
Adalah hal yang sedikit lucu bagi seorang Jiyya. Dia mencoba menyibukan diri agar tidak berurusan dengan Sir Joan namun semesta malah mengirim pria itu untuk hadir di sekitarnya dalam ranah kebetulan. Padahal ada banyak tempat yang bisa mereka datangi, tapi pertemuannya dengan Sir Joan seolah telah direncanakan dan bahkan dengan lari saja tidak cukup bagi Jiyya untuk dapat menghindari. Sekali lagi pria itu menjebaknya lagi. Kali ini dengan satu problematika lainnya. Mengingatkan Jiyya pada Bestian. Menjeratnya dengan sebuah skinship tak wajar, namun cukup membantunya untuk melupakan sementara.
Jiyya selalu rentan saat mendengar nama Bestian disebut. Terlebih oleh orang asing yang Jiyya saja tidak pernah bertemu muka dengannya sebelum ini. Aneh baginya mendengar orang lain berbicara buruk soal Bestian. Sekaligus bodoh baginya karena selalu bergerak tanpa sadar untuk membela seorang pria yang barangkali sudah tidak mau peduli pada dia lagi. Meski begitu fakta bahwa Bestian selalu ada dipikirannya tidak dapat dia cegah.
Sebetulnya ada banyak hal random lain yang bisa dia pikirkan. Misal mengapa matahari harus tenggelam terlebih dahulu supaya kita bisa mendapati malam. Mengapa manusia harus kesulitan terlebih dahulu untuk mendapatkan sebuah pelajaran. Atau bagaimana mahluk hidup dialam liar harus saling membunuh untuk dapat bertahan hidup lebih lama. Lebih mengerikan lagi adalah saat Jiyya menyadari adanya sedikit pergeseran disudut hatinya tentang orang yang berhak untuk mengisi posisi disana.
Jiyya menyadari semua perumpaan atas pemikiran tersebut, khususnya yang terakhir itu adalah kenyataan yang ada selama dia menjalani kehidupan sebagai seorang manusia. Di sampingnya Jiyya melirik dan mendapati Sir Joan masih menutup mata. Entah mengapa pria itu memilih tidur bersamanya di mobil, alih-alih membangunkan dia sehingga intensitas kebersamaan mereka dapat menipis secara natural.
Jiyya bangkit dari kursinya, dia berharap bisa keluar dari sana tanpa harus membangunkan si pria tampan. Namun ternyata tidak. Satu sisi mobil pria ini menggunakan kunci otomatis. Dan yang kedua Jiyya rasanya tidak akan tega bila harus membiarkan Sir Joan tidur di mobilnya hingga pagi menjelang.
“Sir Joan…” Jiyya memberanikan diri untuk membangunkan pria itu. Tapi karena pria itu tidak kunjung membuka mata. Pilihan terakhirnya, Jiyya menampar pipi Sir Joan. Jiyya tahu ini tidak sopan, tapi dia tidak bisa menerka hal lain sebagai opsi membangunkan pria itu.
Tubuhnya sedikit terlonjak, barangkali Sir Joan merasa terkejut karena dibangunkan dengan cara seperti itu. Lelaki itu bangkit dari kursi yang semula dia jadikan sebagai tempat bersandar.
“Kamu sangat buruk membangunkan orang, Jiyya. Ini lumayan membuatku terkejut.” Dia langsung menyentuh pipi bekas tamparan Jiyya. “Saya pikir kamu akan membangunkan saya dengan cara yang manis,” sambungnya lagi.
__ADS_1
Jiyya yang semula merasa bersalah kini kembali memberenggutkan wajahnya. Dia tidak suka sisi Sir Joan yang seperti ini. Aneh saja melihatnya mengeluarkan sisi genit seperti ini disekitarnya. Namun sangat super serius saat mereka berada di kelas. Terus terang Jiyya lebih suka performa Sir Joan yang ada dikelas daripada di sesi santai seperti ini.
“Tolong jangan bergurau lagi dengan saya, Sir. Sebaiknya buka pintu mobilnya. Saya mau pulang,” balas Jiyya, suaranya terdengar sedikit agak ketus.
“Jiyya, apa kamu membenci saya?”
