
Silvana sekali lagi membuat atensi Sir Arthur teralihkan padanya. Berputar-putar bagai seorang peraga busana professional.
“Kau terlihat hebat, jika saja kau tidak mengenakan celanaku justru kau terlihat lebih seksi,” sambut Sir Arthur secara gamblang, membuat Silvana hanya mendecakan lidahnya dengan sebal.
“Memang ya, kepalamu itu hanya berisi hal-hal mesum saja. Sir,” balas Silvana sebelum akhirnya berjalan mendekatinya dengan sedikit susah payah karena mengenakan pakaian yang kebesaran.
“Kau pikir ini ulah siapa ha?” ujar Sir Arthur lagi.
Namun kali ini tanpa menjawab tiba-tiba saja Silvana menarik tangan Sir Arthur dan melepaskan gelangnya. Pria itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah polah jenaka yang kini sedang gadis itu coba pertontonkan padanya. Dia terkekeh.
“Hai, aku Arthur. Dosen paling hot di kampus,” tutur Silvana tiba-tiba mencoba untuk menirukan Sir Arthur dengan suaranya yang tentu saja terlalu tinggi.
Sir Arthur mulai tertawa, dia memegangi perutnya saat melihat gadis itu berusaha melakukan impersonate.
“Aku ini tukang merokok dan selalu mengeluh terhadap semua hal,” lanjut Silvana sebelum kemudian berpose dramatis. “Lihat ini, kau bisa melihat otot bisepku? Aku pria yang seksi.”
Sir Arthur tertawa lagi. “Kapan tepatnya kau menguasai teknik mind body switch?” Pria itu bertanya. “Kau terlihat mirip sekali denganku.”
Silvana hanya menyunggingkan seringai bak seorang predator yang siap memangsa sebagai penunjuk awal baginya untuk kembali menggoda pria itu menggunakan kata-kata. “Well, aku tidak tahu bahwa pertunjukan kecil bisa memiliki nama yang keren. Tapi jika aku betulan bisa melakukannya kurasa itu bukan hal yang buruk.” Gadis
itu kemudian mendekat. “Aku mungkin bisa mengambil alih pikiranmu dan kemudian membuatmu melakukan apapun yang aku inginkan pada tubuhku.”
Sir Arthur menyimak ucapan Silvana yang bernada menantang dengan cara yang super santai. Pria itu meletakan kepalanya di telapak tangan sementara dirinya berbaring menyamping untuk menatap Silvana yang sedang bertingkah.
__ADS_1
“Sebenarnya tanpa itu pun aku sanggup melakukan apapun yang kau inginkan pada tubuhmu,” jawabnya sebelum kemudian mengulurkan tangannya sendiri untuk menarik Silvana ke tempat tidur. Pria itu lantas berbisik ditelinga Silvana dengan cara yang begitu seduktif. “Asalkan kau bilang please.”
Silvana mengangkat sebelah alisnya, menyadari betul bahwa kini si dosen tampan sedang mencoba untuk menggodanya balik. Maka kemudian gadis itu mendekatkan wajahnya, nyaris bibirnya menyentuh bibir Sir Arthur. “Akan aku ingat,” ucapnya dengan nada bicara yang sensual. Sebelum terjadi hal lain, cepat-cepat Silvana menarik diri. Lalu terkikik geli ketika melihat adanya kekecewaan besar dalam ekspresi pria itu.
“Sekarang,” mata Silvana kemudian turun ke bibir pria itu dan beralih kembali pada kedua netra coklat menggodanya. “Please, buatkan aku sarapan.” Kemudian Silvana terkekeh geli melihat raut muka kecewa yang pria itu buat, lantaran ucapan Silvana yang barangkali tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Meski kecewa, namun pria itu segera beringsut dari tempatnya. “Oke, Princess,” serunya setengah meledek. “Keinginanmu adalah perintah bagiku.” Sir Arthur kemudian melirik kearah celananya yang masih digunakan oleh Silvana. Tanpa banyak bicara pria itu tiba-tiba saja menarik turun celana yang sedang dikenakan oleh Silvana. “Tapi sebelum itu, aku membutuhkan ini.”
Silvana menggembungkan pipinya, tatkala melihat Sir Arthur menutupi bagian bawah tubuhnya dengan celana. Dia berguling di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. “Boleh kupinjam kamar mandimu?”
“Tentu saja,” balas Sir Arthur ketika pria itu mulai keluar dari ruangan kamar menuju ke dapur.
Masih dalam kondisi mengenakan baju kebesaran milik dosennya, Silvana mengikuti pria itu berbelok ke ruangan yang Silvana ketahui sebagai dapur, sementara dia sendiri menuju satu pintu dengan dinding yang berwarna biru muda di dekat dapur.
Kamar mandi pria itu sedikit lebih sempit dari dugaan Silvana, tapi ruangan ini memang cocok untuk pria itu. Tidak berlebihan, tidak mewah, namun sederhana dan terawat. Seperti cerminan diri Sir Arthur sendiri.
