Honey Trouble

Honey Trouble
Permintaan


__ADS_3

“Saya tidak bisa bersama denganmu, Sir.” Gadis itu berucap di balik pelukan erat Joan. “Saya yakin masih mencintai orang yang sama untuk saat ini. Saya merasa bersalah setiap kali saya mengingat dia saat sedang bersamamu.” Katanya lagi.


“Sejak awal, kita memang tidak memiliki ketertarikan. Barangkali hal ini juga berlaku untukmu. Sir Joan hanya kebetulan pernah menjamah tubuh saya sehingga kau merasa penasaran karena belum merenggut kehormatan saya. Ini bukan cinta. Yang saya tahu, saya juga tidak memiliki cinta untukmu pula.”


Joan benar-benar kesal pada takdir. Mengapa harus seperti ini? Joan merasa dia sudah melakukan hal yang terbaik untuk menarik atensi gadis ini. Dia menjadi sosok yang selalu peduli padanya, menjadi pendengar setia ceritanya, menjadi pembimbing untuk membantunya meraih impian, menjadi sosok yang akan bersedia ada saat dibutuhkan ketika dia merasa kesepian.


“Kamu selalu cantik dimata saya, Jiyya. Mungkin memangbenar ada waktu dimana kita salah kaprah dan mengambil jalan yang salah. Tapi itu bukan pertama kali saya menaruh kertertarikan padamu.” Joan tidak sadar mengucapkan kalimat itu. Membuat jantungnya berdegup makin keras begitu sadar bahwa pikiran telah bersuara menggunakan lidahnya.


Gadis itu kontan membatu dalam pelukan Joan dan bohong sekali bila dalam situasi sekarang keduanya tidak dapat mendengarkan debar jantung masing-masing yang sedang berlomba.


Jiyya sesungguhnya ingin meloloskan diri dari pelukan lelaki itu, hanya saja entah mengapa dia bahkan tak sanggup untuk mendorongnya pergi. Begitupun dengan Joan yang merasa bahwa dia tidak harus selalu mengalah dalam setiap situasi. Dia tidak ingin menatap punggung Jiyya yang selalu menjadi orang pertama yang meninggalkan dirinya begitu saja.


Lama mereka terdiam dalam situasi yang canggung dan bodoh itu. Akhirnya Jiyya memecah keheningan pula.


“Saya tahu bahwa Sir Joan memang selalu ada untuk saya. Namun karena itu pula saya jadi merasa malu karena terkesan memanfaatkan tanpa memberikan imbalan yang sepadan.”


Joan terkejut, berpikir apakah barangkali Jiyya dapat membaca pikirannya yang berisi keluhan? Berbohong untuk menghibur sisi dari insecurity-nya yang terluka lantaran mendapatkan penolakan? Tapi Jiyya sama sekali tidak pernah berbohong. Gadis itu memang mengatakan hal yang sebenarnya. Dia tidak ingin menjadi perempuan egois yang memanfaatkan seorang pria baik hati untuk terus berada disisinya.


“Saya pernah mendengar bahwa Sir Joan memiliki perasaan untuk saya. Di kampus gossip itu sudah cukup lama beredar. Tapi saya selalu menganggap bahwa itu hanyalah isu lantaran kita memang sudah saling mengenal sebelum kamu menjadi seorang dosen dikampus. Wajar bagi oranglain menyalahpahami hubungan kita, kamu adalah pria yang tampan dan tidak sedikit perempuan yang tertarik padamu. Mereka mungkin cemburu karena kamu memperlakukan saya dengan baik. Terlebih Sir Joan juga tahu kan bahwa saya memiliki tambatan hati meski dia tidak ada disini?” kata Jiyya, yang disambut oleh keheningan sesaat.

__ADS_1


“Tapi setidaknya biarkan saya selalu berada disampingmu, dalam segala hal.” Timpal Joan.


Jiyya ingin sekali rasanya mengatakan ‘iya’ namun bila seperti itu, bukankah segalanya malah akan jadi tambah rumit dan berantakan? Mereka adalah sebuah kemustahilan yang terlalu sulit untuk melangkah menuju penyatuan. Demi apapun Jiyya menjadi goyah akan keyakinannya sendiri. Tidak ketika dia mengatakan sesuatu seperti ini setelah Jiyya memaparkan bahwa tidak ada kemungkinan bagi mereka.


Berdampingan bersama, berada di sisi satu sama lain.


Adalah hal yang sepertinya terlalu sulit untuk dilakoni, jalan itu terlalu terjal dan Jiyya merasa tidak akan siap menghadapi konsekuensinya. Jiyya sudah sangat tahu hal itu. Karena alasan tersebut, Jiyya harus menekan dirinya untuk lebih keras lagi dalam mengambil sebuah keputusan. Harus ada yang menjadi orang jahat diantara mereka berdua, dan sudah pasti itu adalah dirinya. Jiyya.


