
Pada akhirnya Silvana menyerah dan melepaskan cengkramannya dari Jiyya. Gadis itu menghela napasnya dengan berat sambil kemudian kembali menjatuhkan kepalanya ke kasur Jiyya dengan tangannya dia taruh diatas perut seolah sedang menekan dirinya sendiri dengan itu.
“Entahlah, aku hanya tiba-tiba saja menjadi sedikit khawatir. Maksudku aku dan Sir Arthur—”
“Kau kecolongan? Apa kau berpikir kau sedang hamil sekarang makanya kau sampai absen tiga hari?” Jiyya kontan menyela, dia menatap Silvana lekat-lekat. Pancaran sorot mata yang penuh kecemasan dapat Silvana temukan dari sahabatnya. Dia benar-benar khawatir pada Silvana. Ya, Jiyya memang selalu seperti itu terhadapnya terlepas dari cara bicaranya yang memang kadang kasar dan menyinggung. Tapi itu memang gaya gadis itu.
Silvana hanya menutup kedua matanya. Sayangnya gadis itu salah mengira soal masalah yang dia miliki dalam hidupnya sekarang. “Tidak, bukan itu Jiyya. Aku tidak hamil. Aku selalu bersiap akan semua kemungkinan karena itu aku memastikan untuk meminum pil kontrasepsi setiap waktu.”
Jiyya menoleh kesamping. “Yah, sesuatu yang benar-benar sangat dirimu sekali. Aku benar-benar salah karena mengkhawatirkanmu karena hal seperti ini,” sindir Jiyya. Walaupun memang penyampaian emosi Jiyya sangat buruk namun Silvana tahu bahwa gadis itu pastinya merasa lega karena bukan soal kehamilan yang menjadi momok menakutkan bagi Silvana.
“Apa kau berpikir untuk mulai melakukannya untuk dirimu sendiri. Aku punya beberapa saran untukmu kalau kau mau menjalankan program kontrasepsi.”
“Dasar gila! Untuk apa aku melakukannya?”
“Siapa tahu nanti kau ingin melakukannya.”
Jiyya kontan merona. Sementara Silvana yang sadar dia telah berhasil menggoda Jiyya lagi hanya bisa terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Well, rasanya hanya berlaku untukmu ya Jiyya. Kau bahkan belum tuntas melakukannya tapi aku merasa kau ada hati pada Sir Joan. Kau harusnya lihat dirimu sendiri yang tersipu tiap kali aku mencoba membahas Sir Joan dalam pembicaraan kita.”
Tepat setelah mengatakan itu, Silvana tiba-tiba saja merasakan jantungnya menegang. Dia masih ingat dirinya dan Sir Arthur yang sempat bertukar canda, bahkan pria itu memberinya sarapan dan kopi di pagi harinya, juga bagaimana pria itu menyapa saat dia baru saja terjaga, dan Silvana yang bangun dari tidurnya dalam posisi dipeluk dengan hangat oleh tangan kekarnya. Semua itu membuatnya merasa bahwa dia baru saja menyindir dirinya sendiri. Astaga!
Tadinya Jiyya hendak marah pada Silvana, tapi begitu mengetahui ekspresi gadis itu berubah Jiyya cepat-cepat kembali pada mode-nya yang biasa. “Hei…” Jiyya bahkan melambaikan tangannya didepan Silvana yang nampak melamun. Tatapan matanya seperti kosong dan berkelana jauh. “Hei, Silvana aku bicara padamu loh. Hei,
ada apa denganmu?”
“A-ah… tidak.”
“Jangan berbohong, pasti ada sesuatu yang terjadi kan? apa kata-kata yang kau ucapkan rupanya berbalik untuk dirimu sendiri? makanya kau diam saja dan membuatku jadi cemas lagi?” sedikit banyak Jiyya sebenarnya sudah bisa menyimpulkan apa yang menjadi penyebab Silvana menjadi seperti ini. Meski telah menduganya Jiyya merasa akan lebih adil bila Silvana sendiri yang mengakui dan mengatakannya secara gamblang tanpa perlu paksaan.
Mata Silvana kini nampak berusaha keras untuk tidak bertemu pandang dengan Jiyya. Dia lebih suka melihat kearah botol bir yang ada diatangannya sambil menggerak-gerakannya secara gelisah. Silvana tiba-tiba merasa begitu sangat canggung, padahal hal seperti ini bukanlah sebuah perkara sesulit kalau dia betulan hamil. Silvana sudah sangat terbuka pada Jiyya, dia bisa mengatakan apa saja yang ada dikepalanya tanpa perlu mem-filter ucapannya dulu. Dia juga yakin bisa melakukannya utnuk yang satu ini. Tapi entah mengapa dia merasa tidak sanggup untuk mengakui hal yang berpotensi membuat dirinya rentan dan lemah ini sangatlah bodoh dan mengerikan untuknya. Dia tidak bisa mengatakannya.
“Aku hanya… ya, entahlah aku tidak tahu.” Silvana hanya sanggup mengatakan omong kosong sambil mengangkat bahu dan kemudian menatap ke direksi lain yang dia pikir Jiyya tidak akan terlalu peduli untuk menatap ke direksi yang sama. Tenggorokan gadis itu rasanya tercekik dan sesak. Lidahnya juga terasa berat.