Dia tidak terbiasa mandi menggunakan shower.
Demi seluruh kehidupannya, mengapa seperti ini?
Merasa harus tahu diri di rumah oranglain, Silvana tidak banyak berkomentar atau mengeluh. Secepatnya dia membuka atasan yang menutupi tubuhnya untuk melangkah menuju satu direksi khusus sebagai tempat dia menggunakan shower. Dan benar saja ini adalah mimpi buruk bagi gadis itu.
Ada banyak tombol yang terpasang di dinding membuat Silvana kebingungan sendiri. Mencari tahu sendiri sebelum meminta bantuan pada pria-nya yang sedang sibuk diluar sana untuk urusan perut mereka. Tulisan yang ada di setiap tombol memang diberikan keterangan. Namun menggunakan tulisan bahasa jepang. Kenapa harus bahasa jepang? Silvana menggerutu dalam hatinya. Berkacak pinggang, sementara keningnya berkerut mencoba memahami walaupun tidak ada yang terlintas dibenaknya untuk permasalahan ini.
__ADS_1
Setelah berpikir keras, Silvana kemudian akhirnya telah memutuskan pilihan. Dia mengulurkan tangan, untuk menekan salah satu tombolnya sebelum memutar kenopnya. Tiba-tiba saja gadis itu dihadiahi gelombang besar air panas yang cukup untuk membakar tubuhnya. Kontan gadis itu berteriak kaget.
“Oh sialan!”umpatnya. Melompat mundur dari kucuran air shower yang menyala. “Dumb thing!” Silvana memarahi shower yang ada dikamar mandi milik dosennya. Sebenarnya itu tidak banyak membantu hanya saja Silvana merasa sedikit marah karena dia bodoh dan tidak bisa menaklukan benda ini.
“Bicara yang cantik, Princess. Kalau kau tidak tahu harusnya kau bertanya.”
Mendengar suara Sir Arthur yang cukup dekat, Silvana sedikit berjengit lantaran kaget. Gadis itu berbalik dan sudah menemukan Sir Arthur yang menyandarkan salah satu tangannya pada kusen pintu kamar mandi, sementara tangan yang lain di pinggangnya. Pria itu memberikan tatapan meledek pada Silvana sebelum dia bergabung bersamanya.
“Shower milikku membuatmu kesulitan, Silvana?”
Silvana memutar matanya dan meletakan kedua tangannya di pinggang. Dia menatap kepala pancuran dengan ekspresi kesal dan marah.
“Ya, shower milikmu ini menyebalkan, Sir. Ganti yang baru saja, dasar orangtua,” celetuk Silvana menumpahkan kekesalannya pada Sir Arthur selaku pemilik benda mengerikan ini.
Sir Arthur hanya terkekeh namun dengan kalem pria itu melangkah menuju area shower dan menekan beberapa tombol di dindingnya dengan cepat. Hanya perlu menunggu sebentar saja saat air yang mengalir dari pancuran tersebut berubah menjadi sedikit lebih hangat.
“Berteriak dan marah-marah saja tidak akan cukup membuat showerku menurut padamu, Silvana” jawab pria itu, menoleh sekadar ingin melihat bagaimana reaksi Silvana. Gadis itu tidak berkomentar, malah dia langsung menyerahkan dirinya untuk diguyur air hangat. Rembesan air langsung membasahi rambut pirang panjangnya sebelum merambah ke lembah diantara dua gundukan menariknya juga menurun untuk membasahi bagian favorit pria itu. “Padahal kau tinggal minta bantuanku saja atau kau mencobanya sendiri, setidaknya salah satu diantara itu akan mempermudah urusanmu.”
“Shut up!” jawab Silvana. Matanya terpejam saat dia merasakan air hangat membasahi tubuhnya. Kepalanya menoleh kearah sumbernya, sementara tangannya mulai memijat kepalanya sendiri setelah diberi shampoo di rambutnya. Gadis itu kemudian membuka matanya lagi ketika dia menyadari sang dosen tidak keluar dari kamar mandi dan malah menyaksikannya. “Sir, celanamu basah.” Silvana berkomentar.
Sir Arthur kontan melirik kebawah dan menyadari bahwa memang kain yang menutupi tubuhnya sudah basah kuyup. Perhatiannya teralihkan oleh tubuh Silvana sampai pria itu lupa bahwa dia sedang mengenakan sesuatu ditubuhnya.
“So they are,” Dia menggumam sebelum kemudian secara perlahan melepas celana yang dia kenakan dan melemparnya pada keranjang pakaian kotor.
__ADS_1
Silvana menatap bagian bawah sang dosen tampannya dengan binar nakal. “Kurasa aku lebih suka kau tanpa celana, Sir,” komentarnya.
Sir Arthur bergerak maju untuk memeluk tubuh Silvana, kemudian memberikan kecupan lembut dihidung bangir gadis itu. “Aku juga.”