Honey Trouble

Honey Trouble
Posesif


__ADS_3

Jiyya menghentakan kakinya dengan kasar di sepanjang jalan yang dia lewati. Mood-nya benar-benar telah dirusak. Gadis itu bahkan berusaha keras untuk menahan air mata yang hampir jatuh ke pipinya. Dia membenci Sir Joan. Terlebih Jiyya benci dirinya sendiri yang selalu terjebak dalam situasi yang membuatnya muak. Kenapa rasanya dia menjadi gadis yang bodoh? Dia selalu dengan mudahnya terjebak bersama Sir Joan. Dan kali ini gadis itu bahkan tidak bisa menahan emosinya sendiri ketika nama Bestian disebut-sebut oleh orang lain dengan cara seperti itu. Hati mungilnya serasa diremas, bahkan semakin lama semakin ditekan hingga nyerinya tidak tertahankan.


Dengan kedua tangan yang terkepal, Jiyya sempat melemparkan tatapan penuh kebencian dari balik bahunya terhadap perempuan asing yang nampak cukup akrab dengan dosen-nya itu. Setelah dia berhasil pergi dari mereka, Jiyya mempercepat langkahnya lagi. Berusaha sekilat mungkin meninggalkan mereka berdua sejauh yang dia bisa. Tapi tetap saja, aneh rasanya merasa begitu emosional oleh sesuatu yang tidak mengerti seperti ini.


“Jiyya.”


Sungguh, Jiyya hampir saja melompat mendengar suara yang memanggil namanya. Ketika tiba-tiba saja tangannya sekali lagi di jerat oleh si pria tampan. Jiyya tidak mengira bahwa pria itu akan mengikuti dan mengejarnya seperti ini. Apakah artinya Sir Joan lebih memilihnya dibandingkan dengan wanita asing nan cantik yang menghampiri mereka berdua beberapa saat yang lalu? Tapi memang apa artinya itu semua? Tidak ada.


Kini air mata yang Jiyya tahan sudah tidak dapat lagi terbendung. Jiyya melirik dan benar-benar mendapati Sir Joan yang sedang memegang tangannya dibelakang. Menyadari hal itu, Jiyya merasa berkali-kali lipat lebih bodoh.


Sedang untuk Joan, dia kini tidak tahu harus berprilaku seperti apa. Dia menyaksikan gadis yang selalu kuat itu berada dalam kondisi terburuk dihadapannya. Dia terisak dan menangisi seorang pria yang bukan dirinya. Jika dahulu Joan mungkin akan mengambil sikap acuh tak acuh, tapi bagaimana bisa dia seperti itu sekarang? mereka berdua telah menghabiskan malam yang panas meskipun tanpa bercinta. Itu membuat Joan telah melihat sisi Jiyya paling rentan dan barangkali tidak pernah dia perlihatkan pada orang lain. Kenyataan seperti itu membuat Joan merasa isi perutnya bergejolak. Dia merasa marah lantaran Jiyya harus repot-repot mengeluarkan air matanya demi seorang pemuda yang bahkan entah bagaimana perasaannya pada Jiyya.


“Saya tidak ingin membicarakan apa-apa denganmu, Sir. Kita sudah selesai sejak malam itu.” Jiyya berhasil kembali meraih suaranya. Meskipun lebih terdengar seperti gumaman dibandingkan perkataan bernada tegas seperti biasanya.

__ADS_1


“Maaf soal yang kau dengar tadi. Maria memang tipe perempuan yang sering bicara blak-blakan dan mungkin menurutmu itu bagian yang sangat kurang ajar. Saya minta maaf karena membawa nama Bestian juga—” Sir Joan jauh-jauh kemari hanya untuk minta maaf atas nama perempuan itu? Apa Jiyya harus peduli?


“Saya sudah bilang bahwa saya tidak ingin membicarakannya,” geram Jiyya lagi. Kali ini suaranya keluar lebih keras daripada yang sebelumnya. Jiyya bahkan memastikan menebalkan pada kata ‘tidak’ bahwa dia benar-benar tidak ingin tahu apapun soal Sir Joan dan perempuan yang barangkali adalah kekasihnya itu.