“Bagaimana aku bisa membantumu kalau kau sendiri saja tidak tahu apa masalahmu. Aku tahu ada alasan yang tepat untukmu, sampai kau mencariku dan meminta bir sebagai kawan bicara. Kau ingin mengatakan sesuatu yang sangat krusial tentang hatimu bukan?” Karena gemas akhirnya Jiyya mengatakan spekulasi yang beberapa saat lalu dia telan sendiri. Dia merasa frustasi saat melihat Silvana yang sehari-harinya selalu blak-blakan dan ceria menjadi gadis yang muram dan takut untuk bicara. Padahal karakternya yang genit, dan manja pada pria yang dia sukai adalah sebuah topeng manipulasi untuk menutupi sisinya yang ini. Karena sudah terlalu lama bersamanya, Jiyya yakin bahwa perasaan gadis ini sedang digoncang.
__ADS_1
“Ya.”
“Kau sudahsempat bicarakan ini dengan oranglain?”
“Kurasa belum, hanya saja Jarvis sepertinya sudah sadar dari pada diriku sendiri, dankini kau juga mengatakan sesuatu seolah kau sudah paham apa masalahku,” aku Silvana.
Mendengar nama itu Silvana sebut, Jiyya bertaruh Jarvis sudah lebih dahulu menyadari hal ini bahkan sebelum Silvana mengakuinya. Karena itu tadi siang, pemuda itu melewatkan kelas yang kebetulan Jiyya hadiri bersamanya. Dia bilang akan pulang karena ada urusan mendadak, dan sekarang Jiyya tahu bahwa urusannya yang mendadak adalah menemui Silvana yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya dikampus. Meski terkesan cuek Jarvis ternyata punya sisi peduli dan juga semanis itu. Diam-diam Jiyya tersenyum menyadari hal itu.
“Ceritakan saja kalau begitu.”
“Kurasa aku jadi memikirkannya saat kami telah benar-benar tidur bersama, hanya seperti itu saja, kau tahu? Yang rasanya semakin bodoh saja karena sebelum terobesesi untuk tidur dengannya aku sangat menghormati dia dan senang menggodanya saja. Pria itu dosen terbaik yang bisa bersikap santai padaku tanpa menjudge penampilanku. Ya, seperti itulah kira-kira. I mean dia adalah seorang guru terbaik, bertindak seperti sahabat, dan dia juga pernah membelaku dari pria mata keranjang belum lama ini. Uh… tapi saat aku terbangun di pelukannya saat itu, dan menatap mata coklatnya. Aku entah mengapa merasa…hatiku terasa… hatiku sakit ketika aku memikirkan soal dia. Dan aku merasa menjadi lebih serakah lagi tiap kali dia melakukan hal-hal kecil untukku seperti menyiapkanku sarapan, menutupi tubuhku dengan selimut, mengacak rambutku, sesuatu seperti itu. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padaku, Jiyya. Ini membuatku merasa pusing. Ini sesuatu yang bodoh.”
Perkataan Silvana bagaikan aliran air yang begitu deras, bagaimana gadis itu menyampaikannya dengan terburu-buru namun terlihat kebingungan disaat yang sama serta enggannya Silvana menatap matanya. Membuat Jiyya yakin bahwa barangkali benar anggapannya.
“Kenapa kau pikir kalau itu bodoh?” celetuk Jiyya dari sampingnya.
“Sudah kubilang kan, aku sendiri tidak tahu ada apa dengan diriku!” Silvana menjerit dalam frustasi. “Bodoh sekali! Hanya gadis tolol saja yang akan jatuh cinta pada pria yang dia tiduri setelah berhubungan satu malam dengannya. Lagipula Sir Arthur sendiri melakukannya karena aku mempertaruhkan sesuatu, dan dia tertarik dengan itu. Dia mau melakukannya karena dia ingin aku tidak mengganggunya lagi. Harusnya aku tetap konsisten dengan diriku yang akan bosan setelah menghabiskan malam bersama pria incaranku. Mestinya aku dengan mudah melakukan apa yang aku katakan padanya. Tapi ini berbeda, aku merasa menyesal setelah melakukannya. Malah, karena apa yang aku rasakan terhadapnya ini. Aku tidak ingin hubungan diantara kami menjadi tidak nyaman. Bukankah menjijikan baginya jika aku masih berkeliaran setelah aku bersumpah untuk berhenti mengikutinya? Sedangkan aku malah menginginkan lebih daripada sekadar tidur dengannya saja. Apa itu masuk akal?”
__ADS_1
“Silvana!” Jiyya menginterupsi, dan Silvana langsung terdiam mendengar teriakan sahabatnya. Setelah menyebut namanya dengan keras pada akhirnya Silvana mau melihat kearah Jiyya lagi meskipun dengan pandangan mata yang terlihat begitu tertekan dan putus asa. “Kenapa kau bicara seakan-akan kau tahu apa yang Sir Arthur pikirkan? Itu kan hanya asumsimu saja kan? kau belum benar-benar tahu bagaimana perasaannya terhadapmu kan?”