
Silvana hampir tersedak napasnya sendiri. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Dia tidak pernah tertawa sekeras ini dengan oranglain selain Jiyya (karena Silvana yang kerap menggodanya) dan juga Jarvis (pria ini selalu punya celetukan khas yang terdengar konyol saat Silvana mengatakan sebuah lelucon) untuk waktu yang lama.
Bagaimanapun dia tidak bisa melupakan kejadian yang dia alami bersama sang dosen begitu saja. Dia tidak mengira bahwa Sir Arthur memiliki selera humor yang se-frekuensi dengan dirinya, terutama saat dia dikomentari oleh seorang pelayan saat dia menata makanan yang mereka pesan diatas meja. Pelayan yang nampaknya masih sangat muda tersebut secara spontan mengatakan pada Silvana bahwa Sir Arthur cukup tua untuk menjadi sosok ayah baginya dan hal itu bahkan pelayan tersebut katakan keras-keras.
Sepanjang mereka berada di restoran pilihan Sir Arthur, pria itu terus saja mengatakan banyak kalimat menyindir kepada si pelayan muda yang sempat melayani mereka berdua. Padahal Silvana tahu, pelayan tersebut hanya mengemukakan pendapatnya secara jujur, namun Sir Arthur tidak bisa menerimanya dengan baik.
Silvana juga menanggapi celetukan penuh nada kesal tersebut dengan kalimat lelucon. Dan menyebut Sir Arthur sebagai ‘Sugar Daddy’ yang membuat pria itu mendengus tidak terima lagi.
Kini Silvana dan Sir Arthur telah meninggalkan restoran dengan dua perasaan yang berbeda. Sir Arthur dengan kekesalannya, sementara Silvana dengan kegembiraannya. Tawa gadis itu meledak lagi ketika mereka tiba di pelataran parkir, dan pria itu mulai mendekati motor yang mereka tumpangi.
“Tawamu itu benar-benar mengerikan, Silvana.” Sir Arthur berkomentar, sementara Silvana masih sibuk mencoba untuk menghentikan tawanya.
“Kau sangat lucu, Sir. Harusnya tadi aku potret saja raut mukamu saat pelayan itu bilang kau itu tua dan seumuran ayahku.” Silvana menjawab keluhan Sir Arthur sambil memegangi perutnya dan terkekeh.
“Harusnya aku tadi juga merekam tawamu saat masih direstoran. Kau harus lihat sendiri bagaimana jeleknya dirimu saat itu,” balas Sir Arthur padanya, Silvana bisa melihat ada seringai menggelikan yang pria itu ulas di wajahnya.
Silvana kontan menegakan tubuh dan memberikan tatapan tajam pada sang dosen. “Uh, excuse me,” ujar Silvana. “Tawaku ini sangatlah ceria, dan wajahku selalu cantik. Sir. Itu fakta, dan tidak bisa di elak lagi.”
Sir Arthur mulai tertawa begitu mendengar argumentasinya. Mereka berbagi kebahagiaan yang sama.
Silvana bahkan lupa bahwa waktu tiga hari yang dia habiskan untuk bergalau ria karena dosen tampannya ini pernah ada dalam hidupnya. Well, Silvana memang cukup lihai untuk menyembunyikan apa yang dia rasakan. Sehingga walaupun sejujurnya hatinya sejak pertemuan pertama mereka di restoran hotpot hingga sekarang. Silvana sejujurnya berusaha keras untuk bersikap seperti dia yang biasanya.
Dia berupaya penuh untuk menutup seluruh rasa yang hendak meledak, apalagi saat Sir Arthur bertingkah seperti dia adalah pemuda kemarin sore yang jatuh cinta. Itu pemandangan yang menggemaskan sampai Silvana gemas ingin menciumnya. Namun dia ingat akan janjinya sendiri yang berkata bahwa dia tidak akan mengejar-ngejar
Sir Arthur lagi. Makanya dia tidak mungkin melanggarnya. Mau ditaruh dimana mukanya jika begitu?
__ADS_1
“Whatever you say.” Pria itu terdengar menambahkan kata-kata untuk membalas Silvana. Dan kemudian tiba-tiba
saja mereka berdua terdiam. Saling menatap satu sama lain, membuat Silvana merasa takut dengan apapun yang hendak pria itu katakan padanya. Oh tidak… apakah dia ingin benar-benar mengakhiri ini? apa Sir Arthur ingin
mengkonfirmasinya dengan kabar buruk? Silvana jelas tidak siap dengan itu.
“Jadi…” Satu kata terucap, Sir Arthur terlihat gugup begitu pula Silvana yang lebih dari sekadar tegang mendengarkan lanjutan dari kalimatnya. Jeda yang panjang membuat Silvana gemas. Jantungnya berdebar kencang.
“Ya?”
“Kau ada kesibukan lain?”
hah? Silvana menatap Sir Arthur dengan pandangan tidak percaya. Apa dia sedang bermimpi sekarang?
“Kenapa memangnya?” Silvana sebenarnya sudah ingin meloncat kegirangan. Namun karena harga dirinya cukup tinggi, gadis itu berusaha membuat suaranya terdengar senormal mungkin meski jujur saja dia berharap ada sesuatu yang menyenangkan ditawarkan oleh pria dihadapannya.
Silvana menahan napasnya. Oh apa ini?
