
“Sir Joan, kau pikir apa yang sedang kau lakukan?!”
“Hm?” Tanpa rasa bersalah Joan memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Jiyya yang sejak beberapa saat lalu mencoba berontak dan melarikan diri darinya.
Saat ini Sir Joan dan Jiyya sudah keluar dari restoran dan sesekali adu mulut sepanjang jalan. Herannya walaupun Jiyya telah melakukan banyak hal yang memungkinkan agar dia bisa lepas dari pria itu tetap saja semuanya sia-sia. Padahal dia berharap ada seseorang yang bisa menolongnya dari pria ini. Bukankah perbuatan Sir Joan ini bisa dilaporkan sebagai sebuah perbuatan yang tidak menyenangkan. Jiyya khawatir dia akan dibawa kesuatu tempat dan mereka berdua akan berada dalam posisi berbahaya lagi yang mana Jiyya tidak mau mengulangi kesalahan yang hampir merenggut prinsip hidupnya sebagai seorang wanita konservatif ditengah gempuran open minded.
Namun berbeda dengan apa yang ada dipikiran Joan. Pria itu sebenarnya tidak merencanakan apapun di kepalanya. Dia tidak benar-benar tahu kemana arah tujuannya secara khusus. Sejujurnya ini adalah tindakan yang dia ambil secara refleks tanpa mempertimbangkan bagaimana efeknya. Apalagi saat dia menggandeng tangan Jiyya saat mereka di restoran, gadis ini sama berontaknya seperti sekarang.
Dia tidak bisa melepaskannya, meskipun Jiyya meronta sekalipun. Joan hanya sedang merealisasikan dorongan yang kuat untuk bersama dengannya. Berdua saja.
Joan sempat merasa kasihan pada Ronald selaku orang yang mengajak dia dan Arthur untuk bertemu, dan kemudian meninggalkannya begitu saja. Terlebih pada Arthur yang harus dengan terpaksa dia tinggalkan bersama ocehan Ronald. Tapi setidaknya, ada Silvana disana jadi Joan rasa pria itu pasti jauh lebih senang sebab Joan memberinya waktu.
Jiyya menatap Joan lekat-lekat. Ekspresi tegas tergambar jelas pada wajahnya yang manis. “Bukan hanya ‘hm’ tapi lepaskan saya. Kau benar-benar pria keji, Sir Joan!” serunya.
“Hmm…” Joan menatapnya selama beberapa detik sebelum mengalihkan pandangannya kearah langit yang gelap. “Saya rasa begitu.”
Jiyya menatapnya untuk beberapa saat, matanya terbelalak lebar. Dia terlihat ngeri dengan respon yang didapatnya dari Joan. “Sir Joan!” dia berteriak lagi. “Ini hal yang mengerikan untuk dilakukan!”
Joan melambaikan tangannya dengan riang, dia tidak menganggap ujaran Jiyya sebagai sesuatu yang serius. Terlebih dia memang tidak punya intensi untuk melakukan hal kriminal sejak awal. Hanya saja ini adalah sebuah langkah antisipasi bila mahasiswi manis favoritnya ini kabur darinya.
“Saya tidak akan melakukan hal ini jika sejak awal kamu tidak mengelak dari saya. Lagipula kamu sendiri kan yang menggoda saya, Jiyya?” Joan kemudian mendekatkan dirinya, sebelah tangannya yang bebas mengelus puncak kepala Jiyya dengan sangat ringan. “Dan bagaimana bisa kamu mengharapkan saya tidak berbuat apa-apa saat kamu menyodorkan dirimu sendiri pada saya? Karena kamu mencoba untuk kabur dari saya, apa boleh buat saya harus memegangi kamu.”
__ADS_1
Kedua mata Jiyya membulat. Kini percobaannya untuk kabur terlihat melemah. Joan melakukan hal yang benar sepertinya.
“Sir Joan, saya tahu saya bersalah dimasa lalu. Tapi tolong lupakan saja ketidakwarasan saya. Mari kembali berhubungan secara wajar layaknya mahasiswi dan dosen. Kamu juga harus kembali, bukankah tadi kamu sedang makan di restoran?” Jiyya kali ini terdengar seperti mencoba untuk membujuknya. Wajahnya terlihat memerah,
antara sedang merasa malu karena tingkah lakunya sendiri di masa lalu atau karena dia marah sebab tidak membalas perkataan Joan. Ya, karena apa yang dikatakannya memang adalah kebenaran sehingga menyanggah pun rasanya percuma.
“Itu bukan hal yang penting. Saya lebih memilih bersamamu dibandingkan bersama mereka.”
Efek ucapnya terlihat hanya dalam beberapa detik saja. Joan menemukan semburat merah pada wajah Jiyya. Dia juga memalingkan mukanya supaya Joan tidak menatapnya lebih lama lagi. Dia lebih terlihat seperti seekor tikus yang sedang mencicit.
