Honey Trouble

Honey Trouble
Penghiburan


__ADS_3

Pertanyaan dari Silvana yang diujarkannya tiba-tiba dengan ekspresi yang super serius membuat situasi diantara mereka berdua berubah menjadi aneh. Atmosfer di kamar itu terasa tiba-tiba mencekik


Terlebih untuk Jarvis, begitu mendengar hal itu, dia tentu saja langsung refleks membulatkan matanya. Pemuda itu tertohok dengan pertanyaan Silvana yang tidak pernah dia duga akan keluar dari bibir sahabatnya. Memang benar bahwa mereka selalu bersama, dan dekat satu sama lain. Bahkan tidak jarang orang kerap salah paham terhadap hubungannya dengan Silvana. Hanya saja tidur dengannya? Jarvis tidak pernah berpikir sampai kearah sana.


Jarvis sadar betul bahwa Silvana memang gadis yang cantik. Sejak masuk kampus dia sudah menjadi primadona dan banyak teman prianya yang minta dikenalkan dengan gadis itu. Namun Jarvis, adalah Jarvis. Dia lebih suka ketenangan dan tidak mau disorot dan dikenal sebagai ‘temannya Silvana’ sebab impiannya simple. Dia hanya ingin melanjutkan study-nya dengan nyaman tanpa perlu ada bumbu drama. Itu saja.


Tapi sekarang, di tempat ini, di kamar ini,  Jarvis malah mendapati sebuah adegan drama terjadi di hidupnya dengan dia yang sebagai pemain didalamnya. Jarvis tahu bahwa sebagai seorang pria dia tentu tergoda untuk melakukannya. Apalagi sahabatnya ini adalah gadis dengan segala keunggulan yang diatas rata-rata. Semua temannya di kampus menginginkan hal ini. Tapi Jarvis?


Tidak.


Dia tidak menginginkannya. Dia tidak bisa melihat Silvana dalam sudut pandang seperti itu. Mereka telah dekat sejak kecil, dan Jarvis lebih sering memandang Silvana sebagai adik perempuannya sekaligus sahabat karib sejak dulu bahkan hingga sekarang. Makanya ketika dia disandingkan dengan Silvana, rasanya aneh saja. Bayangkan jika kau mencintai adik kandungmu sendiri, bukankah itu perasaan yang tidak normal? begitulah yang Jarvis pikirkan jika ada orang yang menuduhnya berkencan dengan Silvana.


Dia tiba-tiba jadi teringat perkataan Sir Arthur yang bilang bahwa persahabatan bisa menjadi tangga menuju hubungan yang lebih. Tapi sayangnya Jarvis tidak begitu. Jika dia menginginkan kekasih maka orang itu harus benar-benar bukan dari circle pertemanannya. Aneh? iya. Tapi dia tidak peduli. Sebab baginya pertemanan dan cinta adalah dua hal yang berbeda. Dia tidak bisa jika harus mencintai sahabatnya.


Meski Silvana cantik, menarik, dan idaman semua pria. Jarvis tidak punya ketertarikan padanya sama sekali. Rasanya aneh saja buat pemuda itu. Jika hubungan mereka condong kearah romansa Jarvis berpikir hubungan itu akan lebih seperti jatuh cinta pada kakak kandung sendiri, apa itu wajar? Tentu tidak. Bagi Jarvis hubungan sahabat harus tetap sahabat. Jika dia melanggar batas maka otomatis persahabatan yang telah terjalin diantara mereka akan hancur berkeping-keping.


“Hah… jangan menjadikanku sebagai pelampiasan atas keputus-asaanmu, Silvana. Kau mungkin bisa berpikir bahwa aku adalah mangsa yang mudah kau dapatkan. Tapi tidak terima kasih, aku ingin kita tetap menjadi sahabat baik hingga akhir. Aku temanmu, dan akan tetap begitu. Aku tidak bisa terima, kalau kau hanya ingin mencari jawaban melalui diriku untuk memastikan perasaanmu,” Tolak Jarvis cepat, sambil memasang raut muka malas seperti biasanya. Pemuda itu benar-benar sangat serius memperlihatkan ketidakminatannya terhadap Silvana. Gadis itu juga sudah tahu bahwa Jarvis memang akan mengatakan hal seperti ini padanya.


Anehnya penolakan Jarvis membuat Silvana jauh lebih merasa lega. Dia jadi terhibur karena pria itu datang ketempatnya seperti ini.


