Honey Trouble

Honey Trouble
Silvana's Confession


__ADS_3

Ada jeda beberapa detik yang berbalut keheningan nyata. Kemudian secara tidak terduga Sir Arthur menarik kepalanya keatas sehingga dahi mereka kini bersentuhan satu sama lain. Mereka tetap berada dalam situasi itu untuk waktu yang terbilang panjang. Seperti memberikan kesempatan satu sama lain untuk mencari jawaban lewat mata, yang adalah jendela hati. Namun waktu terasa berhenti ketika Sir Arthur tiba-tiba saja sudah mendaratkan bibirnya pada bibir Silvana. Mengecap rasa, dan mengungkap rasa lewat tindakan kecipak basah.


“Itu berarti apa pun yang kau inginkan.” Sir Arthur membalas ketika mereka berpisah. Benang saliva diantara mereka terputus.


Kening Silvana berkerut. Dia tidak suka jawaban yang ambigu. Dia ingin segalanya jelas. Terakhir kali pria itu berkata dengan jelas bahwa dia menolak Silvana, lalu jika mereka bisa tidur dua kali seperti ini bukankah itu artinya hati pria itu berubah? Atau dia hanya kesepian saja dan memanfaatkan Silvana untuk menghiburnya?


“Tapi bagaimana aku bisa tahu apa yang aku inginkan sama dengan apa yang kau inginkan juga?”


Sir Arthur bergerak mundur dari posisinya, sedikit membuat celah jarak diantara mereka.Dia menatap Silvana dengan sorot mata yang terlihat geli. “Silvana, tolong jangan membuat aku berpikir. Aku baru saja bangun dari tidurku,” timpal pria itu dengan nada yang menyindir.


Silvana menghela napas dengan cepat kemduian menggerakan jemarinya sendiri untuk membelai otot bisep Sir Arthur yang selalu dia kagumi dahulu. “Maksudku adalah, aku tidak ingin kau berpikir bahwa aku ini jatuh cinta padamu atau hal-hal yang serupa dengan itu.” Bahkan saat dia mengatakannya, Silvana sedikit agak menyesal. Namun kata adalah sesuatu yang tidak bisa diubah meski diralat cepat. Orang cenderung akan bereaksi terhadap kalimat pertama yang diujarkan. Oh ya Tuhan, mengapa pula Silvana selalu payah dalam mengartikulasikan perasaannya dengan jelas?


Dia kini merasa sedikit khawatir dengan reaksi yang akan Sir Arthur berikan. Pembicaraan mengenai rasa memang sensitive untuk Silvana baru-baru ini. Namun gadis itu hanya ingin membuat segalanya jadi lebih jelas. Jiyya bilang padanya bahwa tingkah Silvana kemarin hanyalah tersiksa karena spekulasi sendiri. Karena itu Silvana merasa bahwa dia harus tahu jawaban konkret atas perasaannya sekarang juga.


“Oh tidak, tolong hilangkan pikiranmu itu.” Sir Arthur bahkan sampai beringsut dari posisinya, dan terduduk diatas ranjang sambil menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum geli pada Silvana, seolah pria itu menganggap bahwa Silvana mengatakan sebuah lelucon. “Silvana tolong jangan main-main, kita—”


“Tapi aku betulan jadi suka padamu Sir Arthur.” Silvana kembali menyuarakan apa yang ada dikepala keras-keras. Dia berjuang keras untuk mengindahkan segalanya. Kedua tangan gadis itu bahkan sampai menggenggam seprai dengan kuat sementara pandangan matanya menatap kearah ranjang. “Aku tahu bahwa ini seharusnya tidak terjadi. Aku seharusnya tidak mencoba untuk mengklaim dirimu sebagai milikku. Dan aku juga tahu bahwa kau sendiri juga tidak merasakan itu kepadaku. Aku tahu aku bodoh karena sempat memiliki pengharapan bahwa ketika kau ingin tidur denganku itu berarti hal lain. Ya, aku paham itu. Mungkin kau benar, perasaanku bisa jadi hanya main-main saja, aku juga berharap begitu. Tapi ternyata tidak begitu. Aku… aku—”


Ucapan Silvana terpotong ketika Sir Arthur tiba-tiba saja membekap mulutnya dengan tangan. Alisnya terangkat sedikit geli tatkala mata mereka berdua bertumbuk satu sama lain.


