
Ini membuatnya merasa mual dan kepalanya jadi agak pusing.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara, Silvana masih memeluknya dari belakang sementara Arthur masih pula sibuk dengan pemikiran kuno yang ada dikepalanya. Barulah saat mereka berdiri didepan pintu apartment-nya, Arthur melirik kearah Silvana dan menemukan gadis itu memasang ekspresi wajah yang biasa. Benar dugaannya, bahwa hal-hal seperti ini barangkali sudah biasa Silvana lakukan dengan pria lain. Sebab gadis itu terlalu tenang, padahal dia sedang dibawa ke apartment seorang pria.
“Jadi…” gumam Arthur ketika dia usai membuka kunci dan membuka pintu apartment-nya lebar-lebar didepan Silvana. “Ini adalah tempat tinggalku, silahkan masuk. Maaf agak berantakan.”
Silvana memasuki ruangan dalam apartment tersebut, dan melihat sekelilingnya dengan ekspresi yang biasa. Namun meski begitu kedua matanya terlihat berbinar-binar. Arthur tidak benar-benar tahu apa yang gadis itu pikirkan tentang dia setelah melihat kediamannya. Tapi saat Silvana tersenyum kecil kearahnya, Arthur merasakan debaran aneh yang berpacu cepat di jantungnya. “Kurasa memang berantakan,” balas gadis itu kalem.
“Aku akan buatkan kopi, kamu mau?” Untuk menetralisir hal-hal yang membuatnya jadi kikuk setengah mati. Dia bertanya pada sang tamu yang menganggukan kepala. Melihat adanya kesempatan Arthur memilih kabur dari sana, dan berangsur menuju kearah dapur sementara Silvana secara otomatis duduk di ruang tamu. Dia tidak mengatakan apapun sejak dia tiba naik di motornya. Lebih seperti aneh saja melihat Silvana agak pendiam dan kalem seperti ini. Meski begitu sesekali lewat bahunya Arthur sadar gadis itu memperhatikannya. Mengawasinya dengan cara yang berbeda dari biasanya.
“Milikmu seperti yang pernah kau pesan di hotel waktu itu kan?” ujar Arthur sambil mengenakan celemeknya tanpa sadar.
Silvana tertawa kecil dibelakangnya, begitu renyah dan Arthur candu akan suaranya itu. “Memangnya kau masih ingat bagaimana seleraku?”
“Sedikit banyak, aku harap setidaknya mendekati daripada aku membuat yang tidak cocok dengan seleramu.”
Arthur berjinjit sedikit untuk meraih cangkir yang dia letakan di lemari dapurnya. Sementara dia tengah merebus air hingga mendidih dan menyiapkan kopi yang tersedia di dapurnya. Sebenarnya dia berharap ada sesuatu yang terjadi, misalkan Silvana yang bergerak menyerangnya duluan. Karena mereka kerap kali mendapatkan sebuah moment panas jika Silvana yang memulainya.
Arthur tahu dia sangat menyedihkan karena menginginkan seorang gadis membuat langkah pertama. Anehnya dia hanya seperti ini kepada Silvana. Pada perempuan lain dia bisa dengan mudah melakukan pergerakan untuk menarik perhatiannya. Ini memang sangat aneh.
Ketika kopi selesai di buat Arthur meletakannya di hadapan Silvana. Gadis itu memaku pandang padanya. senyumannya benar-benar sangat bersinar bagi Arthur.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Arthur setelah merasa tidak begitu nyaman ditatap, sementara gadis itu tidak mengatakan apa-apa.
“Celemek yang bagus,” komentar Silvana.
Menyadari dia masih mengenakan celemek, kontan Arthur kaget dan merasa malu. Oh, dia bahkan memakai benda ini secara tidak sadar.
“Jangan mengejekku begitu,” timpal Arthur sambil membuka celemek yang dia kenakan. Dia terlihat menggerutu, sebelum tiba-tiba saja atmosfer berubah drastis tatkala Silvana buka suara lagi.
“Aku mengejekmu, aku hanya mengatakan apa yang ada dipikiranku.” Silvana tertawa kecil sambil kemudian meneguk kopinya sendiri, sebelum akhirnya terlihat agak kaget. Meski begitu dia hanya tersenyum. “Sepertinya Sir Arthur keliru mengenai kopi-ku.”
“Benarkah? Kalau begitu tidak usah diminum lagi. Biar aku buatkan yang baru.” Arthur segera menarik kopi yang dia buatkan untuk Silvana. Gadis itu hanya mengulas senyum lagi.
“Sejujurnya rasanya aneh bagiku tertawa dan berlagak seperti kita tidak pernah memiliki masalah sebelumnya.” Arthur menegang lagi. Dia yang semula hendak pergi ke dapur langsung membeku ketika Silvana mengungkit soal itu lagi. Dia tahu bahwa dirinya adalah seorang pria yang agak plin plan dalam hal ini. Dia selalu memiliki hal-hal yang bertentangan soal Silvana.
“Sir Arthur?” Silvana menyentuh tangan pria itu. Sedikit membungkukan badannya sehingga kaos yang dia kenakan dengan mudah dapat memperlihatkan bagian privat-nya yang menggoda iman. “Apa kau ingin tidur denganku?”