Tapi bukan Silvana jika dia memperlihatkan ekspresi penuh emosinya kepada lawan bicara. Sejujurnya ini tidak pernah Silvana pikirkan sebelumnya. Karena gadis itu berpikir tidak akan ada lagi moment kedua untuknya bersama sang dosen. Tapi setelah ini, rasanya harapannya seperti sedang dijunjung tinggi keatas langit.
“Untuk apa aku harus mampir kesana?” Silvana kini memberikan senyuman nakal pada Sir Arthur. Yang entah mengapa dibalas dengan reaksinya yang cukup menarik bagi gadis itu. Apa mereka sudah satu pikiran sekarang?
“Uh… barangkali kau mau kubuatkan kopi, atau teh misalnya?” Silvana ingin sekali tertawa, tapi dia menahannya. Dia tidak bisa merusak suasana hanya karena mendengar ucapan Sir Arthur yang sangat payah dalam membuat alasan.
“Klise sekali. Kurasa itu adalah alasan terburuk yang pernah aku dengar dari seorang pria.”
__ADS_1
“Tidak ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak—” Silvana sigap menaruh jari telunjuknya di depan bibir Sir Arthur sambil mendesis, sebelum memberikan pria itu senyuman terbaik yang bisa dia ciptakan.
“Biar aku luruskan.” Silvana menggoyangkan pinggulnya sedikit didepan pria itu, sesaat gadis itu bisa melihat bahwa Sir Arthur sempat meneguk salivanya sendiri. “Apa ini artinya kau ingin menjebakku untuk bermalam ditempatmu?”
Arthur sudah sangat terkejut mendengar pernyataan yang luar biasa frontal dari Silvana. Namun pria itu mulai mengembalikan ekspresi wajahnya ke posisi semula. Seharusnya dia bisa lebih siap menghadapi Silvana, karena gadis itu memang selalu terang-terangan mengungkapkan perasaannya.
“Itu pun kalau kau memang bisa kujebak.” Arthur tidak menyangka bahwa dirinya malah mengatakan sesuatu bernada menantang pada Silvana. Mendengar dia berkata demikian, gadis itu menyunggingkan senyuman manisnya.
“Sebetulnya tanpa kau jebak pun aku bersedia, Sir. Hanya saja aku tidak suka melanggar apa yang sudah aku janjikan padamu. Ingat yang pernah aku bilang waktu itu?”
Arthur tentu tidak akan pernah melupakan apa saja yang pernah terjadi diantara mereka berdua, sebelum maupun sesudahnya. Tiba-tiba hal itu menjadi sebuah kenangan yang sulit untuk pudar seiring berjalannya waktu. Dan bila dia mengingat apa yang Silvana katakan sebelum mereka akhirnya tidur bersama. Sejujurnya itu sedikit mengganggu Arthur.
“Ya, aku ingat.” Suara pria itu merendah, dia kemudian merasa menyesal karena waktu itu memancing Silvana untuk mengatakan hal demikian. Sudah pasti gadis itu tidak lagi tertarik padanya. Toh, dia hanya tua bangka yang seharusnya sudah membangun biduk rumah tangga. Namun naasnya malah ditinggal pergi oleh perempuan yang ingin dia persunting. Arthur tidak pernah merasa semenyedihkan ini sebelumnya.
“Jadi?”
“Aku ingin mengajakmu kerumahku. Itu saja.”
Jeda yang terbilang cukup panjang, Silvana menatap dirinya dengan lekat sampai kemudian dia terkikik sendiri. Apa yang lucu bagi gadis itu sekarang? apakah dia senang melihat Arthur yang merasa bersalah dan mati kutu seperti ini?
“Aku hanya bercanda. Kalau kau ingin aku mengunjungimu maka ayo. Aku tidak keberatan. Lagipula malam masih panjang, tapi tolong pastikan untuk mempertanggung jawabkan ajakanmu ini ya, Sir,” tutur Silvana sambil mengedipkan mata pada Arthur yang hanya bisa bengong tanpa mengatakan apapun. Serius dia mau? Kata-kata itu berseliweran dikepala, sampai akhirnya Arthur sadar bahwa dia harus segera melakukan sebuah upaya dibandingkan berdiri diam di pelataran parkir sambil memandangi mahasiswi-nya yang cantik.
“A-ah, ayo.” Arthur tidak tahu apa yang harus dia katakan sebagai jawaban. Pria itu hanya menarik motor-nya untuk dia naiki sementara gadis itu menunggu sampai siap untuk ditumpangi.
Ketika Silvana telah duduk di belakangnya, Arthur masih saja tidak pernah siap ketika dia menerima pelukan dibelakang punggungnya. Milik gadis itu mendempet bagian punggungnya, dan terus terang Arthur menyukai sensasinya. Namun bagian dari dirinya tiba-tiba menyalak untuk menyadarkan. Bahwa Silvana barangkali memang
__ADS_1
terbiasa bersikap seperti ini kepada semua pria. Tidak ada yang special, dan hal itu pula sedikit banyak membuat pria itu sadar bahwa dia tidak patut untuk memikirkan Silvana dalam ranah percintaan.
Oh, ayolah. Dia baru saja dicampakan oleh Kelly, dan malam ini tiba-tiba saja Arthur malah berboncengan dengan mahasiswinya dengan posisi seperti ini. Apa yang akan dikatakan orang-orang?