
Dua tahun kemudian…
“Jadi, katakan apa alasanmu kemari?” Sang Ayah menjadi perisai yang cukup kuat untuk menghadang kedatangan Arthur ke kediaman mereka malam itu. Pria dewasa itu nampak memberikan tatapan tajam andalannya, namun untung saja kekasihnya tidak bisa digertak hanya dengan tatapan itu.
“Saya ingin melamar Silvana,” ujar Arthur dengan tutur kata yang di penuhi oleh keyakinan dan kepercayaan diri yang tingginya selangit. Ini mungkin kalimat yang paling Silvana tunggu setelah hubungan mereka yang berlangsung lebih dari dua tahun. Gadis itu sudah menyelesaikan study-nya dan mereka tidak lagi berada dalam sebuah lingkungan yang sama. Ini adalah bentuk komitmen atas hubungan mereka juga.
“Silvana….” Panggil sang ayah terhadap gadis itu, pandangannya cukup serius pada Silvana kala itu. “Kau sudah tahu soal ini?”
“Ya.”
“Kenapa kau tidak mendiskusikannya lebih dulu dengan kami?” sang ayah kembali bertanya dengan nada yang tinggi kepada putrinya. Bukannya pria itu tidak senang dengan hubungan mereka berdua. Dia juga sudah tahu sejak pertama kali Arthur datang ke kediaman mereka dan seberapa menyukainya Silvana pada mantan dosennya itu. Hanya saja dalam hal ini dia merasa kurang di hargai sebagai seorang ayah yang harusnya lebih tahu apapun tentang putrinya. Selain itu, sebagai putri semata wayangnya Silvana harusnya paham bahwa sebelum memutuskan hubungan yang lebih serius dia berkewajiban untuk memberitahu ayahnya terlebih dahulu dan mendapatkan persetujuan darinya.
Silvana yang kala itu duduk di samping Arthur sedikit terlonjak ketika mendengar ujaran dari sang ayah. Sudah lama sekali dia tidak mendengar kemarahan pria yang merupakan cinta pertamanya di rumah ini. Tapi dia tidak bisa menyalahkan karena Silvana memang belum mendiskusikan apapun terhadap orang tuanya. Terus terang meski dia senang Arthur datang seperti ini ke rumahnya dengan nyali. Silvana juga tidak tahu menahu bahwa pria ini akan
datang secepat ini untuk meminta izin kepada sang ayah untuk meminang dirinya.
“Maafkan aku ayah, aku sedikit takut ayah tidak menyetujui hubungan ini jika aku mendiskusikannya lebih dahulu.” Pernyataan itu tidak berdasarkan kebohongan. Silvana hanya menilai kemungkinan terburuk itu dari tingkah laku ayahnya saat pertama kali bertemu dengan Arthur yang waktu itu hanya punya niatan untuk menjenguk dirinya yang sakit.
Pria yang paling dewasa di ruangan tersebut hanya diam mendengar penuturan dari gadis tercintanya. Dia cukup tahu bahwa sebagai seorang ayah dia memang terbilang gagal. Semua tindakannya dahulu yang dia pikir akan menjadikan Silvana sebagai seorang yang baik nyatanya tidak berhasil. Dia kerap kali mendengar bahwa putrinya sangat liar dan tidak terkendali saat dia dahulu sibuk bekerja di luar kota. Istrinya juga kewalahan dengan kenakalan putri mereka.
Tapi sejak dia mengenalkan Arthur pada mereka, sedikit demi sedikit dia melihat adanya perubahan ke arah yang lebih baik dari Silvana. Dia menjadi mahasiswi yang waras dan mengejar nilainya yang dulu tidak pernah menjadi perhatian utama. Dia juga tidak pernah lagi keluar bersama pria-pria asing di tengah malam dan pulang keesokan paginya. Mau tidak mau dia harus mengakui bahwa Arthur membawa perubahan positif ke dalam kehidupan putrinya. Pertimbangan itulah yang menjadi dasar, dan membuat pria itu akhirnya mau buka suara.
