
“Aku tidak mengira bahwa kau tidak juga menyerah untuk bicara denganku. Kali ini aku harus mendengar apa darimu? Permintaan maaf?”
Jiyya tetap diam, dia hanya mengaduk wiski yang di hidangkan oleh bartender beberapa saat yang lalu. Jiyya mendatangi sebuah pub, beberapa saat yang lalu dan dia mendapatkan informasi kalau Dean ada disini. Benar saja
dia ada disini, menyendiri. Sejujurnya Dean bukan tipe seorang pria yang akan melakukan hal seperti ini.
Jiyya mendengarkan tanya yang pemuda itu ujarkan, tapi seluruh pemikiran di kepalanya terlalu rumit dan berseliweran. Sehingga pada akhirnya Jiyya tidak bisa mengatakan sepatah kata pun kepada Dean. Sesuatu
seperti itu rupanya cukup dapat Dean nilai sebagai prilaku yang tidak biasa dari Jiyya. Dia kontan mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat pada sahabat masa kecilnya itu untuk mengintip ekspresi yang Jiyya buat. Alis pemuda itu berkerut.
“Apa ada yang salah, Jiyya?”
Terus terang Dean sejujurnya masih sangat kesal pada gadis di sisinya. Tapi melihat dia begitu sedih seperti ini, Dean tidak bisa mengabaikannya dan entah mengapa rasa kesal dan marah yang ada di dadanya menguap seketika. Ada beberapa kesunyian dan kemudian Dean mendekatkan kursinya untuk lebih merapat pada Jiyya sambil memegang pipi gadis itu.
“Apa ini tentang si brengsek Joan? Dia melakukan sesuatu yang tidak bermoral padamu lagi?”
Sebetulnya Dean sangat tidak ingin menyebutkan nama itu di bibirnya, beberapa hari terakhir dia memang betulan berhasil tidak bersentuhan dengan nama itu. Tapi malam ini Jiyya memaksanya untuk bicara soal laki-laki itu. Pria yang dia percaya bisa menjaga Jiyya, bukan malah memanfaatkan sahabatnya untuk keuntungan dirinya sendiri. Dean tahu tentang apa yang terjadi antara Jiyya dan Joan. Sisanya pemuda itu langsung naik pitam dan memusuhi pria itu karena dianggap tidak bisa menjaga Jiyya dengan benar dan malah mencicipi orang yang berharga dan dia jaga. Dia merasa di lecehkan oleh pria itu.
“Tidak bukan tentang itu,” sahut Jiyya cepat. Dia tidak ingin menambah runyam situasi karena gadis itu tahu bahwa Dean dan Joan sedang dalam situasi yang tidak baik sejak pria itu tahu Joan pernah menidurinya.
“Lalu?"
“Aku ingin minta maaf padamu. Aku sungguh menyesali segalanya. Aku tahu bahwa mungkin sikapku waktu itu benar-benar keterlaluan, padahal kau hanya mencoba bersikap baik dan mengkhawatirkanmu. Maaf aku menjadi
beban bagimu. Kau hanyalah bocah yang merasa bertanggung jawab atas hidupku. Padahal harusnya kau tidak begitu. Dean… aku sangat bersyukur mengenalmu. Kau itu sudah seperti matahari dan saudaraku. Kau sangat menyayangiku sepenuh hati. Sebenarnya aku—”
“Oy, apa yang sedang kau bicarakan ini? kata-katamu terdengar seperti orang yang akan mati besok pagi,” potong Dean cepat. Pemuda itu langsung mengernyitkan dahinya tidak mengerti mengapa dengan Jiyya yang tiba-tiba berkata seperti dia hendak pergi jauh darinya. Itu jelas bukan hal yang ingin dia dengar. Karena itu Dean mencoba untuk mengubah suasana yang tidak mengenakan ini menjadi sedikit lebih santai.
__ADS_1
“Kau membuat suasana sedih yang sudah kubangun jadi hancur lebur! Setidaknya biarkan aku menyelesaikan kalimatku dulu,” timpal Jiyya lagi, kali ini dia telah menghilangkan nada bicara yang terdengar berat dan mengganggu. Hasilnya dia malah terlihat kesal kepada Dean.
