Honey Trouble

Honey Trouble
Girl's Talk


__ADS_3

Keesokan paginya Jiyya terjaga dalam kondisi sakit kepala yang luar biasa. Sepertinya dia minum terlalu banyak semalam. Itu adalah upaya lain yang Jiyya lakukan lantaran dia terlalu malu untuk mengingat segalanya. Tapi efeknya baru terasa sekarang. Tubuh gadis itu limbung ketika dia berusaha berdiri dengan kedua kakinya. Usaha memang berhasil, tapi tubuhnya jadi tidak bisa diajak kerja sama pagi ini.


“Jiyya, saatnya sarapan!” teriak suara yang begitu familiar dari arah dapur mess yang dia tinggali.


Dia bahkan lupa soal Silvana yang barangkali menginap ditempatnya setelah menjemputnya untuk pulang dari bar. Sejujurnya dia sedang tidak ingin bertemu muka dengan dia hari ini karena Jiyya tahu perempuan berisik itu akan menganggunya seharian dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh dan menjebak.


Alih-alih menanggapi, Jiyya melengos begitu saja kearah kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setidaknya air adalah pertolongan pertama untuk menyegarkan dirinya sebelum pindah ke sup hangover yang sudah tersedia di atas meja makan. Jiyya menatap wajah Silvana yang terlihat seratus kali lipat begitu riang gembira pagi ini. Entah setan apa lagi yang merasuki tubuh perempuan itu. Tapi sudah jelas tindakan dan raut muka kegirangan itu Jiyya tahu sebabnya dari apa. Perempuan merepotkan itu pasti mendengar sesuatu soal tadi malam. Ya sesuatu seperti


Jiyya yang menunjukan sisi lain dari dirinya terhadap Sir Joan dengan mengatakan omong kosong tak bermutu dan seberapa pecundang dan putus asanya dia. Memang kacau, Jiyya tahu sekali soal itu.


Namun setelah memorinya memutar ulang soal Sir Joan, tubuh gadis itu gemetaran.


“****!”umpatnya yang kontan menarik perhatian sahabatnya yang sedang langsung mengubah ekspresi wajahnya seketika.


“Kenapa Jiyya?” tanya Silvana.


Gadis itu tidak menjawab, pikirannya terlalu penuh dengan Sir Joan sekarang. Bagaimana tidak? dia sudah bertindak diluar karakternya, dan kini dia merasa takut untuk berjumpa dengan dosen tampan itu.


Bagaimana cara Jiyya menghadapi Sir Joan sekarang? Bagaimana caranya dia bisa berprilaku dengan benar didepannya tanpa merasa malu dan canggung? Jiyya tahu dia bodoh, saking tololnya dia sampai memuntahkan isi kepalanya bulat-bulat didepan orang yang seharusnya tidak tahu perihal itu.


Apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka sekarang? hubungan yang semula hanya terjalin layaknya seorang dosen dan mahasiswi-nya kini jadi tidak bisa sama lagi. Bercinta dengan Sir Joan adalah sesuatu yang mustahil sejak awal, tidak terjangkau, dan tidak akan pernah terjadi. Tapi pria itu malah menanggapi ocehan dungunya dengan sesuatu bernada serius yang Jiyya ingat sebagai penawaran bercinta terhadap dirinya dengan begitu mudahnya. Apa sejak awal Sir Joan memang orang yang seperti itu? Jiyya benar-benar tidak habis pikir.


“Hey …  Jiyya dengar ya, maaf saja meskipun kau memang mendapatkan dosen seksi di kampus kita, tapi faktanya Silvana jelas menjadi orang pertama yang lebih dulu melakukannya.”


“Pergi sana!” Jiyya balik berteriak, setengah mengusir Silvana. Namun ketika dia mengeluarkan suaranya dengan cara seperti itu kepalanya tiba-tiba terasa sakit sekali. Gadis itu meringis dan kemudian berjongkok seketika untuk meredam rasa sakitnya.


“Hey kau baik-baik saja?”


“Kalau kau pergi itu cukup membuatku lebih baik,” balas Jiyya sarkas


“Aww.. jahatnya. Begitukah caramu berterima kasih padaku yang sudah membantumu pulang? Semalam kau cukup merepotkanku tahu.”


“Iya, terima kasih ya sahabat,” ujar Jiyya dengan suaranya yang menyindir.


Silvana kontan terkekeh kecil, gadis itu mengulurkan tangannya kemudian membuat gadis itu berdiri dan mendudukannya dengan rapi di kursi makan yang tersedia. Saat Silvana membantunya berdiri saat itulah Jiyya menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada sahabatnya. Dia menemukan ada luka goresan di lutut Silvana.