“Silvana, Arthur, sejujurnya tidak ada alasan bagiku untuk melarang dan menentang hubungan kalian,” ucap pria itu dengan pelan.
Baik Silvana maupun Arthur keduanya sama-sama tertegun dengan sikap pria itu terhadap mereka. Tidak ada satupun yang menyangka bahwa mereka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Arthur sendiri bahkan sejak memberitahukan Silvana bahwa dia hendak melamarnya selalu berlatih menyusun kata-kata terbaik untuk meluluhkan pria itu jika dia menentang mereka. Tapi setelah mendengar hal ini, dosen tampan itu hanya bisa menatap lekat-lekat pada pria yang duduk diseberangnya. Bukankah ini terlalu mudah?
“Silvana, aku sangat menyadari bahwa kau mengalami banyak perubahan positif dalam hidupmu sejak kau berani memperkenalkan Arthur padaku. Ibumu juga mengatakan bahwa kau tidak lagi melakukan hal-hal bodoh dan fokus
pada study-mu dan sekarang setelah kau lulus kau juga mendapatkan pekerjaan yang bagus. Kau jadi bisa menggali potensi terbaik di dalam dirimu berkat bantuan dia, sedangkan aku hanya selalu membentakmu, melarangmu, dan bahkan mengabaikanmu saat aku putus asa menjadikanmu seseorang yang lebih baik. Sebagai seorang ayah, aku telah gagal. Maafkan aku Silvana.”
Silvana kali ini dibuat benar-benar terkejut atas perkataan ayahnya sendiri. Dia benar-benar tidak mengira bahwa pria keras kepala itu akan menundukan kepala demi meminta maaf padanya.
“Ayah, tidak ada hal yang perlu dimaafkan dari ayah. Lagipula, ayah melakukan itu juga karena ayah ingin aku menjadi anak yang baik. Aku sadar bahwa alasan atas kemarahan ayah itu karena ulahku sendiri. Akulah yang harus meminta maaf karena telah menyusahkan ayah dan ibu selama ini,”balas Silvana dengan tulus.
Sang ayah langsung tertegun begitu mendapati penuturan putrinya. Kemudian pria itu melirik kearah Arthur. Menatap pria yang ingin meminang putrinya dengan sangat serius.
“Arthur, kau adalah pria yang telah berhasil mengubah putriku Silvana. Kau telah membuat putriku menjadi lebih bijaksana dan membuatnya bisa memintal masa depannya dengan baik. Nah, Arthur aku menyetujui hubunganmu dengan putri semata wayangku.” Pria itu mengakhiri kata-katanya dengan seulas senyum tipis yang amat jarang dia perlihatkan. Sementara Arthur tidak kuasa menahan rasa penuh kelegaan begitu mendapatkan persetujuan. Namun
sebelum dia ber-euphoria, pria itu menahannya lebih dulu.
Kepala pemuda itu langsung tertunduk, ekspresi lega serta rasa syukur langsung terlihat jelas di mukanya. Silvana juga sama persis dengan pasangannya, dia sangat senang mendengar ayahnya mau mengalah dan memberikan
restu terhadap hubungan mereka.
“Terima kasih banyak karena telah menerima saya. Tapi masih ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan,” ucap Arthur dengan serius.
“Apa itu?”
“Saya ingin melangsungkan pernikahan dengan putri anda bulan depan.” Arthur berkata dengan penuh
hormat kepada calon ayah mertuanya.
“Kenapa harus secepat itu? aku memang tahu bahwa kalian sudah menjalani hubungan ini lebih dari dua tahun. Tapi bagiku tetap saja ini terlalu cepat.”
__ADS_1
“Ayah, menjadi istri dari Arthur juga adalah impianku sejak lama. Aku akan sangat bahagia bila bisa dipersatukan dengannya dalam sebuah ikatan pernikahan yang sah,” timpal Silvana.
“Saya mohon izinkan saya untuk menikahi Silvana, bulan depan.”
“Apa yang sedang kalian berdua sembunyikan dariku?” Anggap saja ini adalah sebuah kecurigaan dari seorang ayah yang melihat gelagat aneh dari kedua insan dihadapannya. Pria itu memicingkan matanya.