“Kata-katamu itu mengkhawatirkan! Kau malah membuatku takut mendengarnya. Aku tidak mau dengar kalau itu omong kosong”
“Dengarkan aku dulu!” Kali ini Jiyya terlihat ngotot dan melihat sikap sahabatnya ini Dean malah makin tidak ingin mendengar apapun. Dia terlalu takut, dan tidak rela menggunakan telinganya untuk kabar buruk. Alhasil mereka saling adu mulut dan menghindar satu sama lain.
“Tidak! aku tidak mau dengar apapun lagi.”
“Kumohon dengarkan aku dulu! bisa jadi ini kesempatan terakhirku Dean!”
“Jangan paksa aku! Memang sepenting apa itu sampai kau bersikeras begini.”
Saat Jiyya merasa bahwa upayanya akan sia-sia. Maka Jiyya setengah berteriak dan dia tidak lagi peduli dengan dimana dia berpijak. Dia hanya ingin Dean tahu apa yang hendak dia sampaikan. “Aku akan pergi besok. Karena itu aku ingin pamit denganmu sebelum aku pergi.”
Mendengar penuturan Jiyya, spontan Dean membelalakan mata. Dia tidak mengira akan mendapati ide gila dari sahabat masa kecilnya. Terlebih ini sangat tiba-tiba. “Apa? pergi kemana? Kenapa tiba-tiba?”
“Aku tidak bisa ada disini terus. Aku tidak sanggup menjalaninya. Aku harus memutuskan segalanya dan inilah pilihanku.”
“Dean, kurasa aku sudah jatuh cinta pada Sir Joan. Aku selama ini tidak sadar, dan akhir-akhir ini aku baru menyadarinya. Ini tidak benar, aku tidak bisa.”
“Kau— apa?” Dean sungguh tidak habis pikir. Sejak kapan tepatnya dan bagaimana segalanya bermula membuat pemuda itu hanya bisa melongo tak percaya. Apakah cinta satu malam bisa mengubah hati seorang gadis dengan
mudah? Bila memang benar begitu maka Joan benar-benar brengsek!
“Aku ingin kehidupan lamaku. Aku ingin hidup tenang.”
“Jiyya ini gila! Bagaimana bisa?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Tapi yang pasti kurasa ini sudah cukup lama dan aku baru menyadarinya. Aku tidak mau, aku tidak sanggup bila situasi seperti dulu menimpaku lagi. Aku—"
Jiyya hampir sudah tidak bisa lagi merangkai kata, lidahnya terasa kelu. Dia sudah berjuang untuk menahannya sejak dia bertemu langsung dengan Joan untuk pembuktian rasa. Di luar dugaannya itu lebih menyakitkan dari yang dia duga. Jujur saja, pertama kali dia jatuh cinta Jiyya terpuruk sebegitu dalam. Untuk sekarang, Jiyya sungguh tidak ingin mengalaminya lagi. Dia belum siap untuk itu.
Sebelum Jiyya sempat mengatakan sesuatu lagi, Dean melemparkan dirinya sendiri untuk memeluk sahabat masa kecilnya. Disitulah Dean mendengar tangis yang pecah. Dean sangat tahu bagaimana Jiyya terluka. Alasan mengapa dia begitu protektif pada Jiyya adalah karena dia gagal menjaganya dari Bestian saat itu. Dia membiarkan pria itu menyakiti sahabatnya, dan dia merasa berhutang untuk terus berada di sisi gadis itu demi melihatnya tersenyum.
“Kau pasti sangat kesulitan. Maafkan aku Jiyya, aku tidak ada disisimu saat kau membutuhkan aku dan malah membuatmu harus kemari hanya untuk meminta maaf padaku. Kau akan kemana? Aku akan ikut denganmu.”
“Ti-tidak! alasanku kemari karena aku—”
“Kau itu orang yang berharga untukku. Mungkin kalau aku punya kekasih nanti dia akan cemburu, tapi selama kau belum menemukan seorang pria yang benar aku akan ada disisimu.”
Jiyya menutup matanya dan menghembuskan napas panjang melalui hidungnya.
“Kau selalu keras kepala.”
“Kau pikir Silvana akan mengizinkanmu pergi begitu saja? dia akan lebih histeris kalau kau melakukannya.”
“Karena itu aku tidak akan memberitahunya.”
“Kau yakin?”
“Dia akan tahu saat aku sudah tidak ada disini.”
“Kau benar-benar perempuan yang kejam, Jiyya.”
“Aku tidak peduli. Sekarang kau mau bantu aku mengepak
__ADS_1
pakaianku kan?”
“Tentu sobat.”