Honey Trouble

Honey Trouble
Taste


__ADS_3

Ketika Joan terbangun, dia sampai membutuhkan waktu beberapa saat untuk mengingat dimana dia berada. Kamar yang dia tempati sekarang jelas bukan miliknya. Kecuali jika tiba-tiba berubah menjadi lebih sederhana dari yang dia ingat. Sampai dia kemudian menyadari bahwa kakinya terjalin dengan kaki seseorang dan disitulah dia memahami apa yang sudah terjadi.


Joan menoleh hanya untuk melihat Jiyya yang rupanya telah terjaga lebih dulu darinya. Kepala mereka berada di satu bantal yang sama dengan senyum lembut tersunggingi tepat diwajah Joan secara otomatis begitu mata mereka berdua saling bersitatap seperti ini.


“Selamat pagi Jiyya,” sapa Joan.


Jiyya balas tersenyum meski nyaris tidak terlihat saking tipisnya senyum yang gadis itu buat. Joan benar-benar merasakan letupan kebahagiaannya saat itu juga.


“Halo,” balasnya.


Ada keheningan yang singkat dimana mereka berdua hanya saling memandang satu sama lain. Joan mendekatkan wajahnya, sekadar untuk menelusuri hidung Jiyya yang begitu ramping, sekaligus menyentuh pipinya yang begitu lembut, Dia terlihat lebih bersinar ketika Joan melihatnya pertama kali setelah dia terjaga, namun juga begitu misterius sebab Joan tidak bisa menebak apa yang ada dikepala gadis itu sekarang. Jiyya nampak sangat indah. Dia sangat cantik. Terutama ketika gadis itu berada dalam pelukannya pagi ini.


“Saya tidak mengira bahwa saya benar-benar tidur denganmu semalam,” bisik Jiyya, dia setengah menelusupkan wajahnya untuk menghindari tatapan Joan. Namun sebelum Jiyya bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya, Joan dengan cepat mencegahnya.


“Dan bagaimana pengalaman pertama itu menurutmu?” bisik pria itu sembari mengelus rambut Jiyya yang sangat berantakan.


“It was nice,” timpal Jiyya.


Senyum Joan sedikit mengembang. “Baguslah bila memang begitu,” balas Joan lagi.


Keheningan kembali merajai, pria itu kemudian menggunakan tangannya guna membelai wajah gadis cantik yang telah dia nikmati semalam. Itu malam yang terindah baginya, tapi juga disaat yang sama barangkali akan menjadi kenangan yang menyakitkan baginya. “Kamu sangat penting bagi saya Jiyya, kau tahu itu?”


Gadis itu hanya menatapnya lekat-lekat, Joan berharap paling tidak jantungnya berdebar ketika Joan berkata demikian. Ya, dia hanya bisa berharap bukan? Joan nyaris menyerah ketika gadis itu tidak menjawabnya. Namun kelegaan segera menghampiri ketika gadis itu menganggukan kepalanya secara perlahan, beberapa helai rambutnya jatuh kedepan wajah gadis itu. “Terima kasih, Sir.”


Joan kontan merasa gemas, pria itu bergerak maju dan kemudian menekankan sebuah ciuman kepada bibirnya. Joan menutup matanya begitu bibir mereka bertemu satu sama lain. kedua kelopak mata Jiyya terbuka begitu Joan bicara untuk menimpali perkataan Jiyya yang sebelumnya.


“Justru saya yang berterima kasih, Jiyya. Kamu menyerahkan mahkotamu pada saya tapi menolak untuk bersama dengan saya. Apakah kejadian semalam yakin tidak akan menyesali apa yang terjadi diantara kita semalam?”


Sunyi,


sepi.


Joan tidak menyukai keheningan yang mendominasi saat mereka sedang berdua saja seperti ini. Namun pria itu juga tidak bisa menuntut lebih. Pada akhirnya dia hanya dapat berpasrah pada waktu yang berlalu begitu saja diantara mereka. Joan mungkin harus puas hanya dengan kedua mata indah yang Jiyya tujukan untuknya.


Kedua netra hitam kelam gadis itu seolah berhasil menyedotnya masuk, bahkan Joan kerap kali dibuat serasa jatuh dalam pesonanya. Sesungguhnya, dia sudah lama tidak pernah merasa seperti itu. Joan bahkan tidak pernah merasakan sensasi seperti ini dari perempuan lain.


Beberapa saat kemudian Jiyya membuka mulutnya untuk bicara. Memecah keheningan yang sudah terlanjur terjadi diantara mereka. “Saya minta maaf untuk yang kemarin.”

__ADS_1


Sejujurnya Jiyya tidak harus meminta maaf padanya seperti ini, Joan malah merasa dia baru saja telah melakukan kesalahan. Dia malah nampak seperti seorang pria yang makin menyedihkan seperti ini. “Kamu tidak perlu meminta maaf pada saya seperti itu,” balas Joan.


