Honey Trouble

Honey Trouble
Reuni kecil


__ADS_3

Selang beberapa jam selepas Jarvis menemuinya. Silvana rasa dia sudah bisa mulai bangkit kembali. Gadis itu keluar kamar untuk pertama kalinya, meski memang wajahnya masih terlihat sedikit kusut. Meski begitu setidaknya dia sudah bisa mulai menggerakan tubuhnya dan tidak hanya berbaring saja.


“Kau sudah lebih baik sekarang?” tanya sang Mama tatkala dia mengetahui putri semata wayangnya baru saja keluar dari kamar.


“Ya, sedikit lebih baik,” balas gadis itu sambil membuang bekas wadah ayam goreng yang dibawakan Jarvis.


“Kurasa Jarvis baru saja membersihkan isi otakmu.”


“Ya, dia memang teman yang pengertian. Entah jadi apa kalau aku tidak punya orang sebaik dia.”


“Jadi, kalian berdua berkencan sekarang?” selidik Mamanya, wanita paruh baya itu kini mulai menyimpan rasa ingin tahu yang besar. Sebab Jarvis yang adalah anak dari sahabatnya barangkali bisa berganti status menjadi menantu dirumah ini. Setidaknya itulah yang sang Mama pikirkan. Terlebih Jarvis dan Silvana sudah dekat sejak kecil dan mereka sudah saling mengetahui karakter masing-masing. Cukup mudah untuk menjalani biduk rumah tangga bila kondisinya seperti itu.


Namun sayang, Silvana tidak berpikir demikian. Gadis itu malah mengerutkan keningnya di depan sang Mama. Dia tidak terima lagi-lagi Mamanya mengatakan hal yang menurutnya tidak masuk akal.


“Itu mustahil Ma, kami berdua hanya berteman,” sanggah Silvana. Sejujurnya dia baru saja membicarakan hal itu dengan Jarvis dan seperti yang pria itu katakan sekali mereka berteman maka akan selamanya berteman. Tidak lebih.


“Menurutku kalian berdua cocok, meski pembawaannya Nak Jarvis terlihat cuek. Tapi kurasa pemuda itu cukup bisa diandalkan. Jujur saja Mama selalu tenang kalau kau bersama dia. Dan misalkan kalian mau menikah-pun Mama dan Papa pasti langsung merestui kalian.” Mendengar komentar yang bagi Silvana terlalu jauh, gadis itu kian mendecak sebal. Kenapa Mamanya hobby sekali memperumit keadaan dengan omong kosong seperti itu?


“Ck, jangan buat aku pusing dengan sesuatu seperti itu Ma! Baru saja aku merasa lebih baik, Mama malah membuatku terpuruk lagi.”


“Mama hanya mengatakan apa yang Mama pikirkan. Lagipula Silvana, naluri seorang Mama tidak pernah salah.”


“Ya, memang tidak pernah salah. Walaupun aku ini putrinya Mama tapi aku punya seleraku sendiri soal laki-laki. Jarvis bukan tipe-ku dan aku juga bukan tipe-nya.”


“Setidaknya menurutku dia jauh lebih baik dari mantan pacarmu itu. Siapa itu namanya.”

__ADS_1


“Dibahas lagi, sudah kubilang jangan membahas orang itu lagi, Ma!” Kini Silvana benar-benar sebal pada sang Mama. Dia tidak mengerti mengapa perempuan itu selalu saja membawa orang yang paling dia hindari dalam obrolan. Silvana benci dengan pria itu dan selamanya akan begitu. Memang benar bahwa bila dibandingkan mantan pacarnya, Jarvis seribu kali lipat lebih baik. Tapi bukan itu masalahnya.


Gadis itu mendeking, dia bergerak keluar dari dapur menuju pintu keluar. Mengenakan jaket seadanya sebelum benar-benar memutuskan untuk keluar. Sang Mama yang tahu bahwa Silvana hendak keluar buru-buru mengikuti. Tak lupa dengan omelannya lagi.


“Hei mau kemana? Ini malam dan kau baru baikan. Sudah gila mau keluar rumah dalam kondisi begitu?”


“Dirumah juga kepalaku pusing mendengar omongan Mama. Sudah ya. Jangan larang aku. Bye.”


***


Ini membosankan.


Jika waktu itu dia berjalan-jalan untuk mencari muka pada Sir Arthur. Silvana kini tidak punya tujuan apa-apa selain menghilangkan rasa stress dikepalanya. Hubungan mereka sudah berakhir, Silvana harusnya menyudahi obsesinya dan bukannya malah menutup diri dan terpuruk seperti ini.


Ini memang aneh untuknya, seperti mengulang masa kelam saat dia jatuh cinta. Silvana merasa dia menjadi gadis yang lemah saat dihadapkan dengan perasaan itu. Jarvis benar, dia akan bermetamorfosa menjadi gadis yang menyedihkan saat jatuh cinta.


“Jiyya!”