“Silvana lututmu terluka!” Dia menunjuk kearah lutut gadis itu dengan jari telunjuknya. “Itu terlihat lumayan parah, sebenarnya apa yang kau lakukan sampai seperti itu?”


Silvana melirik kearah lututnya sendiri, terkejut sebentar namun kemudian dia malah terkikik sendiri. Ada apa dengannya? Apa dia sudah gila? Lututnya berdarah tapi malah tertawa-tawa.


“Makan dulu dan obati sakit kepalamu dengan obat pengar ini. Kalau kondisimu sudah lebih baik baru kita bicara, oke?” sahutnya sambil kemudian menyiapkan beberapa hal diatas meja.


Jiyya sedikit menggerutu, tapi meski begitu dia menerima semuanya dengan baik dan menuruti perkataan Silvana dengan patuh. Mereka tidak bicara sampai Jiyya berhasil menandaskan makanan dan juga meminum obatnya. Setelah menunggu beberapa saat, gadis itu mulai merasa tubuhnya mulai bisa diajak kerja sama.


“Jadi apa itu? apakah sejenis tanda kenang-kenanganmu dan pamer padaku tentang hubungan **** bebasmu dengan seorang pria malang?”


Silvana menggerakan jari telunjuknya sebagai tanda bahwa Jiyya telah salah mengira. Gadis itu kemudian memberikan Jiyya sebuah seringai licik terhadapnya. “Kurang tepat, sayang. Coba tebak? Ingat kata-kataku diawal tadi?”

__ADS_1


Seketika tubuh Jiyya membatu, mulut gadis itu menganga lebar.


“Silvana, tidak! jangan bilang kalau kau—”


“I did,” ujar gadis itu bangga. Kemudian dia menangkup dagunya dengan kedua telapak tangannya sambil memberikan seringai licik didepan muka Jiyya. “Oh lebih tepatnya kami sudah melakukannya.”


Jiyya menatap horror kearah sahabatnya yang malah nyengir kuda bukannya merasa bersalah. Mulutnya menganga lebar sebelum dirinya cukup sadar untuk mengatakan apa-apa. Kini Jiyya mempertanyakan moralitas gadis itu sebagai manusia, dan betapa anehnya dia karena bisa berteman belasan tahun dengan orang yang bahkan nilai dalam adat dan tradisionalnya benar-benar minus macam Silvana.


“Ada apa dengan ekspresimu? Kau itu sangat mudah ditebak ya seperti sedang membaca buku,” tutur Silvana lagi.


“Kau betulan ****** ya Silvana!” timpal Jiyya kasar. Silvana malah tertawa.


“Kau tidak usah semarah itu, chill sayang, calm down.”


“Hah bagaimana bisa aku tenang ? Maksudku bagaimana kalian bisa melakukannya begitu saja?” Jiyya menepuk dahinya. Sementara Silvana malah terkikik geli atas seluruh reaksi yang diperlihatkan oleh sahabatnya yang selalu reaktif menyangkut masalah seperti ini.


Silvana angkat bahu kemudian sambil mengibaskan rambutnya, gadis itu benar-benar nampak bangga untuk sesuatu yang sebetulnya bukan ranahnya untuk dibanggakan.


“Aku melakukannya saja ketika aku rasa punya kesempatan untuk itu,” balasnya simple. Dia kemudian menatap Jiyya dengan pandangan mata yang berbinar-binar lagi. “Itu pengalaman yang paling hot yang pernah aku alami, Jiyya. Harusnya kau disana dan melihat wajahnya ketika aku sedang—”


“Ah stop!” Jiyya menyela gadis itu dengan jeritan keras sambil menutup kedua matanya rapat-rapat, pun hal yang sama dia lakukan terhadap telinganya dengan bantuan kedua tangannya. “Aku tidak mau dengar apapun soal ekspresi wajah Sir Arthur saat kau sedang bersamanya. Tidak usah aku berbagi sampai kesana.”


“Kenapa?” Silvana kini malah merengek, mencoba melepaskan tangan Jiyya dari telinganya. “Tadi kan kau bertanya bagaimana bisa? Aku cuma mau menambahkan detail-nya saja. Kau harus dengar Jiyya, kau harus tahu seberapa seksinya Sir Arthur saat itu.”


Jiyya tiba-tiba saja merobohkan pertahanannya, dia menatap Silvana dengan serius seolah ada hal bersifat urgensi hendak dia utarakan. Dia menghela napasnya sebelum angkat bicara. “Jadi…” gumamnya. “Apa kalian benar-benar sampai … maksudku, kalian benar-benar melakukan itu?”


hidupnya.”


“Eww… itu menjijikan.”