“Aku juga menyukaimu, Silvana.”


Astaga, apakah Silvana sedang bermimpi sekarang? gadis itu mencoba untuk bersikap tenang walaupun didalam hatinya kini sedang berpesta pora. Terlebih perlakuan yang Sir Arthur berikan terhadapnya seperti benar-benar tindakan yang dilakukan oleh seorang pria terhadap kekasihnya. Jadi apakah Silvana bisa berharap lebih sekarang? terlebih dia pernah di tolak sebelumnya.

__ADS_1


Silvana berupaya untuk menutupi letupan kesenangannya, meski nampaknya gagal lantaran pria itu malah menyeringai kearahnya.


“Maksudku bukan suka seperti itu.” Silvana berhasil mengeluarkan suaranya, meskipun memang lebih lantang daripada nada bicara yang biasa dia gunakan untuk keperluan sehari-hari. Silvana agak menundukan kepalanya, dia merasa sangat malu dan takut. Sangat cemas bahwa dia salah mempersepsikan ucapan Sir Arthur terhadapnya. “Maksudku aku menyukaimu bukan hanya dalam ranah **** saja, maksudku itu dalam—”


Sir Arthur tiba-tiba saja kembali meraih salah satu tangannya dan menggenggamnya. Menyelipkan setiap jemarinya kepada jemari Silvana. “Aku juga, Silvana. Terima kasih sudah menyadarkan aku, jika tidak seperti ini mungkin aku tidak akan pernah bisa mengakuinya,” sela Sir Arthur lagi.


Silvana kini hanya bisa melebarkan kedua matanya, senyum lebar yang sejak tadi dia tahan kini mulai terlukis secara sempurna pada air mukanya. Ini adalah pematik kebahagiaan setelah sekian lama. Seluruh wajahnya langsung memerah, dan dia menjerit kecil. Silvana gemas dengan situasi mereka yang bagai sepasang anak kecil yang baru mengenal cinta. Tanpa tedeng aling-aling, gadis itu segera melingkarkan kedua tangannya pada leher pria yang lebih tua darinya itu. Memeluk pria itu rapat-rapat untuk menyalurkan kebahagiaan yang kini tengah dia rasakan.


Sir Arthur hanya tertawa saat mendapatkan pelukan yang penuh kejutan dari Silvana. Namun pria itu kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis itu.


“Jadi, hitungan yang kemarin itu kencan kan?” Silvana berujar secara spontan sekali lagi. Suaranya agak teredam bahu pria itu. Sir Arthur hanya tersenyum sebelum menanggapi, Silvana memang tipe gadis yang seperti ini. Terkadang kerap kali membuat dia harus terkejut akan pertanyaan super random yang selalu secara refleks Silvana ujarkan. Mulai sekarang pria itu harus memastikan dirinya terbiasa dengan tingkah polah gadis itu.


Sir Arthur menggerakan salah satu tangannya untuk membelai rambut pirang Silvana. “Kurasa begitu,” balas pria itu.


Gadis itu menyosor bibir si pria sebagai langkah lainnya, menciumnya dengan seluruh perasaan mendalam. Sir Arthur sendiri sudah pasti menyambut ciuman yang Silvana mulai dengan penuh energi. Sangat bersemangat, sampai pria itu mendorong Silvana berbaring di ranjang sedangkan mereka masih bergulat satu sama lain.


Ketika Silvana sudah tidak memiliki pasokan oksigen yang cukup, gadis itu mendorong Sir Arthur agar menghentikan pagutannya yang terlalu brutal. Dia butuh sedikit jeda untuk mengambil napas.


“Kau terlalu bersemangat, Sir. Kau membuatku kewalahan.”


