
Jiyya dibuat menggigil oleh pernyataan yang kelewat frontal dari pria yang dia hormati sebagai tenaga pengajarnya di kampus. Sejatinya gadis itu bahkan tidak percaya bahwa Sir Joan semakin memperlihatkan sisi lain dari dirinya dengan berani dihadapan Jiyya. Memang benar mereka sudah saling mengenal jauh sebelum Jiyya memutuskan untuk melanjutkan studynya dan dia tidak menyangka bahwa Sir Joan yang dia kenal melalui Dean ternyata menjadi dosen di kampus tersebut.
Jiyya tersentak lagi ketika tiba-tiba tangan Sir Joan bergerak keatas untuk menelusuri bahunya. “Kamu benar-benar basah Jiyya,” gumam pria itu.
Anehnya kata-kata yang dimaksudkan untuk pakaiannya malah Jiyya artikan untuk hal lain. Dia pasti benar-benar telah terkontaminasi Silvana karena pikirannya telah beranjak jauh kearah sana hanya karena satu kata ambigu. “Kita benar-benar harus membebaskan tubuhmu pakaian ini,” sambung Sir Joan lagi.
Jiyya hanya balas mencicit kemudian menoleh kebelakang dan mendapati dada telanjang pria itu didepan mukanya. Sudah pasti demikian karena Sir Joan memang lebih tinggi darinya. Tatapan mata Jiyya sekarang telah mengabur, otaknya kosong ketika mata mereka saling bertemu. Sir Joan memberinya seringai nakal sebagai balasan.
Jiyya memandang tubuh kokoh itu dengan penuh minat, dia mengagumi perbedaan tinggi tubuh mereka berdua. Dia tidak pernah membayangkan bahwa moment seperti ini benar-benar akan terjadi dalam hidupnya. Gadis itu seolah terhipnotis oleh ketampanan sang dosen, sehingga dia bahkan tidak sadar ketika pria itu dengan lembut telah meraih kancing atas dari kemeja yang sedang dia kenakan.
Dengan gerakan pelan satu persatu Sir Joan melepaskan kancing kemeja yang dikenakan oleh Jiyya. Dia nampak telaten ketika melakukannya seolah sedang memberi Jiyya waktu untuk berpikir. Tapi ketika jemari pria itu tiba di kancing yang terakhir, barulah dia menemukan tubuh Jiyya yang sedikit gemetar.
Sir Joan sudah dapat mengintip bra berwarna hitam yang gadis itu kenakan. Dia tahu bahwa ukuran Jiyya memang dibawah rata-rata namun soal itu tidak pernah menjadi masalah untuknya. Dia mengagumi semua hal dari tubuh seorang wanita dengan pandang estetika. Besar atau kecil sama sekali tidak mempengaruhi keindahan yang mereka miliki.
Sir Joan cukup peka untuk merasakan kegugupan Jiyya, karena itulah pria itu mengulurkan tangannya dan meraih dagu gadis itu sehingga sekali lagi mereka kembali saling menatap satu sama lain. Sir Joan tidak keberatan bila dia harus menatap jendela hati gadis itu selamanya, sebab dari kedua netranya dia bisa mematik letupan gairah didalam dirinya.
“Kita tidak akan melakukannya jika kamu tidak menginginkannya Jiyya,” gumam pria itu, napas hangatnya menerpa wajah Jiyya. “Sekarang juga saya akan berhenti kalau kamu bilang berhenti. Keputusannya ada padamu.”
Tenggorokan Jiyya terasa begitu tercekat. Bodohnya dia untuk tidak mengatakan dan melakukan apa-apa di situasi ini. Joan diam-diam memperhatikan wajah gadis itu agak lama. Menatapnya dengan penuh minat. Jiyya benar-benar gadis yang cantik, ya dia tahu fakta itu sejak pertama kali dia dipertemukan dengannya lewat Dean. Meski Joan telah banyak tidur dengan perempuan, cantik saja tidak cukup untuk dijadikan alasan mengapa hatinya terus bergejolak tatkala bersama Jiyya. Menyadari tidak ada pergerakan, Joan mengartikannya sebagai lampu hijau.
“Tadinya saya ingin mengatakan itu agar terdengar bijak, tapi kamu terlalu sulit untuk dapat saya lewatkan.”