Arthur membelalakan matanya, dia menatap mata Silvana yang nampak bersungguh-sungguh padanya. Sejurus kemudian pria itu menganggukan kepalanya. “Aku ingin.” Arthur tanpa sadar mendekatkan dirinya pada Silvana. Bibirnya nyaris bersentuhan dengan gadis itu, sementara Silvana sendiri telah menutup kedua matanya. “Tapi, apakah kau benar-benar menginginkanku?” tanya Arthur seolah sedang mempertanyakan ketidakyakinannya terhadap dirinya sendiri melalui Silvana. Kedua kelopak mata Silvana kontan membuka lagi.
Gadis itu sedikit bergerak kearahnya, sekali lagi dengan mudah Silvana mencuri ciuman di bibirnya. Ciuman itu penuh dengan seluruh hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, Arthur dapat merasakan betapa kompleksnya itu melalui sentuhan yang Silvana berikan terhadapnya. Ini gila, rasanya luar biasa. Silvana benar-benar mengisi seluruh kekosongan yang ada didalam dirinya dengan begitu mudah. Gairah pria itu dengan mudah meletup dan tumpah ruah tak dapat dicegah.
“Apakah tindakanku cukup sebagai bukti bahwa aku menginginkanmu, Sir?”
__ADS_1
Arthur kini melupakan urusannya untuk mengganti kopi baru untuk Silvana. Pria itu tiba-tiba saja sudah bergerak untuk menyerangnya, melepas kerinduan yang dia tahan sejak lama. Silvana membuatnya tidak tahan.
“Silvana.” Arthur menyebut namanya. Arthur menggunakan ibu jarinya untuk membelai salah satu tulang pipi mahasiswi cantiknya itu dengan penuh perasaan. Mereka berdua saling menatap. Kata-kata yang tak terucapkan membakar mereka dalam sebuah kebutuhan untuk menuntaskan birahi sebagai dua insan yang kehausan. Sekali lagi pria itu menekan bibirnya pada bibir Silvana untuk mengungkapkan banyak hal yang akhir-akhir ini benar-benar mengganggu dirinya. Silvana sendiri menyambutnya dengan penuh gairah yang sama.
Entahlah ini seperti mereka berdua memang pada dasarnya sudah saling merindukan.
***
“Good—”Silvana berhenti sesaat untuk menempelkannya pada bibir Sir Arthur “—morning—” Disusul dengan satu kecupa lagi. “—Sir Arthur”
Sir Arthur terlihat menerbitkan senyumannya setelah mendapatkan tiga kecupan ringan dibibirnya. Dia sedikit mengangkat tubuhnya sehingga kepala Silvana bisa berada dalam dadanya sementara tangan pria bergerak mengelus kepalanya.
“Good morning to you too Princess,”sambut Arthur pula.
Silvana hanya bisa sedikit meringis mendengar sebutan itu. Dia juga menangkap adanya binar-binar indah pada kedua kelopak mata berwarna coklat yang kini menjadi warna favorit gadis itu. Sejenak, Silvana mengangkat tangannya untuk sekadar membelai pipi sang dosen tampan dengan cara yang lembut. Pria itu menerimanya dengan hangat, wajahnya terlihat rileks ketika tangan Silvana mendarat disana. Pria itu tanpa diduga juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Silvana. Sir Arthur mengelus pipinya pula.
“Jadi, kita secara otomatis telah melanggar perjanjian yang aku buat kan? maksudku kita terhitung sudah dua kali melakukan ini sekarang.” Silvana mengujar, suaranya tipis, tapi masih dapat diterima oleh Arthur dengan sangat baik. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, malah dia menggunakan gesture tubuhnya untuk memberikan jawaban pada Silvana. Wajah Sir Arthur turun ke rahangnya dan memberikan Silvana kecupan disana.
“Hmmm…” Hanya huruf konsonan tanpa arti yang Sir Arthur ujarkan, hanya saja kali ini pria itu agak lebih nakal sebab menekankan bibirnya pada leher Silvana.
Gadis itu kontan merasakan detak jantungnya meningkat hingga dua kali lipat. Dia seharusnya tidak mengatakan apa yang seharusnya tidak dia tanyakan. Silvana harusnya berpura-pura kembali mereka tidak terikat dengan janji itu. Namun setiap bersama Sir Arthur, Silvana tidak bisa menampik bahwa kenyataannya dia memang tidak bisa menahan diri untuk berkata jujur dalam beberapa kesempatan.
__ADS_1
Kemarin mungkin dia cukup hebat, lantaran bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa padahal sebenarnya dia galau setengah mati hingga tiga hari gara-gara Sir Arthur. Tapi dia juga sedikit banyak mengagumi kemampuan aktingnya itu sebab dengan begitu dia bisa merasakan kembali kehangatan Sir Arthur, bahkan mereka melakukannya di kediaman pria itu. Ini jadi terasa lebih intim.
“Jadi apa artinya ini semua?” Dia menatap Sir Arthur yang masih berstagnasi disana, seolah dia terlalu menikmati apa yang dia lakukan. “Apa pendapatmu tentang ini, Sir?”