Joan menarik dirinya sedikit, ingin melihat wajah sang gadis yang telah benar-benar merajai isi hatinya saat ini. Dia ingin meyakinkan bahwa Joan tidak peduli dengan apapun asalkan dia bisa diberi kesempatan untuk bersamanya hingga akhir.


“Apapun yang kamu katakan itu tidak berpengaruh pada saya. Saya akan memastikan selalu ada untuk kamu. Saya juga akan mendukung untuk meraih impianmu, saya juga bersedia menunggu jika terlalu sulit bagimu untuk membuka hati untuk saya.”


Jiyya hanya bisa menatap iris abu-abu gelap milik pria itu lekat-lekat. Sir Joan benar-benar mengatakan sesuatu yang sangat berbahaya. Jiyya bisa saja mengabaikan segalanya dan menghambur pada pelukan pria itu, meski modalnya hanyalah sebatas kata-kata manis yang terdengar begitu tulus.


Jika Sir Joan betulan mencintainya, maka barangkali dia adalah perempuan paling beruntung di dunia.


Namun bagi Joan sendiri, dia selalu saja menjadi pihakyang hanya bisa melihat punggung gadis itu. Jiyya selalu diambil darinya, lalu dia akan selalu berusaha untuk mendapatkan sedikit perhatiannya lagi. Maka kali ini Joan memastikan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dan menyerah meski dihati gadis itu tidak pernah ada dirinya.


Bolehkah dia menjadi seorang pria egois macam ini? Dia hanya ingin bisa menatap kedua mata teduh gadis itu lebih lama lagi. Dia ingin Jiyya tahu bahwa dia selalu siap untuk melakukan apapun demi dirinya.

__ADS_1


Sederhananya Jiyya adalah sumber penghiburan atas hidupnya yang monoton dan tak berharga. Tak berlebihan jika dia mengatakan bahwa Jiyya adalah hidupnya, segalanya dimulai saat mereka bertemu untuk pertama kali dan bicara dengan Jiyya yang kala itu memang masih cukup belia. Sedang dirinya berada dalam kondisi duka kehilangan Ibunya. Ketika bercengkrama dengan Jiyya yang kala itu belum dia ketahui namanya, Joan merasa dia telah bisa hidup kembali.


Meski orang bilang Joan punya banyak kesempurnaan, sejatinya Joan memiliki insecurities. Dimulai saat pada akhirnya Joan kembali dipertemukan kembali dengan Jiyya oleh semesta ketika gadis itu beranjak remaja. Dean menjadi orang yang memperkenalkan mereka berdua. Jika Joan masih ingat tentang Jiyya, maka gadis itu justru tidak. Merasa bahwa Jiyya tidak suka pada sikapnya yang dingin, Joan sedikit demi sedikit mengubah sifatnya dan mempelajari bagaimana caranya untuk mendekati wanita. Dia berhasil menjadi seorang perayu handal, dan playboy kelas kakap. Namun tetap saja Jiyya malah makin tidak menyukainya. Padahal Joan hanya berusaha untuk menunjukan pada Jiyya, bahwa dia bisa melakukan apapun untuk menunjukan padanya bahwa dia sedang jatuh cinta.


Terakhir kali Joan mendengar alasan mengapa Jiyya dingin terhadap semua pria yang mendekatinya karena  gadis itu jatuh cinta pada seorang pemuda seusianya. Joan mencari tahu sebanyak yang dia bisa dan menemukan pria yang Jiyya sukai itu bernama Bestian. Sejak itulah Joan menyerah dan mencoba untuk masa bodo, Dia juga berprilaku biasa pada Jiyya walaupun memang tentu saja dia diperlakukan sedikit lebih istimewa dibandingkan dengan perempuan lainnya. Mereka akhirnya bisa sedikit lebih dekat karena Jiyya melanjutkan study ke kampus dimana dia telah bekerja disana sebagai dosen.


Menyadari status mereka, ditambah lagi Joan yang mulai dijodohkan dengan seorang perempuan oleh ibu tirinya. Joan makin tidak menaruh hati pada Jiyya. Dan perempuan yang memiliki track record paling lama bersama Joan adalah Maria. Seperti itulah sejarahnya.


Tapi tetap saja, meski Joan telah berganti pasangan  sebanyak yang dia bisa dapatkan. Bahkan sampai dititik dimana perkara mengajak tidur seorang perempuan bukan lagi hal sulit baginya.


Intinya Joan masih tetap mencintai Jiyya meski telah melewati banyak jeda di kehidupannya.


Apa masih perlu bukti untuk itu semua?


“Izinkan saya bersamamu, paling tidak hanya untuk malam ini jika kamu memang tidak bisa menerima saya.”


Joan melihat Jiyya menggigit bibir bawahnya. Perlukah dia menggunakan satu lagi pamungkasnya?


“Saya tidak akan mengganggu lagi jika saya bisa bersamamu.”

__ADS_1


__ADS_2