Baik Arthur maupun Silvana langsung meneguk saliva mereka sendiri begitu memahami makna atas memicingnya kedua mata pria yang memutuskan soal keberlangsungan masa depan mereka.
“Ayah sebenarnya—”
“Silvana biar aku saja,” potong Arthur cepat. Sebagai seorang pria yang gentleman dan bertanggung jawab dia harus sanggup mengatakan segalanya pada pria yang akan menjadi ayah mertuanya itu. Tidak peduli apapun yang terjadi. Meski Arthur mengakui bahwa kini nyalinya agak sedikit ciut.
“Jadi?”
“Sebetulnya, saat ini Silvana tengah mengandung anak saya,”ujar Arthur tegas.
Bagai di sambar petir, sang ayah langsung shock mendengar penuturan yang diucapkan oleh Arthur dengan penuh keberanian. Untuk sesaat hanya keheningan yang menyelimuti ruangan itu. Tidak ada diantara mereka bertiga yang berani buka suara untuk sementara waktu. Sementara kedua pasangan tersebut hanya sanggup menatap ke bawah. Menanti hujatan yang akan mereka terima dari pria itu.
Tiba-tiba meja yang menjadi penengah diantara mereka bergeser, disusul dengan derap langkah yang mendekati mereka berdua. Silvana langsung terkejut saat mendapati sang ayah sedang mencengkram kemeja yang Arthur
kenakan.
“Keparat!” geram ayah Silvana. “Apa yang baru saja kau katakan? Kau berani menyentuhnya saat kau belum menikahinya?!” bentak pria itu lagi dengan kalap. Menyadari bahwa ayahnya akan menghajar Arthur, Silvana
kontan segera mencoba untuk memisahkan keduanya.
“Ayah kumohon jangan begini! Jangan sakiti Arthur. Ini bukan hanya karena kesalahannya. Ini karena kesalahanku juga. Jika ayah memang ingin menghukum dia, maka hukum aku juga karena aku ikut bersalah dalam hal ini.”
“Mana mungkin aku melakukannya padamu Silvana? Kau sedang hamil! Bagaimana bisa kau melakukan ini pada Ayah, Nak?” teriak pria itu kepada putri semata wayangnya.
mengeraskan suaranya. Air matanya tumpah ruah.
Melihat putrinya menangis, hati pria itu melunak. Tinju yang telah terkepal seketika langsung bercerai berai. Dia juga melepaskan Arthur dari jeratan tangannya. Pria itu berpaling muka, kemudian memilih untuk berbalik dan meninggalkan mereka berdua.
“Aku sangat senang ketika kau sudah berubah Silvana. Tapi fakta ini benar-benar menyakitiku. Aku benar-benar telah menjadi seorang ayah yang gagal. Kau mengecewakan aku dan juga Ibumu. Lakukan semaumu, aku tidak mau peduli apapun lagi,” ujar pria itu yang kemudian benar-benar meninggalkan mereka berdua.
“Maafkan aku Arthur. Gara-gara aku yang kecolongan, kau hampir dihajar Ayah.” Silvana tertunduk sambil meneteskan air matanya. Melihat hal itu, Arthur hanya mengusap pelan puncak kepala kekasihnya dengan penuh
sayang.
“Sudahlah, yang penting ayahmu sudah memberikan kita izin. Lagipula aku memang ingin menikahimu, mau kau hamil atau tidak. Hanya saja sayang sekali situasi kita tidak begitu bagus ketika akhirnya aku memutuskan untuk meminta restu dari ayahmu. Daripada kau menangis sebaiknya kita mulai menyusun pernikahan kita. Aku tidak sabar melihatmu mengenakan gaun putih,” balas Arthur seraya mengecup dahi kekasihnya. Optimisme pria itu cukup menular pada Silvana, sebab di detik berikutnya gadis itu sudah berhenti menangis lagi. Dia memberikan senyumannya kepada sang kekasih.
“Ya, ayo kita hadapi ini bersama.”
