Honey Trouble

Honey Trouble
After Taste


__ADS_3

Keesokan paginya, Silvana terbangun dan menemukan dirinya dalam sebuah kondisi oxymoron ekstrim. Ya, sebab disatu sisi dia telah mendapatkan sebuah rasa nyaman yang tidak pernah dia rasakan, namun disisi lain juga ada rasa hampa disudut hatinya.


Gadis itu mulai dapat mencerna segalanya setelah beberapa saat, bahwa saat ini dia sedang terbaring di kamar hotel yang dia dan juga Sir Arthur kunjungi kemarin sore. Dia juga menyadari lengan kuat Sir Arthur tengah melingkari tubuhnya dengan sangat posesif dengan tubuhnya yang kekar nan kokoh tersebut telah menempel di tubuhnya. Berbagi kehangatan satu sama lain. Sesungguhnya ini adalah perasaan yang luar biasa, jenis perasaan yang paling indah yang pernah gadis itu rasakan. Meski setelah dia itu mulai merasakan rasa sakit.


Ya, Seluruh tubuhnya terasa kaku dan juga pegal. Kakinya bahkan terasa seperti jeli, bagian pinggulnya pun menjerit kesakitan, lengannya terkulai, dan perutnya terasa keram laksana menerima jahitan permanen disana. Itu kombinasi luar biasa di pagi hari. Silvana belum pernah mengalami hal serupa sepanjang dia terlibat dalam cinta satu malam.


Astaga, Silvana tidak mengira bahwa dia akan mengalami sebuah pengalaman ranjang yang kasar. Sebab sebelum ini dia tidak pernah merasakannya dari pria manapun, dia bahkan sempat percaya bahwa dia tidak akan mengalami hal ini dan menganggap bahwa adegan panas nan kasar yang dia saksikan dari film biru hanyalah sebuah kebohongan belaka. Makanya, Silvana tidak menyangka bahwa dia akan merasakan sensasinya dengan tubuh sendiri seperti ini. Terlebih dia menerimanya dari seorang pria yang dia tahu telah menarik perhatiannya sejak awal.


Ingatannya tentang semalam berputar cepat dikepalanya, moment detik demi detik yang telah dia dan Sir Arthur lewati bersama membuat gadis itu jadi bergairah lagi. Alih-alih tahu diri dan menormalkan terlebih dahulu tubuhnya, Silvana justru malah menggeliat sedikit sehingga membuat Sir Arthur yang tidur disisinya bereaksi untuk pergerakan kecil itu. Sir Arthur tanpa Silvana duga malah mengendus bagian belakang lehernya. Menghantarkan rasa hangat disana.


Ah, apakah ini artinya Sir Arthur sudah terjaga?


Seketika pula Silvana merasakan adanya rasa kekhawatiran yang super tinggi. Silvana menyesali satu moment dimana dia tiba-tiba saja bertanya soal perasaannya pada Sir Arthur. Bukankah itu nyaris seperti sebuah pernyataan cinta? Dia sekarang sudah mendapatkan apa yang dia dambakan, dia juga sudah menuntaskan rasa penasarannya dengan Sir Arthur. Harusnya sudah cukup sampai disana.

__ADS_1


Tapi kenapa dia jadi merasa sangat cemas? Gadis itu merasakan sedikit rasa kekhawatiran yang cukup mendalam. Mungkin saja Sir Arthur akan kembali seperti sedia kala, dan menghindarinya lagi. Bisa jadi pula pria itu menyesali segala hal yang terlanjur terjadi diantara mereka berdua. Bagaimana kalau Sir Arthur mengusirnya? Atau paling parah dia jadi membenci Silvana seumur hidup? Sesungguhnya Silvana merasa tidak sanggup untuk menghadapi hal itu. Dan sekali lagi perasaan seperti ini tidak pernah dia temukan dari pria manapun sebelumnya. Ini konyol.


Silvana menoleh sedikit untuk menatap Sir Arthur yang berada tepat dibelakang punggungnya. Tanpa dia duga pria itu seolah memang sedang menanti dirinya untuk berbalik dan menatapnya. Apa ini?