“Kau memang selalu bermulut kejam. Setidaknya berikan aku kata-kata penghiburan sebelum menolakku mentah-mentah. Oh… atau kau memang sejak awal tidak tertarik pada tubuh wanita?” Silvana terkekeh, dia memang sedang putus asa dan tepat seperti yang Jarvis katakan alasan gadis itu mengatakannya adalah karena memang


hanya ingin jawaban pasti atas apa yang dia rasakan. Setidaknya dia bisa menampik apa yang ada dalam hatinya melalui Jarvis. Tapi pemuda itu tentu bukan jenis pria yang bisa dia perdaya hanya dengan godaan dan tubuhnya.

__ADS_1


“Hei aku pria straight terhormat ya. Aku berdoa kau bisa menjadi gadis yang normal suatu hari nanti.” timpalnya.


“Brengsek! Kau pikir aku tidak normal?!” teriak Silvana.


“Tidak, sejak dulu otakmu itu sudah geser. Untung saja ada aku dan Jiyya. Kau harus berterima kasih pada kami.”


“Ya, kalian memang sedikit mirip. Sama-sama bermulut pedas. Bedanya kalau kugoda kau lebih pandai mengelak.”


“Kau pikir sudah berapa lama aku bersamamu?”


“Hampir seumur hidupku kurasa? Itu juga karena ayah dan ibu kita berteman.”


“Ya, mereka memaksaku untuk akur dan berteman dengan perempuan merepotkan seperti dirimu.”


“Yang pasti perempuan biasa yang tidak semerepotkan dirimu.”


“Aku harap aku melihat siapa kekasihmu nanti.”


“Ya kau bisa melihatnya suatu saat nanti sekarang. Isi perutmu dan berhenti mengoceh soal hal-hal yang tidak perlu aku tahu.” Sekali lagi Jarvis menyodorkan Silvana satu potong ayam berikutnya, kali ini bagian sayapnya. Silvana menerimanya begitu saja. Namun sebelum menggigit ayam tersebut, dia menatap Jarvis dengan super serius.


“Satu hal lagi.”


“Apa?”

__ADS_1


“Jadi, kau kemari karena merindukanku kan?” tanya Silvana dengan senyuman menggoda Jarvis. Pemuda itu menghela napas lelah.


“Tidak,” jawab Jarvis cepat tanpa berpikir.


“Yakin? Kau pasti kesepian kalau tidak ada aku kan?” goda Silvana lagi membuat pria itu mendecakan lidahnya.


“Ck, sudah kubilang jangan mengoceh lagi. Pastikan kau habiskan makananmu. Aku mau pamit pada Bibi.” Jarvis tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya.


“Loh… Hei, kau mau pulang sekarang?”


“Ya, urusanku sudah selesai. Hari ini aku pulang cepat dari kampus karena mau tidur siang. Kalau terus bersamamu jam tidurku jadi terpotong dan kepalaku jadi pusing.” Mendengar jawaban kelewat jujur dari Jarvis, membuat Silvana jadi sebal padanya.


“Ya sudah pergi sana. Mimpi indah sekalian jangan bangun lagi,” balas Silvana dengan suaranya yang menandakan seolah-olah dia kesal. Tapi tentu saja itu tidak serius.


“Sama-sama,” ujar pria itu. Membuat Silvana teringat dengan kalimat yang harusnya dia katakan sejak awal.


“Ah, iya terima kasih ayam gorengnya sayang. Aku mencintaimu,” ujar Silvana sambil memberikan kiss bye pada sahabat semasa kecilnya itu.


Jarvis tidak mengatakan apa-apa selain memunculkan ekspresi dimana pangkal hidungnya akan mengerut saat pemuda itu merasa terganggu. Sebelum menutup pintu kamar Silvana, pemuda itu bahkan memberikan jari tengah padanya. Silvana tertawa terbahak-bahak melihatnya. Meski pria itu terkadang cuek, namun Silvana selalu mendapatkan perhatian yang sesuai porsinya dari Jarvis. Kalau dipikir-pikir Jarvis selalu ada disisinya saat dia sedang susah. Terakhir kali waktu dia menangis karena putus dari pacar pertamanya yang selingkuh, Jarvis juga yang menghiburnya kan?


“Jarvis, aku serius. Aku mencintaimu. Kau malaikatku, aku ingin menjadi mempelai wanitamu!” teriak Silvana. Dia yakin Jarvis belum jauh dan masih bisa mendengarnya.


“**** off!” seru Jarvis membalasnya, sementara Silvana tertawa terbahak-bahak di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2