Kini Jiyya terdiam, dia mengamati lelaki itu dalam-dalam. Ekor matanya beralih melirik ke sudut lain yang bisa dia jangkau. Sementara di kepalanya dia menyusun beberapa anggapan yang bisa dia utarakan sebagai jawaban. Dia bertanya-tanya dan ingin memvalidasi hal itu, bahkan sejujurnya sebelum pria itu mempertanyakannya pada Jiyya.
Dia merasakan adanya dentaman di dada. Namun disaat yang sama perasaan tersebut bermetamorfosa menjadi sebuah sensasi yang terbilang menyesakan.
“Saya tidak membencimu, Sir.” Suaranya mengecil. Itu adalah jawaban yang paling dapat dia utarakan setelah menimbang-nimbang dikepala sebelum diutarakan.
“Lalu kenapa kamu terkesan menghindar dari saya?” tuntut Sir Joan lagi yang membuat Jiyya merasa makin terpojok. Sejujurnya dia tidak pandai dalam mengekspresikan perasaan seperti ini. Tapi Sir Joan selalu saja membuatnya harus bergumul dengan pikiran sendiri.
“Itu hanya perasaanmu saja,” sahut Jiyya seadanya. Dia benar-benar merasa hampir meledak karena bisikan di kepala terlalu kencang dari pada apa yang di sebutkan oleh mulutnya.
__ADS_1
“Kalau begitu, apa kamu menyukai saya?”
Suatu fakta yang aneh, karena sekarang bagi Jiyya ini jadi suatu hal yang lucu. Apa dalam situasi seperti ini dia bisa menanggapi perkataan yang bernada penuh keseriusan dengan cara yang santai? Apakah dosen mudanya yang tampan ini sedang mencoba untuk menggali sesuatu dari Jiyya? Apakah dia membutuhkan validasi secara nyata atas beberapa kejadian yang terkesan ekstrim diantara mereka?
“Kenapa Sir Joan menyakan hal yang bersifat ambigu seperti itu pada saya?” Jiyya sebetulnya ingin kabur dari situasi, tapi sebelum pintu mobil ini dibuka oleh si empunya, maka niatan tersebut hanya akan menjadi sebuah harapan kosong belaka.
“Karena kalau itu saya, saya suka padamu, Jiyya.” Suaranya bernada tegas, lugas, dan tidak ada kepura-puraan sama sekali. Nyaris seperti sosok Sir Joan yang selalu Jiyya perhatikan dibangkunya setiap kali pria itu sedang menerangkan materi di jam ajarnya.
Dengan ini apakah segalanya akan benar-benar berputar seratus delapan puluh derajat? Tiba-tiba saja Jiyya yang hanya seorang mahasiswi biasa dikelasnya menjadi kandidat kekasih pria ini. Apa hal seperti ini bisa dipercaya? Baik sebagai seorang gadis biasa maupun sebagai statusnya sebagai seorang mahasiswi dibawah bimbingannya. Jiyya tidak pernah merasa special dari awal. Memang dia pernah mendengar adanya selentingan kabar miring yang mengatakan bahwa Sir Joan menaruh ketertarikan padanya, apalagi dari Silvana yang jelas-jelas memang si kompor sejak awal.
Apakah ini benar? apakah segalanya bisa Jiyya hadapi dengan biasa-biasa saja? sesungguhnya banyak sekali tanya di kepala yang terlampau sulit untuk di ujarkan. Ya, Jiyya hanya merasa bahwa isi kepalanya terasa mau meledak bila dia mengaitkan dirinya dengan Sir Joan.
Dia tidak membenci fakta kebersamaan mereka, dan situasi yang menyenangkan bersama pria itu tapi dia merasa ini tidak benar. Dia tidak bisa melangkah maju lebih dari ini.
Dia cukup tahu diri sebagai orang yang biasa-biasa saja. Predikat menjadi kekasih seorang dosen muda dan tampan, tidak pernah ada dalam list kehidupannya. Meskipun memang Jiyya sempat melakukan tindakan bodoh, tapi setidaknya saat ini dia sudah sadar akan jalan yang dia ambil beberapa waktu lalu adalah sebuah kesalahan yang fatal. Ini terjadi lagi, Jiyya merasa….
__ADS_1
Insecure?