
“Aku punya beberapa murid yang dekat dengaku, kurasa aku akan memperkenalkanmu padanya lain kali. Ada Dean, dia temannya gadis ini. Tipe pemuda yang selalu semangat dalam kondisi apapun, dan satu lagi Bestian dia juga teman dekatnya.” Joan dengan cepat memberikan jawaban yang sangat meyakinkan pada Maria. Alih-alih menjawab kecurigaan yang terang-terangan Maria ujarkan beberapa saat yang lalu.
“Oh, ah, Dean? Maksudmu yang itu? si cerewet berambut pirang kan?”
Alis Jiyya kontan berkerut mendengar wanita itu mengenal sahabat masa kecilnya. “Dia punya pengertian yang jauh lebih baik dari itu.” Jiyya bergumam, menjawab si wanita seksi tersebut dengan nada suara yang terdengar tegang. Rasanya aneh mendengar Dean dikenal orang seseorang yang Jiyya tidak ketahui. Apalagi perempuan asing ini nampak memiliki hubungan yang cukup dekat juga dengan Sir Joan.
Untungnya ucapan Jiyya tidak disadari oleh Maria, walaupun Joan bisa mendengarnya. Maria justru malah melanjutkan lagi pembahasannya mengenai dua nama yang disebutkan oleh Joan. “Dan Bestian itu kalau tidak salah pemuda tampan itu kan? mahasiswa yang katamu pergi ke luar negeri itu? Sayangnya pergaulannya itu tidak benar dan dia bergabung bersama para pembelot—”
“Mungkin sebaiknya kau tidak berbicara tentang hal-hal yang tidak kau ketahui secara rinci. Anggapanmu itu tidak semuanya benar,” potong Jiyya dengan suaranya yang begitu renyah dan tegas. Hampir tidak ada emosi yang dia keluarkan bersamaan dengan komentar balasannya terhadap pendapat Maria. Tapi yang jelas Joan paham situasinya, gadis pintar ini sedang berupaya untuk membela Bestian. Pemuda yang dia cintai meski bertepuk sebelah tangan.
Sedangkan bagi Jiyya, ini hanyalah sebuah kata-kata yang paling sering dia ucapkan pada orang-orang yang selalu berkata buruk tentang Bestian. Sehingga gadis itu dapat dengan mudah beradaptasi dan tanpa sadar kerap menggunakannya untuk menjadi argumentasi pembelaan untuk Bestian. Jiyya selalu tidak bisa terima mendengar orang lain menjelek-jelekan Bestian saat orang itu bahkan belum mengenalnya dengan baik. Dia tidak bisa terima, aneh memang. Padahal pria itu sendiri tidak pernah peduli sedikit pun kepadanya. Namun mengapa Jiyya harus sampai seperti ini membelanya?
Ketika Joan bisa melihat aksi yang di tunjukan oleh mahasiswinya. Dia merasa sedikit kesal dengan situasi ini, meski dia tidak bisa melakukan apa-apa. Toh, hati Jiyya sejak awal memang masih tertambat pada pemuda itu. Jadi wajar kalau Jiyya tiba-tiba menjadi sangat emosional saat ada orang yang berkomentar buruk pada pria yang dia sukai.
__ADS_1
“Saya rasa sudah waktunya saya pergi.” Sekali lagi Jiyya angkat bicara. Gadis itu menganggukan kepalanya sekaligus memberikan gesture menghormati pada Maria “Saya permisi.”
Joan memperhatikan gadis itu pergi darinya, hatinya tiba-tiba terasa tercabik-cabik lagi. Maria juga melihat arah kepergian gadis itu dan kemudian dia kembali pada Joan, tapi sayangnya ekspresi wajah pria itu sedikit diluar harapannya. Bukankah pandangan itu seperti pandangan tidak rela melepaskan? Apakah Joan memiliki hubungan yang lebih dari sekadar dosen dan mahasiswi dengan gadis tadi? Alis Maria terangkat.