***
“Aku tidak mau tahu pokoknya kau harus datang. Ah~ iya tunggu dulu! aku sedang bicara dengan Jiyya ini. Nah Jiyya pokoknya aku ingin melihatmu di hari pernikahanmu. Tidak ada penolakan oke? Bye. Aku menunggu
sahabatku tersayang.”Jiyya hanya tersenyum. Dia sebetulnya telah berada di lokasi tempat sahabatnya itu menikah. Dia hanya ingin mengerjai Silvana sekali dan ingin paling tidak itu cukup berhasil. Dia melihat gadis itu celinguk mencari keberadaannya, Silvana terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih serta make up tipis yang membuat dia terlihat mempesona.
Kemeriahan acara pesta membuatku sedikit merasa kesepian, memang dia ditemani oleh Dean tadi. Hanya saja Jiyya meminta pemuda itu untuk menjauh darinya sementara. Setelah mendapatkan kabar mengenai acara pernikahan ini, Jiyya tidak merasakan apa-apa. Tapi setelah melihat sendiri prosesinya, ada rasa sedikit tidak percaya bahwa hubungan antara Silvana dan dosen mereka rupanya bisa sampai ke tahap seserius itu. Sedangkan Jiyya sendiri?
“Kau selalu menyendiri di tempat keramaian. Kebiasaanmu yang satu itu tidak pernah berubah ya Jiyya?” Mendengar suara baritone seorang pria yang amat Jiyya kenali memaksa gadis itu untuk berpaling. Benar saja dugaannya, dia…
__ADS_1
“Halo, Sir Joan.”
“Lama tidak berjumpa, Jiyya.” Desiran di jantungnya masih terasa. Padahal pria itu hanya menyebut namanya saja. Namun debaran yang menyelubungi hati itu kemudian mencelos saat melihat seorang gadis cilik yang digendong oleh Joan. Usianya mungkin belum genap satu tahun. Dia terlihat sangat manis. “Bagaimana kabarmu?” tanya Joan.
“Baik, kurasa.”
“Itu melegakan.”
Jiyya menatap lama kearah gadis cilik yang di gendong oleh Joan. “Putrimu?”
“Ya.”
“Senang melihatnya, dia tampak sangat lucu.”
“Benar sekali karena saya juga adalah ayah yang tampan.”
Jeda beberapa saat sampai kemudian Jiyya menatap kearah Joan.
“Siapa ibunya?”
“Coba tebak.”
“Maria?”
“Tepat.”
“Selamat atas pernikahan kalian dan juga untuk putri kecilmu. Saya tidak tahu kalau kau sudah menikah.” Joan hanya tersenyum simpul.
“Saya juga tidak.”
“Saya senang hidup berjalan dengan lancar.”
“Kamu pikir begitu?”
“Kurasa.”
“Bagaimana denganmu kamu sudah menikah?” Joan bertanya, kemudian Jiyya hanya memperlihatkan jemarinya yang telah di lingkari oleh cincin perak tanpa harus mengatakan jawabannya. Melihat itu, Joan menghela napas kemudian tersenyum simpul.
“Sampai akhir kamu tidak membiarkan saya memiliki hatimu. Oh ya Jiyya, jika saat itu kamu tidak pergi dan menerima saya. Mungkin saja akhir cerita ini bisa jadi lebih baik. Kita bisa menikah dengan pesta yang lebih meriah dari ini.” Joan mengujar dengan kekehan.
“Itu kan hanya dugaanmu.”
“Tidak, itu hanya imajinasi saya. Sejujurnya saya iri dengan hubungan kawanmu dan patner kerja saya. Mereka tangguh.”
“Ya, sedangkan saya sangat lemah.”
“Tidak. Bukan hanya kamu saja. Tapi saya juga.”
“Ini pernikahan sahabat saya, bukankah harusnya kita ikut bersenang-senang?”
“Ya, ini juga pernikahan teman saya. Kurasa aku setuju dengan idemu.”
“Masa lalu akan tetap jadi masa lalu.”
__ADS_1
“Saya setuju.”
Tamat