Honey Trouble

Honey Trouble
Childhood Friends


__ADS_3

Tiga hari.


Butuh waktu bagi Silvana sebelum dia merasa baik-baik saja selepas tidur dengan dosen idamannya itu. Alih-alih menjalani harinya seperti biasa, gadis itu malah memilih untuk tidak keluar kamar sampai ibunya yang cerewet bertingkah lebih berisik lagi karena Silvana berubah agak murung setelahnya. Ibunya membelikannya obat, karena berpikir bahwa Silvana jatuh sakit. Namun sebenarnya tidak, karena yang sakit dari Silvana bukan fisiknya melainkan hatinya.


Dia sebenarnya ingin bertemu dengan Jiyya, mereka belum bertukar kabar dan suara sejak hari dimana dia menginap dikediaman gadis itu. Di kampus Silvana bahkan menjadi saksi bisu atas tindak tanduk sahabatnya yang terkesan mengendap-endap di kampus. Sudah jelas bahwa Jiyya sedang berupaya untuk menghindari Sir Joan.


Hanya saja karena mereka ada beda kelas hari itu, Silvana otomatis berpisah dari Jiyya. Dia tidak tahu lagi situasi gadis itu setelahnya, entah dia berhasil menghindari Sir Joan atau tidak.


Ah, tapi bukankah yang harusnya di khawatirkan adalah dirinya sendiri? dia bahkan absen dari kampus selama tiga hari. Begitu pula dia yang biasanya tidak betah dirumah malah mengurung diri dikamarnya. Ini benar-benar diluar perkiraannya. Dia tidak tahu dampak tidur dengan Sir Arthur akan membuat dirinya jadi drop seperti ini.


Memandang isi ruangannya yang gelap gulita, Silvana hanya menghela napas berkali-kali. Tubuhnya lemas bukan kepalang. Gara-gara pikirannya yang tidak berada dalam kondisi bagus, gadis itu bahkan melewatkan jam makannya terus. Ibunya memang sudah beberapa kali berusaha untuk mengeluarkannya dari kamar. Namun Silvana enggan menggerakan tubuhnya sama sekali dan memilih berbaring saja.


Ketika dia sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk. Silvana mengira bahwa itu barangkali adalah ibunya yang cerewet. Oleh sebab itu dengan nada malas Silvana membalik tubuhnya untuk memunggungi pintu.


“Sudahlah Bu, nanti aku keluar kalau aku mau. Saat ini aku sedang tidak bersemangat untuk melakukan apa-apa. Jadi jangan terus-terusan mengomel padaku. Beri aku waktu, Bu!” seru Silvana.


Tapi anehnya, dia tidak mendengar suara Ibunya yang biasanya akan menggonggong lebih keras lagi. Malah Silvana mendapati pintu kamarnya berderit, dan seseorang masuk kedalam.


Jika itu Ibunya, seharusnya dia mengomel lagi seperti biasa. Tapi ditunggu beberapa menit tetap tidak ada suara. Akhirnya Silvana berbalik dan menemukan sosok lain yang memasuki kamarnya. Dia bukan ibunya.


Sosok jangkung itu kemudian meraih saklar lampu dan membuat suasana gelap gulita dikamarnya berubah terang benderang. Lalu mengasongkan sebuah kantong keresek bermerk ke depan muka Silvana.


“Jarvis?”


“Yo Silvana!” sapa pemuda itu.


Buru-buru Silvana beringsut dari kasurnya dan menanggalkan selimut yang beberapa saat lalu menggulung tubuhnya. Dia bahkan tidak sadar bahwa saat itu dirinya sedang memakai gaun tidur tipis. Membuat Jarvis kontan mengambil selimut yang Silvana lemparkan sebelumnya hingga menutupi tubuh gadis itu seutuhnya.


“Hei! Apa-apan kau ini?”


“Ck, lain kali pastikan kau pakai baju yang benar bodoh!” komentar Jarvis cuek lalu menyimpan kantong yang dia bawa dan duduk dilantai kamar Silvana.


Gadis itu mengeluarkan kepalanya dari selimut sambil nyengir kuda meledek sahabat masa kecilnya dengan senyuman yang pemuda itu pikir sangat menyebalkan.


“Hehe… tapi aku seksi kan?”


“Ya, ya seksi sekali sampai mataku rasanya mau copot melihatnya,” sindir pria itu sambil kemudian membuka jaket yang dia kenakan dan melemparkannya kearah Silvana. “Jangan banyak tanya dan pakai itu. Setelahnya kau eksekusi barang yang aku bawa,” sambung Jarvis.


“Oww… sangat gentleman,” ujar Silvana. Jarvis hanya mendecak kemudian berpaling muka saat dia tahu Silvana membuka selimut yang beberapa saat lalu sengaja dia buat untuk menutupi tubuh teman perempuannya. Merasa gadis itu selesai memakai jaketnya barulah Jarvis mau berbalik dan menatapnya dengan benar. “Ngomong-ngomong apa yang kau bawa?”

__ADS_1


“Ayam goreng kesukaanmu.”


“Hei! Aku sedang diet tau! Kenapa kau membawa benda lezat ini ke kamarku?”


“Ibumu bilang kau tidak makan dengan benar selama tiga hari ini. Jadinya aku pikir kau harus makan sesuatu yang kau sukai supaya cepat pulih. Kau absen karena sakit kan?”


“Ya, sakit.”


“Sakit apa? dasar pembual. Kau ini baik-baik saja kulihat.”