“Ya saya tahu, tapi saya tidak tahu apa yang harus katakan selain itu,” kata Jiyya.


Kecanggungan ini benar-benar membuat Joan merasa mati kutu. Keindahan yang tercipta semalam seperti hanyalah mimpi belaka. Meskipun memang sebuah realita. Namun setelah itu, gadis itu kembali memaku pandang terhadapnya. “Bisakah kita kembali normal mulai dari sekarang?”


Joan merasakan remasan yang amat kuat di dadanya. Dia tidak mengira bahwa kini dia memiliki pengalaman seperti ini dengan seorang wanita. Biasanya dulu dia yang selalu akan berucap demikian. Tapi Jiyya membuat segalanya berbalik. Ini lebih seperti Joan sedang menebus karma buruknya untuk setiap perbuatan yang dia lakukan terhadap para wanita yang pernah dia tiduri.


Jadi seperti inikah rasanya dibuang setelah ditiduri? Joan terkekeh. Ternyata dia telah menjadi seorang pria yang maha jahat terhadap semua wanita. Rasanya tidak menyenangkan. Rasanya benar-benar sakit, tapi dia tidak bisa melawan. Toh, ini juga adalah permintaannya. Dia memang berhasil tidur dengan Jiyya, tapi resikonya dia harus melepaskan gadis ini.


Sejujurnya kemarin Joan sudah sangat putus asa. Dia hanya sedikit mengancam Jiyya, karena Joan pikir gadis itu tidak akan mungkin mau nekat dan menyerahkan mahkota yang dia jaga untuk Joan.


Meski memang penuh euphoria tapi hal itu juga menjadi racun baginya. Jiyya yang mempertaruhkan kesuciannya agar Joan tidak lagi mengejarnya membuat pria itu dibuat semakin buruk. Membuatnya seakan pantas untuk disematkan sebagai seorang pria brengsek.


Joan mengangkat tangannya untuk membelai pipi Jiyya, gadis itu menutup kedua matanya seolah menikmati sentuhan yang Joan berikan untuknya. “Normal kah?” dia mengulang. “Maksudmu seperti sebelum semua ini—”


“Ya.” Jiyya dengan cepat menjawabnya, bahkan tanpa harus berpikir terlebih dahulu.


Joan benar-benar telah dicampakan sekarang. Dia sungguh sudah sangat putus asa sekarang.


Seringai tersungging di wajah Joan. Apakah ini artinya masih ada kesempatan baginya? Jika iya tentu Joan tidak akan menyia-nyiakannya sama sekali. “Ah, saya tidak begitu yakin apa yang kamu maksud dengan ‘kau tahu?’ mu itu Jiyya.”


Jiyya mendengus dan mengalihkan pandangannya. “Kamu benar-benar hobby menggoda orang ya.”


“Sebenarnya hanya berlaku seperti itu untukmu, karena saya hanya suka melihatmu tersipu,” timpal Joan lagi.


Setidaknya suasananya sedikit lebih mencair.


Jiyya tiba-tiba saja mengubah posisinya menjadi membungkuk sedikit. Rambut pendeknya sedikit berjatuhan kedepan mukanya, membuat Joan tidak yakin ekspresi apa yang sedang gadis itu buat dibalik tirai surai kelamnya. Namun meski begitu, bagaimanapun Jiyya menampilkan sisi dari dirinya. Bagi Joan itu tetaplah sesuatu yang begitu menakjubkan dan memanjakan matanya.


“Ngomong-ngomong soal wajah yang tersipu,” tutur Jiyya setelah jeda beberapa detik dari gesture yang dia buat. Joan mulai menelitinya lagi. Memandangnya dengan penuh minat. “Saya sudah lama tidak melihatmu membaca salah satu porn novel koleksimu akhir-akhir ini.”


“Hm…” Joan mengangkat alisnya dan melihat ke atas langit-langit. Jiyya benar juga, entah sejak kapan tepatnya dia meninggalkan kebiasaan buruknya yang satu itu. Dia bahkan sampai memikirkannya dengan serius. “Saya juga ingin tahu mengapa begitu.”


Jiyya memandanganya selama beberapa detik kemudian tiba-tiba saja gadis itu terkekeh. “Kenapa kamu begitu serius memikirkan soal itu, Sir?” ujar Jiyya. “Jangan memberikan saya sebuah alasan seperti kamu berhenti membacanya hanya karena sekarang kita telah berhubungan ****. Itu alasan yang paling klise. Tapi kurasa akan lebih bagus bila kamu bisa berhenti menjadi seorang pria pecandu hal mesum mulai dari sekarang. Itu kemajuan yang terbilang pesat untuk ukuranmu.”