Silvana kembali memasang ekspresi ceria. Dia melambaikan tangannya dengan antusias sebelum kemudian menghampiri mereka berdua. Berkat panggilan dari Silvana keduanya mulai menghentikan cekcok-nya.


Jiyya dan Dean menoleh kearahnya seketika, dengan wajah Jiyya yang terlihat membulatkan kedua matanya lebar-lebar ketika mendapati Silvana mendekat.


“Silvana?!” teriak Jiyya padanya. Silvana tahu bahwa gadis itu sekarang sangat khawatir dan tidak percaya akan keberadaan dirinya ditempat ini.


“Hai, Silvana. Apa kabar? Long time no see.” Sementara Dean hanya memberinya seringai ceria seperti biasa dan menyapanya dengan santai.

__ADS_1


Silvana hanya tersenyum membalas sapaan Dean begitu dirinya telah cukup dekat dengan dua eksistensi mereka berdua.


“Hei, Dean. Kudengar kau akhir-akhir sibuk berguru secara pribadi dengan Sir Yoga. Senang bertemu denganmu setelah sekian lama,” ujar Silvana lagi, dia meneliti tubuh pria itu sambil memiringkan kepalanya. “Kau terlihat lebih tinggi dari yang kuingat. Badanmu juga jadi bagus. Hei, pelatihan seperti apa yang kau jalani? Bukannya Sir Yoga itu cuma melatihmu menjadi seorang pria kutu buku yang menulis novel ya?”


Dean hanya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dan mulai tertawa. Sejujurnya pemuda itu bingung dengan Silvana yang sebenarnya sedang memuji atau mengejeknya. Lantaran gadis itu menyimpan dua kata kontradiktif dalam satu kalimat. “Yah, beberapa mengatakan hal yang sama padaku. Tapi cuma milikmu yang membuatku bingung. Entah kau itu sedang memujiku atau menghinaku.” Tapi meski begitu Dean menanggapi perkataan Silvana dengan riang. Karakter pria itu memang cukup bagus untuk berada disamping Jiyya. Gadis itu memang selalu dikelilingi oleh orang-orang berisik. Dia jadi ingat apa yang dikatakan Jarvis dan juga Sir Arthur


padanya. Ah… iya, urusannya kemari bukan untuk bicara dengan Dean melainkan ingin bicara secara pribadi dengan Jiyya.


Silvana menjulurkan lidahnya pada Dean. Lalu setelah itu melirik kearah Jiyya yang kini memperhatikan dirinya dengan ekspresi muka yang begitu rumit. Lihatlah, Jiyya bahkan sampai menaikan sebelah alisnya sementara kedua tangannya terlipat rapi didepan dada. Dia benar-benar memperhatikan seluruh kiprah yang Silvana buat


dalam diamnya.


“Jiyya, jika kamu sedang tidak sibuk. Aku ingin bicara denganmu.”


Raut curiga Jiyya, tiba-tiba berubah lagi matanya menyipit seolah dia sudah tahu topik apa yang akan Silvana bahas dalam pembicaraan mereka berdua.


“Ya, tentu aku tidak sibuk sama sekali.” Dia kemudian melirik kearah Dean. “Dean kau juga harus mendatangi pertemuan lain kan? orang-orang pasti sudah menunggumu,” sambung Jiyya lagi yang langsung ditanggapi dengan wajah Dean yang cemberut.


“Kau bilang mau ikut denganku! Kau sudah janji kan?”


Terlepas dari pernyataan Dean yang memohon padanya dengan suara manja tanpa merasa bersalah, membuat wajah Jiyya terlihat jijik pada sahabat kecilnya. Jiyya mencondongkan tubuhnya pada Dean sambil memperlihatkan raut muka intimidasi pada Dean, setelah itu dia meninju kecil bahu pemuda itu.


“Sejak awal aku bilang aku tidak mau ikut denganmu. Bedebah! Kau yang menjebakku. Pergi saja sendiri dan jangan libatkan aku!” tutur Jiyya dengan suara yang sedikit meninggi. Membuat Silvana bergidik ngeri lantaran sahabatnya akan berubah menjadi bak nenek sihir bila dia merasa tidak nyaman dan tak suka.


Tapi pemandangan ini membuat Silvana terkikik geli, pasti ada sesuatu yang terjadi sampai Jiyya terlihat semarah itu. Kadang-kadang melihat Jiyya yang sedang marah menjadi penghiburan tersendiri bagi Silvana.

__ADS_1


Namun anehnya, meski telah diperlakukan seperti itu oleh Jiyya. Mental Dean cukup bebal. Silvana bertanya-tanya apa mungkin hati pria itu sudah terlalu kuat seperti baja lantaran terus bersama dengan Jiyya. Sehingga dia sama sekali tidak takut walau Jiyya memasang ekspresi seperti itu terhadapnya.


“Aku tidak mau kesana sendiri. Begini saja, bisakah aku ikut bersama kalian?”


__ADS_2