“Yang sakit bukan badanku. Tapi hatiku bangsat! Ah sudahlah ja—”


Jarvis memutar bola matanya bosan, dia kemudian menyodorkan satu potong paha ayam ke mulut Silvana yang terbuka. Membuat gadis itu tidak berkutik lagi dan mau tidak mau mengunyah potongan ayam yang sudah terlanjur disuguhkan ke mulutnya.


“Jangan mengumpat didepanku. Telingaku sakit mendengarnya. Lebih baik kau makan saja itu.”


Silvana menurut dan kini gadis itu mulai sibuk menyantap ayam goreng yang pemuda itu bawa. Well, sejujurnya Silvana merasa terhibur karena Jarvis mau datang kerumahnya dan menengoknya seperti ini. Dia merasa mendapatkan perhatian yang dia butuhkan.


“Apa ada yang merindukanku selain dirimu?”


“Siapa yang kau bilang merindukanmu, bodoh. Aku cuma kebetulan mampir sepulang dari kampus. Bukan sengaja ingin menjengukmu.”


“Mimpi saja terus. Mana ada aku merindukanmu.”


“Ya, kau benar. Mana ada yang akan merindukanku kan?” ujar Silvana sambil tertawa yang dibuat-buat.


Namun hal itu tentu dengan mudah dapat Jarvis ketahui. Dia bukan setahun dua tahun dekat dengan Silvana. Mereka sudah berteman sejak kecil, bahkan sebelum Silvana mengenal Jiyya. Baik buruknya gadis itu, Jarvis sudah tahu. Termasuk cerita-cerita tentang dia yang sudah berkencan dan menghabiskan banyak malamnya


bersama pria-pria asing setelah putus dari pacarnya yang pertama. Itu melelahkan bagi Jarvis. Namun sebagai seorang teman, dia tetap tidak bisa untuk tidak khawatir. Terlebih sekarang dia tahu penyebab mengapa gadis yang


ceplas-ceplos dan ceria ini jadi murung.


“Hei, Silvana apa alasan kau tidak masuk tiga hari ini karena Sir Arthur?”


Seketika pergerakan gadis itu terhenti, jika sudah begini Jarvis sudah mendapatkan konfirmasi dari yang bersangkutan tanpa harus dia mengakuinya secara lisan. Terakhir kali dia seperti ini adalah saat dia putus dari pacarnya dulu. Jarvis tidak mengira bahwa dia akan menemukan lagi sisi Silvana yang seperti ini.


“Bicara apa kau ini? mau menghinaku?”


“Kau sudah tidur dengannya kan?”

__ADS_1


Sekali lagi Silvana bungkam. Kepalanya agak menunduk saat ini, dan sepertinya Jarvis baru saja mengatakan hal yang tepat mengenai luka yang gadis itu rasakan. “Kenapa


ya, cuma kau yang bisa menebak perasaanku secepat itu…” gumam Silvana.


Jarvis menghela napas, ini situasi yang berat. Sebenarnya dia jadi sedikit menyesal datang kemari dan melihat kondisi Silvana. Tapi jika sudah begini apa boleh buat, dia harus menuntaskannya. Setidaknya dia jadi tahu apa yang baru saja terjadi dengan sahabat kecilnya itu.


“Apa kali ini kau tidak sengaja menggunakan perasaanmu saat melakukannya?”


Sekali lagi perkataan Jarvis membuat Silvana tertohok. Dia benar-benar tidak pandaimenyembunyikan perasaannya dari pria itu. Meski cuek, namun Jarvis selalu cepatmengerti soal dirinya. Itu sebabnya mereka masih bersahabat hingga sekarang.


“Ya.”


“Kau benar-benar menyedihkan kalau begitu.”


“Itu tidak sengaja. Maksudku aku juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba jadi seperti ini.”


“Hal yang paling merepotkan darimu adalah saat kau jatuh cinta. Kau bilang kau tidak akan kecolongan lagi.”


“Awalnya iya. Kau tahu ceritanya kan? Aku tertarik pada Sir Arthur sejak masuk kampus. Dia pria yang terlihat seksi dan aku pikir dia akan punya permainan yang bagus di ranjang. Aku penasaran padanya dan terobsesi untuk tidur dengannya.”


“Ya, aku bosan mendengarmu terus mengulang cerita ini.”


“Tapi sekarang, setelah aku berhasil melakukannya. Aku malah merasa hampa. Karena dia terlalu baik, dan membuatku lemah. Aku jadi berpikir bahwa kami akan terus seperti itu selamanya. Tapi aku sadar, bahwa aku yang mengajaknya dan bahkan mengatakan hal bodoh demi tidur dengannya.”


“Apa yang kau katakan?”


“Aku bilang asal dia tidur denganku maka aku akan berhenti mengejarnya.”


“Lalu kau menyesal?”


“Lebih pada aku kesal pada diriku sendiri karena tiba-tiba saja aku jadi lebih serakah dan menginginkan lebih. Mulanya aku ingin tubuhnya saja, tapi setelah tidur dengannya aku jadi menginginkan hatinya.”


“Itu terdengar merepotkan.”


“Memang.”


Jeda sesaat, tiba-tiba saja Silvana terpikirkan ide gila lagi dikepalanya saat melihat Jarvis yang duduk bersila dihadapannya. Pria ini sebenarnya juga menarik, dia hampir mendekati tipe pria yang dia sukai. Hanya saja Jarvis bukan pria dengan otot tubuh yang atletis, dan dia lebih seperti mahasiswa pemalas namun pintar dalam segala aspek. Dia tidak pernah melihat Jarvis dalam sudut pandang sebagai seorang wanita sebelumnya. Mereka selalu dekat, tapi urusan hati keduanya tidak pernah terlibat.


“Hei Jarvis, bagaimana kalau seandainya kau tidur denganku sekali?”

__ADS_1


__ADS_2