Kedua matanya Jiyya yang menatap Joan di penuhi oleh berbagai emosi yang terlalu rumit untuk dapat ditebak. Joan menutup matanya sekadar untuk menghela napas dan menenangkan detak jantungnya sendiri. Ayolah,
dia sudah kerap kali mencumbu dan bermain dengan para perempuan secara acak. Agak aneh baginya untuk merasakan sesuatu yang membuatnya berdebar dan mengaduk isi perutnya. Apa karena Jiyya adalah gadis yang sempat merasuk dalam pikirannya akhir-akhir ini makanya segalanya jadi berbeda?
__ADS_1
Joan menolak untuk memikirkan apapun untuk sekarang. Dibandingkan hanya berdiri diam seperti orang dungu, sebagai pihak yang lebih berpengalaman dalam urusan ini Joan kemudian mulai bergerak untuk mendekat. Sejenak, Joan mendapati gadis itu sedikit terhenyak dengan pergerakannya, apalagi saat tangannya menyentuh permukaan kulit gadis itu.
Pria itu tidak mengindahkan sama sekali dan fokus untuk menyambar pada bibir ranumnya yang sedikit terbuka. Dia membungkuk untuk menempatkan sebuah ciuman super lembut sebagai pembuka dari permainan mereka.
“Jiyya, saya harap pilihan yang sudah kamu putuskan sekarang tidak membuat kamu menyesal,” ucap Joan sebelum dia benar-benar menyentuh bibir si gadis yang amat menggoyahkan keimanannya.
Namun sayang bagi Joan, sebab yang baru saja berhasil mencuri ciumannya. Suara keras bergema. Rasa perih menerpa. Joan mendapati dirinya baru saja di tampar oleh mahasiswinya. Jiyya terlihat berantakan sekarang. Ada sirat kesedihan dan juga kemarahan yang jelas terpatri di wajah gadis itu.
Ah… Sepertinya Joan salah langkah sekarang. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini. Penolakan ini sedikit agak menyakitkan sebetulnya. Napas gadis itu memburu, tangan yang dia gunakan untuk menamparnya barusan bergetar. Dia pasti sangat terkejut. Joan benar-benar sudah kehilangan kesabaran dan akalnya hanya karena melihat Jiyya.
Gadis itu berbahaya.
“M-maaf Jiyya, saya…”
“Saya tidak menduga bahwa Sir Joan adalah orang yang seperti itu.” Suara gadis itu bergetar. Dia beringsut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan tangan. Tubuhnya merosot ke lantai.
“Maaf….” Joan merasa bahwa dirinya betulan konyol sekarang. Kini dia di hadapkan pada posisi tidak tahu harus bagaimana.
“Saya mau pulang.” Itu adalah kalimat sederhana namun menohok bagi Joan. Dia hendak menghampiri Jiyya tapi melihat bagaimana ekspresi wajahnya kontan Joan mengurungkan niatnya.
“Setidaknya ganti pakaian dulu, kamu bisa flu nanti setelah itu biar saya yang antar.”
“Tidak perlu berbuat baik pada saya untuk alasan bersikap sopan, Sir. Saya lebih nyaman pulang sendiri. Oh, iya terima kasih sudah memberi saya tempat berteduh dari hujan kemarin. Saya harap kedepannya Sir Joan mau melupakan apa yang sudah terjadi diantara kita.”
Jiyya menjawabnya dengan lugas. Berjalan melewatinya tanpa harus melirik dan kemudian menghilang dari balik pintu. Kacau! Joan benar-benar telah kacau. Sekali lagi dia kemudian menyentuh pipinya yang beberapa saat lalu terkena tamparan dari Jiyya. Rasanya memang perih, tapi rasa ngilu di hatinya justru lebih hebat lagi.
__ADS_1
Joan tidak mengira bahwa akan mendapatkan penolakan seperti ini, sejatinya dia pikir gadis itu bersedia masuk karena dia menginginkannya. Rupanya dia salah sangka, dan malah bertindak yang tidak senonoh padanya. Jika sudah seperti ini bukankah sudah bisa di pastikan hubungan mereka tidak akan sama lagi?
Wanita pada dasarnya memang rumit, tapi Jiyya jelas adalah jenis yang berkali-kali lipat lebih membingungkan dari pada Maria yang merepotkan. Sialnya yang membedakan Jiyya dan perempuan lain adalah Joan yang memiliki sedikit rasa penasaran yang cukup tinggi kepada gadis itu.