Joan melihat ini sebagai sebuah kesempatan. Namun belum sempat dia bicara kehadiran seseorang membuat Joan mengurungkan niatannya untuk berkata.
“Joan! Joan kan?”
Dengan kaku Joan berbalik saat namanya disebut oleh suara feminim yang tentu saja sudah sangat amat pria itu kenali. Dan benar saja begitu mereka bertemu muka, Joan menemukan sosok Maria yang melambaikan tangannya dan memberikannya sebuah senyum ceria terlihat sangat antusias.
Jiyya sendiri mulai mencium adanya ketegangan yang nyaris tipis dari Joan. Dia menatap pria itu bergantian dengan seorang wanita yang mulai mendekati mereka berdua. Mata gadis itu penuh perhitungan.
Dan begitu Maria berada didepan mereka berdua, saat itulah Joan mengubah ekspresi serta gesture tubuhnya. Pria itu memiringkan kepalanya sambil tersenyum.
“Selamat malam Maria, bagaimana kabarmu hari ini?” Joan bertanya, dia menggunakan nada yang kelewat sopan didengar.
__ADS_1
“Aku? Ah… aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menanyakan kabarku Joan!” Wanita berambut keriting tersebut berseru dengan antusiasme yang sama sebelum mereka bertukar sapa dan suara. “Aku sudah lama tidak melihatmu. Kau tahu Joan, aku sangat merindukanmu. Tadinya aku ingin berkunjung lagi, tapi kurasa kau tidak akan senang kalau aku terlalu sering datang padamu. Terlebih akhir-akhir ini sulit sekali bagiku untuk curi-curi waktu. Harusnya kau meneleponku sekali. Jadinya aku tidak akan terlalu rindu.”
Joan hanya mengangkat bahu. “Kehidupan seorang dosen tidak pernah sederhana.” Dia membalas dengan sangat lihai.
Maria tiba-tiba saja tersipu untuk sesuatu yang ambigu. “Ah… kurasa kau benar.” Namun meski begitu, Maria masih mau membalas perkataannya dengan benar. Sampai kemudian tatapan matanya bertumbuk pada Jiyya yang diam saja diantara mereka berdua. Tatapannya kemudian berubah seperti singa betina. Nampak tidak suka saat menyadari ada gadis yang lebih muda darinya berada disekitar Joan. “Aku berani bertaruh,” Wanita itu menatap Jiyya lekat-lekat seolah hendak menerkam dan mencincang tubuhnya dengan penuh dendam. Meski di detik berikutnya Maria memberikan senyuman pada Jiyya. “Apa perempuan yang ada disebelahmu ini salah satu mahasiswimu?”
“Ya.”Jiyya dengan cepat menyela bahkan sebelum Joan sempat mengatakan sesuatu yang bagus untuk mereka. “Tapi beliau ini bukan seorang dosen yang baik menurut saya selama beberapa semester saya berada dibawah bimbingannya,” jelas Jiyya lagi.
Baik Joan maupun Maria terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya Maria mengubah pandangan waspadannya menjadi sedikit lebih bersahabat.
“Ah, benarkah? Memangnya seperti apa Joan saat sedang di kampus?”
“Saya rasa dia berada di peringat paling bawah dalam urusan mengajar,” ceplos Jiyya lagi. Dan berkat perkataan gadis itu Maria malah tertawa dan melirik Joan dengan pandangan jahil.
“Ya ampun, aku tidak percaya ini. Tapi senang rasanya melihatmu menjaga hubungan baik dengan mahasiswi-mu padahal ini sudah diluar jam kelas.” Kali ini tatapan Maria mengarah pada Joan.
Joan memanfaatkan kesempatan yang sempit itu untuk bergerak. Dengan menggunakan sebelah tangannya, tiba-tiba saja Joan menautkan jemarinya pada jemari Jiyya dibelakang punggungnya.
Sementara Jiyya tiba-tiba saja merasakan kulitnya terbakar. Pergerakan yang Sir Joan lakukan tentu sangat mengejutkannya, namun dia tidak bisa menolaknya lantaran itu akan jadi rumit bagi mereka bila dia berteriak sekarang. Jiyya merasa apa yang sedang terjadi diantara dia dan Sir Joan adalah hal yang sama sekali tidak pantas. Dia menggeser sedikit posisinya. Itu adalah sebuah gerakan halus sebagai upaya Jiyya menjauhi Joan. Namun pergerakan kecil tersebut nampak disadari dengan jelas oleh sang dosen tampan.
“Keberadaanmu disini bersama mahasiswimu sedikit mengundang skandal—” Entah sengaja atau tidak, namun cara Maria mengucapkan kata itu dan memenggalnya disana seolah memiliki unsur rahasia erotis diantara mereka berdua. “—aku akan lebih percaya bahwa kau bersama mahasiswa lainnya. Dimana yang lainnya?”
__ADS_1