Joan mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Sebenarnya bagi saya ini bukan sekadar ‘hanya’, Jiyya.”

__ADS_1


Tepat setelah mengatakannya Joan menatap Jiyya dengan ekspresi ingin tahu, jelas bertanya-tanya apakah sesuatu yang dia ucapkan setulus hati akan mendapatkan reaksi yang sepadan. Ataukah bagi Jiyya itu sama seperti omong kosong belaka dan bahkan dia akan menganggap bahwa Joan baru saja mengatakan sesuatu yang


sangat amat salah?


Lama menunggu, Joan tidak kunjung mendapatkan jawaban apa-apa selain tiba-tiba saja gadis itu mencubit hidungnya. Menyebabkan Joan tersentak.


“Berhenti bercanda, Sir,” ujar Jiyya, dia kemudian beranjak dari tempat tidur. Joan memperhatikan wajah gadis itu dengan sangat seksama. Jiyya benar-benar cantik, dia tidak peduli bahwa ucapan berulang itu akan dianggap sebagai sebuah pelanggaran. Karena baginya Jiyya memang sangat cantik. Joan telah banyak tidur dengan wanita cantik, jadi bila diasumsikan itu sebagai alasan hatinya bergolak untuk Jiyya rasanya itu bukan jawaban yang tepat.


*Mungkin aku hanya harus berfokus pada fakta bahwa aku sudah menghabiskan malam panas bersama wanita yang telah aku anggap menarik, daripada memikirkan hal lain yang lebih serakah dari ini. *Hatinya berbisik mengingatkan sekali lagi.


“Kamu benar-benar mempesona, Jiyya,” celetuk Joan tanpa sadar ketika gadis itu sudah berdiri dan mengenakan pakaian yang bisa dia kenakan untuk menutupi tubuhnya yang polos beberapa saat yang lalu.


“Pujian yang manis, Sir. Terima kasih. Ngomong-ngomong apa kamu merasa lapar? Saya akan buatkan sarapan sebelum kamu pergi.”


Joan tidak suka kalimat terakhir yang Jiyya ucapkan. Kata ‘pergi’ seperti mengindikasikan bahwa gadis itu ingin mengusirnya dan enggan berlama-lama dengannya lagi. Joan belum siap untuk bangun dari mimpi indah ini. Karena itu, Joan malah menaih tangan gadis itu dan menariknya ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat.


“Tolong jangan bangunkan saya dari mimpi indah ini, Jiyya.” Joan bergumam. Bibirnya begitu dekat dengan cuping telinga gadis itu, dia berharap gadis itu bisa sedikit memberikannya kebijaksanaan. Paling tidak memberinya sedikit waktu.


“Kalau begitu silahkan tidurlah selama mungkin.” Jiyya menjawabnya, mencoba untuk menggeliat bebas darinya.


Joan mendecak ketika gadis itu sudah benar-benar menjaga jarak darinya bahkan berhasil lolos dari cengkramannya. Kekecewaannya terlihat begitu jelas sekarang. Joan berpikir mungkin sudah saatnya dia bergerak menjalani hari yang penuh kehampaan sampai dia menyadari Jiyya yang menatapnya dengan penuh arti dari posisinya sekarang.


Tidak dia duga gadis itu menyambarnya. Memberinya sebuah kecupan di bibir meskipun Joan bisa merasakan keraguan, tapi setidaknya Joan bisa mengapresiasi keberanian Jiyya yang lebih dulu bergerak untuk menjangkaunya. Sebelum Jiyya bergerak untuk meninggalkannya, Joan telah lebih dulu mengantisipasi dengan menahan belakang kepala gadis itu agar tetap berada dalam jangkaunnya. Membawa mereka hanyut dalam gelombang kemesraan lebih lama.


Joan membuka matanya dan balas mencium gadis itu dengan ganas begitu bibir mereka bertemu kembali. Saat lidah mereka terjerat, Joan melirik kebawah. Mereka menjauh satu sama lain dan pria itu kontan mengangkat alisnya.


“Kamu mau mencobanya lagi Jiyya?” Joan mempertanyakan. “Pagi ini sungguh sangat indah bersamamu, Jiyya.”


Jiyya hanya tersenyum sinis padanya. “Tidak, waktunya kita bangun dari mimpi ini, Sir.”


“Kurasa kamu benar.”


“Mari anggap ini sebagai mimpi kita saja. Pastikan kamu menepati janjimu kemarin malam, Sir.”


“Saya tidak akan melanggar apa yang sudah saya ucapkan. Sesuai janji, saya akan berhenti mendekatimu dengan cara apapun.”


“Itu kabar yang bagus. Saya suka pria yang bisa menepati janji.” Joan sepertinya telah gagal membuat Jiyya menjadi peliharaannya. Malah sebaliknya dia jadi peliharaan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2