“No. Itu normal, maksudku hubungan intim itu memang diciptakan untuk memuaskan diri masing-masing. Dalam hubungan badan kita tidak boleh egois. Itu peraturan yang tidak bisa diganggu gugat. Lagipula aku juga mendapatkan balasan yang sama baiknya. Kau tahu jari-jari Sir Arthur benar-benar sangat nikmat. Dia membuatku


nyaris oleng dan gila hanya dengan sentuhan jarinya. Sudah pernah kubilang padamu kan kalau pria yang lebih tua itu lebih berpengalaman. Oh ya ngomong-ngomong…” Silvana tiba-tiba mengubah topik, dia kemudian menyeringai


pada temannya yang nampak tidak tertarik tapi Silvana tahu gadis itu menyimak semua hal yang dia ujarkan dengan serius. “Kau sendiri bagaimana dengan Sir Joan? Ada perkembangan semalam?”


Jiyya kontan terperanjat, dia menolak keras spekulasi yang ada di kepala Silvana. “Aku tidak hanya berdua dengannya. Ada Dean juga disana!” semburnya tidak sabar. Meski begitu melihat dia yang berapi-api lebih dari biasanya membuat Silvana yakin bahwa sesuatu telah terjadi pada Jiyya semalam. “Tapi kau tahu, semalam aku melakukan hal yang memalukan,” akunya lagi dengan suara mencicit.


Sivana mengubah ekspresi sekaligus pose duduknya. Gadis itu menyangga dagunya dengan kedua tangan untuk memperlihatkan seberapa seriusnya dia menyimak cerita yang hendak Jiyya bagi dengannya. Dia kini mengharapkan sesuatu yang menarik untuk dia dengar. “Memangnya apa yang kau lakukan?” tanyanya.


“Sebelumnya aku tekankan bahwa aku tidak akan melakukan hal melanggar norma seperti yang kau lakukan oke?” Jiyya buru-buru memberikan penekanan sebelum memulai ceritnya. Silvana mendesah kecewa mendengar hal itu.


“Hah, kau memang selalu mengecewakan Jiyya.”


“Dengar dulu, aku… semalam itu… emm… aku bilang pada Sir Joan kalau aku masih perawan aku bahkan bilang padanya soal dirimu yang menyuruhku bercinta dengannya. Aku benar-benar tidak waras Silvana. Aku ingin mengubur diriku sendiri. Mulai sekarang bagaimana caraku berhadapan dengan Sir Joan setelah aku mengatakan hal itu padanya? ugh! Benar-benar memalukan,” keluh Jiyya sambil menutup kedua wajahnya. Silvana bisa menyaksikan rasa malu berat yang menguar dari gadis itu. Telinganya bahkan sampai memerah ketika dia mengatakannya.


Kontan Silvana tertawa terbahak-bahak. “Aku yakin interaksi yang akan terjalin antara dia dan aku akan jadi sangat menyenangkan dimasa depan.”

__ADS_1


“Kau benar-benar menyebalkan ya. Tapi Silvana, aku baru tahu kalau ternyata Sir Joan orang yang sangat terbuka dan juga jujur. Dia seperti dirimu hanya saja pembawaannya lebih terhormat.”


“Hei maksudmu apa?” sela Silvana. Meski Jiyya memang kadang bermulut pedas tapi Silvana tidak pernah memasukan kata-kata bernada nyelekit itu ke hatinya. “Eh tapi tunggu dulu, Oh… my God!” Dia menatap wajah Jiyya lekat-lekat sebelum menyeringai. “Itu artinya dia bilang bahwa dia ingin menidurimu, kan?!” suara Silvana begitu nyaring. Nyaris naik beberapa oktaf, dan mungkin akibat mulutnya yang super duper ember itu semua tetangga Jiyya akan mendengarnya. Buru-buru gadis itu membekap mulut Silvana. Dia memang harus selalu siaga disekitar gadis itu. Terutama dalam hal-hal seperti ini.


“Ck, berisik! Bisa tidak sih kau pelankan suaramu. Kau benar-benar membuatku malu!”


Silvana berusaha berontak, dia mencoba melepaskan diri dari Jiyya tapi gadis itu tidak begitu saja mau percaya apalagi Jiyya sangat tahu bagaimana tingkah laku Silvana kalau sudah usil padanya.


“Kau mau aku lepaskan?” Silvana menganggukan kepalanya.


“Kalau begitu berprilakulah seperti manusia,” ujar Jiyya. Silvana mengangguk lagi.


Merasa Silvana sudah jinak, Jiyya akhirnya melepaskan bekapan di mulut gadis itu.


“Jadi anggapanku benar kan?”


“Tidak!” Jiyya mendebat. Wajahnya memerah lagi, ekspresinya yang malu-malu sudah cukup memberikan jawaban dimata Silvana sebetulnya. Tapi dia akan membiarkan Jiyya berdebat dengannya dulu. “Dia tidak melakukan apapun padaku. Tapi,  dia bilang dia mau berhubungan **** denganku.”