“Good Morning, Baby girl.”Sir Arthur menyapanya, suaranya serak dan basah. Jujur saja Silvana sangat suka mendengar suara seorang pria yang baru saja bangun dari tidurnya. Sebab menurutnya itu sangat seksi, sesuatu yang membuat telinganya terasa diberkati.


Kontan rona merah menjalari wajahnya, Silvana tidak mengira bahwa di pagi buta seperti ini saja dia sudah mendapatkan asupan luar biasa dari si dosen tampan. Namun bukan Silvana namanya jika dia akan malu-malu kucing dan menghindar, sebaliknya gadis itu malah beringsut dan mengubah posisi tidurnya untuk menghadap sang dosen tampan. Saking semangatnya, hidung mereka bahkan sampai bersentuhan karena berbaring diatas bantal yang sama.


“Halo, Sir Arthur yang tampan,” balas Silvana.


Sudah jelas bahwa Silvana tidak bisa lagi membendung perasaannya. Ada sesuatu yang berbeda yang dia rasakan. Ya, dia merasa bahwa perasaannya pada Sir Arthur betul-betul bukan dalam ranah main-main seperti yang biasa dia rasakan pada para pria yang dia kencani untuk satu malam.


Saat mereka berdua menjauh, Silvana hanya bisa terhenyak dan menatap bibir Sir Arthur yang mengendur agak lama. Pria itu lagi-lagi tersenyum kepadanya. Sementara salah satu tangannya malah terangkat hanya sekadar untuk membelai rambutnya. Situasi ini… apakah pria itu memang selalu melakukan hal yang sama pada setiap perempuan yang telah dia tiduri? Entah mengapa Silvana merasa hatinya terasa dirajam oleh duri.

__ADS_1


Meski begitu, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Sir Arthur memang benar-benar pria yang pantas diberi predikat sebagai si gentleman. Detik ini juga Silvana bahkan berani mendeklarasikan dirinya bahwa dia bersedia untuk menghabiskan sisa umurnya untuk Sir Arthur.


Namun tak lama setelah deklarasi konyol dalam hatinya, Silvana mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Mengapa dia jadi sosok yang terobsesi begini? Dia tidak harus mempertaruhkan waktunya yang berharga untuk melayani satu orang pria yang bahkan perasaannya saja tidak jelas. Silvana harusnya merasa cukup puas dan senang hanya dengan hubungan badan saja… bukan?


Tapi sekarang aneh baginya untuk tidak lagi sependapat dengan prinsipnya sendiri. Sebab saat ini jantungnya terasa dikepal oleh sesuatu. Ada sensasi kupu-kupu berterbangan dibagian perutnya diwaktu yang hampir bersamaan tatkala Silvana memandang wajah pria itu. Apakah dia sedang sakit sekarang? sensasi tidak nyaman


apa yang kini Silvana sedang rasakan?


Oh, ya Tuhan, tidak mungkin! Jangan bilang karena itu? Serius, Silvana bukan tipe gadis yang akan jatuh cinta tepat setelah dia berhubungan badan dengan seorang pria yang menurutnya menarik. Baginya **** tidak ada hubungannya dengan cinta. Itu dua hal yang berbeda, dan tidak pernah Silvana persatukan dalam satu garis yang sama.


Tapi pagi ini dia menyadari bahwa apa yang dia katakan semalam bisa jadi betulan kenyataan. Dia benar-benar tertarik pada Sir Arthur, bukan sebatas karena ingin tidur dengannya tapi juga Silvana ingin memiliki hatinya.


Ah, ini bukan sesuatu yang bagus baginya. Silvana sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak terlibat dengan emosi bodoh semacam ini ketika dia berada didekat Sir Arthur. Alasannya, karena dahulu pacar pertamanya benar-benar telah membuang dan menghianatinya. Orang yang mengambil kesucian Silvana tersebut berselingkuh dan mengajarkan Silvana untuk tidak lagi percaya terhadap pria. Oleh sebab itulah dia mengambil jalan ini, dia tidak ingin dipermainkan oleh pria lagi, melainkan harus dia yang mempermainkan mereka.

__ADS_1


Dia tidak mungkin jatuh cinta pada Sir Arthur kan? tidak mungkin kan?


__ADS_2