“Yah…” gumam wanita itu berpura-pura tidak memahami situasinya. Dia berharap Joan akan mengundang dia untuk masuk ke apartmentnya dan mereka akan menghabiskan malam panas karena kebetulan Maria baru saja pulang dari lokasi syuting. “Sekarang kita tinggal berdua. Bagaimana kalau kita pergi ke apartmentmu dan bicara banyak hal? Ada banyak sekali yang ingin aku ceritakan padamu,” sambung Maria.
Joan menutup matanya untuk beberapa saat, pria itu terlihat seperti sedang menahan rasa kesal yang mana itu tidak pernah Maria lihat sebelumnya. Bahkan saat pria itu membuka matanya kembali dan menatap Maria, perempuan itu merasakan memang ada sesuatu yang tidak beres diantara dia dan gadis tadi.
“Joan?” panggil Maria sekali lagi. Sesungguhnya dia sangat sebal saat menyadari bahwa pria yang dia dambakan ini tidak memberinya atensi lebih. Apalagi sejak tadi dia menyadari bahwa arah mata pria itu mengarah pada mahasiswinya sendiri.
“Ya?” jawabnya dengan nada yang lebih seperti malas untuk mendengarkan.
“Bagaimana? kita bisa ke apartment-mu kan? aku sudah sangat merindukanmu tahu," tuntut Maria lagi.
__ADS_1
Joan hanya menghela napas sebelum dirinya menggelengkan kepala dengan tegas. “Tidak Maria,” balasnya singkat namun tegas. “Tidak untuk hari ini, aku terlalu letih untuk itu. Terlebih gagasan berdua bersamamu di apartment-ku bukanlah ide yang bagus.” Kali ini bahkan Joan menggunakan kalimat penolakan yang sangat menohok.
Alis Maria kontan berkerut dalam. Dia tidak bisa menerima kenyataan saat mendapati Joan menolaknya dengan cara yang kasar seperti ini. “Apa kau tidak salah bicara? kenapa kau tiba-tiba seperti ini Joan?”
Tapi pria itu memilih untuk tidak memberikan jawaban. Baginya berpura-pura baik didepan Maria adalah hal yang paling melelahkan. Untuk sekarang sepertinya dia harus belajar untuk bersikap alami seperti tadi. Dia juga akan membicarakan perihal maria kepada kedua orangtuanya. Supaya mereka berhenti untuk mencekoki Joan dengan perempuan merepotkan ini.
Alasan mengapa Joan bersikap baik adalah karena Maria memiliki kuasa, dan orangtuanya memaksa Joan untuk berkenan memberinya perhatian dan semua hal yang wanita itu inginkan darinya. Tapi semakin lama, Joan merasa itu semua benar-benar memuakan untuk dia jalani.
“Sampai jumpa Maria.” Dibandingkan terus bertukar kata dan berdebat Joan lebih memilih undur diri dari hadapan perempuan itu secepatnya.
Kali ini Joan punya sesuatu yang lebih penting untuk dia urus. Sesuatu yang benar-benar dia inginkan atas dasar kemauannya sendiri dan bukan paksaan dari oranglain. Sesuatu yang betulan ingin dia dapatkan atas usahanya. Segala hal tentang itu membuat hidupnya yang semula sepi menjadi lebih bermakna dan hidup. Dia tidak menyangka bahwa rasa ketertarikan yang dia miliki dapat mengubah hidupnya se-signifikan ini.
“Joan! Kuperingatkan kau. Jika kau memperlakukanku seperti ini kau akan menyesalinya!” Dibelakang sana suara Maria melengking, tapi Joan sudah tidak mau ambil pusing. Baginya dia sudah lelah menjadi boneka wanita itu. Dia sudah malas menanggapi drama murahan yang selalu wanita itu bawa keatas ranjang. Menganggap bahwa Joan mencintainya dan hal-hal semacam itu. Sejatinya itu membuat pria itu jijik.
__ADS_1
“Lakukan saja apa yang kau suka. Aku sudah tidak mau peduli,” bisik Joan dalam hati, sementara langkahnya berusaha untuk menjangkau Jiyya yang baru saja lari dari dirinya.