihatannya. Saat itu aku—”
“Kau tidak perlu menjelaskannya padaku. Intinya aku melihat kalian dan aku tertarik untuk mencobanya denganmu sekarang. Jadi bagaimana Sir Arthur? Apakah kita akan masuk kedalam sekarang atau kau lebih suka aku menyebarkan isu tentang ini di kampus?”
“Kau benar-benar gadis yang licik, Silvana.”
__ADS_1