Kini baik Jiyya maupun Sir Joan hanya bisa bungkam. Meski begitu Jiyya sadar bahwa Sir Joan sedang mengawasi dirinya, hanya saja barangkali karena perkataan Jiyya pria itu jadi tidak tahu harus menjawab apa.


Jiyya jadi teringat satu kenangan bersama dengan pria ini, ketika dia menangis saat Bestian keluar dari kampus dan menurut isu pria itu bergabung dengan sebuah komunitas yang menyimpang hatinya begitu hancur saat itu. Sosok Sir Joan pada waktu itu memberikannya sebuah nasehat dan penghiburan, mengatakan padanya bahwa


Jiyya berbalik dan menatap Sir Joan setelah itu. Ada banyak hal yang ingin gadis itu katakan, tapi dia cukup pandai memilih perasaannya.


“Saya merindukan dia, saya merindukannya lebih dari yang dapat saya artikan. Tapi saya tidak ingin membicarakan soal dia lagi.” Gadis itu menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya dan kemudian mencoba untuk tersenyum meski Jiyya tahu bahwa senyuman yang dia buat mungkin akan terlihat jadi sangat mengerikan. “Tolong pengertiannya, Sir.”


Sir Joan memperhatikannya, dan melihat tatapan yang pria itu berikan padanya. Jiyya merasa hatinya dicengkram kuat-kuat. Apakah pria itu sedang mengasihaninya sekarang?

__ADS_1


“Kalau begitu jangan bicara lagi.” Sir Joan menjawab, suaranya terdengar serak.


Wajah Jiyya kontan berkerut ketika mendengar balasan dari Sir Joan, kenapa rasanya dia merasa kecewa? Tidak ada kata-kata penghiburan dari pria ini. Dia bersikap antipati. Tapi bukannya lebih bagus begitu? Jiyya meyakinkan diri. Sejak mereka berdua menghabiskan moment panas, perasaan Jiyya terhadap Sir Joan memang selalu menjadi sangat kompleks dan rumit. Termasuk dalam situasi ini.


Jiyya tadinya akan pergi lagi seperti rencananya, namun siapa sangka bahwa pria itu justru malah mendekatkan wajahnya dan setengah memaksanya. Sir Joan mendaratkan sebuah ciuman yang begitu panas padanya. Pria itu bahkan sampai mendorong Jiyya hingga punggungnya membentur dinding. Jiyya tidak mengerti dengan situasi yang berlalu dengan sangat cepat ini. Napas mereka memberat, Jiyya terbuai dan nyaris melupakan kesedihan yang memenuhi rongga hatinya. Namun alangkah terkejutnya Jiyya ketika pria itu berubah semakin nekat padanya.


“S-sir!” sempat dalam ciumannya Jiyya mencoba untuk menghentikan pergerakan pria itu dari kebuasan yang bisa mampir padanya kapan saja. Tapi Sir Joan tidak mau mendengar dan malah semakin memperdalam ciuman mereka berdua. Seolah itu adalah upaya putus asa yang dia perbuat untuk membuat Jiyya merasa lebih tenang.


Disisi lain Joan tahu bahwa ini adalah upaya paling rendah yang dia lakukan terhadap seorang wanita. Sebab biasanya Joan memang bukan tipe seorang pria pecinta eksibisionis. Dia memang pernah mendengar pengalaman Leon soal bercinta di tempat terbuka dan nyaris di tempat umum yang beresiko untuk diketahui oranglain. Tapi Joan tidak pernah benar-benar ingin melakukannya meskipun dari penuturannya itu terdengar mendebarkan.


Joan tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba. Dia benar-benar tidak memikirkan resiko perbuatannya sama sekali. Dalam kepalanya dia hanya ingin membuat Jiyya merasa bahagia dan tenang. Dia akan memberikan semua hal yang dia sanggup berikan untuk membuat gadis manis ini bisa melupakan pria yang sudah berada dihatinya


sejak lama. Joan kini menyibukan dirinya dengan membuat tanda pada bagian leher gadis itu. Seolah dia ingin menunjukannya pada dunia bahwa Joan adalah si pemilik yang berhak atas Jiyya.

__ADS_1


__ADS_2