Tuh kan!Silvana membatin. Dia memang sejak awal mencurigai Sir Joan memiliki ketertarikan yang lebih pada sahabatnya. Karena gemas, makanya Silvana mencoba terus memancing Jiyya agar gadis itu menyadari


bahwa ada pria yang lebih hebat dan gagah dibandingkan Bastien yang menurutnya pecundang kelas kakap. Jiyya terlalu bagus untuk pria seperti itu, karenanya Silvana ingin menolong Jiyya dari cinta bertepuk sebelah tangannya yang masih pula bertahan hingga bertahun-tahun lamanya.


“Ya berarti bagus dong? Aku jadi merasa bak pahlawan karena akhirnya sahabatku selangkah lebih dekat menuju jodohnya. Ideku untuk membuatmu sadar ternyata lebih bagus dari yang aku duga,” timpalnya. Silvana bahkan bersiul sambil menaikan turunkan alisnya didepan Jiyya. “Kurasa kau akan segera mendapatkan dia. Pengalaman tidur dengannya sekali kupikir akan sedikit membuka wawasan dan cakrawala baru dalam hidupmu.”


Wajah Jiyya makin memerah, Silvana yakin bahwa dia bisa membuat segelas air mendidih hanya karena diletakan di atas kepala gadis itu. Menggoda Jiyya memang semenyenangkan itu.


“Tidak! itu tidak akan pernah terjadi!” Jiyya berteriak, tapi dia kemudian celingak-celinguk sendiri ke segala penjuru arah seolah takut bila tiba-tiba Sir Joan datang kerumahnya kapan saja dan mendengar percakapan diantara dia dan Silvana. Dia sedikit trauma dengan konversasi jenis ini, sebab di kampus hal yang sama pernah terjadi. “Aku yakin bahwa dia hanya bercanda. Dia tidak mungkin serius, aku yakin itu. Lagipula saat itu aku sedang mabuk. Orang yang jarang minum memang cenderung mengatakan hal-hal bodoh saat mabuk.”


Silvana tidak menjawab, dia hanya menjulurkan lidahnya kearah Jiyya sambil menyeringai nakal. Melihat itu Jiyya kontan merasakan adanya lubang kekhawatiran yang terbuka di perutnya.


“Jangan bilang kalau kau berpikir bahwa Sir Joan betulan serius?” Jiyya mencicit.


Silvana tertawa kecil, dia menatap sahabatnya itu dengan pandangan yang bijaksana. Melihat ekspresi itu dari Silvana Jiyya malah semakin tahu untuk mendengar jawabannya.


“Jiyya, bukan sekali dua kali aku menjadi orang yang menemanimu mabuk. Malah aku adalah orang pertama yang menjurumuskanmu untuk itu. Aku paling tahu soal dirimu saat kau mabuk,” tutur Silvana ringan. Jiyya menggigit bibir bawahnya.


“Kau tidak mengatakan hal yang bodoh, tapi kau selalu jujur tentang dirimu saat mabuk. Karena ketika kau sedang dalam kondisi sadar, kau itu selalu mencoba untuk menutupi perasaanmu. Aku bertaruh bahwa sebetulnya kau hampir tergoda untuk melakukannya saat itu juga kan? Aku juga yakin kalau Sir Joan juga serius soal itu, dia hanya mencoba menjadi seorang pria gentleman untuk tidak mengambil keuntungan dari kondisimu semalam,” tambah Silvana yang membuat Jiyya bungkam dan memikirkan ulang perkataan gadis itu. “Itu juga poin tambahan untuk pria yang seksi,” tutupnya.


Jiyya makin frustasi, bahkan sampai menjambak rambutnya sendiri.  “Ya Tuhan!” Jiyya mengerang. “Ditaruh dimana mukaku saat bertemu dia nanti? aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapinya.”


“Tidak perlu pusing menghadapi dia,” ujar Silvana ringan. “Biarkan saja dia menidurimu dari belakang,” candanya lagi yang membuat Jiyya murka dan ingin mencakar wajah gadis itu sekarang juga. Meski Jiyya memang tidak mungkin akan benar-benar melakukannya.


“Aku serius! Memang dasar ikon pergaulan bebas! Otakmu selalu saja kotor setiap saat!”


 Silvana malah tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya yang nampak putus asa. Dia bahkan sampai membenturkan kepalanya ke meja makan saking frustasinya.


Mau bagaimana lagi, bukankah sudah jelas kalau ini berarti mereka berdua sudah ditakdirkan? Silvana diam-diam iri pada perkembangan hubungan antara Jiyya dan Sir Joan yang terbilang lumayan mulus daripada miliknya.

__ADS_1


__ADS_2