“Kalau begitu, aku akan pastikan kau lebih kewalahan lagi dilain waktu.” ujar pria itu sambil memberikan Silvana senyum nakal andalannya. Silvana mendorong sedikit bahu pria itu, sebal karena ucapannya yang terdengar mesum.


“Apakah kita akan merahasiakan ini dari semua orang?” Silvana sekali lagi mengubah suasana dengan sangat mudah, sejujurnya pertanyaan ini membuat perutnya mual. Entah apa yang ada dipikiran pria itu, karena ekspresi wajahnya jadi terlihat kaku seketika.

__ADS_1


Sebenarnya bila ditanya begitu, Arthur sebetulnya tidak sedang melakukan hal yang salah, meski dia sendiri tidak yakin sekarang. Perasaan Arthur yang berkembang untuk Silvana memang baru dia temukan akhir-akhir ini, sebelumnya dia hanya memiliki ketertarikan secara platonik pada si gadis barbie dihadapannya. Mengingat bahwa dia adalah dosen dari gadis itu. Tapi bagaimana dengan sudut pandang orang lain terhadap hal ini?


Silvana tidak bodoh untuk tahu bahwa kini dia telah melakukan sebuah kesalahan lain dengan membuat Sir Arthur—nya berpikir sekeras itu. Pada akhirnya gadis itu menyerah untuk meminta jawaban dan menepuk pipi sang dosen tampannya itu untuk memfokuskan pikirannya hanya pada Silvana. Setelahnya Silvana bergeser sedikit untuk duduk di sisi ranjang sambil mengayunkan kedua kakinya. Persis seperti seorang anak kecil yang mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.


“Kurasa perihal itu, bisa menunggu dan kita bicarakan lagi lain waktu,” tutur Silvana, dia bahkan menerapkan sebuah senyuman nakal pada si pria yang kini memandangnya dengan cara yang berbeda. “Lagipula ini tidak seperti kita kau adalah pacarku, dan aku adalah pacarmu. Kita hanya punya perasaan yang sama. Itu saja.”


Rasanya memang aneh, Silvana memang tidak pernah menginginkan adanya sebuah hubungan yang terjalin dengan status seperti ini. Tapi anehnya dia merasa membutuhkannya untuk sekarang, walaupun keadaannya Sir Arthur nampak tidak bisa memberikan jawaban yang Silvana inginkan.


“Aku butuh pakaian.” Tiba-tiba Silvana mengubah topik, ini sepertinya lebih baik untuknya lantaran pria itu tidak mau berkomentar soal hubungan dengan komitmen dan sebagainya. Karena itu Silvana memilih untuk mengubur topik itu dalam-dalam.


Paling tidak untuk sekarang. Silvana bergerak dari posisinya kemudian melirik ke seluruh penjuru kamar sebelum menemukan atasan yang tergantung di pintu kamar pria itu.


“Benarkah?”


Sir Arthur kali ini menimpalinya, sementara Silvana bergerak menggodanya dengan memperlihatkan pantatnya ketika dia mengambil pakaian pria itu.


Menyadari pria itu memperhatikannya, Silvana malah menggoyangkan pantatnya sedikit. Sementara Sir Arthur justru hanya menggelengkan kepala sambil menyugar rambutnya ke belelakang. Hanya mampu memperhatikan tingkah Silvana yang sekali lagi terlihat nakal dihadapannya.


“Silvana, bukan maksudku menjadi perusak suasana. Tapi bajuku mungkin akan terlalu besar untuk kau kenakan.”


Silvana hanya mendengus sebelum menarik atasan pria itu menutupi tubuh polosnya. Dan benar saja pakaian pria itu benar-benar menutupi dirinya, panjangnya saja sampai menutupi lutut. Sebetulnya Silvana bahkan tidak memerlukan celana untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Tapi dia ingin menggoda sang dosen saja. Gadis


itu cekikikan ketika kedua kakinya tenggelam dalam celana panjang miliki Sir Arthur yang Silvana temukan.

__ADS_1


“Tada!”


__ADS_2