“Joan kau sangat menyedihkan.” Joan hanya bisa menatap pintu yang tertutup rapat selepas kepergian Jiyya dari apartment-nya. Pria itu melihatnya dengan seluruh perasaan yang berkecamuk di dadanya. Dia terlihat sangat kebingungan dengan situasi mereka yang mulai bergeser kearah yang memburuk. Padahal beberapa saat yang lalu suasananya baik-baik saja. Apa Jiyya marah karena dia menggodanya sedikit dengan ciuman di bibirnya? Joan benar-benar tidak paham cara berpikir gadis itu sama sekali. Rasanya janggal. Joan telah merasa telah melakukan hal yang benar, selain itu pria itu juga sudah meminta izin sebelum menyentuh atau melanjutkan permainannya. Seingatnya jika seorang perempuan diam saja itu artinya adalah sebuah tanda persetujuan yang enggan di ucapkan. Lantas dimana salahnya?
Padahal Joan bukan tipe pria yang mau repot-repot memikirkan perasaan seorang wanita yang telah dia ajak tidur sebelumnya. Dia memang tertarik pada Jiyya, tapi ya sebatas ingin menuntaskan rasa penasarannya. Bahkan urusannya dengan Jiyya benar-benar belum usai karena dia belum mendapatkannya secara utuh. Mereka benar-benar tidak melakukan hubungan badan sama sekali. Apa yang salah dari itu? kenapa dia harus semarah itu?
Apakah Jiyya jadi membencinya sekarang? ini benar-benar membuat kepala pria itu jadi pusing tujuh keliling.
Jika sudah seperti ini Joan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memang ahli menaklukan wanita, tapi Jiyya mungkin pengecualian dari semua wanita yang pernah dia temui.
Sedangkan untuk Jiyya sendiri. Tepat ketika dia berhasil kabur dari Sir Joan, tubuh gadis itu merosot. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Benar kata orang bahwa penyesalan selalu datang terlambat. Meski Jiyya masih bisa mempertahankan kesuciannya. Tapi tetap saja… mereka hampir melakukan hubungan yang lebih daripada kewajaran yang bisa dia terima.
Jangan salah, Jiyya bahkan tidak pernah mencium seorang pria sebelumnya. Dia benar-benar belum pernah tersentuh sama sekali. Sir Joan adalah seluruh pengalaman pertamanya. Jiyya juga tidak menampik bahwa pria itu memang sangat menarik. Dia setuju dengan seluruh perkataan Silvana. Tapi berkat itu pula Jiyya justru merasa sangat kecewa. Ya, karena pastinya keterampilan yang pria itu miliki di dapat dari jam terbangnya bersama perempuan lain kan? Dia bukan satu-satunya perempuan yang berhasil Sir Joan buat terjebak dalam buaian. Dia
bukan gadis yang pria itu sukai dan hubungan mereka sampai saat ini juga hanyalah sebatas dosen dan mahasiswi saja. Selebihnya adalah kenalan berkat Dean.
Realita seperti itu benar-benar menohok Jiyya. Semua hal manis yang pria itu lakukan padanya juga bukan karena pria itu mencintainya. Sejak awal memang mustahil pria itu tertarik padanya dalam sesuatu yang disebut sebagai cinta. Dia hanya tertarik karena Jiyya tergoda padanya dan berkata omong kosong saat mabuk. Sudah jelas bahwa pria itu hanya menuntaskan rasa penasarannya saja, tidak lebih dari itu.
Dia menggenggam erat pakaian yang entah sejak kapan terpasang ditubuhnya dengan benar. Jiyya tidak mengerti dengan perasaanya sendiri sekarang.
Sampai kemarin, Jiyya yakin bahwa dihatinya tetap Bestian. Pria yang menjadi cinta pertamanya hingga sekarang. Tapi setelah kejadian ini bersama Sir Joan, hatinya benar-benar berubah. Dia jadi ingat apa yang dosen mudanya itu katakan saat mereka di bar terakhir kali. Dia harusnya waspada sejak itu. Sebab selain hampir membagi pengalaman permainan panas, nyatanya pria itu juga bisa mengusik tahta seorang pria yang telah lama berada dihatinya.
Jiyya tidak terlalu bodoh untuk itu. Sebab setiap kali Sir Joan menyebut namanya, gadis itu merasakan detak jantungnya meningkat. Tidak! harusnya tidak begini. Dia tidak boleh jatuh cinta pada dosennya sendiri. Terlebih pada Sir Joan yang nampaknya bukan tipe pria setia pada satu wanita. Dia terlalu liar untuk dapat Jiyya tangani. Selain itu, hubungan mereka juga akan sangat mustahil kan?
__ADS_1
Memutuskan untuk mempercepat urusannya, cepat gadis itu melangkah kembali dan menghapus seluruh air matanya. Ide untuk berteduh hari ini benar-benar adalah kesalahan besar untuknya. Jiyya berjanji dia tidak akan melakukan kebodohan lagi mulai sekarang.